Tergadai | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Tergadai Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 23:20 Rating: 4,5

Tergadai

LANTARAN tanah itu, tuk Bedil mengokang senapan lantaknya. Lantaran tanah itu, tuk Bedil melahap kenangannya sebagai pemburu. Lantaran tanah itu, tiba-tiba tuk Bedil merindukan bau mesiu, anyir darah rusa dan leher rusa yang pasrah digasak belatinya yang mengkilap.

Tuk Bedil meraih senapannya. Membelik-belik laras senapan. Membelai-belai pelatuk senapan. Memanggul senapan. Sebentara kemudian hulu senapan seperti melekat di bahunya sebelah depan. melalui paku pembidik yang berada di ujung laras senapan, dia mengarahkan senapannya ke bahagian muka tanahnya. Sebentar saja. Namun, belum sempat senapan itu turun dari bahunya, dia kembali membidik. Mengarahkan moncong senapan ke jalan setapak, yang melintasi tanahnya.

Ketika paku pembidik itu dirasakannya tidak meleset memberi petunjuk sasaran bidikannya, dia menurunkan senapan itu dari bahunya pelan-pelan. Matanya masih terpacak ke arah sasaran bidikannya itu. Lalu dia berdiri. Bercekak pinggang, sementara senapan lantaknya, tidak lepas di tangan kanannya. Kemudian, bagaikan seorang anggota regu penembak, dengan ancang-ancang kaki yang kuat, dengan tangan dan mata yang tegas, dia kembali meletakkan hulu senapan ke bahunya. Membidik. Mengarahkan moncong senapan ke bahagian muka tanahnya. 

Memang sudah lama dia tidak menggunakan senapan itu. Mungkin belasan tahun. Semenjak Begol, anak sulung sekaligus anak bungsunya itu menikah dan sekarang sudah punya anak perempuan yang sudah sekolah di SD inpres kampung sebelah. 

Meskipun sudah lama tidak menembak, membedil kata orang-orang kampungnya, tuk Bedil masih dapat membusungkan dada karena tidak ada seorang pun warga kampung ini yang mampu menandingi kebolehannya menembak. Itu bukan berarti tidak pernah lahir seorang penembak baru di kampung ini setelah dirinya, tetapi penembak setelah dirinya di kampung itu belum dapat mengalahkan prestasi yang pernah dipersembahkannya.

Semenjak beberapa tahun terakhir ini, tuk Bedil merasakan betapa besar arti ketuaan yang menyerang tubuhnya. Dengan keadaan itulah, yang ditandai dengan ketidakmampuannya lagi masuk hutan keluar hutan, dia berhenti menembak. Dia menggantungkan senapan lantaknya di dinding dan perlahan-lahan melupakannya. Dengan keadaan dan sikap seperti itulah, rekornya tidak terkalahkan dan karenanya pula panggilan tuk Bedil yang diperuntukkan kepadanya masih memberi predikat kepada dirinya sebagai seorang penembak, seorang pembedil unggul di kampung ini. Seandainya dia tidak menggantungkan senapannya di dinding, lebih celaka lagi dia mempersetankan tanda-tanda ketuaannya itu, sudah barang tentu prestasinya menembak merosot. Itu berarti membuka kesempatan orang lain menumbangkan rekor yang dibuatnya, seorang penembak harus dapat menembak seekor rusa per hari dan itu memang dilakukann dengan susah payah serta tenaga yang prima. Tenaga itu benar yang tidak dimilikinya lagi. Namun, dia telah membuat keputusan yang tepat untuk menjaga ukiran nama bagusnya dalam soal tembak-menembak di kampung ini.

Apabila pagi ini dia kembali memanggul senapan lantaknya, dia bukanlah hendak menghancurleburkan keputusan yang dibuatnya belasan tahun itu; kembali lagi masuk keluar hutan dan dengan bangga mempertontonkan kerjanya. Tidak. Dia terpaksa memanggul senapan lantaknya setelah orang-orang itu dengan seperangkat alat beratnya, melabrak tanah-tanah yang berada di sekitar tanahnya. Dia memanggul senapan lantaknya setelah orang-orag itu tidak mempedulikan kata-kata yang meluncur dari mulutnya bahwa dia tidak sedia tanahnya lepas ke tangan orang lain. Dia telah memagar tanahnya itu, tetapi orang-orang tersebut bersikeras menghendaki tanahnya. Dia persetankan ihwal orang yang tanpa banyak cingcong membiarkan tanahnya berpindah tangan.

