Biografi Seorang Bayi Merah | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Biografi Seorang Bayi Merah Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 17:48 Rating: 4,5

Biografi Seorang Bayi Merah

SEPANJANG karirnya sebagai penulis biografi, baru sekarang Abraham Yusra merasa dirinya sedang diuji. Seseorang telah memintanya menulis biografi seorang bayi, dan ia tak kuasa menolaknya. Tapi apakah yang bisa ditulis dari seorang bayi yang baru sebentar diayun putaran bumi? Apakah yang dia tahu tentang dunia? Kalimat apakah yang akan membuka pintu kisah?

Abraham Yusra membuang muka ke luar jendela. Cahaya siang sedang panas-panasnya. Ia telan air ludahnya. Pahit. Ia memang belum menyatakan kesanggpuan dan kesediaan atas tawaran itu, belum deal, dan ia telah minta waktu untuk menimbangnya. Tapi itu tak bisa berlama-lama, sebab dalam waktu dekat buku biografi itu akan diluncurkan. Waktunya terbatas. Apalagi jika merujuk penulisan buku biografi yang ia kerjakan selama ini. Selalu ia butuh waktu lebih panjang, butuh kecermatan dan data akurat. Bahasa dan kalimat yang membangkitkan. Dalam istilah terkini: menginspirasi. Ini menyangkut reputasinya yang tak bisa ditawar. Karena itulah, dulu, ia hengkang dari dunia jurnalistik yang telah membeesarkan namanya, lalu memilih fokus sebagai penulis biografi.

Banyak sudah biografi orang besar yang ia tulis, mulai dari wakil presiden, menteri, panglima tinggi, jenderal, tokoh penjuang, pengusaha, hingga gubernur. Baik ia tulis semasa yang bersangkutan masih menjabat maupun setelah pangkat dan lain-lainnya tamat. Semua lancar-lancar saja, penuh sambutan hangat dari keluarga. kerabat, handai tolan, dan relasi sang tokoh, dalam peluncuran yang meriah--biasanya mengambil momen ulang tahun, sebagian ulang tahun perkawinan. Hanya ada seorang tokoh kebudayaan yang minta buku biografinya diluncurkan pada saat ia pamit pensiun.

Juga sekali buku biografi yang ditulisnya kontroversial. Yakni, ketika ia menulis tokoh pemberontak di daerah yang dianggap ingin memisahkan diri dari republik. Tapi berkat ketajaman penanya, Abraham mampu meyakinkan publik bahwa si tokoh sesungguhnya sangat nasionalis; ia bersama pasukannya masuk hutan demi mengoreksi kekuasaan yang memusat. Alhasil itu tak menganggu reputasi Abraham, malam dalam beberapa tindak dianggap berhasil mendudukkan seseorang secara tepat, proporsional.

Banyak bahan bisa ditulis dari sosok-sosok yang berkiprah dalam kehidupan ini. Tapi seorang bayi? Adakah kata berkiprah cocok dilekatkan pada seorang bayi?

***
ABRAHAM Yusra bisa saja menolak permintaan yang ganjil itu. Tapi di atas segalanya, ia justru merasa tertantang. Sangat tertantang! Itu membuatnya sampai pada situasi tak kuasa menolak. Bertahun-tahun menulis biografi, ia merasa polanya selama ini biasa-biasa saja. Plotnya lurus. Rapi jali. Sesekali zig-zag, tak jauh-jauh amat. Tokohnya pun orang-orang yang perannya dapat diduga. Kini ia ingin sungsang. Lain dari yang lain. Apakah itu terobosan, ia tak peduli. Ia hanya ingin mencoba yang belum ia coba, dan itu bukan tanpa alasan.

Mengapa harus menulis biografi orang yang berhasil saja? Abraham menimbang. Mengapa tidak juga seseorang yang gagal? Mengapa harus tokoh dan bukan orang kebanyakan? Mengapa harus berusia 60, 65, 70, 75, dan kelipatannya? Mengapa tidak saat seseorang remaja, anak-anak, bahkan selagi bayi? Tangisnya saja lantang bergema, tawanya jernih, geraknya spontan, murni. Lihatlah, ayah-ibu, kakek-nenek, kakak semua, dipersatukan olehnya, seperti tali pusar memeluk ari-ari. Dari bayi kita bisa menghikmati segala yang fitri, jujur, telanjang.

Kembali Abraham Yusra menarik napas. Panjang.

