Jalan Bahagia Para Pembunuh Buaya | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Jalan Bahagia Para Pembunuh Buaya Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 11:57 Rating: 4,5

Jalan Bahagia Para Pembunuh Buaya

INI hari pertama saya bekerja di biro jasa pembunuh buaya dan penebar kebahagiaan. Agar tidak salah langkah, sebelum bekerja saya harus membaca buku panduan yang diberikan oleh perusahaan. Buku itu diberi semacam anjuran konyol. “Bacalah semua petunjuk di buku ini saat gerimis tiba ketika hampir semua orang tak bisa menghindar dari serangan buaya, dan siapa pun mustahil memperoleh kebahagiaan karena didera oleh persoalan-persoalan sepele saja.” 

Saya tidak terlalu detail membaca buku itu. Akan tetapi saya tertarik pada pesan-pesan singkat yang rasa-rasanya ditulis secara tergesa-gesa seakan-akan kiamat akan segera tiba.
  
Anda adalah orang yang terpilih. Jadi, jangan sekali-kali keluar dari perusahaan ini.

Anda pasti keturunan dinosaurus karena mereka satwa yang senantiasa jujur dan bahagia.

Tugas Anda singkat saja: membunuh sebanyak-banyak buaya yang kian lama populasinya kian bejibun dan ingin memangsa apa saja.

Tugas tambahan: sila menulis kisah perburuan dan pembunuhan buaya sebagai laporan pertanggungjawaban Anda.

Bukan tugas sulit. Saya kira tak butuh manusia pilihan untuk membunuh buaya dan menebarkan hal-hal yang berkait dengan kebahagiaan.

***
Saya masuk ke kantor pukul 06.30. Saya kenakan setelan celana panjang dan blus putih agar tampak sebagai pegawai siap kerja. Kantor tempat saya akan bekerja sangat besar. Punya banyak pintu sehingga kerap disebut sebagai Gedung Seribu Pintu.

Untuk menemui direktur perusahaan itu, saya tidak tahu harus memasuki pintu yang mana. Di tengah kebingungan semacam itu, datang seorang perempuan berbadan kekar berpakaian serba-merah. 

“Anda sudah ditunggu Atasan. Nama Anda Mataratu bukan?” 

Saya mengangguk. Perempuan ini sangat tepat mengeja nama saya. Biasanya orang memanggil saya Maharatu. Barangkali mereka menganggap Mataratu terlalu kasar untuk perempuan berpenampilan ringkih seperti saya.

Perempuan yang lebih mirip pegulat sumo itu lalu menyuruh saya berjalan ke kiri. 

“Ibu Direktur, tepatnya Ibu Direktur Pembunuhan, ada di ruang paling ujung,” kata dia.

Agak kikuk saya berjalan di lorong dengan langit-langit sangat tinggi dan penuh penuh pintu dan jendela itu. Lorong yang memungkinkan saya seperti berada di gua gelap dengan satwa-satwa berlendir yang belum saya ketahui namanya.

Setidak-tidaknya saya harus melewati 33 ruang untuk sampai ke ruang Atasan. Setidak-tidaknya saya harus melewati dinding panjang yang dihiasi aneka lukisan dari para pelukis kenamaan. Ada lukisan “Sesapi Sapinya Sapi” Ivan Sagito yang mengingatkan saya pada sapi-sapi bunting di kampung. Ada lukisan “Berburu Celeng” Djoko Pekik yang mengingatkan saya pada pembunuhan ribuan babi di hutan-hutan penuh pohon berbenalu. Ada juga lukisan “Berburu Macan” Raden Saleh yang mengingatkan saya pada aneka pembantaian binatang –juga manusia pada Oktober 1965—di Halimun, kota yang paling saya cintai.

Saya tidak tahu apakah lukisan-lukisan dalam ukuran gigantis itu palsu atau tidak. Jika palsu, berarti lukisan-lukisan di Gedung Seribu Pintu-lah yang asli. Sebaliknya, jika semua yang terpajang di sini asli, lukisan-lukisan di luar-lah yang palsu. Ah, mengapa hidup harus penuh dengan kepalsuan?

