Cireng Dua Juta | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Cireng Dua Juta Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 18:20 Rating: 4,5

Cireng Dua Juta

TAWA teman-teman meledak keras. Untung waktu itu masih jam istirahat, sehingga tidak ada kelas atau pelajaran yang terganggu. Anis menunduk dengan sedikit cemberut.

“Cireng dua juta?” seru Erina dengan tawa yang masih melengking. “Gara-gara cireng dua juta, kamu enggak masuk sekolah selama lima hari.”

“Aku kira karena kamu enggak masuk itu karena sakit akibat babak belur saat dijotos tanding silat, je,” sahut  Nur yang duduk di sebelah Anis. 

“Ya, itu juga,” sahut Anis. “Gara-gara cireng dan juga dijotos Ragil.”

“Terus, hubungannya antara latihan silat dengan cireng dua juta bagaimana, tuh?” 

“Memangnya di sekolah kita ada mas penjual cireng seharga dua juta?” Nur juga tampak begitu heran.

“Tunggu penjelasanku, sih.” Anis mengangkat tangan meminta perhatian. Teman-temannya menurut. “Jadi begini…,” gadis itu meringis menunjukkan menahan nyeri dan ngilu karena mengingat pengalamannya yang kurang menyenangkan itu. “Gara-gara makan cireng, gigiku copot dan harus mendapat perawatan lebih.”

“Gigimu copot karena makan cireng?” seru Erina. “Kamu makan cireng? Kapan!?”

Memang kejadian yang dialami Anis ini lucu sekali. Lucu-lucu-tragis gimana gitu. Gigi gadis kelas XI itu copot hanya gara-gara makan cireng yang dijual tak jauh dari sekolah.

“Bagaimana ceritanya?” desak Erina tak sabar ingin tahu. 

Jadi, awal mula ceritanya seperti ini:
Anis adalah seorang murid pindahan dari NTB. Ia pindah sekolah ke Yogyakarta karena mengikuti ayahnya yang dipindah tugas bekerja di kota Gudeg ini. Saat kelas X, Anis yang sama sekali asing dengan bahasa Jawa perlahan mulai belajar dan memahami apa yang diucapkan teman-temannya. 

Setahun tinggal di Yogyakarta, Anis sudah bisa ikut tertawa saat teman-temannya bercanda menggunakan bahasa daerah. Saat naik kelas XI, ia mulai mengikuti kebiasaan teman-temannya yang sering jajan di mas-mas jualan di halaman luar sekolah. 

Ada satu jenis jajanan yang baru pertama kali ia kenal; cireng. 

“Cireng itu singkatan dari aci (kanji) digoreng. Enak, deh. Kamu harus mencobanya,” kata Erina. 

Cireng sebenarnya penganan yang berasal dari tanah Sunda. Tapi sekarang sudah mudah sekali ditemukan di mas-mas jualan penganan di halaman sekolah. Cireng berbentuk dadu putih dengan hiasan irisan daun bawang. Setelah matang digoreng, cireng ditiriskan selama beberapa saat agar minyaknya kering, baru kemudian disimpan dalam wadah plastik. Akan lebih nikmat kalau ditambahkan bumbu bubuk cabe kering dan asin. Apalagi yang rasa barbqeu. Cara memakannya dengan ditusuk menggunakan tusukan bambu tipis, lalu dikunyah… krenyes, krenyes, krenyes. Amboi, nikmat sambil sesekali berdesis kepedasan.

“Kamu mau?” tanya Nur.

Anis menggeleng. Seminggu lalu omnya yang memiliki usaha foto copy-an membikin adonan lem dari tepung kanji yang dicampur dengan air. Adonan lengket tersebut digunakan untuk mengelem jilidan buku. 

Anis bergidik ngeri melihat sebungkus plastik berisi cireng berwarna merah oleh bubuk cabe. Ia ogah makan lem—nanti kalau lidahnya menempel di langit-langit mulut bagaimana? Atau bagian dalam usus besarnya saling lengket satu sama lain. Oke, oke, ketakutannya berlebihan. Ia cuma tidak mau saja makan jajan bernama cireng itu.

