Ibu Duduk di Depan Kompor yang Tidak Menyala | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Ibu Duduk di Depan Kompor yang Tidak Menyala Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 11:23 Rating: 4,5

Ibu Duduk di Depan Kompor yang Tidak Menyala

SETIBA di rumah, Mira mendapati ibu duduk menghadap kompor. Hampir pukul 24.00. Mira terlalu mengantuk untuk bertanya mengapa ibu belum tidur, dan apa yang sedang dilakukan di depan kompor yang tidak menyala, tengah malam seperti ini.

Selepas buang air kecil, Mira menutup pintu kamar tanpa suara. Kemudian terdengar suara ibu dari luar. Kamar Mira memang berada di dapur.

"Apa kau lelah?" tanya ibu dari luar. Suaranya sedatar telapak tangan.

Dibukanya daun pintu.

"Iya, Bu. Hari ini banyak kerjaan di kantor."

"Baru Ibu tahu sekarang, ada kantor memulangkan pegawai perempuannya jam segini."

Tolol. Ia salah memberi alasan. Jam kantornya berakhir pukul 16.00. Pukul 19.00, bila harus lembur. Itu pun biasanya akhir bulan. Saat tutup buku. Hari ini masih tanggal 15. Seharusnya ia memberikan alasan lebih masuk akal.

Posisi ibu serupa. Tidak bergerak, pun bicara. Mira berniat menutup daun pintu setelah menunggu sekian waktu.

"Mungkin tubuhmu lelah. Tetapi Ibu yakin, hatimu jauh lebih lelah."

Mira bersandar pada pintu kamar yang telah tertutup. Ia tidak mau mendengar ibu berbicara lebih banyak. Semakin ibu bicara, semakin membuat pikirannya kacau. Ada takut berbaur di antara kekacauan itu, sebab hatinya paling dalam mengakui, semua yang dikatakan ibu memang benar. Mira sangat lelah memikirkan jalan yang ia rintis sekarang.

Kadang ia berpikir, keputusan bodoh menyusuri jalan yang ia rintis tersebut. Seharsnya ia berada jauh dari sana, seperti harapan ibu dan seluruh keluarga. Tetapi, hatinya terlalu bertentangan dengan kepalanya. Secepatnya ia ingin menyusuri jalan itu. Bersama laki-laki itu. Lelaki itu menjanjikan, sepanjang jalan yang akan mereka susuri kelak terlalu indah untuk tidak dilintasi.

"Meskipun harus melukai hati keluargaku?" Demikian selalu pertanyaan Mira setiap lelaki itu bilang begitu.

"Surga balasan yang kau dapat, bila ikut melintasi jalan itu. Bersamaku."

Mira terkekeh menggemaskan. "Solah-olah kaulah penjaga surga, ya?"

Tidak persis begitu. Tapi menyerupai.

Tidak berapa lama, tubuh Mira terempas di ranjang. Ia sangat letih. Ia tidak mau memikirkan lelaki itu, jalan itu, sekarang ini. Mungkin benar sepanjang jalan itu indah, tetapi yang ia butuhkan sekarang adalah ranjang. Anehnya, lebih satu jam di atas ranjang. Mira tak mampu lelap. Pikirannya habis tercurah pada ibu yang tengah duduk di depan kompor. Di rumah, memang ibu yang menyiapkan makanan keluarga, tentu saja dibantu Sutiah. Tak pernah ia melihat ibu duduk berlama-lama di depan kompor yang tidak menyala, apalagi tengah malam.

Mira tersentak. Mungkinkah ibu hendak menyeduh air teh, sedang air tidak lagi panas dan ternyata gas habis?

Gadis berambut panjang itu membuka daun pintu tanpa suara. Bila ibu masih berada di sana ia akan memastikan apakah dugaannya tepat. Ia bersedia membeli gas dari minimarket 24 jam di depan rumah.

Daun pintu kembali tertutup karena taka da ibu di depan kompor yang tidak menyala.

Ibu tidak memberi restu begitu tahu Bimo tidak sejalan dengan mereka.  Kata ibu, Mira harus segera melepaskan diri sebelum laki-laki itu mengikat erat dirinya hingga kelak tak bisa lagi lepas. Andai pun bisa, akan terasa sakit dan meninggalkan bekas.

