Sebutir Peluru Menembus Keningnya | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Sebutir Peluru Menembus Keningnya Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:00 Rating: 4,5

Sebutir Peluru Menembus Keningnya

Mananta, lelaki pengusaha dan anggota Dewan Kota berusia 55 tahun itu telah menyewa seorang pembunuh bayaran. Si pembunuh bayaran itu seorang lelaki berkepala plontos dan bermata tajam seperti harimau.

Mananta gembira telah menemukan orang yang tepat. Setidaknya ia yakin mata harimau si plontos itu akan menciutkan nyali korbannya.

Si plontos menolak menyebutkan nama, meskipun Mananta berdalih bagaimana harus mentransfer bayaran kepada orang tak bernama?

"Aku hanya terima cash," kata si Plontos.

Permintaan yang aneh di zaman yang serba pencet tombol ini, tetapi Mananta menghormatinya.

"Baiklah, kau yang berkuasa. Berapa tarifmu?"

Si Plontos menyebutkan nominal dan ketika Mananta meminta menurunkan nominal, si Plontos menggunakan tatapan mata harimaunya sebagai senjata. Ciut nyali Mananta.

"Baiklah. Berapa pun kau minta, kau harus melakukannya dengan rapi. Tanpa jejak," kata Mananta menyerah.

"Percayalah padaku!" kata si Plontos yanng sepanjang percakapan itu tak pernah tersenyum.

"Ya, aku percaya."

Mananta membuka koper, memungut beberapa tumpuk uang, lalu memasukkannya ke kantong kertas coklat.

"Ini uang muka. Sisanya setelah tugasmu selesai."

Mananta menunjukkan foto perempuan berhidung runcing, bermata lentik, bibir tipis merah merekah.

"Kau bawa foto ini?" kata Mananta

"Tak perlu. Dengan sekali tatap, wajah target telah melekat di kepalaku," kata si Plontos.

"Kau tak ingin bertanya, mengapa kau harus melenyapkan perempuan ini?"

"Tak perlu. Aku hanya perlu tahu wajah dan alamat calon target. Tidak lebih."

"Tapi setidaknya maukah kau meluangkan waktu untuk mendengarkan ceritaku?"

Si plontos melirik arlojinya.

"Kau punya waktu lima menit," katanya.

"Sepuluh menit." Mananta menawar.

"Cepatlah, kau menghabiskan waktuku!"


ISABEL, demikian Mananta bercerita, adalah perempuan dengan kesempurnaan ragawi; muda, cantik, dan penuh gairah. Mananta mengenalnya satu tahun silam pada pesta kebun di malam kampanye seorang calon wali kota.

Dalam balutan gaun malam merah menyala, tubuh Isabel bagai boneka pualam. Ia melantunkan lagu-lagu romantis masa lalu. Usai merampungkan When You Tell Me That You Love Me, Isabel menerima uluran tangan seorang lelaki berkepala botak, yang mempersembahkan setangkai mawar merah untuknya. Tak ada yang istimewa dari pertemuan itu; Isabel terlalu sering menerima bunga dari lelaki pengagumnya. Tetapi, selalu ada awal untuk sebuah hubungan.

Pertemuan itu berlanjut. Diam-diam. Tersembunyi. Tiap kali bertemu, Isabel selalu setia mendengarkan lelaki itu bercerita tentang istrinya yang cerewet, gemuk, dan membosankan. Mula-mula, lelaki itu hanya sesekali berkunjung ke apartemen Isabel. Pada akhirnya, walau hanya sejenak, lelaki itu mengunjunginya setiap hari, mengunjunginya sekadar melepas hasrat. Hari-hari selalu bergetar di kamar apartemen Isabel.

Begitulah, tak ada skandal yang sempurna. Pada hari yang direncanakan, Isabel berkunjung ke dokter kandungan. Kemudian ia menelepon Mananta untuk datang ke apartemennya. Isabel mengadu dan meminta lelaki itu menuju sebuah kehidupan yang damai, walau ia harus berbagi kedamaian itu dengan perempuan lain.

"Gila! Itu tidak mungkin!" Mananta meradang.

"Apa bedanya menikah rahasia dengan apa yang kita lakukan selama ini?"