Tidak. Dia tidak mau tanahnya itu dimiliki orang lain. Dia telah katakan hal ini kepada orang-orang itu, terutama kepada pejabat kecamatan yang datang kepadanya dengan setumpuk uang. Dia merasa sangat dihina karena uang itu, terlebih melihat perbandingan tak seimbang antara tanah dengan uang tersebut. Dia telah katakan ketidaksediaannya kepada siapa saja berkali-kali, tetapi orang-orang itu sedikit pun tidak mempedulikannya. Bahkan, dia merasa dipaksa menyerahkan tanah itu, tanah yang diperjuangkannya dengan keringatnya sendiri. Untung setelah ketidaksediaannya melepaskan tanahnya dikatakannya terus terang, dia menjadi rajin menunggu tanahnya itu. Kalau tidak, tentulah tanah tersebut sudah digarap habis. sedangkan ditunggu pun, orang-orang itu dengan berani coba melabrak tanahnya. Betapa geram dia, betapa geramnya. Kegeraman itu pun berada di titik puncak, ketika Begol anak sulung dan sekaligus anak bungsunya itu, secara terang-terangan menentangnya.

“Mengertilah, Bah. Tanah Ebah itu terkena proyek maskapai minyak yang sedang digalakkan. Mereka akan membangun tempat kita ini. Kampung kita ini,” kata Begol suatu petang. Kata-kata yang sama dari Begol itu, didengarnya lagi setelah pada besoknya lagi. Kata-kata yang sama didengarnya juga dan pejabat kecamatan dan pejabat di kampung ini.

Tuk Bedil menggulungkan tembakau dengan daun nipah. Membasahi duan nipah dengan air ludahnya. Lidahnya tampak agak cokelat ketika berbuat seperti itu. 

Namun, dia mengurungkan niat mempertemukan sudut daun nipah yang satu dengan yang lainnya. Memandang ke wajah Begol. Kembali berhasrat menuntaskan gulungan daun nipah dan tembakau itu, tetapi entah dari mana datang komando di dalam dirinya yang mencegah dia berbuat begitu. 

“Orang-orang itu tidak mengambil tanah Ebah dengan tangan kosong. Mereka memberi imbalan yang saya anggap layak,” hujah Begol lagi.

“Haram jadah.” tuk Bedil bangkit dari duduknya. Memandang ke hutan karet. Matanya melekat di pohon karet. “Imbalan seenak perut mereka. Mereka kira apa aku ini. Rp 75 semeter untuk ganti rugi tanah yang sekian lama kuolah dengan keringatku, jauh sebelum kau lahir. Imbalan, ganti rugi, dan segala macam taik kucing kering. Coba kau bayangkan, tanaman yang ada di atas tanah itu, hanya diganti Rp 2.500 per batang. Itu tanaman kelapa yang menghasilkan.”

“Namun itu berlaku juga bagi tanah-tanah orang kampung ini, malahan lebih rendah lagi. Ebah tahu, berapa banyak kebun Leman diserahkannya kepada maskapai minyak itu. lantaran itulah dia naik haji,” kata Begol.

“Begitu juga dengan Daud, Kentol, Mijan, Dolah, dan Bakir ‘kan? Tapi itu semua terjadi dengan hati yang gundah. Sekarang, mereka sudah haji. Seperti Daud, mungkin bukan jadi persoalan karena tanahnya memang banyak. Akan tetapi yang lain-lainnya itu, setelah bersorak-sorai dengan uang dan naik haji itu, mereka mau kerja apa? Tanah-tanah mereka sudah habis dan uang mereka pun akan habis,” jawab tuk Bedil.

“Namun keadaan benar yang meminta begitu.”

“Keadaan? Selamanyakah kita dirampok oleh keadaan?”

“Saya tidak mengerti apa yang Ebah maksudkan.”

Tuk Bedil melenguh. Menelan air liurnya.

