Yu Tum pada Suatu Malam | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Yu Tum pada Suatu Malam Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 11:07 Rating: 4,5

Yu Tum pada Suatu Malam

YU TUM mendengar tiang listrik dipukul-pukul tidak beraturan. Sebenarnya suara yang dipukul tak beraturan itu tidak enak didengar tapi karena setiap malam setelah isyak ia selalu mendengarnya, telinga Yu Tum menjadi biasa. Yu Tum tahu siapa yang suka memukul-mukul tiang listrik di depan rumahnya agak menyamping ke kiri itu. Pasti Cak Durmogati, bekas pemain ludruk yang suka iseng. Tapi iseng kok tiap malam.

Setelah ludruk tobong yang dipimpinnya bubar karena kalah saingan dengan orkes dangdut, Cak Durmogati pulang kampung -- yang dulu ketika zamannya ngeludruk masih jauh di pinggir kota, sekarang sudah termasuk wilayah kota yang ramai. Apalagi setelah pemerintah kota membangun terminal antar provinsi yang cukup besar di ujung selatan kampung.

Sekarang Yu Tum selalu menungu bunyi keloneng tiang listrik yang dipukul Cak Durmogati. Semalam saja Cak Durmogati tidak memukul-mukul tiang listrik itu Yu Tum kangen suara kelonengnya yang sesungguhnya jauh dari merdu itu. Perempuan itu juga merasa diuntungkan ulah Cak Durmogati. Apalabila suara tiang listrik di depan rumahnya itu terdengar dipukul-pukul, Yu Tum segera menyiapkan diri. Tadi siang mas Petruk yang tubuhnya tinggi dan kurus seperti tiang listrik, yang selalu diisengi Cak Durmogati itu, datang dan berpesan wanti-wanti agar malam nanti tidak terlambat.

"Ingat lho, Yu, nanti malam Minggu pasti banyak tamu. Dan itu artinya juga rezeki buat Sampeyan," kata Mas Petruk.

Yu Tum memoleskan lipstik ke bibirnya tampak selalu merah. "Aku perempuan baik-bak," begitu kata hatinya setiap berdiri di depan cermin. Yu Tum tersenyum. "Betulkah aku ini cantik?" tanya hatinya. "Memang aku cantik kok," jawab hatinya sendiri.

Di usia yang ke empat puluhan tahun tubuhnya masih tampak segar, padat. Menarik, apalagi kalau sudah memakai kain batik Sidomukti dan kebaya yang pas dengan tubuhnya. Setiap berdiri di depan cermin ia selalu ingat kata-kata Mas Petruk, "Sampeyan itu gak nurokno  uwong temenan. Lha yok opo  Sampeyan wis ayu, luwes, merak ati." Biasanya ia hanya tertawa saja kalau Mas Petruk omong seperti itu. "Lha sopo sing gak kedanan ndelok Sampeyan ayune koyok ngono."

Lalu ia menggoda mas Petruk, "Lha Peno kedanan ro aku ora." Mas Petruk hanya cengengesan. "Gak gableg modal Yu." 

Ia menggoda lagi, "Sampeyan gak gableg modal nek aku gelem temenan piye hayo?" Lalu Mas Petruk cepat-cepat pergi, "Wis-wis aku iso gendheng temenan mengko. Aku kok wani senang karo Sampeyan Yu, ketemu pirang perkoro?"

Selesai dandan dan sudah yakin tidak ada yang mengecewakan pada wajahnya, Yu Tum mengambil sebuah benda dari laci meja. Benda sepanjang 20 sentimeter yang terbungkus kain putih itu diselipkan di stagen yang membelit pinggangnya. Benda itu peninggalan Cak Abimanyu suaminya yang sudah meninggal beberapa tahun lalu. Benda itu diberikan satu bulan sebelum suaminya meninggal. "Tum, kamu jaga baik-baik benda ini. Bawalah ke mana saja kamu pergi. Siapa tahu kamu akan memerlukannya," kata suaminya.