***
Godaan ingin mencicip cireng ternyata datang dengan tiba-tiba. Barangkali karena terlalu sering menemani teman-teman sekelas yang gemar mengudap cireng, Anis menjadi kepengin. Ia ingin tahu bagaimana sih rasanya mengunyah cireng yang berbentuk kotak putih, sedikit berminyak, dibungkus dalam plastik dan ditaburi bubuk cabe merah? Sepertinya nikmat sekali.

Krenyes, krenyes, krenyes… sembari sesekali berdesis kepedasan. 

Krenyes, krenyes, krenyes… minyak gurih keluar dari penganan putih kenyal yang masih sedikit hangat itu. 

Krenyes, krenyes, krenyes… Anis tanpa sadar menahan ludah. Teman-teman yang menawari menggoda dengan meledek keengganannya makan lem kanji.

“Sudah. Enggak usah kepengin. Nanti usus kamu lengket karena makan lem kanji.”

Semakin ditahan, keinginan itu semakin kuat. Ketika semua teman-teman sekelas sudah pulang, Anis membelokkan sepeda kembali menuju sekolah. Dengan terburu-buru, ia membeli sebungkus cireng bertabur bubuk cabe merah. Cepat-cepat kemudian ia mengayuh sepeda pulang ke rumah.

***
Di dalam kamar Anis mengganti pakaian seragam dengan kaus dan celana pendek. Setelah mencuci tangan dan kaki, gadis itu duduk dan menghadap sebungkus cireng dengan air muka begitu serius.  Cireng di dalam wadah itu sudah tak lagi hangat. Sewaktu dirasakan, kotak-kotak putih itu terasa keras. Anis menusuk cireng dan tusukan bambu kecil itu membengkok. Ditusukannya sekali lagi, barulah berhasil.

Anis memasukkan cireng ke dalam mulut… happ! Aduuh… alot sekali! 

Kunyah, kunyah, kunyah. Tidak krenyes-krenyes tapi yang terasa malah giginya linu dan sakit. Bahkan terdengar bunyi berderit dari usaha melumat cireng yang dilakukan oleh gigi.

Anis menelan cireng dengan susah payah. Matanya setengah melotot, tenggorokannya terasa dimasukin benda mengganjal. Gadis itu terbatuk-batuk. Cepat-cepat ia menenggak segelas air putih yang sudah disiapkan. Belum ingin menyerah, ia mencoba menyuapkan lagi satu kotak putih ke dalammulut. Kunyah, kunyah—Kleg!

Anis berhenti bergerak. Tubuhnya membeku. Suara apa yang barusan didengarnya tadi? Kleg?

Sekejap kemudian Anis berteriak keras sekali. Aduh, gigi gerahamnya linu! Linu yang bukan main! Aduh, aduh!

Saat diperiksa mama, telah diketahui bahwa geraham Anis goyah karena mengunyah cireng yang sudah dingin dan keras tersebut. Setelah minum obat pereda nyeri sakit gigi, keadaan Anis menjadi sedikit mendingan.

Mama bertanya apa gigi yang sakit itu dicabut sekalian sore ini? Mumpung waktu mama sedang longgar sehingga bisa mengantar Anis ke dokter gigi.

“Tapi sebentar lagi Anis harus berangkat latihan silat, Ma,” jawab Anis sedikit cemas di dalam hati. Duh, apakah giginya akan baik-baik saja nanti selama latihan bela diri?

“Kamu yakin akan berangkat sore ini?” Mama bertanya memastikan. Anis menjawab dengan anggukan setengah ragu. Tapi ia memutuskan untuk tetap berangkat latihan. 

***
“Kamu yakin enggak apa-apa, Nis?” tanya Riki, salah seorang teman Anis di tempat latihan. Mereka duduk bersebelahan. Anis yang barusan minum air putih meringis kesakitan. Gusinya terasa linu. Lidahnya digerakkan memeriksa gerahamnya. Gigi itu bergeyal-geyol kayak penyanyi dangdut sedang berjoget. 

“Kalau nanti aku disuruh bertanding latihan, bagaimana?” gumam Anis cemas.

“Enggak, kok. Tenang saja.”

