Wajah Ibu | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Wajah Ibu Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 20:19 Rating: 4,5

Wajah Ibu

“Jika saja kau melarangnya. Ia akan disini sekarang, bersama kita!” sesak dada Sukam, terselubung luapan api dari mulut tungku yang berkali-kali menjilat berbilah bongkah kayu yang diselipkan Sitti. 
“Kau tahu sendiri kalau Manyang sudah bertekad. Ia harus dituruti, toh itu juga baik buat masa depannya,” Sitti berujar, agak ragu dengan sorot mata yang tak lagi menyala. Dahinya berkerut seperti terombang ambing dimakan usia. Angin bergerak menjatuhkan dedaunan, lunglai ke pangkuan bumi. 

“Ia seperti tak pernah memiliki hasrat untuk pulang!” rupanya kekhawatiran mengitari wajah Sukam, raut mukanya yang hitam legam terpanggang matahari di laut mengkerut, menghembuskan asap rokok. Tak bergairah, tubuhnya yang ringkih bersandar di dinding kusam. 

“Ia pasti pulang,” sambil mengangsurkan kayu ke mulut tungku. Awan yang bergumpal di kelopak mata Sitti jatuh, membasahi kedua pipinya yang sudah kendur. 

Suami istri yang tak lagi muda itu merajut kesepian, memintal kenangan yang kini hanya meninggalkan bekas tak tersisa di rumah yang berupa gubuk tua itu. Manyang –anak laki satu-satunya-  telah terpikat dengan cerita-cerita menarik, dengan daya pukau luar biasa kawannya bercerita mengenai ketakjuban kota yang tak mati dari cerita orang-orang di kampungnya. 

“Merantaulah ke Jakarta, apapun disana bisa jadi duit. Dari pada menganggur tak jelas disini,” Amrin mengubah jalan cerita, suatu sore yang gerimis, luruh hati-hati. 

“Bagaimana bisa?” luapan rasa penasaran muncul, bergerak-gerak menunggu jawaban dari Amrin –kawan lamanya- yang lebih dulu terdampar di kota metropolitan itu. Manyang memperhatikan setiap gerak bibir Amrin yang terus menelurkan alur cerita-cerita dari sisi yang menggoda.

“Bisa saja,” dengan jawaban singkat menyalakan kemauan Manyang bertekad meninggalkan kampung halaman, meninggalkan ayah dan ibunya yang ringkih, berjalan tersaruk-saruk.

Manyang tak mau makan, tak mau minum. Mengurung diri di dalam kamar, dan sepiring nasi yang diselipkan lewat bawah pintu dibiarkan teronggok basi. Besoknya diganti dengan sepiring nasi yang lain. Namun adegan yang sama berulang lagi; nasi itu sama sekali tak disentuh oleh Manyang. Sitti menggedor pintu, berkali-kali. Ia berdiri, memanggil Manyang pelan, terbatuk membuat tubuhnya terguncang-guncang.

Hasrat Manyang merantau bercokol di dadanya. Dua bola matanya membayangkan kota yang diceritakan kawannya –Amrin-. Kalau Manyang mau, ia bisa saja meninggalkan ayah-ibunya, pergi diam-diam ke  Jakarta. Lalu pulang dengan segepok uang, membuktikan keberhasilannya di tanah rantau. Pikirannya telah terlampau jauh menerka. Tetapi ia berpikir ulang, karena di suatu waktu yang agak dingin, di bawah lampu teplok yang menyala remang-remang, Sitti berucap “Restu  Gusti Allah adalah restu kedua orang tua. Perkataan seorang ibu diterima sama Gusti Allah,” mengingatnya Manyang memilih mengungkung di dalam kamar.

“Lebih baik mati, kalau hidup tak jelas disini!” kata Manyang setiap kali ibu memintanya keluar dari kamar.

