Sore Meredam Diam - Kucium Tuhan - Penat di Jalan Sampai Ujung Langit - T.U.B.U.H - Sayap Semesta - Menyaksikan Kapal Karam | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Sore Meredam Diam - Kucium Tuhan - Penat di Jalan Sampai Ujung Langit - T.U.B.U.H - Sayap Semesta - Menyaksikan Kapal Karam Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:11 Rating: 4,5

Sore Meredam Diam - Kucium Tuhan - Penat di Jalan Sampai Ujung Langit - T.U.B.U.H - Sayap Semesta - Menyaksikan Kapal Karam

Sore Meredam Diam 

Sore meredam diam
Belum gelap benar
Membiarkan senja bersembunyi
Malam menumpahkan remang
Angin dingin
Laut berkarat
Aksi ikan berloncatan
Diam-diam ombak
Mencuri hati
Jarak rindu belum dimengerti
Menguji berhari-hari
Menjeruji iman tanpa alas kaki
Ingin bersetubuh
Malam jumat membunuh bantal
Namun kau sedang datang bulan
Lalu kenangan menyulam ke awan
Wanginya menusuk kesepian
Di rumah kaca silih berganti impian
Bunga harum menggoda kelindan
Sapu tangan terjungkal
Kumbang betina menangkar
Malapetaka terhamparkan
Mimpi nikmat dialirkan
Menyulam genderang diayunan
Terus berkeliaran tak terkawal
Menghulubalangkan kajian
Keliaran rusuh di otak
Ke lubang sumur bau tak sedap.

Kucium Tuhan

Kandangkan fotomu
Sejengkal waktu
Tak perlu ragu
Merangkul ragaku

Membuka jendela
Leburkan segala
Cinta
Antara kita

Seiring hujan
Vertikal
Horisontal
Kucium tuhan.

Penat di Jalan Sampai Ujung Langit

Penat memanjat
Ke ujung langit
Kelam menggigil

Risau tak terkata
Tatkala harta
Merobek di kepala

Berakhir pada cinta dunia
Manusia paling kerdil
Berkisah malam tanpa rasa.

T.U.B.U.H

Sunyi
Mengampak
Malam
Tak bersahabat
Berguling
Guling
Membusuk

Tumpukan
Sampah
Sunyi
Itu
Di situ
Melagu
Bisu

Sayap Semesta

Hujan belum reda
Saat kita bersama

Titik sepa ke tebing luka
Sunyi menjentik nama

Linguistik lawan kata
Kilatan siluet di dermaga

Persemaian langka
Sayap semesta.

Menyaksikan Kapal Karam

Pada buah pikir yang kalut
Aku di bawa ke ranjang tua yang melilit duka
Seperti pilihan buah simalakama
Panjang perjalanan masih menyala
Diguyur hujan sang kuasa

Luka setaman pada taman kota
Angin nanap kehabitatnya
Laiknya kisah pendahulu kita
Tanpa banyak cerita saling memahaminya
Dalam sekam nyata merekam

Ke masa silam
Hingga kepada kerajaan malam
Menyaksikan hati terbenam
Lahar pun meleleh ke jurang curam
Kapal karam terbiarkan.



M Enthieh Mudakir, pekerja seni tinggal di Tegal. Kumpulan puisinya Malam Begini Bening 1990, Koor Zaman 2002, Cemas Belum Menyerah 2007.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya M Enthieh Mudakir
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" Minggu 1 November 2015


0 Response to "Sore Meredam Diam - Kucium Tuhan - Penat di Jalan Sampai Ujung Langit - T.U.B.U.H - Sayap Semesta - Menyaksikan Kapal Karam"