Dongeng Dari Tanoboto - Pedang Boraspati - Pedang Palabras - Penyerahan Pedang | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Dongeng Dari Tanoboto - Pedang Boraspati - Pedang Palabras - Penyerahan Pedang Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:46 Rating: 4,5

Dongeng Dari Tanoboto - Pedang Boraspati - Pedang Palabras - Penyerahan Pedang

Dongeng Dari Tanoboto

-- Sati Nasution

kau menulis suhuf-suhuf suam, 
pada daun-daun bergetah masam
potlot yang mampet dari portugis,
merangkum-himpun si bulus-bulus,
menyusun-suai si rumbuk-rumbuk,
tapi kami hanyalah ribuan klerek,
kau sebut inlander kopi dan kretek,
wahai, Sati yang suti, mana ulu pedangmu,
yang dititiskan oleh moyangmu dulu,
kau ajak daganak-daganak ke sikola,
tapi kaulupakan ulu pedang yang berkhat,
padahal dari ulu itu segalanya jadi berkat

senja kini telah saga di Tanobato,
jembatan besi yang mereka bangun,
kini telah jadi kerak-kerak dikikis gerimis,
tampat dahulu anak-anak bertam-tambuku,
sedang di hulu, persabungan antara tungkot-piso,
tetap bercahaya di Panyabungan, sian na jolo,
bau jubahmu masih berbau di Kayulaut,
semerbak bunga yang dihanyutkan ke laut, 
tapi laut hanya ada di Natal, di Singkuang,
kami tak suka jadi ambtenaren yang,
menimbun kepeng segobang-gobang,
kami hanya orang-orang terbuang,
hilang di selat-selat, terhempas di beting-beting,
karam di kuala muara, dijarah zending-zending,
dari eropa, belanda yang kerap mencangkung,
di geladak jung cina, sebelum jadi tongkang, 
yang celaka, dari Natal hingga ke Sibolga

maka pedang yang mana lagi yang kausarungkan,
bukankah kau pernah mengetahui pedang paderi,
mengelabui musuh dengan meriam tombong,
atau senapang yang membutakan mata lawan,
berilah kami jalan, agar kami tak terusir,
dari kebun-kebun kopi, dari ini pesisir,
beri kami petunjuk, jalan yang kudus,
yang tak pernah tertembus peluru emas,
segobang saja, serupa kaji suluk di surau,
di Tanobato, yang kerap membikin kau terpukau.

Pekanbaru, 2015

Pedang Boraspati

demi hari baik yang telah dijanjikan,
demi ruh dalam tubuh penunggang kuda,
dengan segala nujum yang ditakwilkan,
jangan mendekat wahai penari hoda-hoda,
ini pedang bukan tungkot malehat agung,
yang terselip di pinggang raja, juga datu kampung,
bukan pedang yang dikeramatkan orang Siulangaling,
matanya saja diasah dan dibasuh seorang dhaif,
dan diwariskan Angku melalui upacara leluhur,
mampu meruntuhkan hati gadis jadi luluh terpiuh,
sekali lihat dengan sekerling, dada mereka akan hening,
dengan mata kilaunya, sekilat cahaya di punggung malam,
maka, jika kau hendak mengetahui kemasyuran ini padang,
tak usah kau undang penujum ulung, juga datu kampung, 
juga juruselamat, sebab tuhan tak ada di sini, sebab tuhan telah mati,
sebab, ini pedang ditempa dengan cahaya agung,
yang akan membelah bulan, yang pernah murung,
dalam dadamu, dalam dadamu.

Pekanbaru, 2015

Pedang Palabras

dua pedang tak berulu,
lima abad telah berlalu,
engkau masih seperti dulu,
mengasah mata kilat itu,
dan kau serupa laut, 
aku larut padamu,
kau mengisahkan sirah pedang sultan, 
juga pedang kesatria perang,
bagaimana mereka mengusir lanun,
dan seperti apa kaum barbar bertahan,
dengan keyakinan moyang dan leluhur
sebagai nini, aku ingin mengenal pedang,
pedang pada jung, dan siapa petarung ulung,
kau kata, ada sebilah pedang yang paling tajam,
di antara pedang kesatria perang,
ia bisa menghentikan goyang gelombang,
mampu menangkal gecak ombak,
dan membutakan mata perompak,
ulunya membuat prajurit perang akan takluk,
matanya juga mampu meruntuhkan jantung perawan,
biji besinya dibawa langsung dari sebuah jazirah, 
yang ditempa orang-orang terpilih berbaju zirah,
ditempa dengan kata-kata seorang bijak,
sebagai nini, aku bertanya lagi,
kau banyak kali bertanya, 
lidahmu saja masih Si Lobo Tama,
asah dahulu pedang dalam dirimu,
dengan dialek Melayu Lama, 
biar kau mahir mengasah kata,
mengasah lidah, agar tak tumpah ke mana-mana.

Pekanbaru, 2015

Penyerahan Pedang

-- Aria Suriaatmaja

itu hari, di antara sepatu hujan,
desember abad kesembilanbelas,
kau kedatangan tiga orang tamu, 
tawanan dan inlander yang mereka kata malas,
yang pipi yang jangat mereka ditampar angin,
wajah-wajah tabah, geligi mereka menggeram,
mereka dari pulau-pulau di ujung yang jauh,
perempuan renta, rabun serta sakit encok,
matanya menyala, meredam dendam agar reda,
seorang lelaki tua tegap membekap gulungan kain,
matanya menyimpan pedang yang sengaja ia sarungkan,
remaja lelah telah menjadikan mereka serupa keledai dari surga, 
"kami ialah rasa tabah yang akan mengganggu tidurmu di Kudian"
jerebu di kain-kain mereka yang lusuh tak juga luruh,
tasbih di tangan kidal dan rencong di kanan perempuan itu,
dan sekerat periuk tanah liat menggeliat, serasa pedang
di kemudian hari, saat hujan desember jatuh di dadamu,
kau seakan mendapat petunjuk atau semacam wahyu,
jatuh tepat di gelungan rambut anak gadismu,
serupa sepotong wahyu moyangmu dari sebuah jazirah,
pedang tak seharusnya ada di penjara, gumammu di istirah malammu,
kau memilih meletakkan pedang itu di ceruk-ceruk kampung,
kematian serupa merahasikan dirinya sendiri,
dan mereka tak tahu pedang itu tetap dengan kilatnya,
mata pedang itu berkilau di genangan hujan November,
dan orang-orang tak pernah tahu,
pedang itu berasal dari mana dan ditempa dari negeri yang mana,
perjalanan panjang telah ditempuh pedang,
pedang di pinggang, di dada perempuan renta itu,
tetap berkilat di punggung Gunung Puyuh,
di dalam dadamu, yang pernah terpiuh.

Pekanbaru, 2015


May Moon Nasution lahir di Singkuang, Mandailing Natal, Sumatra Utara, 2 Maret 1988. Alumnus Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Islam Riau, Pekanbaru. Giat di Komunitas Paragraf, Pekanbaru. 


Rujukan:
[1] Dislain dari karya May Moon Nasution 
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" Sabtu 12 Desember 2015

0 Response to "Dongeng Dari Tanoboto - Pedang Boraspati - Pedang Palabras - Penyerahan Pedang"