Tak ingin didera pikiran percuma, saya terus berjalan. 

“Jangan-jangan saya sedang berurusan dengan para hantu,” saya bergumam sambil masuk ke sebuah pintu yang terbuka.

“Masuklah ke pintu sebelah kiri. Ikuti lorong berwarna hijau lumut itu. Atasan sudah menunggu di ruang terujung,” kata resepsionis berbaju oranye yang mungkin sudah lama menunggu saya dengan suara yang sangat pelan.

Saya berjalan dengan lebih kikuk lagi di lorong yang entah mengapa bergambar orang-orang yang sedang memburu, menangkap, dan akhirnya membunuh buaya-buaya di rawa-rawa. Menatap lukisan-lukisan itu, saya teringat buku kuno di rak perpustakaan rumah. Saya pernah membaca buku bertajuk Hingkir dan Penaklukan pada 40 Buaya itu.

Kita adalah penakluk para buaya. Nenek moyang kita bukanlah jagung atau rebung. Nenek moyang kita bernama Hingkir yang bisa menaklukkan 40 buaya di rawa-rawa dan dengan mudah meminta buaya-buaya itu mendorong rakit ke daratan.

Saat membaca buku itu saya sama sekali tidak merasa menjadi keturunan raja besar. Saya menganggap buku itu hanyalah kisah omong kosong keluarga saya. Meskipun demikian, saya seperti tersihir untuk tetap terpaku membaca halaman-halaman yang saya buka secara acak.

Kelak pada suatu masa di Halimun jumlah populasi buaya akan bertambah terus. Buaya-buaya lapar yang sebagian muncul dari rawa-rawa sebagian dari kebun binatang itu berbiak begitu cepat sehingga diperlukan para penakluk buaya baru. Seorang perempuan biasa keturunan keluarga Hingkir akan menjadi juru selamat yang mampu memusnahkan buaya-buaya rakus itu.

***
Akhirnya saya bertemu dengan perempuan berwajah mirip bintang film Tiongkok, Direktur Pembunuhan di Gedung Seribu Pintu, itu. 

“Kau terpilih bersama 99 calon lain. Kami telah memilih para perempuan pemberani yang akan bertempur dengan para buaya dari segala penjuru. Seperti kepada kamu, kami telepon mereka satu per satu. Kami meyakinkan mereka, betapa tak lama lagi mereka akan jadi pahlawan,” ujar perempuan yang sepintas lebih tampak sebagai model atau peragawati itu.

Agak heran saya mendengar informasi itu. Mengapa harus 99? Mengapa tidak 101? Meskipun demikian, karena ingin mengorek lebih banyak tentang pekerjaan yang bakal saya lakukan, saya menunggu perempuan itu berkata-kata lagi.

“Apakah kau ingin tahu mengapa jumlah populasi buaya membengkak berlipat-lipat dan berkeliaran ke mana-mana?” perempuan itu mencerocos lagi, “Pertama, larangan perburuan buaya telah membuat sangat sedikit buaya yang mati sia-sia. Kedua, akibat kekurangan makanan, buaya-buaya itu berkeliaran di belakang rumah penduduk memangsa anjing atau kambing. Juga tak sedikit yang menyusup ke ruang tamu berusaha mencaplok orok, bocah-bocah lugu, dan para orang tua rapuh. Ketiga, kau pasti menganggap ini peristiwa tidak rasional, buaya-buaya itu tiba-tiba menjadi begitu tak terkalahkan oleh manusia biasa. Lalu, karena mereka suka kawin, kini di kota, populasinya hampir mengalahkan jumlah penduduk kita.”

Saya tidak terlalu terkejut mendengar kisah-kisah itu. Pada 2013, misalnya, populasi buaya di Darwin, Australia, sama dengan jumlah penduduk di ibu kota Nothern Territory itu. Saya pernah membaca koran di kawasan Northern Territory ada 80.000 ekor buaya dan tidak kurang 50.000 ekor di Queensland dan Australia Barat.