Ternyata perkataan Riki salah. Saat adu sambung atau latihan untuk mempraktikkan jurus-jurus yang sudah pernah dipelajari, mas pelatih menunjuk Ragil dan… Anis. Anis berdiri memasang kuda-kuda dengan goyah. Pikirannya tidak bisa berkonsentrasi penuh karena gusinya mulai terasa senut-senut. 

“Heyahhh! Heyahh! Heyaaahh!!” 

Anis menghindar dengan cepat. Merunduk dan menggeser langkah ke samping. Hampir saja ia kena tendang Ragil. 

Konsen, Nis, tegur gadis itu di dalam hati. Jangan sampai sakit gigimu karena cireng membuatmu tidak bisa mengunjukkan jurus-jurus silat yang sudah kamu kuasai. Lawan tanding latihannya berjalan mundur dan membikin kuda-kuda. Anis berusaha keras berkonsentrasi. Tatapan matanya tertuju ke depan dengan awas. Setiap kali Ragil bergerak menyerang, ia sudah siap untuk menangkis dan balas menyerang.

“Heyaaah…!!” Tendangan Ragil melayang—Hup! Anis gesit menghindar dengan membungkuk. Tubuhnya bergeser ke samping. Jaraknya dengan jarak lawan begitu dekat. Ini kesempatan bagus. Ia segera berdiri tegak melayangkan tinju—
Senut, senut, senut… 

Anis mengerang menahan sakit. Perhatian dan konsentrasinya pecah. Tangannya segera menahan pipi yang terasa sakit.

BUUGGHHH!

Tubuh Anis terpelanting. Yang ia ingat kemudian adalah gelap. 

***
“Nis, kamu ndak apa-apa?” serbu Ragil dengan pertanyaan begitu temannya membuka mata.  Anis pingsan kena jotos Ragil. Dibantu mas-mas pelatih dan teman-teman yang lain, Anis dibawa ke ruangan istirahat. Sementara yang lain kembali berlatih silat, Ragil menunggui temannya hingga siuman.

Saat minum teh hangat yang disodorkan Ragil, lidah Anis merasakan sesuatu yang berbeda. Bau anyir darah….

“Oh, itu tadi gigimu terpental keluar. Aneh banget, Nis. Baru kali ini aku menjotos orang sampai bikin giginya rontok.” Ragil memekik kaget. “Aduh, darahmu keluar lagi. Tadi tuh sempat mengalir, lalu sudah aku bersihkan. Aku kira sudah berhenti, tapi sekarang….”

***
“Jadi begitulah…,” Anis yang bercerita kronologis cireng dua juta meringis menahan nyeri. Barangkali teringat betapa sakitnya saat kemudian ia diperiksa dokter gigi. “Waktu itu aku menelepon Ibu. Ditemani Ragil, kami segera ke dokter gigi. Kata Bu Dokter, gigiku harus dicabut karena kalau dibiarkan bisa membusuk. Gusinya sudah kadung luka.”

“Ow, pasti sakit banget.”

“Banget.” Anis mengernyit kembali. “Saat gusinya dijahit enggak begitu terasa karena sebelumnya disuntik obat bius. Tapi, setelah pulang ke rumah dan efek biusnya habis… aduh, aduh, aduh.”

“Kamu sendiri, sih, pakai sok-sokan enggak mau makan. Tapi kemudian balik beli cireng diam-diam.” Erina tertawa. Ia seperti tak mengerti penderitaan Anis. “Cireng tuh enaknya dimakan pas masih hangat, masih empuk, dan krenyes, krenyes. Kalau sudah dingin dan keras, enggak bedanya sama kayak kamu makan balok kayu.”

Anis diam saja. Bel tanda jam istirahat berakhir berbunyi. Semua murid masuk kelas. Sambil mengeluarkan buku pelajaran fisika, Anis berjanji dalam hati untuk tidak jajan sembarangan lagi. Atau, diam-diam membeli jajan yang tidak higienis. 

Hanya karena penasaran ingin makan cireng, giginya goyah, gusinya linu, tidak bisa berkonsentrasi latihan bela diri, pipinya dijotos, akhirnya biaya perawatan dan pengobatan gigi mencapai angka dua juta. Dasar cireng dua juta! []

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Desi Puspitasari
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Majalah Kawanku" 9 Desember 2015

0 Response to "Cireng Dua Juta"