“Engkau masih juga belum mengerti? Engkau masih saja belum mengerti bagaimana orang-orang itu lebih menghargai pekerjaan burung daripada pekerjaan manusia. Coba kau lihat. Sebatang kayu corduroy sanggup mereka beli Rp 5.000. Apa sulitnya mencari kayu itu di tengah hutan.”

“Kayu itu tidak dipelihara segala macam, pun tidak perlu ditanam oleh tangan manusia. Kayu tersebut tumbuh sendiri. Burunglah yang menanamnya. Katankan saja begitu. Bagaimana mungkin orang lebih memberatkan perhatiannya kepada perbuatan burung daripada perbuatan manusia.”

Dua anak beranak itu saling bertatapan.saling memperimbangkan betapa kuatnya perasaan mereka yang berada seberang-menyeberang itu. Akan tetapi Begol tidak berani memandang mata ebahnya lebih lama lagi. Mata itu bagaikan bara dan siap menjadi umpan api yang paling dahsyat. 

Sebenarnya, Begol cukup mengerti dengan perasaan ebahnya itu. Namun, dia mau berbuat apa? semuanya sudah jelas. Bahwa tanah tersebut akan berpindah tangan juga, tidak diragukan lagi. Dan dia tak dapat membayangkan bagaimana seandainya ebahnya tidak bersedia menyerahkan tanahnya itu karena seperti kata pejabat kecamatan, sikap seperti itu menghambat pembangunan.

“Bagiku yang penting sekarang adalah mempertahankan hakku,” kata tuk Bedil. Kalimat seperti itu terulang lagi sekarang meskipun hanya dalam hati. Kalimat itu terulang lagi sekarang setelah orang-orang itu coba melabrak tanahnya, setelah dia memagar tanahnya, setelah Begol menentangnya, dan setelah dia membidik-bidik sesuatu, senapan lantak di tangannya.

Tuk Bedil memandang pagar-pagar yang memperjelas batas tanahnya dengan tanah yang tak diketahuinya lagi milik siapa. Tuk Bedil melihat sempadan itu dengan hati gembira. Sepintas-kilas sempat juga dia memandang tanah-tanah di seberang sempadan tanahnya itu. Tanah yang sudah rata, tidak ditumbuhi kelapa lagi, rambutan, karet, dan sebagainya. Sebaliknya, di atas tanah itu, dia melihat besi-besi, baja, dan pipa-pipa tergeletak bagaikan jiwa orang yang memiliki tanah tersebut pada mulanya.

Secepat kilat dia membuang perhatiannya kepada benda-benda asing itu. Lalu, perhatiannya tumpah ke sempadan tanah, tanaman segar di atas tanahnya, dan senapan lantak itu. Ingat kepada benda yang terakhir ini, hatinya bertambah gembira. Dia berpikir, mulai hari ini, orang-orang maskapai minyak itu tidak dapat lagi melabrak tanahnya. Orang-orang itu tidak akan coba-coba lagi melabrak kebunnya, melabrak haknya.

Dia membuat pagar sempadan tanahnya agar orang-orang maskapai minyak itu tidak berlaku kurang ajar lagi. Berbekalkan senapan lantak yang siap meletup, dia yakin dapat mempertahankan tanah miliknya. Sebelumnya, hari-hari sebelum dia mempersiapkan pagar sempadan dan senapan itu, orang-orang tersebut “bermain kucing” dengannya. Mereka berusaha melabrak tanahnya dan ketika dia menanti labrakan itu, mereka balik kanan. Akan tetapi, pada besoknya, mereka datang lagi dengan gaya yang sama. Sekarang, setelah tuk Bedil membuat pagar sempadan dan berbekalkan senapan, hal seperti itu tentulah tidak terulang lagi. Pengalamannya selama dua hari ini menunjukkan begitu.

Tuk Bedil kembali memandang tanah dan tanaman yang ada di atas tanahnya. Tersenyum. Tangan kanannya meraih senapan. Membelik-belik laras senapan. Membelai-belai pelatuk senapan. Memanggul senapan. Sebentar kemudian, hulu senapan seperti melekat di bahunya sebelah depan. Melalui paku pembidik yang berada di ujung laras senapa, dia mengarahkan senapannya ke bagian muka tanahnya. Sebentar saja. Namun, belum sempat senapan itu turun dari bahunya, dia kembali membidik.

