Burusuh | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Burusuh Reviewed by Utroq Trieha on 08:34 Rating: 4,5

Burusuh

IA terus saja menambahkan ranting bambu ranting kayu ke dalam perut tungku tanah liat itu. Bukan lagi tungku tanah liat tentu, sebab saban hari perut tungku itu terus saja dibakar-dihanguskan ketika ia atau istrinya menjerang air dalam panci penyok, atau menanak nasi dalam seeng dan aseupan, atau sekadar membakar ikan asin dan delan untuk makan siang. Tapi kini, tak ada yang tengah dijerang atau dibakarnya di atas tungku keras-kaki yang sisi kirinya telah retak-rengkah itu. Ia sekadar membakar perut tungku itu, dan membiarkan nyala api merah-oranye-biru menjilati rongga dan udara kosong di atasnya. Asap putih pekat mengepul-membumbung, menyesaki para-para tempat segala perabot dapur diletakkan dan sebungkus ikan asin, garam, dan delan digantungkan. Sementara unggunan bara dari pembakaran kayu rambutan di dasar tungku itu, tampak merah menyala serupa rahim neraka. Barangkali, serupa hangus duka dalam dadanya, sepanas kesumatnya pada Dulbari yang telah menjerat-meniupnya sedemikian celaka. Ah, betapa tak celaka, sebab Dulbari -- yang kini hidup makmur sejahtera sentosa itu -- adalah biang keladi segala nestapa yang menderanya. Mengutuk sekujur hidupnya untuk selamanya menjalani ritus wajib-lapor saban Sabtu, di tanggal muda atawa minggu pertama setiap bulannya.

Dan ini hari Sabtu, ia tak mungkin melupa, meskipun udara pagi ini masih sepucat tugu di batas kampungnya itu. Sementara, panas api yang terus bergelora telah sedari tadi menjalarkan hangat yang menyengat pada kaki, tangan, dan wajahnya yang tampak sekusam garam diceruk leper batu. Tapi punggungnya yang mulai melengkung busur itu, belum lagi merasai hangat api. Barangkali, punggungnya masih menyimpan dingin yang nyeri, selinu bekas luka memar luka parut yang didapatnya dari kantor wajib-lapor pada Sabtu bulan lalu. Maka kini, setelah dirasanya cukup memasukkan ranting kayu ranting bambu, ia berputar dan memunggungi tungku yang terus saja menguarkan hawa panas ke segala penjuru dapur itu. Ia ngagarang pantatnya yang bisulan, memanaskan bokongnya yang kasar-korengan, dan menghangatkan tulang punggungnya yang melengkung busur itu. Ngadeang. Siduru menahan ngilu yang menggantang di tingkap waktu. Agar hangat segala gerak, agar ringan segala angan, pikirnya, dan tulang-tulang tak kaku tak kelu ketika ia mesti ngaluku atawa ngagaru di sawah milik Pak Guru Misnan. Ah, Pak Guru Misnan yang mungkin lebih menanggung ngilu dengan lara teramat panjang teramat dalam.

Dan sembari merasai hangat menjalari sekujur punggungnya itu, dicoleknya burusuh dari ujung salah satu ranting kayu, yang ujung lainnya terus saja dilahap api di dalam tungku. Busa putih-kusam yang tak lengkat tak berbau itu, terasa begitu hangat di ujung telunjuknya yang kasar dan kapalan. Dan sebelum hangatnya menghilang, menguap bersama asap, dioleskannya lekas-lekas burusuh itu pada bisul yang menyembul di pantatnya sebelah kanan. Ia sedikit terjengkat, tersentak, ketika burusuh hangat di ujung telunjuknya menyentuh mata-putih-bisul yang benyek dan nyaris matang sempurna itu. Bisul merah darah yang memerangkap segumpal nanah yang nyaris pecah, nyaris membuncah. 

Dan, ah, benar saja, bisulnya seketika pecah. Tumpah. Darah bercampur nanah meleleh seperti getah pohon yang luka. Dan jari-jari tangannya memerah-basah, merasai segumpal darah kental-beku yang dingin di sela-sela jari, meski embusan udara panas terus menguar dari dalam tungku itu. Ah, bisu yang pecah, cekah, barangkali serupa lara yang bakal bersudah, serupa bara yang habis daya. 