“Aku mengijinkanmu kalau kau mau keluar dari kamar itu,” sudah sejak lama ia menantikan kalimat ini keluar dari mulut ibunya. Mata Manyang berbinar-binar. Dadanya yang semula dirasa menyempit, seketika melebar, mendesahkan napas lega. Buru-buru ia beranjak, mendekati pintu. Wajah ibunya tampak tersenyum tipis begitu pintu kamar dibuka, bunyinya berderik mirip keresahan yang kini menyadap hati ibunya.

“Temui ayahmu,” desir angin merambat bersamaan dengan perkataan Sitti kepada anaknya, Manyang. Sementara Sukam melihat ke luar, melalui jendela yang lurus dengan laut. Terdengar debur ombak yang bergulung-gulung, menepi ke sela-sela pasir putih yang ditumbuhi beberapa cemara udang.

Tak berani lebih dekat, kaki Manyang berhenti beberapa meter dari ayahnya berdiri di ambang jendela. Mata tua Sukam menggiring senja merah jingga yang pelan-pelan menggaris langit. Dari kejauhan yang berjarak beberapa meter Sitti memandangi suami dan anaknya dengan perasaan amburadul. Diusapnya dada yang terasa menyempit, napasnya tertahan, tersengal-sengal. Matanya yang ragu-ragu terlihat berkaca-kaca. 

“Seperti kata ibumu. Kau diijinkan. Pergilah, dan pulanglah sewaktu-waktu, Ini rumahmu,” mendengarnya sayup-sayup dari kejauhan. Sitti  menjerang lara. Manyang mengangguk, berkilat-kilat dua bola matanya. Direngkuhnya tubuh ayahnya, Sitti mendekat, juga membiarkan tubuhnya dalam satu rangkulan. Bulan sabit mengintip dari balik pelepah nyiur yang mendesis-desis digoyang angin.
Sayangnya, kalender empat kali diganti. Sukam bersama istrinya merajut hari-hari yang tersisa. Tinggal berdua pada usia senja seperti itu kerap membuatnya saling tuding, mengenai Manyang –yang tak pulang-pulang-. Tak kuat lagi bertengkar, karena otot-ototnya mengendur bersamaan dengan kulitnya yang keriput. Mereka tak lagi hirau sama Manyang yang kini tak terdengar kabar rimbanya dimana dan bagaimana.

“Apa yang dicari sama anak itu!” nadanya bukan pertanyaan. Sukam terbatuk, tenggorokannya gatal. Ia melanjutkan ucapannya, meski istrinya enggan berkomentar “Harusnya ia yang merawat kita di usia seperti ini. Punya anak sama saja dengan tak punya!” Sukam menuduhkan kesalahan pada Sitti yang berbaring di sampingnya, napasnya terputus-putus.

“Begitu memang kalau punya anak satu. Anak laki pula,” terbata-bata agak ragu, dan tiba-tiba Sitti berujar dari balik bantalnya.

***
Sore itu – sekitar pukul tiga- Sitti terbaring sakit. Tubuhnya yang ringkih kian susut, beranjak hari makin mengecil, seperti terhisap seluruh darah dan daging-daging di tubuh itu. Matanya redup, terdengar lenguh napasnya yang tinggal satu-satu. Dada Sitti berlubang oleh rindu yang amat pada anak lelakinya itu –Manyang- sekelebat membayang di kelopak matanya.

“Kau pulanglah sebentar. Ibumu sakit,” lembut, samar-samar Sukam bercakap dengan Manyang melalui telepon seluler.

“Bulan depan,” singkat Manyang menjawab, terdengar deru knalpot, klason mobil berkali-kali, menyamarkan suaranya yang tenggelam dalam kebisingan kota. Terdengar “tut tut tut” suara telepon ditutup. Sukam membuang muka. Kesal. Campur aduk menghadapi tingkah Manyang yang acuh tak acuh.

“Kebahagiaan apa yang kau cari disana?” telepon seluler itu tersambung lagi, setelah beberapa jam Sukam memaksa.

“Tunggulah sebentar. Aku pasti pulang. Kemarin sudah kukirim uang kan?” Manyang berdalih, enteng kata-katanya keluar tanpa syarat. 

