Sembahyang Sebutir Peluru | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Sembahyang Sebutir Peluru Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 09:31 Rating: 4,5

Sembahyang Sebutir Peluru

ORANG-ORANG kampung itu masih berada dalam kekhusyukan mahakhusyuk ketika letusan pistol saya menggema dan peluru melesat ke kepala Eyang Salman.

Tentu tak seorang pun menduga ia masih mampu akan berseru ”Allahu Akbar!“ di akhir hidupnya. Itu akibat jarak tembak saya dengan posisi dia berdiri teramat dekat dan ia terlalu khusyuk mengimami saya dan umat dalam salat Jumat.

”Saat yang tepat,“ gumam saya sambil merogoh pistol dari balik celana. “Sampean akan mati dengan indah, Eyang. Sampean akan tetap jadi simbol di kampung ini.”

Dan Eyang Salman memang mati dengan indah. Isi kepalanya terburai di atas sajadah; matanya terpejam dan tangan kanannya mengejang-ngejang berusaha menggapai tasbih. Tak ada kejel-kejel. Semua berjalan tenang setelah sebuah letusan menyanyikan semacam takbir maut bagi Eyang. 

Seperti dugaan saya, orang suci di kampung kami itu tak akan kesakitan. Ia seperti syuhada lain saat melepas nyawa dari tubuh yang fana tak ubahnya sebuah bunga yang menyemburkan kewangiannya ke seluruh atmosfer. Juga seperti orang-orang yang gugur di jalan jihad. Eyang Salman tak menyeru nama lain selain Allah. Karena itu bunyi ”Allah” dalam kematian eyang adalah musik paling kontemporer dan komunikatif untuk Tuhan. Semacam Bhagawad Gita dalam bentuk lain.

Ya, dan dalam pendengaran saya yang samar, sebuah Suara telah mendesah dengan indah dan berucap, “Aku telah mendengar doanya. Aku telah mendengar lagu terakhir yang dia nyanyikan. Syuhada itu telah Kuterima di rumah-Ku bersama keharuman ibadahnya.”

Maka alhamdulillah, sebagai makmum yang baik saya percaya Gusti Allah pun akan paham mengapa saya melesatkan sebutir peluru ke kepalanya justru ketika ia menjadi khatib Jumat.

Di luar dugaan, seperti ada sihir mahasihir, tak seorang pun menggubris kematian Eyang Salman. Tahu ia rubuh, salah seorang menggantikannya mengimami sunat dan segera menuntaskan salat Jumat. 

Jangan menyangka saya akan lari begitu melihat tak seorang pun menangkap saya. Dengan khusyuk, bersama umat lain, saya ikuti salat Jumat itu jiwa yang berjiwa. Sampai selesai. Sampai seseorang menangis meraung-raung di hadapan mayat Eyang Salman. 

“Aku tahu! Aku tahu! Blandrek yang membunuh! Aku tahu murid terkasihnya yang menghabisi nyawanya!“

Teriakan dan raungan itu rupanya menjadi sebuah energi. Begitu selesai berdoa, orang-orang seperti dialiri energi dahsyat untuk segera meringkus saya. Sebagian menggotong jasad Eyang Salman dan tanpa banyak cingcong memandikannya. Ada yang menelepon polisi di telepon umum, ada yang menghubungi rumah sakit dengan telepon genggam.

“Ambulans! Ambulans!“ teriak mereka tanpa menyebut di lokasi mana paramedis itu diperlukan.
Bukan Blandrek kalau saya tak melawan massa yang hendak menghabisi nyawa saya. 

“Saya Izrail,” teriak saya membohongi massa yang mengamuk. ”Saya bunuh Eyang Salman karena ia harus mati dengan cara itu. Nah, hayooo siapa pula yang mau saya cabut nyawanya?”

Tipuan saya berhasil. Massa berhenti mengamuk.

”Lantas mana Blandrek?“ teriak seseorang. 

”Mana manusia durhaka itu!“

”Bunuh saja ia!“

”Orang itu sakit!“

”Ini jihad! Bahaya orang semacam itu dibiarkan hidup.“

”Saya Blandrek!” teriak seseorang.

”Saya Blandrek!” teriak yang lain.

Massa mengamuk lagi. Seseorang memukul mulut orang yang mengaku Blandrek.

”Saya Blandrek asli!“ teriak saya tiba-tiba.

”Saya juga!”

”Saya juga!”

Kacau. 

”Saya asli, lihatlah, sayalah yang membunuh Eyang Salman,” teriak saya lagi sambil mengacung-acungkan pistol.

Kacau. Sebuah sirine berbunyi.

”Siapa mau ikut menyalatkan jenazah?”

”Saya!“

”Blandrek juga!“

”Blandrek juga!“

”Blandrek juga?“

Kacau. Sebuah beduk bertalu-talu.

”Siapa imamnya?“

”Blandrek saja!“

Tentu saja saya menolak jadi imam. Saya hanya Blandrek. Saya hanya seorang mualaf yang tak hafal surat-surat Alquran. Lalu, karena tak seorang pun mau jadi imam, untuk memberi penghormatan terakhir kepada Sang Imam Besar, akhirnya mayat Eyang Salman tak disalatkan.

”Ambulans belum datang.” Kata seseorang.

”Diarak saja! Nanti keburu bau!”

”Ya. Diarak saja.”

”Tanpa penebaran bunga?“

”Tanpa penebaran bunga.“

”Tanpa salvo?“

”Tanpa salvo.“

”Tanpa Blandrek?“

”Ya. Tanpa Blandrek.“

”Tanpa saya?“ teriak saya.