Astaga, dari paku pembidik itu dia melihat pemandangan yang dilihatnya terakhir dua hari yang lalu. Segerombolan orang-orang dan seperangkat alat-alat berat yang melabrak tanah di sekitar tanahnya serta coba-coba melabrak tanahnya sendiri, bagaikan seekor gergaji dengan mulut yang menganga. Mulut itu mengarah pada tanahnya.

Seketika darahnya tersirap. Detak jantungnya kencang. Dia coba meyakinkan bahwa apa yang dilihatnya hanyalah sebuah bayangan peristiwa yang terjadi lebih dari dua hari yang lalu. Namun, dia tak dapat menyakini dirinya sendiri itu. Dicobanya lagi, dicobanya lagi. Dikedip-kedipkannya mata. Benar, apa yang dilihatnya adalah kenyataan. Orang-orang dan alat berat itu, sudah berada di sempadan tanahnya. Dari paku pembidik senapannya, semua jelas kelihatan. Lebih lima orang lelaki, di antaranya ada seorang lelaki berbaju kuning air dan bercelana cokelat. Astaga, dia juga melihat Begol berada dalam rombongan orang-orang itu. Entah bagaimana, apa-apa yang dilihatnya, semakin mempertegas posisi senapannya.

Dia membidik. Kali ini sasaran bidikannya adalah alat-alat berat dan mungkin juga orang itu. Sulit dipastikan siapakah dan apakah yang dibidiknya, tetapi jelas sasaran bidikan senapan lantaknya tidaklah sasaran kosong seperti tadi.

Dan dia terus membidik. Jari telunjuknya berpaut dengan pelatuk senapan. Bergerak-gerak sedikit. Sementara orang-orang yang berada dalam radius bidikannya, menyebar. Macam-macam akting mereka. Tiarap, setengah tiarap, tetapi ada juga di antaranya yang berlindung di balik alat-alat berat tersebut.

Melihat hal ini, tuk Bedil teringat kepada rusa-rusa yang sudah banyak menjadi sasaran senapan lantaknya itu. Tidak seperti orang ini, rusa-rusa tersebut tak pernah tahu kalau-kalau moncong senapannya siap merobek tubuhnya. Berturut-turut dia teringat tanah tempat dia berpijak sekarang, ganti rugi, orang-orang itu, pejabat kecamatan itu,alat berat itu, dan terakhir, Begol anaknya, yang kini menjadi musuhnya. Pita ingatan yang terakhir itulah yang menyebabkan kegeramannya kepada siapa dan apa saja yang bersangkut paut dengan usaha memindahkan hak tanahnya itu kepada apa dan siapa saja, semakin menggunung. Apalagi setelah berkesimpulan bahwa mereka tambah kurang ajar sekarang, padahal dia tegas-tegas menolak tanahnya berpindah tangan. Buktinya, mereka tidak gentar lagi menghadapi senapan dari jago tembak termashur di kampung ini. 

“Jangan tembak, Bah. Aku Begol,” teriak orang di seberang sambil maju ke muka. Akan tetapi, pelatuk senapannya sudah tertarik ke belakang dan seiringan dengan itu, sebuah bunyi menggelegar diiringi lengkingan manusia kesakitan. Setelah itu dia mencium bau mesiu dan memandang sasarannya dengan kekaguman pada diri sendiri. Dia melihat beberapa ekor rusa seperti tidak mengetahui apa-apa yang sudah terjadi sebentar tadi. Itulah sebabnya dia berhasrat mengulangi lagi tembakannya. Mengambil arang punak dan memasukkan arang punak itu ke laras senapan dengan pelantaknya. Akan tetapi, belum sempat dia berbuat lebih jauh, tangannya sudah dicekal oleh beberapa orang lelaki. Tangan itu pun terkulai setelah dia tahu bahwa Begol bukanlah seekor rusa. ***

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Taufik Ikram Jamil
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" Minggu 4 Oktober 1987

0 Response to "Tergadai"