Pandangannya melayang menembus kaca jendela. Seorang bayi, pikirnya, bukan hanya milik keluarga, juga dunia luar yang menakjubkan: sejarah, ritual, peradaban. Ya! Bukankah bayi-bayi disebut dalam sejarah dan kitab suci? Bukankah Ismail putra Ibrahim memulai kehidupan baru dengan menangis menendang-nendang pasir kerontang, hingga tercipta Telaga Zamzam yang lezat hingga akhir zaman? Dan ingatlah bayi kudus Maryam, yan menjungkirkan nalar penciptaan, menangis sunyi di bawah rimbun pokok zaitun.

Dan jika hidup berpasangan, katakanlah antara derita dan bahagia, cobaan dan kemudahan, siapa bilang bayi-bayi luput darinya? Bukankah di zaman Fira'un semua bayi laki-laki dibasmi sehingga tinggal Musa yang selamat justru setelah tedung rotannya tersekat di pemandian permaisuri Fira'un sendiri? Muhammad Rasulullah juga lahir dalam kelebut jelaga jahiliyah saat bayi-bayi perempuan dianggap beban keluarga, lalu dibunuh sebelum sempurna menghirup udara gurun.

Ah, bayi-bayi malang berkelabat di benak Abraham. Ia pernah menonton sebuah film dokumenter tentang bayi yang diaborsi dalam kandungan. Orok bayi itu mengelak susah-payah dari alat penjepit yang akan menghancurkan batok lunak kepalanya. Tiap kali mengelak, setiap itu pula besi penjepit mengejarnya. Sekali waktu ujung besi penjepit mengejarnya. Sekali waktu ujung besi penjepit menancapi ubunnya, dan akhirnya ia menyerah. Ia sampai ke dunia dalam bentuk serpihan-serpihan daging murni yang tak berdosa.

Lalu berapa banyak bayi mati tercekik, mengoak di semak-semak, terlantar di jalan, ditaruh di depan pintu sebuah rumah, atau mengambang di selokan? Betapa!

Dan bagaimana pula dengan bayi-bayi di medan perang?

Abraham Yusra terguncang. Sangat terguncang. Angin pancaroba menggedor-gedor kaca jendela. Ia tahu ada perang sedang berkobar di seberang lautan, di ujung benua. Ada bayi-bayi terseret di bawah pagar kawat berduri, di ladang-ladang penuh ajak dan srigala liar, terapung di lautan dan seorang di antaranya terdampar kaku di pantai dengan sepatu boat kebesaran; sebagian meringkuk di tenda-tenda koyak tanpa harapan. Ia pun ingat perang kota kecil di negerinya--kerusuhan! Dan alangkah ngeri melihat korban-korban bayi berjtuhan. Juga kisa perang saudara di kampungnya, melahirkan bayi-bayi berperut buncit bermata cekung, bahkan untuk menangis pun mereka tak berdaya.

***
MESKIPUN pikiran Abraham siang itu merengkuh dan merangkum hal-ihwal tentang bayi, yang beruntung dan malang, dalam keluarga atau di luar rumah, di masa damai atau perang, namun cerita tentang bayi yang akan ia tulis, sepenuhnya ia dapatkan dari Tanamas. Laki-laki yang masih lantang bersuara di masa tua itu --seolah dia tak pernah tua-- sudah pernah dikenalnya, ketika dulu ia menuliskan biografinya sebagai pengusaha rotan yang sukses. Buku itu terbit dan diluncurkan pada tahun 1995.

Setelah itu Abraham tak berhubungan lagi dengan Tanamas, suatu kebiasaaan yang ia jaga sebagai bentuk profesionalitas. Menjaga relasi itu penting, namun ia merasa hubungan dengan tokoh yang ia tulis tak harus berlanjut dalam bentuk lain. Apalagi ia tahu orang-orang itu sangat sibuk. Saat menulis buku Tanamas misalnya, ia hanya dua kali saja bertemu muka, selebihnya data ia cari sendiri. Itu sebabnya buku biografi Tanamas dulu agak tipis. Dan mungkin karena itu pula, pikirnya, selang 20 tahun sejak buku pertama diluncurkan, orang kepercayaan Tanamas mengontak dia kembali dan Abraham memenuhi. Pasti Tanamas ingin merevisi buku tersebut atau menulis seri berikutnya.

Pertemuan mereka di Cirebon, tak banyak basa-basi. Dan di luar dugaan, Tanamas ternyata tak menyinggung buku biografinya sama sekali, malah minta Abraham menulis biografi seorang bayi! "Menurut Bung, apakah tak masuk akal?" kata Tanamas tenang. 