Cak Ambimayu yang bekerja sebagai pemotong kertas di sebuah percetakan meninggal mendadak di tempat kerja. Dokter mengatakan lelaki itu kena serangan jantung. Tentu saja Yu Tum merasa kehilangan. Cak Abimanyu bukan hanya suaminaya tetapi juga gurunya sejak ia masih perawan. Ia bisa memetik siter, nembang Dandangulo, Pucung, Kinanti, Megatruh, Asmaradana, Pucung, Sinom, Durma, Gambuh, Maskumambang, Karabak, Girisa, dan Wurangrong, tembang dolanan anak-anak sampai gandangan ludruk.

Dulu, ketika masih jaya-jayanya ketoprak, cak Abimanyu adalah bosnya alias pimpinan ketobrak tobong. Ketika televisi ada di Indonesia sejak tahun 1962, ketoprak Cak Abimanyu juga sering main di televisi. Tapi karena berbagai hal ketoprak Cak Abimanyu bubar. Tapi karena berbagai hal ketoprak Cak Abimanyu bubar. Dan, berkat temannya yang baik hati Cak Abimanyu bisa bekerja di percetakan. Sedangkan Yu Tum mencari tambahan penghasilan dengan main siter dan nembang di hotel. Memang kemudian justru Yu Tum-lah yang menjadi tulang punggung keluarga karena gaji Cak Abimanyu benar-benar tidak mencukupi. Apalagi untuk biaya sekolah dua anaknya.

Yu Tum mengambil siter di dekat almari kemudian dijinjing. Sebelum berangkat perempuan itu menengok Ratih dan Ramdani, dua anaknya yang sedang belajar di ruang depan.

"Le, nduk, ibu budal yo."

"Njih Bu," kata Ratih.

"Nanti saya jemput pakai motor apa bagaimana, Bu?" kata Ramdani.

"Ra usah, mengko lak diterke Pak Lik Petruk."

Yu Tum melangkah ke pintu depan. "Bismillah, Gusti Allah nyuwun perlindungan," ucap Yu Tum lirih.

Di dekat gardu ronda, Durmogati sedang duduk termenung. Melihat Yu Tum lewat Durmogati bangkit dan menghampiri.

"Yu Tum sakwelase nggo tuku rokok."

Yu Tum meletakkan siter di tanah dan mengeluarkan dompet dari tas. Bebrapa lembar rupiah diberikan kepada Durmogati.

"Dur apa ra mesakke paru-parumu?"

Durmogati hanya cengegsean. Yu Tum menjangkau siter lalu melangkah.

"Ati-ati Yu."

"Iyo Dur. Ojo ngrokok terus."

"Iyo Yu."

Sampai di mulut gang Kang Parto Keling yang berkulit hitam sudah menyongsong dengan becaknya. Di mulut gang itu ia punya beberapa tukag becak langganan. Selain Kang Parto Keling, ada Pakde Jamus Kalimosodo, Budi Janoko, dan Amat Subarkah. Siapa yang lebih dulu menyongsongnya dialah yang dipilih untuk mengantar ke hotel.

Sampai di lobi hotel Mas Petruk tergopoh-gopoh mendekati. "Malam ini banyak rezeki untuk sampeyan. Sudah banyak pesanan tembang." Mas Petruk menyodorkan kertas catatan pesanan tembang itu kepada Yu Tum.

"Mungkin sampai malam, Yu. Ning rasah khawatir. Nanti saya antar dengan sopir Warisman. Bos sudah kasih izin antar Sampeyan pulang pakai mobil."

Yu Tum bergegas menuju tempat yang sudah disediakan untuk pertunjukan apa saja; tembang, band, keroncong dan sebulan sekali wayangan. "Gusti Allah matur nuwun," bisik Yu Tum dalam hati.

