Tamasya Pencegah Bunuh Diri | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Tamasya Pencegah Bunuh Diri Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 09:18 Rating: 4,5

Tamasya Pencegah Bunuh Diri

KAU jangan mati dulu, besok kuceritakan yang lebih menarik.

Setahuku, begitulah satusatunya salam perpisahan yang dipakai bocah itu. Aku menyebutnya bocah-bukan remaja--meski kuduga usianya sudah 12 tahun--karena suaranya tipis dan ringan seperti anak kecil mana pun yang kukenal. Penyebutan itu juga memudahkanku dalam menerima hal-hal yang ia katakan. Itulah yang akan kuteruskan kepadamu sebentar lagi--sebuah cerita darinya. Jika kau tak berminat, sila beranjak.

Tapi sebelumnya biar kukatakan ini: ada perbedaan besar antara seorang bocah berumur 11 dan 12 tahun. Aku tahu itu dari pengalamanku sendiri.

Seandainya kujelaskan perubahan yang terjadi di dalam kepalaku saat aku berumur 12, kau akan mengerti bahwa mengabaikan bocah yang hendak kuperkenalkan ini adalah tindakan yang kurang bijak dan patut disesali.

Tapi aku tak punya waktu untuk itu. Penjelasan yang memadai tentu akan panjang sekali dan membuatku melenceng dari niat awal, sedangkan penjelasan yang tidak memadai, mengatakan perubahan itu ibarat sore yang berubah jadi senja, misalnya, sama sekali tidak bermanfaat. Lagi pula senja itu nonsens dan orang yang percaya bahwa ada makna lebih di balik langit berwarna saus tomat itu pastilah punya masalah gawat di otaknya.

Semua bocah menepati janji.

Mereka mungkin makhluk kecil yang berisik, bau sampah, dan layak ditendang bokongnya, tapi selama tidak dihinggapi bakteri Stelio yang secara alamiah ada pada tiap-tiap orang dewasa, para bocah akan berlaku jujur. Maka demikianlah bocah yang satu ini. Ia selalu mengatakan ‘besok kuceritakan…’ dan tak pernah ingkar. Ia biasa datang ke ruangan ini menjelang pukul tiga sore, duduk di tepi tempat tidurku, menceritakan satu kisah, dan pergi selambatnya dua jam kemudian. Aku tidak tahu siapa namanya dan dari mana ia berasal dan informasi-informasi tak berguna lainnya. Yang kutahu, ia datang dan bercerita padaku meski mungkin bukan untukku.

Setelah ini suaraku akan lenyap dan cerita akan bergulir. Kau boleh memilih garis startmu sendiri. Jika ingin mulai, kau hanya perlu berkata, “Saya mengizinkan diri saya untuk menyimak dengan baik.” Nyatakan kalimat itu. Ucapkan. Bunyikan.

Biarkan telingamu mendengar dan memahami maksudnya.

Kau bangkit dari remukan bus dan meninggalkan mayat teman-teman sekelasmu yang bergelimpangan.

Mereka terlihat seperti cucian kotor yang diaduk bersama sayuran busuk dan selusin kulit telur, terutama beberapa orang yang bergelimang isi perutnya sendiri.

Kau ingat betul sebabnya; bus melaju kencang dan ban depan sebelah kiri melindas sesuatu. Bapak sopir kesulitan mengendalikan kemudi, bus oleng dan begitulah.

Ketika 26 temanmu mempekerjakan kerongkongan mereka untuk menjerit, kau memutuskan untuk menggulung tubuhmu seperti luing. Kemudian kau bangkit dan mereka tidak.

“Daya aksi dan reaksi tak selalu sebanding. Aksi kecil bisa menghasilkan reaksi besar, vice versa.” Demikian teori yang dipopulerkan oleh Seno, teman sekelasmu yang dianggap genius oleh kebanyakan murid meski perkataan dan nilai rapornya ibarat taman bunga dan kandang babi. Ia menamai teori itu Newtoncansuckmyarse. Kalian menyukai itu dan kerap mengulangnya dalam berbagai pembicaraan. Sekarang Seno sudah mati. Besi gorden bus menancap di mata kirinya, tembus hingga ke tengkuk.

Genius atau idiot, mereka semua mati. Yang hidup hanya kau. Dirimu.

Memang ada luka kecil di pergelangan tangan kirimu akibat tergores pecahan kaca. Kau tak bisa menemukan kaki kananmu. Tapi kau hidup.

Selama kira-kira 10 detik, kepalamu nyeri sekali dan kau mengusap-usap dahi tanpa peduli apakah rasa sakitnya berasal dari sana atau bukan. Bus rupanya terguling ke sisi kanan. Kau keluar dan melihat bagasi di samping kiri menganga, tampak putus asa dan menyedihkan seperti telapak tangan orang-orang yang sedang berdoa. Kau menghampiri bagasi itu dan menemukan papan seluncur berwarna hijau jeruk bali di dalamnya.

Menurutmu papan itu bagus sekali. Di atas latar hijau itu tertulis DeLorean dengan gaya grafi ti. Karena di kelasmu tidak ada murid bernama DeLorean, kau enteng saja mengambilnya.

