Sebutir Peluru Saja | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Sebutir Peluru Saja Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 10:15 Rating: 4,5

Sebutir Peluru Saja

ORANG-ORANG memanggilnya Tuan Skaut. Tentu karena jabatannya, schouten.* Ia tak keberatan dipanggil demikian meski setelah 10 tahun bekerja di tempat yang sama, dengan jabatan yang juga tak berubah, kadang membuatnya lupa nama pemberian ayah-ibunya.

Tapi ia tidak menyesali pekerjaannya. Sama seperti ia tak menyesali perkawinannya yang usai setelah satu tahun, saat istrinya pergi dengan pedagang opium yang pernah mereka jumpai di sebuah rumah bola di Surabaya.

Kalau ada yang ia sesali dalam hidup, mungkin baru terjadi hari ini. Ia menyesal terlibat dalam situasi rumit dan berbahaya seperti ini. Bukan karena takut. Walau agak tambun dan tua, ia masih cekatan bergerak. Juga berkelahi, bila diperlukan.

Seharusnya siang ini ia bertemu Residen dan sekelompok pengusaha gula, membahas pembakaran ladang tebu yang semakin menggila di hampir seluruh wilayah Pasuruan belakangan ini. Sebagai narasumber penting, ia tentu bisa menyumbang satu-dua gagasan. Bukan tak mungkin Tuan Residen akan memperbaiki gajinya yang sudah lima tahun tak beranjak naik. Kesempatan itu kini sirna.

Di luar kebiasaan, pagi tadi ia mengambil jalan pintas melalui daerah ini. Mendadak seorang lelaki muncul menghadang iringan sepedanya, mohon bantuan. Sempat ditolaknya permintaan lelaki yang mengaku sebagai mantri polisi desa itu. Tapi mendengar gentingnya keadaan, akhirnya ia bersedia memenuhi keinginan orang itu. Sebelum pergi ia mendatangi pos polisi terdekat, mencari dukungan. Selain opas yang mengawalnya bersepeda tadi, ia butuh satu petugas lagi. Ia kenal opziener daerah itu.

Sayang, tak ada di tempat. Hanya ada tiga orang opas di situ.

“Tuan Zoetemond sedang patroli, Tuan,” tutur seorang opas.

“Satu dari kalian ikut saya. Penting!” katanya. “Saya akan tulis surat buat Tuan Zoetemond.” Setelah membuat laporan di dalam buku log, ia dan kedua opas bergegas mengikuti si mantri. Sepedasepeda terpaksa dititipkan di pos karena jalan desa rusak setelah diguyur hujan lebat kemarin.

Setiba di tempat tujuan, yang pertama tertangkap mata adalah empat sosok tubuh pria, bergelimpangan mandi darah di depan sebuah rumah besar. Sudah terlambat rupanya. Sudah jatuh korban. Tapi si mantri bukan memintanya datang untuk mengurus mayat.

“Tuan Skaut, itu dia si raja garong, Kalasrengi!” teriak si mantri. “Anak buahnya sudah mati semua, tapi dia belum mau menyerah!” telunjuknya mengarah pada sosok tubuh gempal di atap rumah besar itu. Satu-satunya rumah yang beratap genteng.

Warga desa berkerumun di bawah, membawa golok dan tombak.

Orang di atap itu tampak kusut, namun tak terlihat takut. Ia memakai ikat kepala batik, menyembunyikan rambut panjangnya. Celana pangsinya kedodoran di bawah gundukan perut yang menyembul dari balik baju hitam tak berkancing. Sesekali ia mengusap keringat yang membasahi kumis dan berewoknya.

Sebilah parang tergenggam di tangan kanan, berkilau terpapar sinar matahari yang semakin meninggi.

“Sejak pagi ia di situ. Ia jago kelahi. Tak ada yang berani mendekat. Parmin, pendekar kami yang menyusul naik, berhasil ia tewaskan. Semula kami bermaksud mengepung sampai ia kelaparan dan kepanasan. Tapi sebutir peluru saja dari bedil Tuan mungkin bisa menjatuhkannya lebih cepat,” kata mantri polisi.

Seorang pria berbaju lurik menghampiri mereka.

