Isa | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Isa Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 07:59 Rating: 4,5

Isa

ISA berlari. Isa berlari.

Entah perempuan entah lelaki, tak sempat ia pastika siapa sesosok yang sedang mengejarnya itu. Telah begitu saja sosok itu mengejar mamaknya (adik kandung ibunya). Apakah salahnya? Apakah yang telah diperbuatnya? Apakah mamaknya berbuat aniaya sehingga dikejar-kejar oleh sosok yang tak dikenalinya itu?

Sesosok itu bertubuh tinggi. Di punggungnya, antara samar dan nyata, tampak menyembul sesuatu seperti sepasang sayap. Di tangannya, sebuah cambuk. Cambuk besar dengan panjang entah berapa. Cambuk itulah yang hendak didaratkan ke punggung mamaknya. Apakah salahnya? Belum sempat Isa menjawab itu pertanyaan, namun ia langsung menyadari bahwa arah lari mamaknya sedang menuju ke arah di mana kini ia berdiri. 

Mamaknya lari terbirit seraya memanggil-manggil nama Isa, seakan-akan hendak minta perlindungan. Isa dijalari rasa takut. Belum sempat mamaknya sampai pada Isa, telah begitu saja Isa mengikuti nalurinya. Lari.

Isa berlari. Isa berlari menjauhi mamaknya. Mamaknya menjauhi sesosok makhluk yang belum sempat dikenali itu. Terus dan terus.

Ah, rupanya hanya mimpi


ISA terbangun dari tidurnya. Ia tolehkan pandang, si ibu telah ada di sampingnya.

"Kau bermimpi lagi?"

Walau Isa tidak mengangguk atau tidak menggelengkan kepala dan tanpa berkata apa-apa, si ibu telah dapat jawabannya. 

Isa diam. Tapi sorot matanya menyala, mencari-cari kalau sesosok makhluk yang tak dikenalnya itu ada di kamarnya. Ia pastikan lagi. Siapakah ia? Malaikat? Iblis? Ataukah peri yang hendak menjatuhkan hukuman? Akan tetapi, kenapa pada mamaknya?

Isa mencari-cari ke belakang, ke dalam mimpinya kemarin malam, ketika sesosok makhluk itu mendaratkan cambuk itu ke tubuh mamaknya setelah tak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Cambuk itu mendarat. Isa melihatnya. Api. Api. Cambuk itu berapi. Dan mamaknya memekik-memerih menahan sakit.

Namun kini mamaknya lari.

Terus dan terus, Isa mencari-cari sesosk makhluk itu. Tapi tiba-tiba ibunya berkata, "Mamakmu minta didoakan."

Benarkah?


"BENAR."

Mamak Isa berhasil menjawab satu pertanyaan. Terasa sedikit kelegaan dan itu artinya cambuk tak akan mendarat di punggungnya. Akan tetapi, sebelum sempat kelegaan itu datang sepenuhnya, pertanyaan berikutnya telah datang menghampiri: Siapa nabimu? Apa kitabmu? Mamak Isa lalu menjawab dengan benar. Akan tetapi, begitu sampai pada pertanyaan selanjutnya, mamak Isa terdiam. Tak bisa menjawab.

"Adakah kau membimbingnya?"

"Tidak. Tidaaaaaakkkkkk...." Mamak Isa berteriak.

Lalu, lalu, memanggil-manggil nama kemenakannya itu.


TAPI  itu kemarin malam.

Kini, hari telah pagi. Isa masih di kamarnya. Ia tolehkan pandang. Tak ada ibu. Tak ada siapa-siapa di situ. Isa lihat lagi. Tiba-tiba ada yang menggeliat dari dalam dirinya. Ia ingat sesosok makhluk itu. Sesosok itu....

Isa berdiri. Matanya menyala. Ia berdiri dengan cambuk di tangan. Lalu, lalu, ia berbicara sendirian:

"Siapa nabimu?"

"Parpatiah dan Katumanggungan."

"Apa kitabmu?"

"Tambo."

"Adakah kau membimbing kemenakanmu?"

Isa lalu berlari. Isa berlari.

Terus dan terus berlari, sebelum akhirnya tiba si dokter jiwa. 

Kampar, 27 Oktober 2015

Romi Zarman kini menetap di Kabupaten Kampar, Riau.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Romi Zarman
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran tempo" Sabtu 12 Desember 2015

0 Response to "Isa"