Sekalipun ada, kau sebenarnya tak bakal berberat hati karena kau tahu mayat dan papan seluncur adalah kombinasi terburuk nomor dua di dunia, setelah pasangan suami-istri.

Tanpa membuat tanda minta pertolongan atau mengubur mayat teman-temanmu atau membakar bus (ketiganya tidak mungkin kau lakukan sendirian, dan andaikata mungkin, apa gunanya?) kau naik ke jalan aspal dan mulai meluncur di atas DeLorean. Di tiap telapak tanganmu ada batu yang diikatkan dengan cabikan kain. Kau memutuskan melanjutkan perjalanan ke arah bus semestinya melaju, bukan ke rumah sakit terdekat. Kau benci rumah sakit: aromanya, warna catnya, seprai tanpa motif, selimut bergaris, besi dingin di kedua sisi ranjang, dengung konstan pendingin udara, makanan hambar, cahaya televisi kecil di pojok atas ruangan, segalanya. Setiap kali terpaksa tinggal di rumah sakit, kau selalu cepat sembuh hanya karena ingin segera meluncur keluar.

Meluncur. Dayung lebih keras. Hari begitu terang dan jalanan begitu sepi.

Tanpa itikad buruk kepada siapa pun, kau mulai menyanyikan sepotong chorus, “And I must go on and on and on and on—.” Setelah ‘on’ yang terakhir, saat kau menarik napas dalam-dalam, persis sebelum meneriakkan We are the champions, my friend!” sekuat tenaga, roda kiri depan DeLorean melindas sesuatu dan kau terjungkal dan berguling-guling seperti perempuan tua gemuk yang terpeleset di tangga.

Potongan lirik itu melintas di benakmu seperti iklan baris. Kau mengembuskan napas secara percuma dan mendengar bunyi papan seluncur menggaruk aspal.

Kau terbangun dalam keadaan duduk bersila di atas sebuah karang. Seorang pria tua berkulit abu-abu dengan bintik-bintik hitam di pipi berdiri di hadapanmu. Melihat pakaiannya, kau tahu ia seorang ninja. Ia hanya menggunakan sebelah kaki untuk berdiri dan merentangkan kedua lengannya seperti tali jemuran. Kau tidak heran dengan perubahan suasana yang mendadak itu. Kau bisa heran, sebenarnya, tapi kau memilih tidak.

Kau memejamkan mata dan menunggu pria itu berbicara.

Ia tidak bicara.

Ia tidak bicara.

Kau melek, lalu mengajaknya bicara.

Tapi kau tidak mendengar suaramu.

Kenyataannya, kau tidak mendengar bunyi apa pun. Kau tahu di bawah karang yang kau duduki ada laut dan ombak dan buih-buih, juga bahwa di langit di atasmu camar-camar melayang dan sesekali menukik ke laut, tapi kau tak mendengarnya. Kau melihat bibir lelaki tua itu bergerak dan tetap tidak mendengar apa-apa.

Baiklah, pikirmu. Kini kau berada di atas karang tanpa telinga. Bukan masalah besar. Yang perlu dilakukan hanyalah menyesuaikan diri, mendengar dengan mata. Kau tahu dua abad silam pernah ada seorang bocah yang omong besar soal mengacaukan fungsi indra, bukan? Dia memikirkan itu, dan banyak hal lain, kelewat serius dan berakhir menjadi pedagang budak belaka. Yang akan kau lakukan tidak persis sama. Kau, sekali lagi, hanya perlu mendengarkan dengan mata. Itu jauh lebih sederhana.

Gerakan bibir lelaki itu ternyata mengulang pola yang itu-itu saja. Kau memfokuskan pikiran pada apa yang kau lihat dan membiarkan napasmu membentuk ritmenya sendiri. Yang diucapkan pria tua itu hanya kalimatkalimat pendek. Kau berkonsentrasi dan ia mengulang polanya. Kau berkonsentrasi dan ia mengulang polanya. Kau berkonsentrasi. Dan kau mendengar perkataannya lewat matamu.

“Rahasia perjalanan lintas waktu— Terletak pada— Lokasi, wahana, kecepatan, dan momen.

Pada prinsipnya— Segalanya bisa diubah, dan segalanya tak bisa diubah.” Selepas kalimat terakhir, matamu mendengar pria itu melompat dan bunyi ‘hayyah’ yang keluar dari mulutnya. Gerakannya cepat sekali seperti ninja mana pun yang pernah kau bayangkan. Ia menendangmu tepat di dada dan membuatmu terlempar dari karang. Kau sebenarnya bisa memprotes dalam jatuhmu, “Kenapa? Kenapa aku harus mengalami ini?” Tapi kau memilih untuk tidak melakukannya. Kau jatuh dan membiarkan tubuhmu rileks seperti benda-benda yang mengapung. Karena kau tahu, cepat atau lambat, bendabenda terapung akan sampai di tepian.

Tepian adalah hidup.

Mengapung adalah cara agar hidup.

Kau jangan mati dulu, besok kuceritakan yang lebih menarik…


Dea Anugrah, menulis puisi dan cerita pendek.
Bukunya, Misa Arwah (2015)

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dea Anugrah
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 1 November 2015

0 Response to "Tamasya Pencegah Bunuh Diri"