Pembawaannya tenang.

“Sahaya Mulyodikromo, lurah di sini, Tuan Skaut,” kata si baju lurik. “Benar kata Pak Mantri. Ini harus lekas diselesaikan.” “Lempar api!” teriak seseorang, disambut riuh oleh penduduk. Si raja garong mendengar semua keributan itu, tapi ia tak bergeser dari tempatnya. Justru tibatiba seseorang berkumis kelimis meloncat keluar dari kerumunan penduduk, berseru ketakutan, “Jangan lempar api! Itu rumah sahaya, Tuan!” Di belakang si kumis, seorang wanita muda dalam kebaya kuning yang terlalu cemerlang untuk ukuran desa, ikut menyeruak. Bergantian mereka beruluk sembah kepadanya.

“Ini Bendoro Saridin. Perantara pabrik gula. Itu istrinya.” Lurah Mulyodikromo memberi penjelasan.

“Tembak saja garong itu, Tuan. Sudah banyak korban. Termasuk anak lelaki sahaya,” Bendoro Saridin meratap. “Lihat itu anak sahaya. Terbaring di gardu, kena parang.” Ia diam. Diliriknya kedua opas, yang hanya mampu mengembalikan tatapan bingungnya. Lalu matanya berkeliling, merekam belasan wajah penduduk desa yang sedang menatapnya penuh harap. Seolah ia seorang nabi terjanji yang diutus Tuhan untuk menyelamatkan mereka. Di gardu yang ditunjukkan oleh Bendoro, pandangannya berhenti. Seorang lelaki muda tampak mengerang kesakitan. Bahunya dibebat.

Beberapa pria yang terluka juga dibaringkan di situ.

Sampai kapan penduduk mampu menahan kerusuhan hanya dengan gardu, kentungan, serta beberapa orang lelaki? Padahal sosok macam Kalasrengi ini banyak jumlahnya. Tapi melihat mayat-mayat itu, tampaknya desa ini cukup terlatih melawan.

“Sudah berapa lama gardu ini berdiri?” bisiknya pada opas yang tadi dibawanya dari pos polisi.

“Enam bulan, Tuan,” jawab si opas. “Ada empat gardu di desa ini.” Ia bertanya hanya untuk mengurangi kegelisahan yang semakin merebak dalam hatinya. Pada setiap perekrutan, kepada para calon perwira polisi senantiasa dituturkan legenda kegemilangan Tuan JA Hardeman, asisten residen Bogor, yang sekian tahun lalu meredam kerusuhan di Tjampea tanpa melepas sebutir peluru pun. Situasinya konon lebih panas dari yang dihadapinya kini. Perusuh terdiri dari delapan orang bersenjata. Kepala desa dibunuh. Jenazahnya diseret ke seberang sungai. Tuan Hardeman berhasil meyakinkan para perusuh bahwa ia tidak akan menggunakan kekuatan bersenjata. Akhirnya perusuh membiarkan Tuan Hardeman menyeberang mengambil jenazah kepala desa. Bahkan ia kemudian didaulat mendengarkan keluhan para perusuh tentang ketidakadilan yang memaksa mereka berontak.

Masalahnya, kini ia hanya ditemani dua orang opas, sementara Tuan Hardeman punya dukungan tentara.

“Bikin mampus saja, Tuan! Kami ingin bekerja dengan tenang!” lolong seseorang. Kelihatannya ia kerabat dekat Bendoro.

“Betul, Tuan. Kalau cuma dipenjara, nanti kambuh.

Orang ini cepat sekali mencari anak buah!” imbuh yang lain.

Ia diam. Otaknya melarang ia bertukar pendapat dengan pribumi untuk dua alasan pokok. Pertama, mereka bodoh. Kedua, mereka tak bisa memaksanya.