Tapi ia meringis menahan perih. Air mukanya meriak gerah seperti tengah menyekam amarah. Entah kepada siapa. Mungkin kepada Dulbari, mungkin pada orang-orang yang saban bulan menanyainya segala rupa. Maka kini, pada rintihannya yang kedelapan, ditekannya bisul yang pecah itu sekuat maut, sekuat tenaga yang mampu dikerahkan dua jari telunjuk dan jempolnya yang kelu, demi memaksa mata-putih-bisul itu meloncat dari dalam kulit pantat yang telah memerangkapnya sekian lama. Ia terkejat-kejat. Meringis menahan nyeri tak terperi ketika darah dan nanah dipaksa terus meleleh dari liang luka bisul itu. Dan pada entak-tekanan paling purna, akhirnya, mata putih bisul itu melompat tak terduga. Agh, huuuff, air mukanya menggenang tenang, ia melega juga, lega lila. Bisulnya cekah dan nyerinya bakal bersudah.

Ia tersyukur, seolah segala mala, bala, celaka, telah sempurna dilewatinya. Meskipun, ia tahu belaka, bahwa sebentar lagi ia mesti mengantre untuk memenuhi wajib-lapor di kantor desa. Ah, dalam kepalanya kembali berkelebat laku-cela Dulbari kepada dirinya, dan kepada empat puluh tiga lelaki dari kampungnya. Tapi sembari teringat pada Dulbari, dilapnya jari-jemari tangan kanannya yang bersimbah darah dengan secarik kain gombal yang biasa digunakan istrinya untuk menahan laju panas dari kuping panci atawa wajan. Dilapnya juga darah dan nanah yang meleleh dari bisulnya itu, dengan kain gombal yang sama. Setelah jari-jari tangannya dirasa cukup bersih, ditekannya lagi bekas luka bisul itu sedemikian rupa. Ia kembali terjengkat. Tapi tekanan pada sisi-sisi bekas bisul itu, barangkali, memang mesti dilakukannya untuk sekadar menuntaskan darah dan nanah, agar tak bersisa dan nyangkrung begitu rupa di liang luka bekas bisup yang kini tampak kosong-bolong itu. Sekosong-bolong-melompong pengetahuannya pada laku dan tipu Dulbari sepuluh tahun lalu, barangkali.

SORE itu, senja yang muram menglingkung sekujur kampung. Langit tampak dibalut awan bergelung-gelung. Tapi di pos ronda, di bawah pohon randu yang tengah memecah buah-kapuknya itu, orang-orang tampak berkerumun. Ia yang baru naik dari sawah di lembah, baru rampung sawah di lecah, merasa terpikat dengan keriuhan yang jarang sekali didapati di kampungnya itu -- kecuali ketika kenduri anak kepala desa beberapa minggu lalu. Maka, tak peduli pada sekujur tubuh yang masih dilekati lumpur, atau bau apak keringatnya yang masih mengucur, ia merangsek ke tengah orang-orang yang berkerumun. 

Di atas pelupuh di pos ronda yang sudah reyot itu, tampak Dulbari berkoar-koar sembari terus memuji-puji kelapa desa yang baru. Dulbari menyampaikan selarik kabar, bahwa dalam rangka ulang tahun kepala desa yang baru itu, beberapa warga desa dari kampung Kaso-Coo akan dipilih dan diajak berpakansi ke Kota Jakarta. Semua orang tampak kegirangan. Sementara, ia yang masih gamang dan belum mengerti mengenai kabar yang disampaikan Dulbari, menyikut Mang Kemed yang mematung serupa tunggul di sisinya.

"Teu nyaho. Déngékeun baé heula," dengus Mang Kemed yang masih menggulung dan melepas tampar yang terhubung pada kaluhan cocok hidung kerbau yang merumput di sisi pohon randu itu. 

"Dengar, Saudara-saudara sekalian. Dengarkan baik-baik. Sekali lagi saya ulangi. Bahwa beberapa orang dari Kampung Kaso-Coo ini, diberi kesempatan oleh Pak Kades kita yang baru, Pak Kades yang baik hati itu, untuk diajak berkeliling-keliling Kota Jakarta. Melihat-lihat Monas dan sekitarnya," Dulbari lantang mengumumkan. Dan segenap hadirin yang saban hari hanya mengenal sawah, ladang, huma, dan perkakas tani itu tampak begitu terpesona sembari mengacung-acungkan tangan agar terajak-serta berpakansi ke Jakarta.