Empat tahun melintas seperti kereta api, nyaris tanpa hambatan kecuali berhenti sebentar di sebuah stasiun. Menyerupai itulah jalinan cinta Mira dan Bimo. Hubungan mereka sangat manis. Bimo tahu bila ibu dan keluarga Mira tidak menerima dirinya. Tetapi itu justru semakin mengeratkan hubungan keduanya. Mira dan Bimo sedang berada dalam sebuah perahu, sementara ibu dan keluarganya adalah gelombang. Mereka harus saling bekerja sama supaya perahu tidak karam dihempas gelombang.

Benar ucapan ibu di awal Mira menjalin hubungan dengan Bimo. Sayangnya, waktu tidak bisa berjalan mundur untuk Mira membenahi langkahnya yang salah. Telah teramat erat Bimo mengikatnya. Tidak sedikit pun celah untuknya melepaskan ikatan itu. Semua yang dia idamkan pada lelaki ada dalam diri Bimo. Kecuali satu hal, masalah keyakinan.

Sekarang, ibu bukan masalah bagi Mira. Bimo dengan begitu tekun berhasil membuat hatinya mantap akan mengikuti Bimo. Keluarganyalah penghalang utama yang begitu tinggi dan kokoh. Keyakinan memang urusan pribadi, tetapi ia pun masih memiliki hati. Mira tidak ingin melukai hati keluarga, terutama ibu.

Ia ingin berbakti pada ibu. Terlalu berat beban ibu membesarkan dan menyekolahkan keempat anaknya seorang diri. Sekarang, keempat anak ibu semuanya mengecewakan. Anak tertua ditinggalkan istri, anak kedua terlilit utang imbas ditipu rekan bisnis, pernikahan anak ketiga tidak harmonis. Sekarang, Mira.

Tapi bagaimana, cinta Mira pada Bimo bukan alang kepalang. Ia tidak mau berpisah dengan Bimo, meskipun demi itu ibu harus merasakan hatinya sakit.

***
HARI ini Mira pulang pukul 18.00. Didapati ibu duduk di depan kompor yang tidak menyala. Dari Sutiah ia tahu, ibu duduk di sana sejak siang, selepas Sutiah memasak.

"Kamu nggak tanya, ngapain ibu duduk di situ?"

Sutiah menatap asing. Seolah-olah Mira tidak pantas menanyakan itu padanya.

"Nggak berani."

Sahutan polos Sutiah membuat Mira merasa tolol. Sutiah dibayar untuk membereskan segala urusan rumah, bukan mau tahu urusan seisi rumah. Ia yang lebih pantas menanyakan itu.

"Sudah sering Ibu melakukan itu?"

"Melakukan apa?"

"Duduk di depan kompor yang tidak menyala."

"Beberapa hari ini. Bahkan tadi Ibu bolak-balik tanya apakah saya sudah selesai memasak."

Ada yang tidak beres dengan ibu. Mira mengambil kesimpulan. Tapi ia tidak tahu ketidakberesan seperti apa yang terjadi pada ibu.

Mira tidak menyapa ibu, daun pintu kamar tidak berbunyi ketika ia buka dan tutup. Tidak sampai 10 menit kemudian, Mira menduduki kursi di dekat ibu dengan pakaian yang sudah berganti. Ia biarkan ibu menyerupai patung, matanya bergantian menatap ibu dan kompor yang tidak menyala.

"Ibu ingin memasak sesuatu, atau emmakan sesuatu?"

"Ibu tidak lapar," sebut ibu lebih dari 10 detik setelahnya.

"Jadi kenapa Ibu menatap kompor itu terus?"

"Ibu suka melakukannya. Tak merugikanmu, kan?"

"Tidak, Bu. Hanya tak biasa."

"Biasakanlah."

Mira memilih tidak mendebat. Pilihannya telah melukai jiwa ibu, bila duduk mematung di depan kompor yang tidak menyala bisa membuat ibu bahagia, Mira memilih tidak menggugat walau sangat mengganggu pikiran.