Abraham yang kaget mencoba tersenyum. Tanpa menunggu jawaban, Tanamas melanjutkan, "Bung orang berpengalaman. Sekali ini saya minta Bung menulis agak lain."

Abraham terdiam. Barangkali jika permintaan itu didengar Abraham dalam usia 30 tahun, saat pertama mereka bekerja sama, boleh jadi gairah sambutannya akan berbeda. Abraham mungkin akan menganggap itu hal baru yang akan mengbubah dunia. Namun di usianya yang kepal alima, permintaan itu justru terdengar masif dan eksistensial.

Tanamas lalu menceritakan soal yang "agak lain" itu. Tentang seorang bayi merah yang pernah jatuh di pangkuannya, seperti bintang jatuh. Panjang, sungguh panjang jalan yang mempertemukan kami, kata Tanamas. Entah mengapa ia seallu menganggap bahwa kehadiran bayi itu tak hanya berawal dan berakhir di ibu kota, namun langsung atau tidak, terkait dengan banyak peristiwa. 

Bahkan, lanjut Tanamas, ini bermula dari perang saudara tahun 1958 di Sumatera Tengah. Ketika itu Dewan Masyumi mengumumkan pemerintahan tandangan bernama PRRI. Jakarta membalas dengan mengirim APRI yang dikenal sebagai tentara Soekarno atau tentara pusat. Operasi militer terbesar dalam sejarah tanah air dimulailah. Selain itu, milisi PKI ikut bergerak ambil bagian.

Sesama orang lalu bersimpang jalan. Tanamas pengagum Syahrir, ayahnya Masyumi tulen. Sebagian kerabatnya bergabung dengan PRRI. Tapi di sisi lain, Tanamas punya sahabat karib bernama Marlupi, tokoh PKI di kota kecilnya yang dingin --yang berubah panas sejak orang-orang bersimpang jalan.

Hampir tiga tahun bertahan, pasukan PRRI mulai kelelahan dan berangsur turun gunung. Tapi tak sedikit dari mereka yang sudah menyerah tetap dihabisi oleh milisi PKI, entah sebagai kesempatan ambil muka di depan tentara Soekarno, balas dendam, atau benar-benar demi republik tercinta ini. Sementara Tanamas yang berdagang kebutuhan pokok di masa perang, diketahui adalah informan PRRI. Suatu hari ia ditangkap.

Beruntung, Marlupi memintanya dari tangan tentara. Tentara pusat mungkin menganggap Tanamas akan dihabisi di suatu tempat, sebagai lazim dilakukan milisi PKI. Tapi, ternyata, Marlupi meloloskannya. "Pergilah, sebelum kawan-kawanku tahu," kata Marlupi. Tanamas pergi ke Tanjungkarang, kemudian menyeberang ke ibu kota.

Tiga tahun di Jakarta, Tanamas mendengar kabar bahwa Marlupi, sahabat yang meloloskan dia, juga telah pindah ke ibu kota. Marlupi terpilih untuk membesarkan partainya dan beroleh posisi cukup baik. Beberapa kali Tanamas-Marlupi sempat bertemu. Masih seperti saudara, meski belakang tak pernah lagi seiring kesibukan mereka. Sementara komunis kian berjaya di bawah ketiak Soekarno dan laras tentara. 

Tak diduga, Oktober '65, tengah malam buta, pintu rumah Tanamas di Kalimalang diketuk berulang-ulang. Tanamas membuka pintu dan mendapati Marlupi beserta istrinya mengerut di luar. Itu pertemuan mereka yang paling menusuk hati. Bainun, istri Marlupi, mendekap seorang bayi yang masih merah, namun dilihat lebih dekat tampak pucat. Tanamas menarik mereka masuk. Belum sempat ia dan istri bertanya, "Aku titip Bainun dan bayiku, Saudara. Aku harus berhitung dengan situasi." Begitu saja, Marlupi pergi, menghilang ke balik kelam.

***
TANAMAS belum mengerti keadaan, meski dia sudah mendengar kabar bahwa bintang kemukus baru saja menggurat langit Jakarta, lalu merenggut cahaya bintang lain di atas langit yang sama. Ya, bintang di bahu orang-orang besar. Mereka yang menyandang bintang-bintang itu mati terbunuh. Dan jejak gurat bintang kemukus berlanjut ke sepanjang langit di tanah air, tak hanya merenggut bintang-bintang di bahu orang besar, juga bintang-bintang kemanusiaan di semesta batin orang-orang kecil.

