Siang Tinggi - Sajak Tulang - Balada Pagi Renti | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Siang Tinggi - Sajak Tulang - Balada Pagi Renti Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:37 Rating: 4,5

Siang Tinggi - Sajak Tulang - Balada Pagi Renti

Siang Tinggi

Ini kali siang tinggi sekali
Tak ada payung kuning gading
Selain hitam perkabungan.

Di tenda terpal biru uap panas pasir terkepung
Mengirim debu setebal tepung terigu
Meski dinding-dindingnya terbuat dari angin.

Padahal kemarin demonstrasi baru saja usai
Dan segala bangunan miring telah dihancurkan.

Tapi kini masih saja
Siang terasa tinggi sekali!

Mungkinkah masih ada bara api
Di antara mayat-mayat Tuan Penindas
Dan pabrik-pabrik yang telah diambil alih?

2015

Sajak Tulang

Aku tulis sajak ini dari tulang rusuk orang-orang
Yang mati di hari pembantaian. Mayat-mayat
Menyusun dirinya sendiri di tepi kolam
Dan menenggelamkan diri di mulut-mulut ikan.
Bayi-bayi menangis sebab ibu mereka berubah
Jadi burung gagak.

Aku kirim sajak ini tepat ke jantungmu,
Jantung yang menyimpan detak perang bertahun
lamanya.
Perang yang pecah dari sepotong tulang yang retak.
Sebab di hari minggu, bertepatan sebuah lonceng
berdentang,
sajak ini akan terbit di halaman gereja pagi.

Kau bacalah
Sebelum orang-orang mati terbangun
Menyuguhkanmu tulang kepala.

2014 

Balada Pagi Renti

Renti, kita makan mi
Sementara Tuan di sana basah dalam setadah roti.

Amerika menanam cokelat di punggung Brasilia
Sedang negara kita menanam tebu di punggung
petani sendiri.

Sawah-sawah dipecah jadi rumah petak
Sungai dan kali dicukur jadi rumah makan mahal.

Cabai dan lada dipucatkan prasangka arit
Kepala sawit meringkus pedasnya ke pangkal burit.

Kau menggigit besi saat ambeien
Tersenggol ujung jari.

Seperti zaitun yang mengembun
Sesaat menjelang bertemu kentang.

Kau dan aku berputar di tugu Monas
Kilaunya lalu menjatuhkanmu ke tanah tambang
di Rejang.

Kau kenang, di sana kakekmu pernah bersitungkin
Menghentak tembilang, mengguguh pinggang,

Lalu merayakan malam hari hanya dengan
Segumpal kerak nasi.

2015

Ramoun Apta, lahir di Muara Bungo, Jambi, 26 Oktober 1991. Alumnus Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas, Padang. Menulis puisi dan cerpen di berbagai media massa, seperti Kompas, Tempo, Padang Ekspres, Singgalang, dan sebagainya. Pernah diundang dalam acara PPN V di Jambi, sebagai pembaca puisi di Padang Literary Biennale 2012 dan 2014, temu sastrawan muda yang digagas ASAS UPI Bandung, serta meraih anugerah Penyair Nasional dari FIB Unand.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ramoun Apta
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 15 November 2015




0 Response to "Siang Tinggi - Sajak Tulang - Balada Pagi Renti"