“Dulu sesungguhnya kita tidak bermusuhan dengan para buaya,” kata sang direktur, “Pada Maret 1942 para pemimpin gerilya dibantu tentara memukul mundur para serdadu jangkung hingga ke pinggiran rawa. Akan tetapi bukan hanya peluru-peluru dari senapan mereka yang mematikan, melainkan pada saat sama buaya-buaya dari rawa muncul dan melahap kepala, tangan, kaki, atau bagian-bagian lain tubuh tentara jangkung. Pendek kata, dulu kita dan buaya bersahabat.”

“Kapan kita mulai bermusuhan dengan mereka?” 

“Belum terlalu lama,” ujar sang direktur sambil mengehela napas, “Dulu buaya-buaya itu hanya membunuh para koruptor tengik, penculik orok, dan siapa pun yang berbuat jahat di kota ini. Sekarang mereka mulai ngawur. Kemampuan mereka mengendus orang jahat kian tumpul. Siapa pun –bahkan hakim terbaik, aktivis pencinta kebenaran, dan penjaga rumah-rumah spiritual– mereka mangsa seenak sendiri. Ini tidak bisa kita biarkan. Kita harus menghentikan mereka.”

“Caranya?”

“Setelah melalui latihan ketat –termasuk belajar menembak kepala buaya– kita akan bertempur habis-habisan dengan mereka. Kau adalah perempuan terakhir pilihan kami yang akan melakukan tugas terberat dan rahasia ini.”

“Apa tugas saya?”

“Kau harus bisa membunuh 15 buaya paling buas. Mereka adalah provokator yang memprovokasi buaya-buaya lain agar menghabisi manusia. Mereka buaya-buaya licik yang bernafsu jadi penguasa-penguasa rawa dan jalanan kota. Tentang bagaimana membunuh buaya-buaya itu, kau akan tahu sendiri caranya setelah berada di lapangan. Itu saja hal terpenting yang perlu kauketahui. Bekerjalah sebaik mungkin. Semoga sukses.”

Tak ada lagi perkataan perempuan ramping dan cantik itu. Setelah cukup lama menatap seluruh bagian tubuh saya, kemudian dia meninggalkan ruangan. Mungkin bersama para perempuan lain, dia akan mempersiapkan seluruh jiwa raga untuk pertempuran melelahkan melawan para buaya. 

Saya tertegun memandang ruangan itu. Tak lama kemudian pandangan mata saya bertabrakan dengan sebuah buku bertajuk Cara Terbaik Membunuh Buaya adalah dengan Menertawakan Kelicikannya yang terpajang rapi di rak bersama buku-buku yang lain.

Saya tertawa untuk sesuatu yang mungkin bakal sia-sia. Entah mengapa saya merasa mulai jatuh cinta –bukan, bukan, tetapi semacam kagum buta– pada biro pembunuh buaya yang belum pernah kukenal sebelumnya.

***
Akhirnya saat pertempuran pun tiba. Tidak perlu mantera pemanggil satwa untuk memancing binatang-binatang laknat itu keluar dari Rawa Hening, kerajaan para buaya di pinggiran kota itu. Begitu membaui manusia, semua buaya adu cepat merayap ke daratan, beradu cepat melahap kami dengan berbagi cara.

Tentu saja kami jauh lebih siap dari buaya-buaya itu. Pistol saya dan senapan para perempuan lain menyalak keras saat ratusan peluru meluncur ke arah hewan-hewan berkulit tebal itu. 

Dalam cahaya bulan, puluhan buaya tertembak, daging memburai, dan darah begitu gampang mengucur. Akan tetapi tidak semua buaya mati oleh peluru-peluru rapuh kami. Karena itu, tidak sedikit pula perempuan pemberani yang dicaplok satwa-satwa rakus itu. Tak sedikit perempuan yang kehilangan kaki, tangan, dan kepala. Ada juga yang masih hidup, tetapi darah mengucur dari sekujur tubuh akibat gigitan buaya bergigi kuat dan berahang besar. Beberapa perempuan lain juga terluka oleh cakar dan kuku tajam binatang setan itu.