Barulah setelah Marlupi tak pernah kembali, Tanamas menyadari situasi. Ketika keadaan makin genting, ganti Bainun, ibu si bayi yang minta pergi. Tanamas dan istrinya susah-payah melarang. "Situasi sedang gawat," kata Tanamas mengutip radio. Tapi Bainun berdalih mau menyusul si suami di suatu tempat. Sang bayi ia titipkan kepada istri Tanamas. Sejak itu Bainun tak pernah datang. Tanamas pun sadar bahwa Bainun, ibu yang baik itu, justru berusaha melindungi keluarga Tanamas --sekalian bayinya-- dari tuduhan menyembunyikan orang terlarang. Sebab tak lama setelah itu, rumah-rumah digeledah massa entah dari mana, mencari orang yang bersembunyi atau disembunyikan.

Bayi laki-laki di pangkuan istrinya, sebenarnya membuat Tanamas tak bisa tenang. Ia tak bisa sedikit pun meluputkan sekecil-kecilnya kemungkinan pada zaman yang gila. Beberapa tetangga yang iri atas usaha kerajinan rotannya mulai kerap mengintip si bayi dengan tatapan mengancam. Bagaimana kalau mereka buka mulut mengatakan bahwa istrik tidak hamil dan tidak melahirkan? Tanamas cemas.

Dan itulah yang kemudian terjadi. Pagi di bulan Maret 1967, rumah Tanamas didatangi beberapa lelaki berbadan kekar. Seorang di antara mereka, dengan mata merah saga menyampaikan sedikit pengantar, "Kami tahu istri Anda tak hamil, jadi tak mungkin punya bayi. Maka kami akan mengambilnya dan menyerahkan pada ibunya yang asli."

Sang bayi waktu itu masih tidur di ayunan rotan. Digerakkan oleh naluri keibuan, istri Tanamas beringsut mau membawanya ke belakang. Tapi tangan laki-laki tak diundang itu menghalanginya dengan kasar.

Darah Tanamas mendidih. Ia geram kepada siapa pun yang memberitahukan status si bayi, dan lebih geram lagi kepada orang-orang gila yang mendatanginya itu.

"Bung harap tenang. Bayi ini kami kembalikan kepada ibunya di suatu tempat," kata seorang lain, terdengar antara benar dan mencurigakan. Tanamas senang dan terkejut mendengar istri sahabatnya disebut masih hidup. Entah di mana.

"Di mana Bainun?" tanyanya tak sabar.

Orang itu tersenyum. "Nanti Bung akan tahu. Sekarang bayinya kami antar dulu."

Tanams sadar telah terjebak. Tapi ia melawan, "Tidak! Ini darah daging saya."

"Setahu kami hanya bayi Yesus yang kelahirannya aneh. Tahu-tahu ibunya bunting. Tapi di sini lebih aneh lagi. Betinamu tak bunting sama sekali tapi kau punya darah-daging seorang bayi...," kata orang itu tajam. Lalu ia mengeluarkan segulung kertas dari celananya. "Atau jika tidak, Bung tinggal teken di sini!"

Tak ada yang bisa dilakukan Tanamas mengahdapi ancaman sedingin itu. Bayi kini berpindah tangan. Ratap tangis istri Tanamas pecah seketika. Tanmas mematung. Ia tinggal berharap waktu, dengan segala kekuatan dan berkah, membesarkan si bayi yang tak berdosa. Sekalipun Tanamas akan tetap mengenangnya sebagai bayi merah yang belajar merangkak dalam asuhannya, lalu tegak untuk berjalan selangkah demi selangkah...

Tak lama setelah peristiwa itu, diam-diam Tanamas pindah ke Cirebon.

Sampai di situlah kisah hidup si bayi yang disampaikan Tanamas, dan itulah yang ia ingin ditulis. "Ini bukan cerita sepenggal," kata Tanamas saat itu. "Sebab di dahan usia semerah itu tersangkut banyak nama dan buah-buah peristiwa," lanjutnya, puitis.

Ia berubah diplomatis saat Abraham menatapnya lama, "Ah, Bung pasti pahamlah!"

"Kenapa tidak dari dulu Bapak ceritakan?" suara Abraham bergetar.

"Jangan dong! Waktu itu Jenderal Besar masih berkuasa. Sekecil apa pun persentuhan kita dengan yang 'merah', bahaya. Rawan dimanfaatkan. Bagaimanapun saya harus memikirkan bisnis saya. Iya kan? Nah, sekarang maukah Bung menuliskannya?"

