Tembus, Empat Angka | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Tembus, Empat Angka Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 09:10 Rating: 4,5

Tembus, Empat Angka

LENYAP sudah kegalauan Ismail perihal hutangnya pada Sarul yang tak kunjung berkurang, sewa rumah yang mesti dibayar seminggu lagi, dan kredit motor yang dua hari lagi jatuh tempo, ketika sore itu, di kedai Mak Tanjung, ia menemukan bahwa togel yang ia pasang kemarin, tembus. Empat angka sekaligus!

Dipanjatnya meja, kemudian ia melonjak-lonjak sehingga kopi yang baru sempat ia hembus-hembus saja itu terserak dan gelasnya menggelinding jatuh. Dibukanya bungkus kerupuk yang tergantung di sebentang tali di atas meja, diambilnya satu, dikunyahnya dengan brutal, dan dalam keadaan mulut masih berisi, bersoraklah ia, “Mati anjing! Hahaha! Mati Anjing!”

Kedai yang semula tenang dan tenteram menjadi tidak tenang dan tidak tenteram oleh ulah Ismail. Mereka yang sedang mengadu angka batu domino terpaksa mengundurkan diri tanpa pamit namun sempat berkomentar seragam membentuk garis miring dengan telunjuk di kening. Mak Tanjung yang sedang menggulai pakis dan nangka untuk keperluan dagang lontong sayur nanti malam berlari ke luar.

“Astaghfirullah. Habis obat kau, Ismail?” tanya Mak Tanjung demi melihat Ismail sedang melenggak-lenggokkan pantatnya ke kanan dan ke kiri kemudian memutar searah jarum jam beberapa kali dengan tempo teratur meskipun tanpa musik.

“Asyik, Mak. Digoyang. Obat, Mak? Masih ada. Berlebih malah.”

“Turun, Ismail!”

“Tunggu, Mak. Berapa harga kedai ini?”

“Turun!”

“Hitung saja dulu,” bantah Ismail sambil tetap lenggak kanan lenggok kiri, berputar. “Sampai ke harga-harga sendoknya sekalian.”

“Astaghfirulah.” Mak Tanjung menatap ke bawah meja. “Sudah pecah pula gelas olehmu.”

“Aman itu, Mak. Hitung saja harga kedai ini. Setelah Mak hitung, fotolah. Jadi foto itu bisa Mak cium-cium ketika rindu. Hahaha. Asik, digoyang.”

“Jangan menggerasau kau, Ismail!”

“Tanyalah dulu apa mauku.”

“Jadilah. Apa maumu?” tanya Mak Tanjung. “Astaga, berserak-serak semua kerupuk itu!”

“Sudah jelas dong. Mau kubeli kedai ini.”

“Sakit!”

“Mak yang sakit. Tidak bisa menerima kenyataan kalau aku akan membeli kedai ini. Ismailmu ini sekarang kaya, Mak. Ahai….”

Meledaklah tawa Mak Tanjung mendengar kalimat terakhir Ismail barusan.

“Sudah lunak pula gigimu daripada lidah menyebut dirimu kaya,” kata Mak Tanjung. “Sedang kopi yang barusan kau minum saja kau tidak tahu di mana mencari pembayarnya. Paling-paling bon. Bon lagi.”

“Eits, jangan salah. Ismail sekarang kaya. Uangku sekarang berlimpah-limpah. Bahkan kalau semuanya dikumpulkan, bisa menjadi tempatku menyuruk.”

“Lewat mana kau pergi dari rumahmu tadi, Ismail, sampai bisa kerasukan hantu seperti ini?”

“Kerasukan? Hahaha. Kerasukan? Hahaha.”

“Turun, Ismail!”

“Jangan aku Mak larang-larang! Sebentar lagi kedai ini bakal jadi kedaiku.”

“Tidak kujual.”

“Terserah.”

“Turun!”

“Tidak!”

Mak Tanjung mengejar Ismail dengan sendok gulai. Ismail berpindah dari satu meja ke meja lain.

“Astaghfirullah. Sudah putus semua tali otakmu gara-gara menganggur! Sudah kukatakan sejak dulu, carilah kerja. Biar tak sakit otak!”

“Itu dulu, Mak. Sekarang aku sudah kaya. Tinggal goyang kanan goyang kiri,” kata Ismail sambil melenggak-lenggokkan pantatnya. “Uang akan keluar dengan sendirinya. Dan motor buruk itu, akan kuganti dengan mobil sedan mantap. Berpanas, berhujan, akan kubawa keliling-keliling. Asyik.”

“Ha, motormu itu. Kau kata dulu akan kaupakai untuk mengojek. Tapi tak pernah kulihat sekalipun kau di pangkalan, malah meronggok di sini setiap hari.”

“Ismail mengojek? Hahaha. Me-ngo-jek? Hahaha.”

“Sudah sering pula kutawari kau kerja di bangunan, jadi stokar. Jawabmu cuma iya-iya saja.”

“Aku Mak tawari kerja di bangunan? Mana mau aku! Kalau di Bank, tak apa. Apalagi sekarang aku sudah kaya. Uang di Bank itu aku yang akan mengisinya. Tukang bangunan itu aku yang akan menggajinya.” Ismail tidak menghentikan goyangnya. Malah semakin menjadi-jadi.

“Turun kau, Ismail!”