***
RANGKAIAN hidup Mira dan Bimo telah tersusun sampai beberapa waktu ke depan. Mira ingin mengikuti keyakinan Bimo paling tidak tiga bulan sebelum pernikahan. Mira tidak mau asal pindah, ia ingin Bimo semakin membimbingnya sebelum hubungan mereka sah.

Ibu dan ketiga kakaknya tahu rencana itu meskipun Mira tidak pernah mengatakan. Mungkin dinding kamarnya telah dipenuhi kuping sekarang, karena setidaknya beberapa kali ia dan Bimo membicarakannya melalui telepon.

Jauh hari, Mira tidak lagi dekat dengan Monika, kakak nomor tiga. Ada jarak tak terbaca setelah Mira mengambil keputusan itu. Tetapi, Mira memutuskan membicarakan kebiasaan ibu berlama-lama duduk di depan kompor yang tidak menyala dengan saudarinya itu. Sekarang, kebiasaan ibu memang tidak berisiko. Mira hanya berjaga-jaga. Bukan mustahil kebiasaan ibu merupakan gejala awal sesutua yang akan merugikan ibu. Ia tidak ingin kelak disalahkan ketiga kakaknya.

"Kupikir kau tidak peduli lagi dengan Ibu."

Mira berusaha tidak terpancing dengan keketusan kakaknya selepas ia sampaikan kebiasaan ibu mereka.

"Tolong Kakak ke rumah. Bicara dengan Ibu."

"Kau yang membuat Ibu jadi aneh seperti itu."

Bisa disebut, tidak ada gunanya Mira meminta Monika melihat ibu di rumah. Perempuan beranak dua itu justru merasa semakin benar menusuk perasaan Mira dengan lidah dan bibirnya. Mira pulang dengan tangan hampa, hati lebam. Gadis itu memutuskan tidak menyampaikan perihal ibu pada kedua kakak laki-lakinya. Akan ia biarkan ibu dengan kebiasaan barunya itu, bila itu menyenangkan hati ibu.

Sesampai di rumah, tergopoh-gopoh Sutiah menarik tangan Mira ke dapur. Mira melihat meja bundar yang terdapat di dapur penuh dengan makanan. Sebagian bahkan berada dalam wadah yang diletakkan di lantai. Sementara ibu menggoreng sesuatu. Ibu tampak sangat sibuk.

"Ada arisan?" Mira menatap Sutiah.

Perempuan bertubuh gemuk itu menggeleng. "Masih banyak yang akan Ibu masak. Saya sedang membersihkan sepuluh kilo ikan, akan memotong lima kilo daging sapi."

Mira mendekati ibu yang masih sangat sibuk menggoreng sesuatu. Ternyata ibu menggoreng kerupuk kesukaan Mira sejak kecil. Mira melirik sebuah wadah berbahan plastik yang sudah dipenuhi kerupuk siap makan.

"Untuk apa Ibu memasak sebanyak ini?"

"Beberapa hari ini Ibu berpikir, apa yang bisa Ibu lakukan untuk menyelesaikan masalah kalian. anak-anak Ibu. Kemudian Ibu ingat, sejak dahulu, sejak Bapakmu meninggal, keluarga kita selalu ditimpa masalah. Kamu dan ketiga kakakmu selalu menangis kelaparan. Ibu terpaksa pontang-oanting mencari sesuatu yang bisa dimasak. Setelah Ibu memasak, semua masalah pun hilang. Keluarga kita kembali bahagia, ceria menikmati makanan yang Ibu masak. Sekarang, lihat! Ibu memasak sangat banyak. Ada makanan kesukaan Monika, kesukaan Toni, kesukaan Bastian, tapi lebih banyak kesukaanmu. Cepat, telepon mereka sekarang juga. Suruh mereka datang kemari. Kita makan. Setelah itu Ibu yakin, masalah kita pasti beres. Kita bisa tertawa bahagia lagi. Seperti dulu."

Mira ingin menangis melihat ibu. (k) 

T Sandi Situmorang, tinggal di Jalan Sukarno-Hatta KM 19,3 Binjai Sumatera Utara 20735


Rujukan:
[1] Disalin dari karya T Sandi Situmorang
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" pada 6 Desember 2015


0 Response to "Ibu Duduk di Depan Kompor yang Tidak Menyala"