Jarum - Petani - Penyair - Harmoni | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Jarum - Petani - Penyair - Harmoni Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:34 Rating: 4,5

Jarum - Petani - Penyair - Harmoni

Jarum

Ayahku adalah jarum dan ibu
benangnya, mereka selalu bersama
menisik robekan demi robekan
yang retas pada pakaian kami
menambal lubang-lubang yang menganga
pada jiwa kami

Ayah tak pernah sendiri
meskipun ujung lancipnya tajam
bisa dipakai menusuk apa saja ayah tahu
ia hanya akan melukai, membuat lubang
lebih menganga; tidak memadukan
segala yang retas dan robek.

Ibu tak pernah tanpa ayah
meski tubuhnya lentur
dan bisa merajut pakaian kami
tapi ikatan pada rajutan itu
akan terbuka lagi suatu saat
jika tak dijahitkan lebih rapat
lebih ketat.

Petani

Ia membungkuk-bungkuk
seperti rukuk, sekali-kali duduk
seperti terpuruk

Ia sedang meluku tanah
di petak-petak sawah, seperti merapal doa
setiap gerak tubuhnya berserah
pasrah pada segala

Ia bersawah setiap hari
menanam padi, mengharap nasi
tapi wajahnya tak berseri
tak pernah berseri

Penyair

Kau telah membayangkanku begitu dahsyat
setiap kata kaukupas hingga kausesat
memaknai hakikat.

Harmoni

Mungkin ia sebuah perahu yang sangat besar
--kau akan teringat pada apa yang dibuat Nuh,
ia sebuah dunia setelah bah sirna--
dengan tiang-tiang dengan layar-layar,
dengan segala itu kau akan suka di dalamnya
seperti berada di ruang keluarga
dengan orang-orang yang selalu ingin tertawa,
ceria, dan selalu bersikap takzim
padamu.

Tapi kau tak akan pernah menduga
apabila angin lebih kencang bertiup, dan laut
di sekitarmu bergolak, dan tiang-tiang layar-layar itu
berderak. kau akna melihat orang-orang menjadi kalap
melihat badai mengentak, kau melihat mereka
tak lagi setakzim sebelumnya; menyalahkanmu
atas segala tiba.

Mungkin harmoni sebuah impian, mungkin sesuatu
yang tidak seharusnya diharapkan.


Budi P. Hatees, lahir di Sipirok, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, 3 Juni 1972. Menulis sajak serba sedikit. KItab sajaknya, Narasi Sunyi (1996), dan terkumpul dalam sejumlah antologi. Tinggal di Kota Padangsidempuan.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Budi P. Hatees
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" Minggu 13 Desember 2015

0 Response to "Jarum - Petani - Penyair - Harmoni"