Bulan Sembunyi di Kamar Sakti | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Bulan Sembunyi di Kamar Sakti Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 13:53 Rating: 4,5

Bulan Sembunyi di Kamar Sakti

SUATU pagi di bulan Desember, Sakti terbangun dan mendapati jendela kamarnya terbuka, kelambu yang tergantung di sana bergoyang terkena pukulan angin yang dingin, dan seonggok bulan meringkuk bersandar di pintu kamar. Dari bau tanah yang menyusup ke dalam kamarnya, Sakti tahu hujan baru saja reda.

‘’Apa yang kaulakukan di sini?’’ tanya Sakti setelah dua kali menguap, merentangkan tangan dan kaki, lalu menelengkan lehernya hingga terdengar bunyi ‘’tak’’. ‘’Bukankah kau seharusnya bergelantungan di langit?’’

‘’Seseorang berniat jahat
kepadaku,’’ jawab bulan.

‘’Seseorang?’’

‘’Ya. Seseorang. Seorang pemuda. Aku tahu. Aku yakin.’’

‘’Seberapa yakin?’’

‘’Seratus persen!’’

Hal ini benar-benar membingungkan bagi Sakti. Sejauh yang diingat Sakti semenjak keberadaannya di dunia yang fana ini, bulan selalu ada di langit, berjalan seperti seharusnya, terbit menghilang mengikuti siklusnya, dan tak pernah ada orang yang berniat jahat kepadanya. Lagipula, bila memang benar apa yang dikatakan bulan, niat jahat itu dengan tujuan apa dan cara semacam apa yang paling mungkin ditempuh demi tercapainya niatan tersebut? Seandainya yang berkata bahwa seseorang memiliki niat jahat kepadanya bukanlah bulan, melainkan, misalnya, pemilik toko emas atau juragan tanah yang baru menjual sebagian lahannya, tentu akan lebih mudah bagi Sakti untuk percaya.

‘’Darimana kau tahu hal itu?’’ tanya Sakti pada akhirnya. 

‘’Dia terus menatapku, orang yang berniat jahat itu, pemuda itu maksudku. Kau tahu, sudah tujuh malam dia meringkuk di halaman rumahnya dengan jaket tebal dan memandangku dengan pandangan yang penuh keinginan, penuh hasrat untuk mengambilku, menjatuhkanku dari langit, lalu aku tidak tahu nasib seperti apa yang direncanakannya kepadaku, bahkan membayangkannya saja aku tidak mampu. Tapi kemungkinan ia akan memotong-motong tubuhku dan menjualnya kiloan
di pasar sangat terbuka.’’

‘’Ini konyol!’’ Seru Sakti. Perutnya lapar dan kepalanya pening karena ini sudah waktunya minum kopi, sedang pintu keluar kamarnya terhalang oleh onggokan benda bulat yang buruk sekali teksturnya. Bertahun-tahun yang lalu, dalam buku pelajaran sekolahnya, Sakti pernah melihat gambar benda seperti yang kini ada di hadapannya. Bulan, keterangan gambar dalam buku pelajaran itu. Keterangan perihal ukuran bulan dalam buku itu membuat Sakti berpikir alangkah tololnya orang yang menulis keterangan tersebut. Namun ketololan itu tidak terlalu mengganggu Sakti. Di jaman sekarang, siapakah yang tertarik mengurusi bulan hingga ke detil-detilnya selain orang-orang kurang pekerjaan yang menyebut diri mereka ilmuwan? Dulu, mungkin memang pernah ada suatu masa di mana di banyak tempat, bulan begitu dinanti-nantikan kehadirannya, apalagi bila tiba malam di mana bulan menjadi purnama. Anak-anak akan bergerombol dan memainkan permainan apa pun yang bisa mereka lakukan tanpa mengeluarkan sedikit pun biaya pada malam-malam semacam itu.

Listrik belum masuk ke kampungkampung, dan cahaya bulan benar-benar indah, dan yang lebih penting, cukup terang. Bapak-bapak dan ibu-ibu juga menemukan tempat bagi mereka untuk berkumpul dan membicarakan segala hal, mulai harga bawang hingga merk sampo tetangga.