"Tenang Saudara-saudara. Tenang! Sabar. Yang mau ikut berpakansi ke Kota Jakarta, silakan mengisi daftar yang sudah disiapkan. Tuliskan nama-nama Saudara di kertas ini." 

Dan orang-orang pun berebut, beberapa bahkan sikut-menyikut, untuk mengisi kolom-kolom kosong pada secarik kertas berkop-surat desa dengan nama-nama mereka. Sementara Dulbari, tampak hanya tersenyum sinis melihat kelakuan orang-orang kampung Kaso-Coo yang berbut pulpen itu. Beberapa orang terdengar berteriak-teriak menyebut-nyebut namanya sendiri, dan meminta-pinta agar namanya dituliskan sebab tak mampu menulis huruf-huruf dan angka-angka. Dan ia yang terkesima, seperti tak mau kehilangan kesempatan, tak mau ketinggalan jalan-jalan, turut juga membubuhkan namanya pada secarik kertas itu, setelah semua orang mendapat giliran. Maka namanya tercantum di luar kolom yang disediakan, di bawah nama Mang Wira yang menempati kolom paling akhir. Tapi tak apa, gumamnya, yang penting nama nama sudah tertara, dan toh bakal terbaca juga oleh kepala desa.

Setelah keriuhan itu mulai memudar; di bawah langit yang mulai gerimis, dan kapuk randu yang terbang melayang-layang. Dulbari kembali berkoar sembari mengacungkan daftar nama-nama itu: "Saudara-saudara warga Kampung Kaso-Coo yang baik, malam ini saya dan Pak Kades akan memilih orang-orang yang beruntung, besok akan diumumkan dan daftar namanya akan ditempel di pos ronda ini. Dan lusa, ingat lusa, saudara-saudara, nama-nama yang beruntung itu akan diajak berpakansi ke Kota Jakarta. Gratis-tis-tis...."

Sorak-sorai pun terdengar membahana. Mereka tampak bergembira, bersukacita, seolah tengah menyukuri panen raya. Barangkali dalam tempurung-tempurung kepala mereka yang saban hari hanya mengenal bau lumpur itu berlesatan segala kesenangan tiada tara. Betapa, mereka bakal bisa saling bertukar cerita tentang perjalanan atau tentang kemegahan Kota Jakarta. Dan sembari bubar-jalan karena gerimis semakin kerap, melangkah bungah menuju rumah, atau ke sumur untuk membersihkan sekujur tubuh yang masih dilekati lumpur, atau mengandangkan kerbau-kerbau yang mungkin sudah kenyang menggasak rumputan, mereka membayangkan-bayangkan bagaimana bentuk-rupa Kota Jakarta. Dan lampu-lampu yang bergeriap-gemerlap meneranginya. Dan mobil-mobil bagus yang berlesatan di jalan-jalan mulusnya.

Tetapi,ah, celaka sungguh celaka. Celaka-dua-belas berlipat-lipat, kata Mang Wira. Sebab Dulbari, yang entah demi kepentingan apa atau siapa, telah menjerat mencelakai, dan memaksa mereka untuk menelan sebongkah rasa sesal sepanjang hidupnya, merasakan nelangsa yang tiada habisnya. Dulbari menebar luka. Tepat seminggu setelah orang-orang yang terpilih itu ikut berpakansi ke Kota Jakarta--meski di sana tak prnah melihat Monas sebagaimana yang dijanjikan Dulbari itu-- mereka semua dicap-ditandai sebagai antek sebuah gerakan. Entah antek apa, ia tak tahu. Yang diketahuinya secara samar-samar, hanyalah bahwa ia dan empat puluh tiga lelaki dari Kampung Kaso-Coo yang terpilih itu, tak terkecuali Mang Wira dan Mang Kemed, yang nama-namanya masih jelas tertera pada searik pengumuman di pos ronda itu, telah disahkan sebagai bagian dari partai merah. Partai yang konon berusaha merusak dan membahayakan negara. Ah, ia tak tahu. Tak jelas benar apa juntrungannya. Pada pokoknya, ia dan empat puluh tiga warga Kampung Kaso-Coo, semenjak itu. telah dinyatakan bersalah! Titik. Tapi kenapa harus dinyatakan bersalah karena hanya turut berpakansi ke Kota Jakarta secara cuma-cuma? Ia tak tahu, tuna-segala, dan celaka selamanya.