”Baiklah. Kamu boleh ikut.”

Maka, arak-arakan pengiring jenazah pun memadati jalan raya. Mobil-mobil berhenti. Orang-orang membungkukkan badan dan melepas topi.

”Yang suka membela hidup kita telah pergi,” ujar seorang ibu berpakaian compang-camping.

“Lawan kita telah istirahat,” gumam seorang berpakaian necis dengan dasi jingga di hem putihnya.

”Saya yang membunuh,” kata saya.

”Izrail.”

”Saya.”

”Saya Izrail. Saya suruh Blandrek menghabisinya.”

”Jadi orang itu tak bersalah?”

”Siapa?”

”Blandrek.”

Tentu saja saya tak bersalah. Tentu saja membunuh Eyang Salman adalah sebentuk pemujaan kepada kesalehan dan sepak terjangnya yang senantiasa meninggikan harkat hidup umat. Membunuhnya, Anda berhak tahu, adalah menghalalkan perbuatan baik dan ibadah-ibadahnya.

Dan besok di hadapan hakim akan saya utarakan semua alasan itu.

”Begitulah, Pak Hakim. Saya tak ingin melihat Eyang Salman jatuh dalam dosa. Saya tak ingin ia tergiur hasutan Pak Lurah untuk menjual masjid dan tanah perkampungan kami kepada Supermarket Gebleg. Karena itulah saya membunuh. Jadi saya membunuh karena saya teramat mencintainya,Pak.”
Pak Hakin mungkin akan tertawa. Tetapi saya akan ngotot membenarkan alasan-alasan saya kenapa harus membunuh Eyang Salman.

”Betul, Pak Hakim. Saya terobsesi dengan Mark Chapman yang berhasil membunuh John Lenon.”

Pak Hakim tentu terpingkal-pingkal mendengar jawaban saya yang tak terduga. 

Tetapi itu kan besok. Sekarang baru upacara pemakaman eyang yang saleh itu. tak baik ngrasani orang yang baru mati, apalagi di pemakamannya.”

”Ssssst.”

”Ya. Saya akan diam.”

”Sssst! Ada polisi.“

”Ada PM juga.“

”Mungkin dikira mau demonstrasi.“

”Sssst!“

”Ya. Saya akan diam.“

”Sssst! Wali Kota datang bersama penguasa yang mau membeli tanah beserta masjidnya.“

”Diam!“

”Ya. Saya akan diam. Tetapi Wali Kota itu?“

Wali Kota bukan urusan saya. Urusan saya hanya membunuh Eyang Salman. Dan itu sudah saya lakukan sebaik-baiknya. Urusan saya hanya mengantarnya ke makam dan menggantikan posisinya. Jadi seperti dia, saya akan menolak setiap usulan untuk menjual dan merubuhkan masjid di perkampungan saya bagi keperluan orang-orang yang lebih menuhankan pasar daripada menuhankan Tuhan yang sungguh-sungguh Tuhan.

Sayang, saya hanya Blandrek. Saya tak bisa ngilang seperti Pangeran Dipenegoro. Karena itu, sehabis pemakaman, ketika banyak orang bersatu padu membekuk saya, saya tak bisa lolos. Mereka berhasil merampas pistol saya dan menjeblokskan saya ke dalam tahanan. Rupanya begitu jenazah Eyang Salman sudah terkubur di liang lahat, rasa kehilangan mereka membuncah-buncah. Mereka tak bisa ditipu lagi dengan izrail-izrailan seperti yang sudah-sudah.

Malam hari, datanglah Eyang Salman bersama Pak Lurah ke sel saya. Saya tak heran orang yang sudah mati itu bisa mendatangi saya. Untuk menemui saya, saya tahu ia tak perlu konsep mati atau hidup. Ia tak perlu mempermasalahkan apakah ruang dan waktunya berbeda dengan ruang dan waktu saya.

”Masjid itu akhirnya terbeli juga, Blandrek,“ kata Eyang Salman.

”Ya. Aku yang membelinya,” kata Pak Lurah.

”Lalu Pak Lurah akan menjualnya kepada supermarket.”

”Ya. Aku akan menjualnya sekarang juga dengan harga tiga kali lipat,” timpal Pak Lurah.

Habis berkata begitu, Pak Lurah dan Eyang Salman meninggalkan sel saya. Mereka mendekati seorang sipir dan membisikkan sesuatu kepada lelaki muda itu. Yang dibisiki manggut-manggut dan kemudian melenggang ke sel saya.

”Sampean Blandrek ya?“

”Ya. Sampean siapa?“

”Saya juga Blandrek,“ katanya sambil menggebuk pundak saya dengan pentungan.

”Ya. Saya juga Blandrek, tetapi saya bukan pembunuh. Karena inilah saya mesti menghajarmu.”

”Tetapi saya Blandrek!” teriak saya.

”Saya juga!” katanya lagi sambil memukul wajah saya dengan pentungan yang lebih besar.

Maka, baru kali inilah saya mengalami sakit yang benar-benar sakit. Itu semua gara-gara saya hanya seorang Blandrek. Itu semua hanya gara-gara masjid di kampung saya mau digusur setan. Itu semua gara-gara saya sok ingin jadi pahlawan kampung dan membayangkan sebutir peluru bisa bersembahyang Jumat bersama saya.

Masih mending kalau masjid tak jadi digusur. Masih mending kalau Eyang Salman tak mati. Masih mending kalau saya tak ditahan di sebuah sel yang pengap. Wah! (25g)

Semarang, 345.1

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Triyanto Triwikromo
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" Minggu 8 Maret 1998

0 Response to "Sembahyang Sebutir Peluru"