Kebun Nenek - Seribu Tahun Bernyanyi - Masa Depan Ingatan - Pengendara Becak - Kepala Merdeka - Kabar Boneka | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kebun Nenek - Seribu Tahun Bernyanyi - Masa Depan Ingatan - Pengendara Becak - Kepala Merdeka - Kabar Boneka Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:14 Rating: 4,5

Kebun Nenek - Seribu Tahun Bernyanyi - Masa Depan Ingatan - Pengendara Becak - Kepala Merdeka - Kabar Boneka

Kebun Nenek

Nenek berkebun. Tanah basah membentuk
dadamu yang pecah. Ibu-ibu muda menjemur
punggungnya. Palawija ditanam. Pundak mereka
dijatuhkan di sungai. Kita terapung di sela malam
minggu. Kabar baik ditunggu dari panen tahun
depan. Seperti apa lagi wajahmu di pagi hari.
Nenek memilih menjadi gubug. Tidur sebagai
kebun.

Upgris, November 2015

Seribu Tahun Bernyanyi

Seribu tahun bernyanyi. Mengisi mulut dengan
nada bahaya. Orang-orang pergi selepas dunia
menyalakan lampu. Televisi meledak. Anak-anak
kecil menari. Mengolesi perutnya dengan minyak
angin. Lalu kita saling tebak, siapa paling bau
badan. Di mana hari terakhirnya kehilangan
hidung. Lalu apa kabar tuan rumah. Setelah
setahun lamanya, kita tak sempat berpesta. Ini
menjadikanmu semakin manja. Dadamu begitu
saja dihiasi gambar kepala. Kau kecewa dengan
seribu tahun. Lagu-lagu dimakamkan di lubang
telinga.

Upgris, November 2015

Masa Depan Ingatan

Suatu saat, kita tak lagi ingat kapan bertemu.
Kapan sempat bertukar dada. Bahkan di halaman
belakang, nenek tidur tanpa pakaian. Kakinya
mengajari kita bagaimana menjadi tubuh yang
ringan. Kau belum sanggup membalas gerakan
tangannya. Tubuhmu malu-malu. Aku melihat pan-
jang rambutmu berserakan di atas detergen. Luka
ditumbuhkan dari jarak terpisah menuju alamatmu.
Lalu kau akan tahu bagaimana bulan berbentuk
madu. Kita saksikan panjang rambut berjengkal
selepas keramas. Di atas suara yang tumbang.
Panggung berhadapan di pematang. Air menger-
ing dari sungai. Pelan-pelan muka kita dicari
kenangan. Keadaan tumbuh di lapangan. Siapa
yang berani menjadi dirimu. Rumah-rumah
menyaksikan dalam tinggi bahasa. Kau menikmati
lagu di tepi sungai kering. Anak-anak diciptakan
dari nada boneka.

Upgris, November 2015

Pengendara Becak

Becak bertengkar. Pembeli cabe kabur. Obat nya-
muk melukai dirimu. Kata-katamu belum selesai.
Seperti langit yang belum sore. Wajahmu meny-
ibak aroma kamar. Semua orang pergi setelah
mulut terbakar. Memilih merapikan baju tanpa
celana. Katamu, jangan ada malu. Harga-harga
berhenti, becak-becak melarikan diri.

Upgris, November 2015

Kepala Merdeka

Semerdeka apa kepalamu. Tumbuh berapa lama
ubanmu. Harusnya, setiap malam kita tak usah
bertemu. Gerai saja rambutmu. Ukur panjangnya
hingga menghangatkan bantalmu. Jangan lupa
banyak bercanda. Kita samakan suara dengan
petasan tetangga. Hingga semua jatuh, meng-
akhiri di urat lehermu.

Upgris, November 2015

Kabar Boneka

Pagi ini, kita simak penjara. Orang-orang menjadi
museum untuk dirinya sendiri. Jadwal makan
menjadi masa lalu yang dilupakan. Kau pindah
tempat tidur. Di atas batu, kau banyak mengigau
lepaskan bola mata. Kaki dan tanganmu
memegang perut. Garis-garis diberitakan dalam
celana.

Upgris, November 2015


Setia Naka Andrian, penyair kelahiran Kendal, dosen Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas PGRI Semarang (UPGRIS). Puisinya tergabung dalam antologi Kursi Yang Malas Menunggu (2010), Antologi Puisi Festival Bulan Purnama Majapahit Trowulan (2010), Beternak Penyair (2011), Merajut Sunyi Membaca Nurani (2012), Poetry Poetry From 226 Indonesian Poets: Flows Into The Sink Into The Gutter (2012), Dari Sragen Memandang Indonesia (2012), dan Sogokan Kepada Tuhan (2012). Saat ini sedang menyiapkan penerbitan dua buku puisinya, Manusia Alarm dan Perayaan Laut. (92)



Rujukan:
[1] Disalin dari karya Setia Naka Andrian
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" Minggu 13 Desember 2015


0 Response to "Kebun Nenek - Seribu Tahun Bernyanyi - Masa Depan Ingatan - Pengendara Becak - Kepala Merdeka - Kabar Boneka"