Dalam catatan itu pesanan tembang sudah cukup banyak. Ia dibayar menurut jumlah tembang yang dilantunkan pada setiap malam. Makin banyak nembang berarti makin rezeki. Lha makin banyak tamu biasanya makin banyak pesanan tembang. Yu Tum meraba perutnya. Benda warisan Cak Abimanyu masih terselip di situ.

"Gusti Allah kulo niat nyambut damel ingkang halal. Terima kasih ya Allah. Engkau telah menganugerahkan suara yang bagus kepada hambamu ini," bisik Yu Tum dalam hati.

Ketika Yu Tum melangkah ke tengah arena para tamu sudah duduk di kursi yang melingkari arena itu. Yu Tum bersimpuh di karpet. Sebelum memulai nembang ia memejamkan mata beberapa saat. "Gusti Allah nyuwun kekuatan," katanya dalam hati. 

Yu Tum mulai dengan tembang Asmaradana yang menceritakan Damarwulan berpamitan kepada istrinya, Anjasmara, untuk berperang melawan Prabu Urubisma Menakjingga di Blambangan, atas perintah Kencanawungu, Ratu Kenya Majapahit. Ia mengawali dengan nada rendah, kemudian sedikit meninggi, suara itu berubah-ubah, bergelombang, bergumam, bercerita, mengadu, menghiba, menjerit. Pada saat suara rendah mata Yu Tum memejam kemudian membuka perlahan. Ia membayangkan dirinya sebagai Anjasmara yang dengan berat hati melepaskan suaminya berperang melawan Menajingga yang terkenal amat sakti.

Begitu sendunya Yu Tum ketika bibirnya mengucapkan kata terakhir Damarwulan yang pamit untuk karena rasanya tidak mungkin menang melawan Prabu Urubisma.... Pun kakang pamit palastra (Kakanda pamit mati). Yu Tum memejamkan mata dengan bibir gemetar. Setelah suaranya berhenti di akhir tembang, perlahan-lahan Yu Tum membuka matanya kembali. Hening beberapa saat. Tiada suara kecuali denting lembut petikan siter mengakhiri cerita Damarwulan yang berangkat perang. Tidak beberapa lama kemudian keheningan itu dipecahkan tepuk tangan membahana para tamu. Yu Tum mengedarkan pandangannya ke para penonton yang mengelilingi arena. Bibirnya tersenyum indah. Bibir yang selalu tampak basah, kata para pengagumnya.

Tembang demi tembang dilantunkan. Entah berapa belas tembang dan para tamu tidak ada yang beranjak meninggalkan kursi. Bahkan ada beberapa tamu yang masih terpaku di tempat duduk, tidak percaya kalau pentas tunggal tembang itu telah usai. Yang jelas malam itu Allah telah memberi Yu Tum rezeki yang banyak. "Matur kesuwun Ya Allah," Bibir Yu Tum gemetar menyampaikan rasa syukur ketika memasuki mobil hotel yang akan mengantarnya pulang.

"Yok opo Yu, lumayan to rezekine?" Mas Petruk menyusul memasuki mobil duduk di jok depan di samping sopir Warisman.

"Jangan lupa besok malam lho, Yu."

"Serius to iki?"

"Lho, yok opo rek Sampeyan? Ya serius Yu, serius sekali. Serius seratus persen."

"Soale sesuk kan gilirane pentas keronconge Dik Ambarwati."

"Ini khusus Yu. Bapak yang nyarter suara Yu Tum ini ingin mendengarkan suara Sampeyan sendiri tanpa ada orang lain. Jadi besok malam Yu Tum nembang  di  kamar yang disewa Bapak Satrio dari Jakarta itu."

"Oh namanya Satrio."

"Iya Yu, Satrio Wibisono."

"Kok aneh to? Wong Jakarta iku jare pancen akeh sing aneh yo mas Petruk."