Saya telah membantai 12 buaya buas. Kurang membunuh tiga buaya lagi, tugas saya selesai. Tidak segera mengetahui di mana binatang-binatang perkasa itu, saya justru menyaksikan tubuh para perempuan pemberani kian terbenam di mulut buaya-buaya yang merayap mundur ke rawa. Beberapa penembak ulung kami mencoba menghajar buaya-buaya itu dengan berkali-kali menembak mata hewan melata yang yang kian beringas itu. Sia-sia. Tak ada yang terselamatkan. Tiada lagi tubuh yang tersisa.

Tentu saja kami marah. Akan tetapi buaya-buaya itu jauh lebih marah. Mereka mengibas-ngibaskan ekor dan meremukkan tulang-tulang tubuh siapa pun yang tidak bisa menghindar. 

“Buaya-buaya gila ini tidak bisa dilawan dengan cara-cara biasa,” gumam saya, “Jangan ikuti irama kebuasaan mereka. Kita harus mundur dan segera menyusun rencana baru. Kelak, sebagaimana ajakan sebuah buku, kita akan datang sekali lagi dan bertempur dengan gembira. Penuh canda. Penuh tawa.”

Lalu saya pun mundur. Akan tetapi terlambat. Tiga ekor buaya mendekat. Tiga ekor buaya mengangakan mulut berusaha melahap saya. Saya lihat buaya-buaya lain juga berusaha melahap kawan-kawan saya.

Tidak lama kemudian buaya yang paling besar menyabetkan ekor ke tubuh saya. Saya terpental. Tulang-tulang di tubuh saya yang seperti kuda indah remuk. Saya pun terbaring ¬di antara mayat-mayat buaya dan perempuan pemberani. Tentu situasi semacam itu tidak disia-siakan sang buaya. Ia mendekat dan hendak mencaplok kepala saya.

Saya tidak bisa menghindar. Akan tetapi di luar dugaan, dua buaya lain tidak merelakan saya mati di mulut buaya terbesar. Kedua buaya itu dengan marah menggigit ekor dan kepala buaya terbesar. Kepala dan ekor pun remuk. Darah mengucur memerahkan pinggiran rawa. 

Saya yakin tidak lama lagi kedua buaya itu –sebagaimana hewan yang tidak berpikir lainnya– akan berkelahi memperebutkan tubuh saya. Mereka akan saling menggigit, mencakar, menyabetkan ekor, dan bukan tidak mungkin mati bersama-sama.

Apakah tidak lama lagi saya akan mati? Saya tidak tahu. Jika saya mati, saya berharap di bawah cahaya bulan, siapa pun yang masih hidup mengubur bangkai saya dan buaya terakhir yang berkelahi dengan gagah berani itu dalam satu liang saja.

Saya tidak ingin jadi perempuan munafik. Sebelum mati, saya ingin mengatakan kepada buaya itu, “Andaikata Anda tidak terlalu buas, pada kehidupan berikutnya, saya akan menjadikan Anda sebagai kekasih sepanjang sepanjang usia. Saya akan terus mencumbu Anda. Tanpa jeda.”

Saya tidak malu telah mengungkapkan ucapan cinta yang meskipun mesra mungkin terdengar kabur dan sia-sia. Saya tidak malu meskipun mungkin orang-orang akan mengatakan cinta semacam itu sebagai sesuatu yang membahayakan kehidupan saya...

Saya kira saya telah menemukan kalimat pertama laporan pertanggungjawaban saya. Saya kira saya juga telah menemukan jalan untuk bahagia...

September-November, 2015

Triyanto Triwikromo memperoleh Penghargaan Sastra 2009 dari Pusat Bahasa untuk kumpulan cerpen Ular di Mangkuk Nabi. Ia juga memperoleh Penghargaan Sastra Indonesia 2015 dari Balai Bahasa. Triyanto menulis buku cerita Surga Sungsang (Lima Besar Kusala Sastra Khatulistiwa 2013-2014) dan kumpulan cerpen terbarunya, Setelah Pembunuhan Pertama, segera terbit.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Triyanto Triwikromo
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Jawa Pos" Minggu 29 November 2015


0 Response to "Jalan Bahagia Para Pembunuh Buaya"