Kubur Penyair - Kobhung | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kubur Penyair - Kobhung Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:42 Rating: 4,5

Kubur Penyair - Kobhung

Kubur Penyair 

Di kubur penyair, kata-kata tumbuh
seperti pohon. Akarnya menghunjam
ke masa silam. Daunnya menjulang
ke masa depan. Dan burung-burung
bertekukur di ranting-rantingnya yang
rimbun. Tidak ada bulan di atas kuburan.
Langit gelap mengurai kalimat-kalimat muram.
Dan bintang-bintang berpendar-pendar
di malam yang harum.

Di kubur penyair, bunga-bunga yang
ditabur mantan pacarnya tumbuh
menjadi puisi. Semerbaknya bagai suka
dan duka. Nisan-nisan kesepian
meratapi kesedihan melawan kata
yang belum selesai dirangkai.
O, betapa malang penyair
yang dikubur bersama puisi-puisinya.

Yogyakarta/#KampusFiksi, Maret 2015 

Kobhung 

Di ruang 4x8 ini, anakku!
Aku mencipta kata-kata
untuk bulan, untuk maut, dan untuk pagi.
Aku mengenalkan nama-nama segalanya padamu;
nama anggitan ilalang, tiang bambu,
rerampatan selamatan, celurit bulan
yang miring ke selatan, candik ala
yang celaka, dan nama-nama dunia
yang bagus ini.

Anakku terberai di kota-kota;
di tapal batas malam hari
di tapal batas dini hari.
Kelak kau akan merindukan bubur merah-putih
dan padi yang melambai dari do'a dan kutukku.

Perutku adalah rumah asalmu.
Di sini, kau bagai bermain di taman;
kau bermain air, bunga-bunga,
dan kau mengejar kupu-kupu yang terbang
dari hatiku ke hatimu.
Karena itu, meski kau jauh.
kau masih di hatiku, anakku!
Setiap waktu, kuputar-putar biji tasbihku.
Kusebut-sebut namamu
layaknya menyebut nama Tuhanku.

Yogyakarta/#KampusFiksi, April 2015 


Catatan:
Kobhung adalah gubuk yang terbuat dari bambu yang berfungsi sebagai tempat tinggal, tempat shalat, dan tempat menaruh harta benda.


Ahmad Muchlish Amrin, lahir di Sumenep, 24 Agustus 1984. Menulis puisi dan cerpen. Karyanya pernah dimuat di sejumlah media lokal dan nasional, di antaranya Kompas, Jawa Pos, Majalah Sastra Horison, Jurnal Cerpen Indonesia, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat. Pada 2009, diundang ke Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) untuk membacakan karyanya. Kini sedang menyelesaikan studi Pascasarjana di Jurusan Sosiologi Fisipol UGM Yogyakarta dan mengelola Komunitas Tang Lebun di Sareman Singosaren Banguntapan, Bantul, DIY.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ahmad Muchlish Amrin
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 13 Desember 2015



0 Response to "Kubur Penyair - Kobhung"