“Tidak!”

“Mati anjinglah kau!” Mak Tanjung beranjak pergi ke dapur. Ia sudah tidak peduli pada Ismail yang masih melenggak-lenggok di atas meja. Tak lagi peduli bahkan bila akhirnya meja itu akan patah empat.

“Jangan lupa hitung harga kedai ini, Mak!” Ismail bersorak sambil meletakkan kedua telapak tangannya di depan mulut membentuk corong.

Ismail mengambil kerupuk lagi, dikunyahnya kemudian dibuang. Diambilnya gorengan, kemudian dibuang. Demikian pula yang ia lakukan pada setiap jajanan yang tergantung di sebentang tali dan juga di atas meja.



TAK lama kemudian, tampak Sarul sedang mengendarai motor menuju rumahnya yang berada di ujung jalan.

“Sarul! Sarul! Kemari! Orang kaya memanggilmu!”

Sarul menoleh ke arah sumber suara dan mendapati Ismail sedang melenggak-lenggok di atas meja. Setelah menggeleng tiga kali ia memutar arah motornya menuju tempat di mana Ismail berada.

“Habis obatmu, Ismail? Astaga.” Tanya Sarul sesampainya di kedai Mak Tanjung. “Turunlah. Malu. Sudah seperti orang kematian bini!”

“Aku menunggumu dari tadi.”

“Ada apa? Kau hendak meminta mengulur-ulur pembayaran hutang lagi? Sudahlah. Sudah terlalu panjang aku ulur. Jangan sampai karena terlalu panjang kuulur kau kepayahan menjangkaunya.”

“Justru itu aku menunggumu. Berapa hutangku?”

“Tujuh juta.”

“Sejak kapan aku berhutang?”

“Desember 2011. Tiga tahun lalu.”

“Hmm. Tujuh juta. Tiga tahun. Kalau dengan bunganya jadi berapa?”

“Aku tidak pernah minta bunga.”

“Aku genapkan saja jadi sepuluh juta. Aku kasih bunga sekalian biar harum uangmu itu.” Ismail meloncat turun dari meja. “Kau tunggu di sini. Orang kaya akan menjemput uangnya.”

Ismail berjalan pulang ke rumahnya setelah lebih dahulu menepuk-nepuk pundak Sarul seakan-akan mereka adalah sahabat yang lama terpisah kemudian dipertemukan kembali.

Pada setiap orang yang ia temui di sepanjang jalan pulang, Ismail berjanji akan memberikan sejumlah uang.

“Buatmu sejuta.”

“Buatmu, Noik, sejuta juga.”

“Kalau kamu, Mat, dua juta. Ajaklah anakmu belanja baju. Sudah usang yang mereka pakai tiap hari itu.”

“Tiga juta cukup, Pan? Tapi janganlah, kau masih bujang. Lima ratus ribu saja.”

Begitu seterusnya. Tanda persahabatan, katanya. Meskipun orang yang dituju hanya membalas janji Ismail itu dengan menggeleng hiba.

Sesampainya di rumah, Ismail segera menemui istrinya.

“Duh, membudut saja kau, Ervira. Sudah bosan kau tinggal di rumah buruk ini? Sampai-sampai membuatmu yang dulu cantik sekarang sudah semacam handuk,” kata Ismail pada istrinya yang sedang memasak. “Tapi tenang kau, Ervira. Sebentar lagi akan kuajak kau pindah ke rumah yang lapang dan bagus. Akan kubelikan juga apa yang bisa membuatmu cantik lagi. Kau mau apa? Bedak? Lipstik? Kutang? Kubelikan semua. O ya, mungkin lidah kau pun sudah mati rasa gara-gara makan itu ke itu saja? Aman itu. Akan kuajak kau belanja di swalayan. Pilihlah sayur dan daging dingin dari dalam kulkas besar itu. Biar berselera makanmu. Kalau kau berselera makan, aku pun jadi berselera melihatmu.”

Setelah berkata demikian, Ismail masuk ke dalam kamar. Namun tidak keluar juga sampai setengah jam kemudian. Ervira yang saat itu sudah selesai memasak dan ingin tidur, terkejut melihat pakaian bertebaran di lantai, lemari sudah berpindah letak, ranjang yang sudah jungkir-balik, dan Ismail yang sedang menyigi isi lemari satu-satu.. “Astaghfirullah! Apa yang abang perbuat?”

“Ada kau melihat celana yang kupakai kemarin?”

“Celana panjang?

“Celana panjang.”

“Loreng?”

“Loreng.”

“Sudah kubawa ke kamar mandi.”

“Hah?”

Bukan main terperangahnya Ismail. Jangan sampai, pikirnya. Maka berlarilah Ismail ke kamar mandi.

Namun apa mau dikata. Ismail hanya bisa berencana, ember cucianlah yang menentukan. Lemas sudah badannya. Seakan darahnya habis dan tulangnya berantakan. Celana yang ia pakai kemarin, celana tempat ia menyimpan kupon togel yang tembus empat angka itu, sedang melambai tersenyum pada Ismail bersama gelembung sabun.

(Gang Patai, 2014)

Karta Kusumah menetap di Padang. Bergiat di Komunitas Seni Nan Tumpah.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Karta Kusumah
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" Minggu 22 November 2015


0 Response to "Tembus, Empat Angka"