Suatu Ketika di Pulau Tak Berpenghuni - Warung Kami - Panggilan Kami - Pada Ning Bunyi | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Suatu Ketika di Pulau Tak Berpenghuni - Warung Kami - Panggilan Kami - Pada Ning Bunyi Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:58 Rating: 4,5

Suatu Ketika di Pulau Tak Berpenghuni - Warung Kami - Panggilan Kami - Pada Ning Bunyi

Suatu Ketika di Pulau Tak Berpenghuni

-al hakim

tabik untukmu: lelaki yang melolong tengah malam
melebuhkan setiap orang dari penjara

di tanah logam kau berjalan memutar. mencari puak
untuk dilahirkan kembali di sebuah episode

"jaman telah membaptisku, jaman telah membaptisku!"
ucapmu sembari mencari mabuk; persetubuhan yang getas

saat pengusiran tiba, salam perpisahan dibacakan
mantra-mantra yang cemas meloncat ke mata seorang gadis

pergilah, kau! dengan banyak resah yang kau gendong
dengan selendang warna tanah, menuju ke laut

ke pulau coklat tak berpenghuni, tempat jasadmu 
hangus
ditumbuhi pohon oak yang menyanyi tiap malam menetes
sepi

(2014-2015)

Suatu Ketika di Pulau Tak Berpenghuni

kau bersabar dalam petak kamar penuh deret buku. mencari
kebenaran dari setiap "ada" --ditusuk penghianatan 
yang perempuan-- dan emngingkari eksistensi remaja
muda: pidato

"siapa itu bertelanjang? kurus di jendela macam orang 
busung lapar, kudisan, pula."
matamu meneleng. kau mahfumi bila bayangan itu
adalah sebagian drai dirimu yang kelaparan dan menagih
haknya. kau menari, menggerak-gerakkan tanganmu
ke depan, ke belakang, ke segala arah yang ramai suara.
membiarkan tubuhmu lengket keringat bau apak. menangkap
ide yang berkelindan.

"kulit juga punya mata, kau tahu itu?"
di pulau tak berpenghuni kau tak berhenti menelisik
sawang di langit-langit kamar. lalu matamu nyalang, benci.
"aku khidir kw dua yang diutus tuhan ke sini, di tempat 
penuh patung berjajar dan memperkosa kesesatanmu."

(2015)

Warung Kami  

kami hidup di sini.
dalam cemas ampas kopi
anak-anak kami lahir
menuju lalulalang
yang menggelap
pelan-pelan

(2015)

Panggilan Kami   

tiba-tiba saja kami jadi tua. kami tak punya kata
menunjukkan cara menangis; mengukir peta di batang
trembesi
agar kau tahu jalan pulang dan menjadi kami: petani yang
bahagia menyimpan marah dan masjid di daku celana.
mengayuh sepeda ke kota, tempat banyak  tuhan berkelahi emnciptakan
teror dan jam-jam malam. tapi kau enggan pulang
membuat kami diasingnkan rindu. tak ingin pulang kah kau?
dengar, sejak kemarin meja-meja n. pohon asam di 
pinggir sawah diam tak melambai. kursi-kursi warung tuak
ngelangut, memanggil nama-nama kekasih di rantau
yang hampir terhapus seperti suratmu tahun lalu:
"aku bahagia lantaran tetap menyimpan desa di kota ini,
menyimpan surau di dalam hati." ucapmu
tapi kami terus jadi tua, dan berhenti memanggil

(2015)

Pada Ning Bunyi

untuk sekelumit ingatan
aku pusatkan pendengaranku
pada ning bunyi.
yang lebih sunyi dari sunyi
bisik-bisik paling menggigit
di batin

saat itu aku diam
menemukan wajahku
menangis sendirian

(2015)


Citra D. Vresti Trisna, lahir di Surabaya. Bergiat di Sekolah Menulis Bangkalan. Puisinya terangkum dalam beberapa antologi bersama. Cerpen, kolom, esainya dimuat di beberapa surat kabar lokal maupun nasional.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Citra D. Vresti Trisna 
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Jawa Pos" Minggu 29 November 2015


0 Response to "Suatu Ketika di Pulau Tak Berpenghuni - Warung Kami - Panggilan Kami - Pada Ning Bunyi"