Abraham menyatakan pikir-pikir. Minta waktu.

***
KINI Abraham masih berkutat dengan waktu, bersekutu dengan waktu. Ia tarik napasnya dalam-dalam. Menghikmati dunia penciptaan. Merenungkan kehancuran demi kehancuran.

Abraham sadar, apa yang tidak ia ketahui lebih banyak daripada yang ia ketahui. Bayi-bayi di alam rahim, misalnya, sepengetahuannya, tidak mengada dalam keadaan kosong hampa. Allah Waljallah mengikatnya dengan janji. Tapi bagaimana bentuk ikatan itu, dia tidak tahu. Dia hanya tahu sedikit dari cerita guru mengajinya di surau. Kata sang guru, sebelum ditiup, ruh berjanji untuk senantiasa taat kepada penciptanya. Setelah ruh merasuk di ubun-ubun, bayi-bayi berjanji untuk tetap taat kepada tuhannya.

Tapi dunia mengubah segalanya. Membuat kotor bayi-bayi putih bersih kiriman alam roh dan rahim itu. Maka bayi-bayi akan meninggal sebelum terpecik debu kotoran dunia, kata sang guru, kelak arwahnya tak akan dihisab. Sebab masih bersih. Bahkan, berkat doa yang dipanjatkan, mereka dapat menjadi penolong bagi kedua orang tuanya, termasuk mereka yang segaris nasab, di alam Barzah.

Kata nenek guru pula, arwah bayi-bayi yang bersih itu berayunan di sebatang pohon di bulan. Jika mereka punya saudara di bumi, maka mereka akan mengikuti ke mana saudaranya pergi. Waktu itu Abraham juga tak tahu bagaimana itu bisa terjadi. Namun jika purnama tiba, ia dan kawannya sengaja berjalan epat sambil merasakan bahwa di langit bulan bergerak. Tapi Abraham ingat, ia pernah merasa sedih ketika berjalan, bulan tetap diam. Padahal ia merasa bulan mengikutinya. Kawan-kawannya kukuh bilang tidak. "Kenapa bisa begitu?" tanyanya.

"Mana kami tahu!" jawab seorang kawan.

"Mungkin kau tak punya saudara di atas sana," kata yang lain. 

"Kata ibuku ada kakakku yang meninggal saat lahir."

"O, tak tahulah kami. Coba lagi saja..."

Maka Abraham kecil mencoba kembali, dan anak-anak bersorak, "Bulannya jalan, bulannya jalan, hore!" Abraham senang dan mereka melonjak-lonjak riang, bersama-sama.

Abraham tersenyum mengenang masa kanaknya. Seolah terpampang di kaca jendela; sejernih purnama, segala nampak. Ia serasa melihat lagi garis-garis tegak di bulan yang menyerupai pohon yang melengkung; arwah bayi-bayi berayunan di situ. Meski ia tahu kemudian itu hanya dongeng, namun ia merasa tetap ada yang kurang ketika ia berjalan di bawah purnama kesekian, kembali ada teriakan, "Bulannya diam, bulannya diam..."

Ia bergerak lebih cepat. Kawannya juga bersicepat bilang bulannya tak beranjak.

"Kata ayah, ada kakakku meninggal saat akan lahir..." Ia mulai putus asa.

"Tapi kata ibu kami, kau anak sebatang kara."

"O, bukankah aku punya ayah-ibu?"

"Itu bukan ayah-ibumu!"

"Kata ibu kami, Pak Syamsu tak bersangkut-paut denganmu!"

Abraham terguncang. Ia pulang dan menangis di hadapan ayahnya, Syamsurizal.

***
PELAN namun pasti, Syamsyurizal mulai buka kartu. Jangan menangis, katanya. Memang demikianlah keadaannya. Seiring waktu, Syamsurizal bercerita bahwa si anak dibawa ke luar ibu kota setelah ibu kandungnya meninggal di penjara Bukit Duri, dalam ketidakpastian pengadilan. Syamsurizal waktu itu berkedai nasi di samping penjara. Ia melihat dengan mata kepala sendiri, betapa sengsaranya nasib anak adam di balik tembok bangunan tua itu. Syamsurizal yang punya akses mengantar nasi pesanan para sipir, sering tak tahan. Ia melihat seorang ibu diintrogasi berkali-kali, disakiti berkali-kali, tapi menolak bersuara. saat membersihkan gelas-piring, Syamsurizal mendengar sekelompok laki-laki saling bicara ketus, seolah membanting lidah.

