Taruhan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Taruhan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 13:07 Rating: 4,5

Taruhan

SUKIR sedang bingung. Anak semata wayangnya yang bernama Suli minta sunat. Tidak hanya itu, Suli juga minta "nanggap jaranan". Padahal, kondisi keuangannya sedang kering. Sawahnya yang cuma sepetak juga belum panen. Tabungan --yang digadang-gadang bisa digunakan untuk kebutuhan yang mendadak-- sudah ludes. Sementara ia tidak memiliki gaji tetap sebagai jaminan jika akhirnya terpaksa berutang. Penghasilannya sebagai tenaga serabutan di kampungnya memang tidak menentu. Kadang ramai, tapi banyak sepinya.

"APA tidak bisa ditunda, Le. Orang sunat itu butuh biaya. Tidak cuma dipotong terus selesai."

"Aku malu, Pak. Tiap hari diejek oleh teman-teman di sekolah. Kata mereka, aku licek. Seperti anak perempuan. Sudah besar masih belum sunat."

"Kamu jangan dengarkan omongan teman-temanmu. Kalau mereka mengejek, kamu menjauh saja dari mereka."

"Mereka kompak, Pak. Di mana pun aku berada, di sana juga aku diejek. Seperti ada yang mengorganisir."

"Omonganmu, Li. Diorganisir iku apa!"

Sukir tidak berhasil membujuk anaknya. Rupanya keinginan Suli sudah bulat. Daripada malu di hadapan teman-temannya, Suli emmilih menekan bapaknya. Ia juga mengancam tidak mau sekolah jika keinginannya untuk sunat dan nanggap jaranan tidak dituruti.

Sukir mencoba mencari jalan keluar. Malamnya, ia mondar mandir di teras rumahnya, mencari ide. Hampir dua jam bolak balik kanan kiri, ide yang dicarinya tak kunjung keluar.  Tiba-tiba ia meloncat kegirangan. Sebentar lagi di dusunnya akan diadakan pemilihan kepala dusun. Biasanya jika ada pemilihan seperti itu, banyak orang yang taruhan. Kadang taruhan sepeda, mobil, sawah, sapi, bahkan rumah. Pokoknya apa yang dimiliki, bisa dibuat taruhan. Ia berpikir keras, barang apa yang ia miliki yang bisa digunakan sebagai taruhan.

Hingga matanya mengantuk, barang itu belum juga ditemukan. Ia memutuskan untuk tidur.

**
"BU! Bapak berangkat ngrumput!" seru Sukir dari kandang yang berada di belakang rumah.

"Ndak sarapan dulu, Pak? Ini nasinya sudah matang." Tukas Suliani.

Sukir tidak mendnegar jawaban istrinya. Ia langsung pergi setelah pamitan. Di perjalanan, Sukir bertemu Poniman. Mereka berbincang sebentar lalu pergi ke arah tujuan masing-masing.

"Tak tunggu habis Maghrib, Kir!"

"Ya, Kang!"

Rupanya Sukir sudah punya ide. Diam-diam, ia akan menjadikan si Bejo, kerbau milik juragan Kaseri, untuk taruhan. Poniman adalah calon kepala dusun paling kuat daripada calon-calon lainnya.

Udara di Kampung Sereh semakin ramai oleh perbincangan seputar pemilihan kepala dusun. Setiap calon berkunjung ke rumah warga dalam rangka silaturahmi politik dan memberi uang transport. Mereka memanfaatkan kesempatan itu untuk menebar citra. Dari ketiga calon yang ada, Poniman paling diunnggulkan.

Sukir yang berkesempatan dikunjungi para calon kepala dusun itu melihat keunggulan Poniman. Sementara calon yang lain, tak lebih, hanya penggembira. Maka, ketika malam sudah tiba, ia gegas ke rumah Poniman untuk menyampaikan maksudnya.

"Aku akan membantumu, Kang. Aku siap berkampanye untuk kemenanganmu!" seru Sukir penuh semangat.

"Terimakasih untuk dukunganmu, Kir. Tapi, aku tidak bisa memberi apa-apa atas semuanya. Uangku sudah habis."

"Sampean tidak perlu memikirkan itu. Aku ikhlas membantu sampean agar menang."

Poniman terharu dengan kata-kata Sukir. Ia menepuk pundak tetangganya itu sebagai tanda penghormatan. Sementar Sukir tersenyum penuh harapan. Ia membayangkan menuntun kerbau milik Sadeli karena berhasil memenangi taruhan. Dengan begitu, keinginan anaknya untuk sunat dapat terwujud. Bayangan wajah Suli dan pertunjukan jaranan di rummahnya melayang-layang.

**
PEMILIHAN kepala Dusun dimulai. Para pemilih memasuki bilik suara dan mencobloskan sebuah paku pada gambar calon yang dipilihnya. Hampir 90% dari daftar pemilih tetap yang ada menyalurkan aspirasinya. Mereka yang tidak datang rata-rata bekerja di luar kota. Penghitungan suara akan dimulai. Ketiga calon kepala dusun mulai gelisah. Berbeda dengan Sukir yang terlihat semringah. Ia diliputi kegembiraan atas bayangan kemenangan yang sebentar lagi ia dapatkan. Suasana kian menegangkan. Dalam perhitungan suara, ternyata dua calon yang ada sama-sama kuat. Poniman dan Legiman.

