Kebijakan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kebijakan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 15:36 Rating: 4,5

Kebijakan

SEMINGGU lagi aku akan bertemu Tuhan. Kau bersedia membantuku?”

“Tentu saja.” 

“Aku ingin menjadi pendengar yang setia untuk kalian yang akan mengantar kepergianku.”

“Kenapa mesti begitu? Kenapa tidak kita buat pesta paling besar di negeri ini untuk mengantarmu bertemu Tuhan?” 

“Aku ingin punya banyak cerita kepada Tuhan. Aku mengerti sekali soal tabiat Tuhan yang mahatahu, tapi aku takut kehabisan obrolan dengan-Nya yang paling aku rindukan selama ini.” Aku terdiam. Kemudian sepi. 

“Oh, iya. Jangan lupa undang presiden juga ya. Aku ingin belajar bertutur darinya. Ia sangat pintar bertutur. Aku harus menggunakan tutur paling luhur untuk berkomunikasi dengan Tuhan,” wajahnya
semakin cerah. 

***
Kemarin wajahnya sangat ceria. Lebih bergelora dari biasanya. Bintang yang selama ini ia tunggu-tunggu akhirnya jatuh juga. Selembar surat bertabur tinta emas dengan bahan kertas paling unggul di negeri ini ia terima. 

Menteri Pengendali Laju Hidup Rakyat yang mengantarkannya langsung. Kemudian mereka berbincang sangat akrab hingga suguhan kopi tiris. 

Ia senyum-senyum sendiri setelah sang menteri pergi. Ia buka surat bertinta emas itu. Matanya bergerak khidmat membaca kata demi kata di dalamnya. Kemudian senyumnya berkibar. Ia masukkan surat itu ke dalam amplop. Kemudian tersenyum lagi. Sesaat kemudian ia mengulangi hal serupa. Senyumnya makin berkibar-kibar saja. Ia menatap langit-langit ruang tamu, kemudian memejamkan mata. Mendekati tutup usia, ia terlihat seperti menjelang abadi.

Obrolan di warung kopi semakin hangat seminggu ini. Berita di radio, televisi, media cetak, dan media siber dipenuhi dengan headline bertema sama: “Mengantar Mantan Presiden Tutup Usia”. Bahkan, seluruh stasiun televisi berencana menayangkan langsung. Tontonan layar kaca akan seragam pada hari itu, 2-2-2222.

Ketika Sungkono menjadi presiden dulu, banyak sekali kebijakan aneh. Namun, sinuhun bisa menerangkan dengan argumen logis. Kebijakan yang sangat ramai adalah pembatasan usia hidup. Negara menjamin kesejahteraan rakyat dengan mengatur batas usia hidup warga negaranya. 

“Jika kita mengetahui batas hidup kita, saya rasa setiap dari kita akan berpikir ribuan kali untuk berbuat jahat,” Sungkono menjelaskan  di hadapan menteri-menterinya ketika rapat. “Kalau saya ingin makan uang rakyat, saya rasa waktu taubat saya sempit. Bukankah taubat tidak bisa diskenario semacam itu, Saudara-Saudara?” dan seperti biasa, semua hening.

Aku, sebagai ajudannya kala itu, juga ikut terhenyak. Ditambah lagi, ia mengusulkan bahwa sebaiknya usia warga negara - tidak terkecuali dia hanya dijatah 55 tahun hidup. Saat merumuskan hal itu, usianya sudah memasuki 48 tahun. Itu artinya, jika usulannya diterima dan menjadi undang-undang, tidak kurang dari satu tahun setelah jabatannya selesai sebagai Presiden, ia sendiri yang akan tutup usia karena kebijakan itu. 

“Ilmuwan kita banyak sekali. Harus dibuat sistem yang manusiawi dan tidak menyakitkan. Proses berkunjung ke Tuhan harus dengan indah,” ia menambahkan kala itu karena tidak ada yang menggunakan hakinterupsi.