"Yo embuh gak eruh Yu. Sampeyan rasah mikir mecem-macem. Ono rezeki nomplok ojo ditolak. Ora ilok. Sudahlah Sampeyan minta bayaran berapa saja pasti dikasih. Lha wong Pak Satrio itu sugihe ora mekakat. Lha konglomerat minyak je... Minta bayar yang banyak. Ning ojo lali aku karo Warisman sing gantheng iki."

"Kalau soal bayaran aku gak mau macam-macam kok Mas. Ya seperti biasanya saja. Berapa jumlah tembang yang aku tembangkan."

"Tapi ingat Yu, ini khusus jadi tidak seperti biasa. Namanya carter yang harus beda."

"Tapi aku juga tidak mau aji mumpung Mas. Murko iku dosa."

"Sampeyan ini dari dulu kok tidak penah berubah. Dadi uwong kok kapiken banget."

"Rasah ngelem. Ora-ora nek aku lali ambek Peno karo Dik Warisman."

Mendengar itu Warisman yang sedang asyik nyetir tertawa keras sekali.

"Siiiiip Yu, siiiip. Ono rezeki yo dibagi-bagi yo Yu."

"Lha iyo to Dik Waris. Kata Cak Abimanyu rezeki dari Allah jangan dimakan sendiri."

"Isih eling ambek Mas Abi to Yu?" 

"Lho yok opo Sampeyan. Sampai mati aku tidak akan melupakan Mas Abimanyu. Ora sombong lho Mas Petruk karo Dik waris sing nglamar aku ki sakbajeg. Tapi bagiku tidak ada yang bisa menggantikan Cak Abimanyu."

"Edaaaan."

"Lho ora edan, nek ming golek syahwat gampang Dik. Tapi aku luwih seneng hidayah. Memang aku ini hanya pesiden. Ning aku ora arep nyebal soko darmaning wanita njaga ajine diri. Elek-elek ngene iki aku ra tahu lowong lima waktu lho Mas Petruk kara Dik Warisman."

***
Dan malam itu setelah menghabiskan sepuluh tembang dan mau pamit, lelaki yang dipanggil Pak Satrio itu menahannya. Bahkan lelaki yang sebenarnya sudah tua sekitar 60 tahunan, itu malah mengunci pintu. Yu Tum kaget, tubuhnya gemetar. Sebaliknya lelaki yang dipanggil Pak Satrio itu malah tesenyum. Tapi aneh, dalam pandangan Yu Tum senyum itu tidak manis seperti waktu sore tadi membukakan pintu kamar ketika pertama kali ia datang. Dalam pandangan mata Yu Tum, senyum itu bagaikan seringai serigala yang hendak menerkamnya.

"Lho bagaimana to Bapak ini, kok malah pintunya dikunci?"

"Tenang saja. Aku bilang ke kamu ya Yu, aku ini sudah kasmaran padamu. Kamu tahu nggak setiap bulan aku lima kali bolak-balik Jakarta ke kota ini hanya untuk bertemu kamu, ingin mendengar suaramu, ingin melihat senyummu, ingin menatap wajahmu, ingin beradu pandang dengan matamu. Tapi aku ini laki-laki normal, Yu. Ternyata semuanya itu tidak cukup. Ternyata aku juga ingin memelukmu, ingin mencium bibirmu, dan seterusnya dan seterusnya. Kamu tahu apa artinya semua itu, Yu?

"Mboten Pak, tidak pak Satrio. Janjinya kan hanya nembang  di depan Bapak. Tidak lebih dari itu. Saya dibayar karena suara saya, bukan untuk yang lain."

"Tapi aku ingin yang lain Yu, seperti layaknya laki-laki dan permepuan yang berdua saja di dalam kamar. Kamu tahu maksudnya kan?"

"Mboten Pak, tidak!"

"Semalam saja."

"Mboten, tidak Pak!"

"Kamu minta tambahan berapa? Berapa pun yang kamu minta akan aku penuhi." Lelaki itu mulai jengkel dan tidak sabar. Ada yang mendesak-desak dalam dirinya.

"Mboten, tidak! Saya hanya jual suara, bukan yang lain."

