Wasiat - Lintasan - Belalang - Senja | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Wasiat - Lintasan - Belalang - Senja Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:44 Rating: 4,5

Wasiat - Lintasan - Belalang - Senja

Wasiat

               Kenapa kau ingin menelisikku. Padahal, aku berada
di luar. Kau bertempat di dalam. Aku berjalan dengan
               kedekilan. Kau leluasa bertiduran sambil mendekap
milik-milikmu. Milik-milikmu yang membuat siapa saja
               berdecak: ”Betapa nyaman hidupmu. Dan betapa
gampang ukuran-terang kau putar sembarangan.” Lihatlah,
               di setiap jalan yang menurun atau mendaki, aku kerap
terpeleset. Tapi tangan itu (tangan yang entah milik siapa),
               pun sigap membangunkanku sambil berbisik: ”Ayo,
jangan berhenti. Tak ada saat untuk rehat.” Kenapa, kenapa,
               kau ingin menelisikku. Padahal, apa yang kita miliki
berbeda. Kau begitu terbalut lingkupan decak. Aku meracau
               sendiri pada pohon-pohon dan rambu-rambu. Seperti
racauan burung-burung liar ketika melihat kembang rontok.
               Kembang yang kemarin menggelembung dengan
suka-rela. Dan mengempis pun dengan suka-rela. Kenapa,
               ya, kenapa, kau ingin menelisikku. Menempelkan
kuping ke dinding-dinding. Cuma ingin mendengar, apakah
               aku sudah tersesat jauh atau belum. Dan apakah juga
sudah terjungkal ke dalam jurang atau malah terbang diseret
               badai. Sudahlah, sudahi saja keinginanmu. Biarlah kita
berada di tempat masing-masing. Sebab, apa yang kau hasrati,
               pasti jadi milikmu. Dan apa yang aku hasrati, pun pasti
jadi milikku. Meski, itu berarti, kau akan mengerutkan kening.
               Ketika, gerak-jalan di luar, yang semestinya ke depan,
aku balikkan ke belakang. Atau malah aku bubarkan. Seperti
               membubarkan apa yang kau duga tentang kekeramatan
makna batas-sampai. Yang membuat mimpi-mimpimu begitu
               gelisah. Dan begitu percaya, jika yang dekil, yang
berada di luar, adalah si tak-galib yang gemar mengada-ada.

(Gresik, 2015)

Lintasan

: ali, kholil, bapak, dan hujan

Ini masih puasa ketiga-belas. Tapi aku menyangka sudah kedua-puluh-lima. Pagi dan sore yang menjenguk tak aku kenali. Sebab, terang yang melingkupinya terlihat mirip. Aku melihat jalanan. Dan aku melihat kaki-kaki bergegasan. Kaki-kaki yang maju, menyamping, dan mundur. Seperti ingin bertabrakan, tapi tak jadi-jadi. Sedang, di angkasa yang cemerlang, awan-awan berarak dalam rupa yang berubah-ubah. Rupa yang tak terkuntit.

Aku, aku, juga melihat seekor kucing di depan pintu. Kucing putih yang juga melihatku. Kucing putih yang kemarin seperti disusupkan ke hangat selimutku. Seperti setangkup melati yang disusupkan seseorang. Seseorang yang begitu indah, meski tak pernah aku peluk. Seseorang yang kerap aku lukai, tapi selalu mendinginkan gunung berapi di debarku. Gunung berapi yang jika bergeser sepetak saja, membuat tanah yang aku pijak beterbangan.

Di dalam puasa, memang, aku cuma mahir merasa. Dan kemahiran itu pelan-pelan meluas. Dan pelan- pelan ingin menampung apa saja yang ada. Sekaligus mengikatnya dalam simpul yang rumit. Simpul yang pernah dirindukan perairan untuk menjadi urat-urat di lekuk-wujudnya. Urat-urat yang ketika waktunya tiba, akan menjelma jadi ratusan merpati. Ratusan merpati yang berseliweran di atas 
kepalaku. Kepala yang bundar dan lentur.

”Hoi, apakah kau tak melihat, jika aku cuma berada di tempat? Dan cuma menggambari udara dengan ketak-galiban nyali?” Sepertinya, kau melihatku bukan dengan telisikan yang tajam. Tapi keterpejaman yang menganggap, jika aku adalah si lain. Yang diam-diam ingin menukas: ”Puasa, puasa, jangan kau permainkan aku!” Si lain, yang ketika menjelang berbuka, pun menangis. Terus mengabarkan tangisannya ke pelataran bintang-bintang.