“Kami tak butuh uang. Kami butuh kau disini. Harusnya kau ada disini. Kami sudah tua. Jangan kau menyesal kalau tak sampai melihat wajah ibumu lagi!” entah bagaimana mengucapkannya. Tiba-tiba Sukam seperti mengancam. Suaranya biasa-biasa saja. Tidak terlalu tinggi atau terlalu rendah. 

“Jakarta-Madura itu jauh,” tukas Manyang yang begitu ringan mengucapkannya. Sitti yang meringkuk di atas kasur, menahan sesak di dadanya. Ia menyembunyikan sesuatu di balik wajahnya. Sukam mengetahui itu. Tahu persis; rindu yang bertahun-tahun pada Manyang tak kunjung selesai. Disimpan rapat-rapat sendiri oleh Sitti, sehingga pada akhirnya tubuhnya tak lagi mampu menanggung beban tersebut. Meski Sitti selalu berujar pada Sukam, menyebut penyakitnya “penyakit orang tua” terdengar serak.

“Kalau kau tahu kebahagiaan yang sesungguhnya. Jarak bukanlah alasan,” kata Sukam, ia terbatuk, badannya membungkuk ke tanah, memuntahkan darah merah yang jatuh dari mulutnya. Ia pun menyimpan rapat-rapat penyakit yang lama bersarang di tubuhnya. Tak terbayangkan, menyulam waktu ke waktu berdua dengan tubuh yang kini sama-sama tak lagi lihai diandalkan. 

Malam itu –setelah azan Isya- berkumandang gemetar, menembus gerimis yang turun hati-hati. Sitti meninggalkan raganya. Memandangi wajah istrinya yang beku, Sukam menitikkan air mata. Ia ingat Manyang –anak lelakinya- yang tak pulang-pulang dari tanah rantau, Jakarta. Direngkuhnya tubuh Sitti yang terbaring di atas kasur. Wajahnya pucat. Kelopak mata itu terpejam. Keadaan ini mencabik-cabik perasaan Sukam; istri meninggal, dan satu anak lelaki tak tahu rimbanya. 

Besoknya ketika langit menyisakan gumpalan awan. Sitti dikubur di pemakaman keluarga, dihantar sanak famili. Mereka menangis begitu jazad perempuan tua itu dimasukkan ke liang lahat. Mata Sukam menampung jutaan awan yang mungkin sebentar lagi menguap, menjatuhkan hujan. Manyang tak terlihat, anak laki-laki Sukam itu tak menampakkan keberadaannya diantara para pelayat. Orang-orang berbisik “Anak macam apa itu. Tak peduli ibunya mati!” mendesis-desis tenggelam diantara para pelayat.

“Ibu dimana?” tanya Manyang begitu pemakaman selesai. Sukam mencecap sisa kopi semalam. Ke laut ia memandang, menjatuhkan gerimis dari kelopak matanya yang ragu-ragu.

“Kau terlambat! Kau sudah tak dapat melihat wajah ibumu, apalagi meminta surga di telapak kakinya!” suara Sukam berat, tubuhnya terguncang begitu ia terbatuk. Tubuh Manyang bergeletar. Ia tak pernah merasakan geletar sehebat ini. Merasa otot dan persendiannya seperti telah mati. Dari sudut matanya luruh tetesan hujan yang mula-mula kecil, kemudian membesar. Manyang dibuat tenggelam. Ia bernapas tersengal-sengal, terputus-putus saat wajah ibu sudah jauh.

Pulau Garam, 13 Maret 2015

Zainul Muttaqin, lahir di Batang-Batang, Sumenep Madura 18 November 1991. Alumni Ponpes Annuqayah Sumenep. Cerpen-cerpennya dimuat pelbagai media nasional dan lokal. Terkumpul dalam antologi bersama; Dari Jendela yang Terbuka (2013) Perempuan dan Bunga-Bunga (2014). Tinggal di Madura. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Zainul Muttaqin
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Tabloid Nova" edisi 9-15 November 2015

0 Response to "Wajah Ibu"