"Satu juta, dua juta, lima juta, sepuluh juta, katakan saja."

"Mboten, tidak!"

"Apa alasanmu?"

"Saya tidak mau mengkhianati jati diri saya sebagai manusia."

"Takut dosa? Dosa iku ora ono Yu."

"Pak Satrio, kalau misalnya berzina itu tidak berdosa, saya tetap menolak ajakan Bapak."

"Aneh kamu."

"Bapak saya bersyukur ditakdirkan menjadi manusia. Kalau saya menuruti ajakan bapak berarti saya bukan manusia lagi. Saya tidak mau turun martabat menjadi seperti kambing, kucing, atau ayam. Saya tidak mau mengingkari nikmat Allah sebagai manusia."

"Ah, itu omong kosong. Urip kui golek enak. Aku bisa memaksamu."

"Jangan bapak lakukan itu."

"Aku akan melakukannya. Kalau kamu tidak mau aku akan memaksanya. Dan di kamar yang berdinding tebal ini tidak ada yang menolong kamu."

Lelaki itu dengan cepat menubruknya tapi Yu Tum berhasil menghindar. Wajah laki-laki itu merah padam. Di mata Yu Tum Pak Satrio sudah berubah menjadi serigala yang buas.

"Kamu tidak bisa lepas dari aku. Tidak ada perempuan yang bisa lepas dari aku. Kamu telah menghina lelaki kaya seperti aku. Selama ini tidak ada seorang perempuan pun yang menolakku. Sudahlah tidak akan ada yang menolongmu."

Yu Tum ingat kata Pak Ustadz bahwa Allah berada lebih dekat dari urat-urat di leher manusia.

"Ada yang menolongku!"

Dengan cepat Yu Tum mengambil benda yang terselip di stagennya. Dengan cepat pula ia lepas kain putih yang membungkusnya. Sebuah keris yang ujungnya runcing sekali.

"Ini yang akan menolongku. Keris ini beracun dan kalau kulit Bapak tergores sedikit saja Bapak akan mati. Tapi saya tidak akan membunuh Bapak. Saya tidak ingin Bapak mati. Kasihan harta Bapak tidak ada yang mengurus. Biar saya saja yang mati. Keris ini tidak hanya akan saya goreskan ke kulit atau daging saya tapi akan saya hunjamkan ke dada saya."

Tiba-tiba seluruh tubuh lelaki itu gemetar. Tangannya gemetar, kakinya genetar, bibirnya gemetar. Pak Satrio merasa derajatnya sudah turun ke jurang yang dalam. Ia merasa bukan lagi seekor serigala. Dan ia merasa Yu Tum berubah menjadi harimau yang amat besar. Pak Satrio takut luar biasa.

"Jangan, jangan Yu!"

"Kalau Bapak tidak ingin melihat saya bersimbah darah di kamar ini, buka pintunya!"

Lelaki itu tertarih-tatih dan mengambil kunci dari saku celana lalu memasukkan ke lubang dan memutarnya. Yu Tum cepat keluar kamar dan berjalan bergegas ke lobi. Mas Petruk menyambutnya dengan senyum. Tapi lelaki tu heran melihat wajah Yu Tum tegang.

"Mas Petruk, tolong ambil bayaranku ke Pak Satrio Wibisono. Kalau sudah antar ke rumah nanti atau besok. Uang itu hakku. Aku tadi nembang sepuluh lagu."

"Lho?!"

"Aku naik becak saja."

Yu Tum keluar dari hotel. Di depan hotel Kang Parto Leling sudah menyongsong dengan becaknya.

"Cepat Kang!"

"Oke Bos!"

Sebelum naik ke becak Yu Tum memandang ke atas, ke langit yang dihiasi bintang-bintang. "Matur nuwun, ya Allah," bisik Yu Tum, lirih. ***

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Achmad Munif
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Jawa Pos" Minggu 8 November 2015

0 Response to "Yu Tum pada Suatu Malam"