PINTU dapurnya terdengar diketuk seseorang sembari mengucap salam berulang-ulang. Dan ia yang masih ngagarang punggung dan terus mengolesi bekas bisulnya itu dengan burusuh, tersentak dari lamunannya. Smebari beranjak lungkai dan menjawab salam dengan suaranya yang parau, diputernya tulak dan ditariknya gagang pintu dapur itu. Tiang pintu agak terguncang saat daunnya yang berkriet linu itu terbuka lebar-lebar. Dan di luar, didapatinya Pak Guru Misnan tengah menyeringai. Ia gagap dan terkesiap. Sebab tak biasanya lelaki yang telah memercayakan sejumlah ladang dan sawahnya itu, menemuinya ketika ia, bahkan Pak Guru Misnan sendiri, mesti pergi ke kantor wajib-lapor. 

Tapi, dari matanya yang kelabu, meski dengan bibir yang terus menyeringai itu, ia tahu bahwa Pak Guru Misnan tengah menanggung jerat-bebanyang lebih berat dan sarat. Sebab, sebagaimana tahun-tahun yang lewat, setiap sebulan sebelum Pemilihan Umum digelar, sampai sang presiden --yang itu-itu saja--terpilih lagi dan disah-ditetapkan lagi, Pak Guru Misnan akan meringkuk dalam kurungan. Sementara ia, ah, ia sekadar terus mengulang-ulang wajib-lapor saban bulan. Mengulang-ulang pemeriksaan, mengulang-ulang kecurigaan. Tak separah Pak Guru Misnan, memang, sebab ia hanya akan sekadar diiterogasi -- meski dulu, dulu sekali, pernah pula dihantam popor senapan dan gilas sepatu lars. Tapi belakangan, menurut kabar burung yang berkesiur begitu saja, kabar burung yang menaburkan bau langu ke dekat hidungnya dan menggigi-merontokkan tulang-tulangnya, konon, ia dan empat puluh tiga lelaki dari Kampung Kaso--Coo itu, orang-orang terpilih yang celaka itu, bakal digiring ke tambang batu bara. Konon lagi, mereka akan dipaksa bekerja tanpa mengenal jam, hari, tanggal, dan bulan, tapi mungkin bakal lebih mengenal bentakan atau hantaman popor senapan. Kerja paksa di tambang batu bara di entah mana. Ia tak tahu tuju, tak tahu laju.

Dan kini, di antara asap dapur yang mengepul dan udara pagi yang mulai menghangat, ia dan Pak Guru Misnan hanya mampu berbagi pandang, berbagi senyum lungkrah atau seringai orang-orang kalah, untuk kemudian sekadar saling mengangguk-angguk lemar. Barangkali, laranya dan lara Pak Guru Misnan, bakal semakin panjang dan kian dalam, sementara nelangsa yang dirasainya tak bakal pernah bersudah, tak bakal cekah seperti bisul yang barusan pecah.

Serang, 13 November 2015

Keterangan:
Séeng: dandang. Aseupan: kukusan. Délan: terasi. Lépér: ulekan. Ngagarang: memanggang. Ngadéang: menghangatkan diri depan tungku. Ngaluku: meluku (membajak sawah). Ngagaru: menggaru (meratakan sawah yang sudah dibajak). Burusuh: busa kayu. Nyangkrung: menggenang. Teu nyaho, déngékeun baé heula: tidak tahu, dengarkan saja dulu. Kaluhan: tali ijuk yang mencocok hidung kerbau. Tulak: sepotong kayu pipih yang tengahnya dipaku pada tiang pintu dan berfungsi sebagai kunci. 

Niduparas Erlang, lahir di Serang, 11 Oktober 1986. Kumpulan cerita pendeknya adalah La Rangku (2011) dan Penanggung Tiga Butir Lada Hitam di Dalam Pusar (2015). 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Niduparas Erlang
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" Sabtu 5 Desember 2015


0 Response to "Burusuh"