Agar dapat menjadi tetanda. Atau semacam tilas. Jika di dalam puasa, ternyata ada juga yang begitu susah untuk digandeng. Sebab, selalu memilih sendiri: ke mana dan pada siapa mesti menepi. Dan pada siapa pula mesti dibisikkan, jika gorden- gorden yang terpajang adalah potongan kafan yang sesekali bergoyang. Dan sesekali yang lain kaku. Sekaku lintasan yang tak mungkin dibelokkan. Lintasan yang begitu merindukan hujan yang pertama.

(Gresik, 2015)

Belalang


Orang-orang sebelah bertemu saling membuka jantung. Mempertontonkan apa yang ada di dalamnya. Unggun yang menyala pun membuat yang dipertontonkan itu jadi berkilat. Kilat merah, ungu, hijau, dan biru. Kilat yang membuat nafas mesti tertahan. Dan angin bertiup ke arah yang begitu tak ternyana. Orang-orang sebelah merasa sebentar lagi semesta akan berakhir. Digulung balik seperti dulu. Terus disimpan di kerahasiaan yang terkunci. Kerahasiaan yang menjadikan orang-orang sebelah cuma bisa tepekur. Lalu, setelah mempertontonkan apa yang ada di dalam jantung, orang-orang sebelah saling menepuk bahu. Dan meski tanpa suara, tapi tatapan orang-orang sebelah begitu dalam. Yang saking dalamnya, mengingatkan zigzag mimpi yang dijaga si jejadian bertopi bundar. Si jejadian yang punya kuku panjang yang bisa keluar-masuk seperti kuku kucing. Si jejadian yang ternyata kerap keluyuran di pasar. Sambil tak bosan- bosan menggoresi punggung siapa saja yang menawar dengan harga terlicin. Lalu, setelah unggun mulai padam, orang-orang sebelah pun beranjak. Terus mengambil jalan yang telah dilaluinya tadi. Ada yang ke kiri, ke kanan, ke depan, ke belakang. Juga ada yang melesat ke atas, atau menelusup ke dalam tanah. Atau juga malah mengarah ke rumahmu. Ke dalam kamarmu. Menjelma jadi baju. Baju yang paling kau sukai. Baju (ketika waktunya tiba) pun kau kenakan dengan bangga. Dan ketika becermin, kau melihat baju itu lekat memeluk lekuk tubuhmu. Tapi kau tak merasa, jika jauh di dalam cermin, ada sesosok bening yang selalu mencoba memberitahumu, jika sebentar lagi semesta akan berakhir. Digulung balik seperti dulu. Sedang yang luput, akan beterbangan seperti belalang.

(Gresik, 2015)

Senja

: buat yang kau persiapkan
               Senja yang datar. Senja yang seperti penembak yang
jempolan. Membidik si yang lewat. Yang melongok ke dalam sumur.
               Mencari bayangannya yang barusan melompat. Dan senja

makin membidik. Sebab si yang lewat tetap saja tenang. Merasa,
               dunia tetap aman-aman. Dan tetap saja menaburkan wewarna
yang ada di kantungnya. Yang bersulam melati. ”Hai, kenapa

               tak mau muncul. Aku mesti pulang. Dan kau pun mesti
ikut denganku,” begitu ucap si yang lewat ke dalam sumur. Kepada
               bayangannya itu. Seperti mengucap kepada sesuatu yang

jauh tapi dekat. Bahkan saking dekatnya, degup jantungnya pun
               terdengar. Degup yang rancak. Serancak barisan yang
mendaki
bukit. Hanya untuk memburu lengkung teja yang menggoda.

               ”Kenapa tak menjawab. Ayolah, jangan terus di dalam,”
tambah si yang lewat lebih keras. Dan senja yang datar. Senja yang
               membidik si yang lewat. Tiba-tiba menarik pelatuk.
Terdengar

letusan. Lalu cuaca mengabur. Gaung jadi kedap. Kata kabar yang
               ada: ”Jangan menyangka ada yang tergeletak teterjang
peluru.”
Dan kata kabar yang lain, ibu-ibu di kampung menghias tumpeng:

               ”Kami ingin menghibur bagi yang segera pulang. Yang
mendekap cemas. Sebab, setiap tubuhnya bergerak, setiap itu pula,
               tak ada bayangannya di tanah yang tertampak oleh mata…”

(Gresik, 2015)


Mardi Luhung tinggal di Gresik, Jawa Timur. Buku puisinya, Buwun (2010), mendapatkan anugerah Khatulistiwa Literary Award 2010.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Mardi Luhung
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" Minggu 1 November 2015

0 Response to "Wasiat - Lintasan - Belalang - Senja"