Itu rapat kerja yang ia pimpin beberapa hari setelah dilantik menjadi presiden enam tahun lalu. Ia memang luar biasa. Kebijakan semacam itu bisa disahkan tanpa kontra yang besar dari masyarakat. Negara yang ia pimpin ini memang sudah semakin terbuka dan maju, meski korupsi masih menjadi permasalahan laten yang tidak kunjung usai. Sungkono bisa meyakinkan menteri dan jajarannya bahwa kebijakan itu perlu untuk kemajuan negeri. Tentu ia berbicara tidak sedangkal yang aku ceritakan ini. Aku tidak punya kemampuan sepertinya yang mahir sekali berpendapat itu. Ah, untuk mengingat kata-katanya saja aku kelimpungan.

Setahun berjalan, justru kecaman datang dari berbagai negara di dunia. Namun, Sungkono tidak peduli. Rakyat pun tidak begitu terpengaruh. Rakyat sudah merasakan manfaat kebijakan itu. Jika dilihat dari ekonomi keluarga, tentu setiap keluarga lebih berhemat soal biaya rumah sakit untuk penyakit tua yang hampir selalu melanda manusia di usia lanjut. Selain itu, korupsi benar-benar menciut angkanya. Penegak hukum jadi jujur dan bekerja cepat, seiring kasus hukum yang benar-benar susut ketika dipimpin Sungkono, yang pikirannya tidak pernah aku tebak ini.

Negeri kami jadi lebih produktif. Setiap warga negara memaksimalkan fungsi hidupnya di bidang yang ia tekuni dan gemari. Secara spontan, masyarakat jadi lebih tertata menjalani hidup. Mereka punya estimasi masa pendidikan, pernikahan, serta jenjang karir yang sangat tertata rapi. Para atheis juga bekerja dan menjalani hidup serupa masyarakat yang percaya Tuhan dan dewa atau dewi. Mereka hidup untuk kebermanfaatan dan pengembangan ilmu pengetahuan.

Warga negara yang usianya sudah lebih dari 55 tahun ketika kebijakan itu disahkan mendapat masa hidup tambahan setahun untuk menyelesaikan urusan duniawinya. Khusus untuk penerima kebijakan ini, keluarga mereka akan mendapat santunan sesuai kebutuhan keluarga yang ditinggalkan. Sejalan dengan itu, para ilmuan bekerja membuat sistem tutup usia yang sangat manusiawi dan indah. Dan akhirnya para ilmuan berhasil membuat sistem yang sesuai kriteria itu.

Temuan itu menjadi headline di setiap media yang ada di negara kami. Masyarakat lega mendengar beritanya. Biaya tutup usia itu negara yang menanggung. Kemudian, setiap warga negara yang akan tutup usia diberi perlakuan khusus. Mereka cukup dengan menelan “kapsul tutup usia”. Orang yang menelannya akan mengantuk dan tertidur. Di dalam tidurnya, obat itu akan bekerja. Ia akan bermimpi indah dan lama kelamaan detak jantungnya akan melambat dan berhenti begitu saja. Temuan ini sudah dipraktikkan kepada penerima hukuman mati.

Sungkono jadi sangat dicintai warga negaranya. Kepemimpinannya memberi perubahan yang sangat cepat. Secara pribadi, aku kagum dengannya. Ia pernah bilang kepadaku, “Apapun itu, memang harus ada yang dikorbankan. Itulah revolusi.” Kesan yang aku dapatkan dari pernyataan itu, seperti setengah ngeri. Ah, tapi ia berhasil membuktikannya. Pengorbanan yang ia utarakan memang berhasil. Dia memang luar biasa.

***
Sebagai mantan ajudannya, aku termasuk orang yang cukup dekat dengannya. Menjadi koordinator acara tutup usianya adalah penghargaan bagiku. Sesuai permintaannya, aku dan tim mempersiapkkan semuanya. Ia ingin ada perwakilan dari setiap provinsi untuk ia dengar cerita mereka. Kami persiapkan semuanya dengan sangat rapi dan baik. Setiap provinsi disurvei dengan teliti untuk dijadikan perwakilan. Kami juga membuat jadwal bincang-bincang khusus untuk presiden yang saat ini menjabat beserta menteri menterinya.