Memangnya mereka tahu tanggung jawab yang harus ia pikul untuk peristiwa ini? Belum lagi mayat-mayat itu. Tapi sampai kapan semua ini berakhir? Ia menggeser telunjuk kanan, merasakan sensasi dingin pelatuk besi. Memastikan bahwa sejak tadi ia sudah mengaitkan jarinya di situ, sembari mengarahkan bedil Beaumont-nya ke atas. Cukup mudah mengenai sasaran sebesar itu. Ia hanya perlu mengamati, akan berlari ke arah mana raja garong itu. Lalu dengan cepat menggeser laras bedil sejengkal di depan arah lari sasaran. Tarik pelatuknya. Pasti kena. Ia sudah melakukannya berkali-kali, sejak tahap perekrutan polisi hingga memenangkan piala menembak perorangan dalam pesta ulang tahun Ratu Wilhelmina di Koningsplein selama dua tahun berturut-turut.

Tapi, seperti Tuan Hardeman, ia harus terlebih dahulu membujuk si pembangkang agar bersedia menyerah. Digelandang ke meja hijau atas nama kemuliaan peradaban Barat.

“Jangan beri ampun, Tuan! Ia membakar ladang tebu milik gupernemen!“ Bendoro berteriak lagi.

“Dusta!“ tiba-tiba terdengar bentakan dari atas atap.

Seluruh mata bergerak ke arah sumber suara.

“Kau mau bicara apa? Turunlah!“ ia mengendurkan bidikan bedilnya.

“Tuan Skaut. Aku garong. Tapi aku tidak membakar ladang tebu,“ Kalasrengi mencangkung di atap, melipat tangan tanpa melepaskan parang. “Aku dan teman-temanku dulu petani biasa. Tapi makelar haus darah macam Bendoro dan antek-anteknya itu membuat kami tak lagi punya sawah garapan. Semua ladang ditanami tebu. Tak dikembalikan. Padahal janjinya disewa setahun saja. Petani beralih pekerjaan menjadi buruh pabrik gula. Berapa upah kami?“ “Hanya bajingan pemalas yang tak senang ada pabrik gula di sini!“ bentak Bendoro.

“Tuan Skaut,“ Kalasrengi pura-pura tak mendengar suara Bendoro. “Beberapa petani menjadi gila, membakar ladang tebu agar didengar pemerintah.Tapi bukan aku. Aku tidak membakar ladang, tidak merampok rumah penduduk. Aku merampok rumah Bendoro, yang sudah membuat kami menderita.Sampaikan kepada gupernemen: Kembalikan ladang kami. Yang membakar tebu kemarin adalah suruhan Bendoro, agar tanah bisa lekas disewakan lagi sebelum habis masa kontraknya!“ “Fitnah! Tuan Skaut, silakan tanya penduduk apakah mereka keberatan dengan kehadiran pabrik gula di sini?“ tanya Bendoro, lalu berpaling ke arah kerumunan. “Kalian menentang pabrik gula?
Menentang gupernemen?“ teriaknya.

“Tidaaak!“ jawab penduduk. Menggema dari segala pelosok.

“Tuan Skaut, biarkan aku pergi dari para pengecut ini!“ Kalasrengi bangkit dari duduknya.

Mendadak terdengar letusan.

Ada pekik tertahan dari arah atap. Ada kesunyian sebelum semua yang hadir melihat tubuh kekar itu memegang dada, oleng, lalu jatuh berdebam ke tanah becek. Penduduk riuh berdesakan menonton.

Ia termangu mengamati asap tipis dari laras bedilnya. Apakah tadi ia terkejut, lalu menarik pelatuk? Atau ia sengaja melakukannya karena tak ingin dianggap sebagai pejabat bodoh yang mudah ditipu seorang garong? Entahlah. Kini ia harus memutar otak, mencari alasan `pembunuhan' yang masuk akal untuk dilaporkan. Teringat lagi ia perkataan kontrolir yang dahulu merekrutnya menjadi polisi: “Kita adalah batu penjuru. Fondasi.Tempat kaki peradaban Eropa diletakkan. Kita teladan bagi orang Timur dalam segala hal.“
2015 

*) Schouten: Kepala keamanan setara sheriff 

Iksaka Banu, cerpenis dan praktisi periklanan.Buku cerpennya, Semua untuk Hindia, memenangi anugerah KSA, 2014 Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, ketik sebanyak 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media massa lain.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Iksaka Banu
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 15 November 2015

0 Response to "Sebutir Peluru Saja"