Kendaraan Terbaik | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kendaraan Terbaik Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 11:25 Rating: 4,5

Kendaraan Terbaik

WAKTU kecil aku bercita-cita menjadi masinis. Mengendarai kendaraan panjang dengan banyak penumpang sepertinya sangat menyenangkan. Kereta api adalah kendaraan terbaik menurutku waktu itu.

Selalu lekat dalam ingatan, ketika ayah mengajakku menaiki kereta api menuju ke kota. Aku sangat senang berada dalam pangkuan ayah menikmati perjalanan di atas rel kereta api.

Seiring berjalannya waktu keinginanku berubah. Ketika awal bersekolah, aku sangat ingin memiliki sepeda ontel. Sepertinya berangkat ke sekolah dengan kendaraan itu sangat menyenangkan. Sambil mengayuh pedal, aku bisa melihat pemandangan yang indah berupa persawahan di kanan kiri jalan berlatar gunung yang biru. Namun keinginanku untuk memiliki kendaraan terbaik menurutku waktu itu tak pernah kesampaian. Ayah yang hanya pegawai rendahan tak mampu membelikanku sepeda ontel. Jangankan membeli sepeda ontel, membeli seragam sekolah baru untukku saja ayah tak mampu. Aku memakai seragam sekolah bekas milik kakakku.

Keinginanku untuk memiliki sepeda ontel baru kesampaian saat aku menjadi mahasiswa baru di sebuah kampus di kota kecil dekat kampungku. Itu pun sepeda ayah yang dipinjami dari temannya. Ayah biasa berkeliling kampung mengendarai sepeda itu untuk menawarkan jamu. Setiap sore ayah menjual jamu untuk menambah penghasilan dari gaji yang terkadang tak cukup untuk keperluan sehari-hari dengan satu istri dan lima anak.

Ketika aku telah menaiki sepeda untuk menuju dan pulang dari kampus, keinginanku mengenai kendaraan terbaik sudah berubah. Aku sebenarnya malu menaiki sepeda butut tanpa rem yang pernah menjatuhkanku dan menabrak orang itu. Aku sangat ingin memiliki sepeda motor sebagaimana yang dimiliki teman-teman kampusku. Dengan menaiki sepeda motor, aku tak perlu mengeluarkan tenaga yang cukup besar lagi untuk mengayuh pedal sepeda.

”Kau yang prihatin, Di. Ayah belum mampu membelikanmu sepeda motor,” itu ucapan ayah ketika melihatku pulang dari kampus menaiki sepeda ontel dengan keringat bercucuran di keningku. Aku hanya menjawabnya dengan anggukan.

Keinginanku untuk memiliki sepeda motor tak pernah kesampaian sampai aku wisuda. Dengan bangga ayah dan ibu mendampingiku saat aku diwisuda di kampus tercinta. Meski ayah tak pernah membelikanku sepeda motor, tapi aku tetap bangga padanya. Ayahku selalu menyemangatiku untuk menjadi seorang sarjana meski dengan keterbatasan fasilitas yang kami miliki.

Ketika aku sudah bekerja, untuk pertama kalinya aku mampu membeli sebuah sepeda motor baru. Sayangnya ayah tak sempat melihat aku sedang menaiki sepeda motor hasil cucuran keringatku sendiri. Ayah terlebih dahulu dipanggil Yang Kuasa karena sakit.

Belum lama aku menaiki sepeda motor untuk berangkat dan pulang kerja, keinginanku mengenai kendaraan terbaik sudah berubah. Terlebih saat musim hujan tiba, aku akan basah kuyup ketika lupa tak membawa mantel. Terlebih lagi ketika aku sudah menikah dan memiliki dua orang anak. Aku kebingungan saat ingin pergi ke kota bersama istri dan kedua anakku. Kendaraan yang terbaik menurutku saat itu adalah sebuah mobil. Dengan mengendarai mobil aku bisa membawa seluruh anggota keluargaku pergi ke mana pun aku suka.

”Ayah, kapan ayah membeli mobil baru?” tanya anak sulungku yang berumur enam tahun.

”Nanti ya, kalau tabungan ayah sudah cukup,” jawabku.

Belum lagi hasrat mempunyai mobil tercapai, aku sudah memiliki keinginan yang lain mengenai kendaraan terbaik. Menurutku, kendaraan yang terbaik adalah kendaraan yang bisa terbang. Dengan menaiki kendaraan itu, aku bisa menuju ke tempat yang sangat jauh. Ke luar negeri misalnya. Namun aku belum pernah menaiki pesawat terbang. Pekerjaanku belum memungkinkan aku ditugaskan ke luar negeri oleh atasanku. Menurutku ketika seseorang sudah pernah menaiki pesawat terbang, orang itu tidak ingin menaiki kendaraan lain lagi. Pesawat terbang adalah kendaraan terbaik. Tak ada kendaraan lain yang lebih baik dari pesawat terbang.

Ketika aku sudah memiliki beberapa orang cucu dan juga memiliki sebuah mobil, keinginanku untuk
bisa naik pesawat terbang semakin menggebu-gebu. Aku kerap bermimpi sedang naik pesawat terbang seorang diri. Dari bawah anak cucuku hanya melambaikan tangan.

”Kakek, hati-hati ya!” seru mereka dari bawah.

”Iya!” jawabku sambil membalas lambaian tangan mereka.

Dan pagi ini, keinginanku sepertinya tercapai. Aku sepertinya sedang menaiki sebuah pesawat terbang. Aku sempat bertanya dalam hati, apakah ini hanya sebuah mimpi atau memang nyata? Tapi aku tak mampu membedakannya. Yang pasti, saat ini aku sudah tidak punya keinginan apa-apa lagi. Hatiku tenang. Sepertinya ini adalah kendaraan terbaik yang selama ini aku cari. Aku tak bisa melihat ke bawah. Aku hanya merasakan aku tidak berada di ketinggian yang jauh dari tanah. Aku hanya merasa berada pada jarak satu setengah meter di atas tanah. Ingin rasanya aku memanggil anak dan cucuku namun aku tak bisa bersuara. Aku juga tak mampu menggerakkan seluruh tubuhku. Sepertinya aku sedang ditandu oleh anak cucuku. Dan semua menjadi jelas ketika di depanku terlihat pintu pemakaman kampung. Aku sedang dibawa ke arah sana, diiringi sanak keluarga dan orang-orang kampung
yang berduka. ❑ - k

Banyumas, November 2015

Agus Pribadi, Guru IPA yang suka menulis cerita pendek. Buku karya tunggalnya yang sudah terbit berjudul 'Gadis Berkepala Gundul' (2014), dan '27 Kiat Menulis Cerita Pendek' (2015).


Rujukan
:
[1] Disalin drai karya Agus Pribadi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 6 Desember 2015 

0 Response to "Kendaraan Terbaik"