Dominus - Gelanggang - Ludus | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Dominus - Gelanggang - Ludus Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:33 Rating: 4,5

Dominus - Gelanggang - Ludus

Dominus

Tuan yang melatih kami
menjadi srigala
mengajari cara membuat luka
supaya dewa-dewa berduka
dan romawi tetap gembira.

Siapa membantah
darahnya akan tumpah
mereka yang payah
rebah di tanah tanpa jirah.

Kami besarkan nama tuan
dengan kemenangan di gelanggang
dengan darah di ujung pedang.

Bergembira dan ikatlah kembali
tangan ini, sebelum kami lupa diri
dan lepas kendali.

Gelanggang

Di sini tempat kami berperang
tempat nyawa-nyawa melayang.

Tanpa ampun
pedang mesti tetap diayun
sampai tuan mengangkat tangan
kemudian kebebasan dijatuhkan
bersama kematian.

Di sini kami tuangkan darah
dan tuan meneguk anggurnya.

Ludus

Di sana, kami hidup
sebagai lelaki yang telah mati.

Ditempa pedang dan kata-kata
dikutuk telunjuk dan para dewa.

Tanpa alasan yang pantas
kami belajar menebas
tanpa dendam dan kebencian
kami hidupkan kematian.

Di sana
kami menukar kebebasan
dengan murahnya kematian.


Edwar Maulana adalah mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP Siliwangi Bandung. Buku puisinya antara lain Tembang Sumbang (2012) dan Jejak (2014). 



Rujukan:
[1] Disalin dari karya Edwar Maulana
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" Minggu 6 Desember 2015

0 Response to "Dominus - Gelanggang - Ludus"