Kemarin, acara bincang-bincang dengan masyarakat sudah usai. Ia mendapati banyak cerita yang semakin membuat mimik wajahnya lebih bersinar. Petronto, seorang petani bercerita bahwa setelah lima tahun kebijakan tutup usia diterapkan, petani jadi lebih semangat bekerja. Lebih dari itu, kini desanya sudah memiliki koperasi tani yang cukup proporsional. Mereka diberi pendidikan koperasi oleh aktivis koperasi sampai tuntas. Saat mendirikannya, mereka bekerja siang malam, sedikit tidur. “Yang kami takutkan bukan jiwa kami yang mati. Kami jauh lebih takut jika cita-cita dan gagasan kami benar-benar mati seiring tutup usia. Untuk itu, kami jadi jauh lebih fokus,” itu kalimat yang sangat aku ingat darinya.

Sirilo, seorang peneliti humaniora bercerita padanya bahwa ia menerima kebijakan tutup usia dan memilih tidak berganti kewarganegaraan karena dengan kebijakan ini, ilmu pengetahuan berkembang pesat. Awalnya ia ingin berpindah kewarganegaraan karena ia ingin mengkritisi kebijakan ini dari
negara lain. “Tapi saya urungkan niat itu. Hasil penelitian saya terhadap kebijakan ini, justru benar-benar meningatkan mutu manusia di negara ini,” ia berujar seraya tersenyum.

Aku rasa pertemuan hari ini juga akan serupa - pertemuan bahagia. Pukul 09.00 pagi, presiden dan para menterinya sudah berkumpul di ruangan yang juga digunakan untuk pertemuan dengan masyarakat biasa kemarin. Permintaan Sungkono memang seperti itu, “Jangan bedakan pelayanan setiap warga negara.” Kalimat itu muncul lagi menjelang tutup usianya - kalimat yang selalu ia utarakan ketika menjadi presiden.

Hari ini adalah hari berbahagia baginya. Seperti perkataannya tempo hari, ia akan bertemu Tuhan-nya. Ia semakin terlihat bahagia. Tamu dari istana pun hari ini ikut bahagia, ada beberapa yang terharu, namun aku yakin itu adalah tangisan bahagia karena Sungkono sudah selesai melakukan apa
yang ia gagas.

“Saya sangat berbahagia karena akhirnya saya bisa berjumpa bapak ibu sekalian pada hari ini sebelum saya berjumpa Tuhan beberapa jam ke depan. Tentu ini adalah pengalaman pertama saya berjumpa Tuhan. Saya takut kehabisan obrolan dengan Tuhan, di depan singgasana-Nya. Saya yakin bahwa Tuhan Maha Tahu, tapi saya merasa ini penting bagi saya pribadi sebagai bentuk pengabdian kepada Pencipta,” wajah Sungkono serius ketika mengucapkan kalimat itu dalam sambutannya. Aku bergidik mendengarnya. Setelah sambutan itu, aku rasa tidak ada yang istimewa. Semua hampir seragam: bercerita tentang kebahagiaan. Hanya saja, Fernandi, presiden baru kami, mohon izin untuk berbicara nanti saja empat mata dengan Sungkono. Sungkono tersenyum pertanda ia membolehkan.

Setelah bincang-bincang itu selesai, Sungkono bergegas ke ruangannya hendak mempersiapkandiri untuk prosesi tutup usia. Para wartawan langsung diarahkan dan diatur posisinya terlebih dulu di ruangan prosesi tutup usia. Tidak jauh dari ruang pertemuan, presiden menghampirinya. Tidak jauh dari mereka, aku mendengar sedikit percakapan mereka.

“Bung, aku ingin mewujudkan permintaan terakhirmu. Sungguh suatu kehormatan bagiku untuk mewujudkannya,” Fernandi menyampaikan niatnya sedikit berbisik. “Sungguh?” Sungkono menatapnya dalam. Aku melihat ada yang aneh dari perubahan mimik wajahnya. “Apapun itu. Pemimpin sejati tidak pernah mengingkari janjinya,” Fernandi membalas dengan mantap. Tatapan Sungkono masih belum berubah. “Aku ingin kau menggantikanku saat ini,” Sungkono mengecilkan suaranya. (92) 

(Cerita untuk Jaka Aidhilla Akmal)

Sucipto adalah mahasiswa Program Studi Sastra Inggris Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Ia pernah menjadi pemimpin redaksi dan pemimpin umum Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Sketsa Unsoed Purwokerto.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sucipto
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" Minggu 29 November 2015


0 Response to "Kebijakan"