"Dasar perempuan sinting! Tak sedikit pun ia buka mulut..."

"Sundut lagi!"

Sipir lain datang bergegas. Wajahnya puas. "Kutemukan caranya, Komandan!"

Laki-laki yang dipanggil komandan itu mendekat, "Cara apa kau temukan, heh?!"

"Bayi!"

"Bayi?"

"Ada info: dia titip bayinya di suatu tempat. Itu bisa jadi alat pembuka mulut."

Komandan tak mau buang waktu. "Mari kita jemput!" katanya.

Syamsurizal hanya tahu sampai di situ, bagaimana bayi itu ditemukan dan dibawa, Syamsurizal tak mengerti. Tahu-tahu ia sudah mendengar tangis seorang bayi di balik dinding penjara. Dalam beberapa hari tangis si bayi seolah tak mau berhenti, sampai akhirnya para sipir tampaknya menyerah. Kembali mereka saling banting lidah.

"Terkutuk, haram jadah! Tetap saja caramu tak berguna!"

Ya, Ndan. Perempuan itu malah makin layu, tak lama lagi mungkin mati."

"Kembali bayinya ke tempat semula. Aku tak mau urus dua kematian sekaligus. Jangan lupa, minta uang tebusan kepada tukang rotan itu. Atau seret mereka ke mari."

Syamsurizal juga tak tahu bagaimana si bayi dipulangkan ke "tempat semula" yang disebut rumah tukang rotan. Yang jelas, besoknya, tangis si bayi kembali terdengar.

"Sialan, tukang rotan itu sudah tak ada. Ia pergi entah ke mana. Dan kini, ibu bayi ini benar-benar mati. Ke mana daging mentah ini dititip?" Komandan melenguh.

Syamsurizal, laki-laki yang sudahlimat tahun menikah dan hanya berhasil sekali membuat istrinya hamil--itupun keguguran--menyahut spontan, "Saya mau, Komandan!"

Komanda mengerenyitkan keningnya. Satu masalah kecil selesai. Tapi toh ia tetap berseloroh, "Kau siapkan seratus nasi bungkus, Bung Syamsu! Itu syarat menebusnya."

Dan itu benar-benar dilakukan Syamsurizal. Ketika seratus nasi bungkusnya diantar ke "markas", para sipir tengik itu tak bisa mengelak. Sang bayi segera berpindah tangan. Ternyata itu nasi terakhir Syamsurizal, sebab setelah itu ia menutup kedai dan membawa sang bayi pulang ke kampungnya di kaki Gunung Singgalang.

***
ANEH, tiba-tiba Abraham ingat kampung di kaki gunung itu. Ingat sepasang orang tua yang menyambutnya dengan mata berlinang bila sesekali ia pulang. Meskipun, sejujurnya, ia sangat kecewa karena sepanjang umur dia tidak tahu di mana jejak ayah dan kubur ibu kandungnya berada. Namun ia tetap menyukuri keadaannya kini; bukankah sepasang orang tua beraroma gulai dan rendang itu, tiada beda dengan orang tuanya sendiri?

Abraham merasa dadanya lapang. Akhirnya kutemukan mata rantai biografi yang hilang, gumamnya, setelah lama dan lelah menimbang. Ia memutuskan segera meneleponke Cirebon. Sambil membayangkan buku istimewa yang ditulisnya akan diluncurkan pada ulang tahun Tanamas yang ke-75. Dan jika si tukang rotan itu tahu sebuah rahasia, tentu sekaligus akan ia rayakan pula ulang tahun ke-50 penulisnya!

Seiring tiupan angin menjelang sore di jendela, pelan, kertas draf Abraham yang putih terbuka menyingkap sebuah coretan: Biografi --- Otobiografi. ***

/Rumahlebah Jogjakarta, 2015


Raudal Tanjung Banua, lahir di Lansano, Pesisir Selatan, 19 Januari 1975. Tinggal di Jogjakarta. Bukunya, antara lain, Parang Tak Berulu (2005) dan Api Bawah Tanah (2013). Seri cerpennya "kota-kota kecil" yang dia tulis sekitar 5 tahun di Jawa Pos berakhir September lalu, kini dia mulai menggarap seri "tokoh-tokoh kecil".

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Raudal Tanjung Banua
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Jawa Pos" Minggu 13 Desember 2015 

0 Response to "Biografi Seorang Bayi Merah"