Tapi bukankah masa-masa seperti itu telah lama lewat? Bahkan sesungguhnya, Sakti tak sepenuhnya
percaya bila masa seperti itu pernah benar-benar ada.

‘’Mereka, orang-orang yang bermain dan berkumpul di bawah cahaya bulan purnama itu, kalau tidak tinggal dalam dunia fiksi, pastilah orang-orang primitif!’’ yakin Sakti setiap kali terkenang hal tersebut.

‘’Ini memang konyol, tapi ini memang benar-benar terjadi. Seorang pemuda menginginkanku entah untuk apa, seseorang akan melakukan hal tidak menyenangkan atau bahkan menyakitkan terhadapku,’’ bulan bersikeras dan ucapannya membuyarkan lamunan Saki.

‘’Hanya orang tolol yang berpikiran jahat tapi tidak penting seperti itu!’’ ujar Sakti

***
Pada waktu itu, di belahan lain bumi, di tempat ketika matahari tenggelam dan menjelma matahari terbit di kota Sakti, kehebohan terjadi lantaran orang-orang menyadari bahwa malam itu, bulan tidak muncul. Kehebohan itu memang tidak lama, tidak sampai setengah jam, dan orang-orang lalu memutuskan untuk memikirkan masalah lain yang lebih penting, seperti menentukan menu makan malam mereka.

Dalam pikiran mereka, apa sih pentingnya bulan ada atau tidak. Pada tanggal-tanggal tertentu, bulan tidak tampak sama sekali, lalu perlahan muncul dalam bentuk sabit sebelum akhirnya menjadi benar-benar bulat sempurna, dan kemudian kembali menjadi sabit lalu lenyap sama sekali. Begitulah yang terjadi setiap bulan, sepanjang tahun, sepanjang masa. Dan ketika bulan sedang purnama atau tidak tampak sama sekali, kehidupan tetap berjalan sebagaimana mestinya. Yang miskin mesti terus bekerja keras demi uang, dan yang kaya juga harus terus bekerja keras agar uang mereka semakin bertambah, terus bertambah, dan bahkan mereka akan terus berupaya menambah uang mereka sekali pun mereka tak lagi menemukan cara untuk menghabiskannya.

Seperti Sakti, hampir semua orang menganggap hanya orang-orang dari dunia fiksi atau primitif yang menunggu-nunggu cahaya bulan dan bermain-main di bawahnya.

Tapi segera terbukti bahwa pikiran-pikiran tentang tidak berpengaruhnya bulan terhadap kehidupan mereka adalah sesuatu yang keliru.

Dan inilah yang mungkin terjadi bila bulan tidak ada: a) gravitasi yang dimiliki bulan akan lenyap, dan itu berakibat, b) air pasang laut pada malam hari tidak ada hingga satu-satunya pasang adalah akibat dari gravitasi matahari yang tentu saja hanya akan terjadi pada siang hari dan itu membawa dampak, c) gelombang laut akan lebih tinggi. Selain itu, akan terjadi, d) gempa bumi dan aktivitas vulkanik gunung berapi yang meningkat, lalu, e) dalam jangka panjang, poros rotasi bumi akan bergeser. Dan bila poros rotasi bumi bergeser, akan menyebabkan, f) perubahan iklim yang ekstrem yang berujung pada kekacauan kondisi bumi sehingga menjadikannya planet yang tak layak huni, bukan saja bagi manusia, melainkan juga pada segala jenis makluk hidup di dalamnya. Penjelasan panjang ini sesungguhnya bisa disederhanakan dalam frasa: bumi akan kiamat!

Beberapa ilmuwan yang mengetahui hal tersebut segera membuat suatu rilisan bahwa bulan mesti ditemukan secepatnya, bagaimana pun caranya. Dengan alasan yang berbeda, sekelompok penyair (satu-satunya golongan masyarakat pada jaman ini selain ilmuwan yang benar-benar panik dengan menghilangnya bulan) dengan lantang menyatakan dukungan pada pernyataan tersebut. ‘’Bagaimana kata ‘bulan’ akan bertahan dalam kamus bila bulan tidak ada? Dan bagaimana kami menulis puisi yang bagus bila kata ‘bulan’ tidak ada?’’ dengus para penyair itu dengan kesal. Kesal sekesal-kesalnya kesal.