Sukir mulai gusar. Bayangan kerbau Sadeli kian kabur. Ia ingin membatalkan taruhan itu sebelum semuanya terlambat. Ia baru ingat siapa Legiman, saingan jagoannya. Legiman adalah anak Kliwon, kepala dusun sebelumnya yang memiliki prestasi cukup membanggakan. Sementara Poniman adalah anak Paing, kepala dusun sebelum Kliwon yang pernah tersandung masalah karena menggelapkan uang iuran warga.

Sukir membelah kerumunan warga yang berjubel di halaman Kantor RT. Ia mencari Sadeli. Ia ingin membatalkan taruhan yang ia sepakati. Ia tidak mampu membayangkan kemarahan juragan Kaseri jika kerbau miliknya digunakan taruhan dan kalah. Bisa-bisa ia dipenjara karena tuduhan pencurian.

Suara panitia di loudspeaker seperti suara kumpulan lebah di telinga Sukir. Nama Poniman dan Legiman bersahutan. wajah Sadeli belum juga kelihatan . Sukir makin tegang.

"Bapak-bapak, Ibu-ibu, dan saudara sekalian. Posisi terakhir perolehan suara Bapak Poniman dan Bapak Legiman saat ini masih imbang. Tinggal satu suara lagi dan ini akan sangat menentukan. Sebagai panitia, kami berharap, semuanya legowo dengan hasil ini. Setuju, nggih?"

"Setujuuu...!" sahut para warga.

**
SUKIR meringkuk dalam penjara. Ia belum percaya dengan nasib yang menimpanya. Suliani berusaha menguatkan. Ia meminta suaminya untuk sabar dan menjalani hukuman yang ditetapkan hakim dengan tabah.

"Semua ada ganjarannya, Kang. Kalau kebaikan yang kita tanam, kebaikan pula yang akan kita panen. Kalau keburukan yang kita semai, keburukan pula yang akan kita tuai."

"Iya, Ni. Aku kapok, insyaf. Aku tidak akan mengulanginya lagi."

Juragan Kaseri berdehem-dehem di sebelah pasangan suami-istri itu. Kemarahannya belum juga reda. Rupanya ia merasa belum cukup hanya dengan memenjarakan Sukir. "Selepas dari penjara, kamu harus mengganti kerbauku yang kamu pakai taruhan!"

Sukir hanya pasrah. Ia tidak berani menatap wajah juragannya yang dipenuhi dengan bara api. Benar juga kata istrinya, apa yang kita lakukan akan kembali pada kita sendiri.

Tiba-tiba, cahaya yang sangat terang menyilaukan pandangan Sukir. Tubuh juragan Kaseri dan istrinya seolah ditelan cahaya itu dan menghilang. Berganti dengan suara gaduh yang memintanya segera siuman.

"Kir, sadar, Kir. bangun."

Sukir mencium bau minyak kayu putih. Pandangannya berkunang-kunang. Kepalanya teras apusing. Sesaat kemudian, ia menangkap wajah Suliani dan Suli yang sedang menangis sesenggukan. Disusul wajah Sadeli yang tampak kaku.

"Sampean kenapa, kang!" seru Suliani yang melihat suaminya seperti kebingungan.

Sukir memperhatikan lagi sekitarnya. ia tampak lega setelah yakin bahwa apa yang ia alami hanyalah mimpi. Meskipun terselip juga rasa khawatir jika juragan Kaseri tahu kerbaunya ia gunakan taruhan.

"Aku tidak apa-apa, Ni. Mungkin kecapekan," hibur Sukir kepada istrinya.

Para warga yang semula mengerumuni Sukir beranjak satu persatu. Tinggal Suliani, Suli, dan Sadeli yang masih menunggu.

"Sunatnya jadi kan, Pak?" sela Sulis kepada Sukir yang masih tergolek lemas.

"Jadi, Li. Bapak akan menyunatkan kamu dan nanggap jaranan." 

Suli meloncat kegirangan. Keinginannya untuk sunat akhirnya terwujud. Teman-temannya tidak akan mengejeknya lagi sebagai anak licek. Sukir menghela napas. Ia belum tahu dari mana uang untuk acara sunatan itu diperoleh. Sementara urusan dengan Sadeli juga belum selesai.

"Taruhannya batal, Kir. Suaranya Seri. Jadi tidak ada yang kalah dan menang."

**
SUKIR berkunjung ke rumah Poniman. Ia menceritakan kondisinya dan keinginan anaknya untuk sunat dengan nanggap jaranan. Ia berjanji akan mencicil pinjamannya setiap sawahnya panen.

"Kebetulan, Kir. Aku baru dapat rezeki. Semoga ini cukup untuk menutupi kebutuhanmu menyunatkan Suli. Anggap saja sebagai rasa terima kasihku karena kamu telah memberikan dukungan sepenuhnya atas pencalonanku."

Sukir hampir tak percaya dengan perkataan Ponniman. Untuk bantuan yang diberikan tetangganya itu, dia telah mengucapkan terima kasih. Tapi, bagaimana mungkin Poniman bisa menang, padahal hasilnya seri? Bagaimana para warga bisa menerima masa lalu Paing, bapak Poniman yang pernah menggelapkan uang iuran mereka? Apa yang sebenarnya telah terjadi?

Masa bodoh. Sukir tidak mau rumit dengan pikirannya sendiri. Ia lebih memikirkan acara sunatan Suli dan jaranan yang akan ditanggap. Bayangan wajah anaknya berkelebat. Ia berlari pulang sekuat tenaga.***

Salman Karim, pengajar di MTs Darul Ulum Purwodadi, Pasuruan, Jawa Timur.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya 
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 15 November 2015 


0 Response to "Taruhan"