Gugurkan saja!"

"Itu lebih gila!" Isabel meradang pula.

"Tidakkah kau berpikir, aborsi akna menyelamatkan hidup kita?"

"Kau boleh mencaciku sesuka kau, tapi jangan kau suruh aku membunuh janin dalam kandunganku." Isabel bertahan.

"Kau lembek seperti pengecut!"

"Kalau aku pengecut, maka kau yang mengajarkan hal itu padaku."

Tak ada kesepakatan. Mereka saling mengancam. Isabel, pada batas waktu tertentu akan berkicau di media. Dan, Mananta telah pula menyiapkan ancaman.

***
INI hari yang telah direncanakan itu. Begini rencana si Plontos --seperti yang ia paparkan pada Mananta-- ia akan mengunjungi apartemen Isabel. Ia akan mengetuk pintu. Ketika pintu terbuka, ia akan melepaskan sebuah tembakan yang akurat --dengan peredam suara, tentu saja-- di kening Isabel.

Ia hanya perlu sebutir peluru untuk melenyapkan Isabel. Hanya sebutir, tak lebih.

Pada Mananta, si Plontos menjamin tugasnya akan berhasil dengan gemilang. Usai tugas, ia akan menemui Mananta di tempat yang telah ditentukan, untuk meminta sisa pembayarannya.

Sekarang si Plontos telah berada di depan pintu kamar nomor 321. Ia mengetuk pintu. Pintu masih tertutup rapat untuk beberapa saat. Si Plontos tahu ada seseorang  di balik pintu itu sedang mengintip dari lubang pengintaian.

Ia berdiri tenang, sekira dua langkah dari pintu, Menatap lubang pengintaian itu dan ia begitu yakin rencananya akan berhasil dengan gemilang. Di balik jaket hitamnya terselip sepucuk pistol.

Pintu terbuka. Isabel tertegun.

"Kau?" gumamnya.

***
DI ruang tunggu sebuah bandara, seorang perempuan dengan kesempurnaan ragawi duduk di samping seorang lelaki muda berkepala plontos. Si perempuan menemukan es krim berbentuk kerucut. Si lelaki membaca koran pagi. Mereka bercakap-cakap tanpa bertatapan dan sesekali si perempuan tertawa dan menyosorkan es krim pada si lelaki.

Si perempuan meraba perutnya yang ramping.

"Ia percaya begitu saja bila aku hamil."

"Tipuan klasik," sahut si lelaki, tanpa menoleh.

"Tipuan klasik untuk lelaki tua yang bodoh. Manis sekali." Si perempuan tertawa

Si lelaki tersenyum tipis. Menutup koran dan melipatnya.

"Berapa jumlah uang dalam tas itu?" tanya si perempuan.

"Banyak. Sangat banyak."

"Kau menguras uang lelaki tua bodoh itu."

"Uang akan menjauh dari orang-orang bodoh, kau tentu tahu itu," sahut si lelaki.

"Jangan lupa, sisakan untuk dokter kawan kita. Kau tahu, surat palsu dokter itu telah bikin si tua botak itu kelabakan."

"Tentu, tentu. Telah kusiapkan untuknya."

Orang-orang berlalu-lalang di sekitar mereka duduk. Beberapa polisi bandara sempat pula melintasi mereka. Si lelaki merasa tak nyaman.

"Tinggalkan tempat ini. Kita ke tempat lain."

"Ke mana?" tanya perempuan.

"Ke mana saja."

Lelaki itu membuang koran ke kotak sampah. Di halaman pertama koran itu terpampang berita utama: Seorang Anggota Dewan Kota Tewas di Tepi Hutan. Berita itu dilengkapi sub-judul: Sebutir Peluru Menembus Keningnya. (k)

 Batang, 5 Oktober 2015

Sulistyo Suparno: Kelahiran Batang, Jawa Tengah, 9 Mei 1974. Staf administrasi akademik STKIP Muhammadiyah Batang. Tinggal di Krangkoan RT 4 RW 2, Ngaliyan Limpung Batang 51271

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sulistiyo Suparno
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 15 November 2015



0 Response to "Sebutir Peluru Menembus Keningnya"