***
Di sebuah tempat yang lain, ribuan kilometer dari rumah Sakti, seorang pemuda yang tengah dikungkung oleh gangguan kejiwaan, melolong sambil menatap langit yang suwung. Hari juga sedang malam di tempat si pemuda.

Sepuluh hari yang lalu, pemuda itu adalah pemuda yang merasa menjadi orang paling bahagia di bumi. Secara ekonomi ia mapan lantaran warisan orangtuanya berlimpah dan ia tidak perlu bekerja apa pun untuk bertahan hidup, setidaknya sampai enam puluh tahun lagi. Dan ia juga memiliki seorang kekasih yang diyakininya tidak dilahirkan di bumi ini.

‘’Kamu benar-benar berasal dari surga,’’ ujar si pemuda berulang-ulang setiap kali ia terpesona pada si perempuan. Dan karena setiap hari, setiap saat, ia merasa terpesona, maka setiap hari, setiap saat, ia mengucap kalimat itu pada si perempuan. Awalnya, si perempuan senang mendengar pujian itu, dan ia tidak dapat menyembunyikan semburat kemerahan di pipinya. Namun seiring waktu, setelah hampir setahun ia terus-terusan mendengar kalimat yang sama, ia merasa kekasihnya itu menjemukan. Ia menginginkan kalimat rayuan yang baru tapi tampaknya lelaki itu hanya memiliki jumlah kosakata yang begitu terbatas. Alih-alih bahagia, si perempuan pada suatu hari memutuskan pergi diam-diam setelah menulis surat yang isinya: jangan cari aku sebab aku akan pergi ke bulan dan kamu tidak tahu cara naik ke sana.

Tentu saja kalimat itu tidak dimaksudkan bermakna harafiah. Yang ingin disampaikan si perempuan sebenarnya hanyalah ia telah jenuh dan tak mau lagi bersama si lelaki. Peristiwa itulah yang memberi pukulan telak pada kejiwaan si pemuda, menghukumnya dengan kelinglungan agung yang tak terobati. Dan dalam keadaan terguncang, ia memikirkan sesuatu yang benar-benar sulit dicerna akal sehat: menjatuhkan bulan.

***
‘’Aku juga berpikir kalau pemuda itu tolol. Tapi kalau kau mengetahui bagaimana cara pemuda itu menatapku selama tujuh malam ini, kau akan tahu bahwa pemuda itu tidak main-main,’’ kata bulan.

Sakti semakin tidak dapat berpikir lantaran jam minum kopi sudah terlewat sejak tigapuluh menit yang lalu. Kepalanya bertambah pening. Dan antara sadar dan tidak, Sakti bertanya, ‘’lalu apa yang bisa kulakukan untukmu? Katakanlah dan aku akan membantumu kalau aku mampu asal kau mau sedikit bergeser dari pintu kamarku.’’

‘’Biar untuk sementara waktu aku bersembunyi di sini. Percayalah, aku tidak akan merepotkanmu. Aku tidak perlu makan atau minum, atau mandi. Aku hanya perlu tempat secukupnya sampai pemuda itu putus asa dan mengurungkan niat jahatnya.’’

‘’Dan kapankah itu?’’

‘’Aku tidak tahu. Tapi aku berharap tidak akan lama.’’

‘’Terserah kau saja. Dan sekarang kau boleh minggir,’’ kata Sakti pada akhirnya sebelum dengan terhuyung ia melewati celah yang tercipta berkat beringsutnya onggokan bulan yang tengah menderita dan merasa terancam tersebut. Sakti bahkan lupa bertanya, kenapa bulan memilih kamarnya sebagai tempat bersembunyi dan bukannya tempat lain, kantor polisi, misalnya. (92)

Dadang Ari Murtono, lahir dan tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Buku ceritanya yang sudah terbit berjudul Wisata Buang Cinta (2013) dan Adakah Bagian dari Cinta yang Belum Pernah Menyakitimu (2015). Saat ini bekerja penuh waktu sebagai penulis dan terlibat dalam kelompok Suka Jalan. (92)

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dadang Ari Murtono
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" Minggu 6 Desember 2015

0 Response to "Bulan Sembunyi di Kamar Sakti"