Kutukan Rahim (18) | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kutukan Rahim (18) Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 19:50 Rating: 4,5

Kutukan Rahim (18)

MESKI Zul sudah mendampingi anaknya ketika membaca isi dokumen dan sudah menjelaskan secara baik-baik, anaknya merasa belum puas. Ada yang sepertinya mengganjal namun belum ia ungkapkan. Setidaknya, hubungan anak Zul dan Zul serta suaminya malah menjadi renggang setelah document paper itu dibaca. Anaknya lebih banyak malah menjadi suka murung dan juga suka berdiam diri lama di kamar. Kalau sebelumnya suka membantu bersih-bersih kafe dan ruangannya karaoke, belakangan menjadi malas. Zul tentu paham akan perkembangan anaknnya yang di matanya malah di luar dugaan. Atas perkembangan anaknya ini, Zul pun sudah memberitahukan kepada suaminya.

"Sudahlah, tunggu saja proses alami dalam dirinya." Inilah tanggapan singkat suami Zul ketika Zul mengeluhkan perihal tabiat anaknya yang tambah hari tambah aneh. Mereka bicara itu di tengah ranjang. Dini hari.

"Ia juga sudah sampai nggak mau makan, lho."

Suami Zul cuma mendengus.

"Kalau makin hari makin memburuk, kita perlu mengajaknya bicara lagi."

"Baiklah. Aku setuju."

Pagi harinya, anak Zul tiba-tiba sudah tak ada di kamarnya. Ia sudah berangkat ke sekolah tanpa sepengetahuan Zul dan suaminya. Biasanya mau pamit meski hanya dengan menyalami dan tetap diam. Pagi itu, sudah tak mau menyalami. Apalagi makan. Ditinggalkannya.

Siang harinya, Zul mendapatkan SMS dari anaknya. Isinya menyatakan tidak akan pulang sampai waktu yang entah. Ia sendiri tidak tahu. Lantas, mau ke manakah Zul dan suaminya mencari?

***
ZUL dan suaminya introspeksi dengan minggatnya sang anak semata wayang. Boleh jadi, ada yang salah dengan cara mereka mengungkapkan rahasia keluarganya. Tapi, nasi memang telah menjadi bubur. Cara mereka mengungkap rahasia sudah mereka anggap yang terbaik. Jadi, konsekuensi apa pun atas pilihan itu, mereka harus hadapi. Di antara mereka tak perlu harus saling menyalahkan. Justru harus ikhlas menerima. Termasuk kali ini, ketika mereka direpotkan dengan minggatnya sang anak semata wayang.

"Solusi tepat tentu kita tanya teman-teman terdekatnya. Teman-teman sekelasnya," papar Zul kepada suaminya. "Enaknya biar aku saja yang nyari. Kamu tetap konsentrasi bekerja saja Pak Bos. Oke, ya?"

Suami Zul mengangguk. Pontang-panting Zul nyari anak semata wayangnya. Ia datangi kelas sehabis pelajaran usai, ia tanya teman sebangku anaknya. Geleng kepala. Teman lainnya yang memungkinkan tahu. Sama geleng kepalanya. Yang lain-lain lagi, sama saja, sami mawon.

Zul kemudian memberanikan diri menghadap wali kelas. Mumpung ia masih di ruang guru. Belum juga pulang. 

"Ooo, iya tadi anak ibu tidak masuk. Tanpa surat lagi. Memangnya kenapa? Sakit?" 

"Itulah, Bu, yang mau saya bicarakan. Anak saya minggat."

Zul lantas menceritakan perihal latar belakang minggatnya sang anak. Sang wali kelas akan membawa masalah itu ke uru bimbingan konseling. Supaya lebih fokus untuk ditindaklanjuti. Berarti, itu masih keesokan harinya, bukan?

Zul lunglai sepulang dari sekolah. Ia tak punya perkiraan bakalan berapa hari anaknya minggat? Terus, makan apa? Uang yang dibawa berapa? Benarkah isi ATM-nya masih sama dengan yang Zul tahu beberapa minggu yang lalu? Bagaimana kalau mendadak habis entah untuk keperluan apa?

Begitulah pikiran orang tua yang sedang dirundung galau sebagaimana yang dirasakan Zul.

***

KEESOKAN harinya Zul mendapatkan telepon dari guru bimbingan konseling. Meminta agar segera ke sekolah. Tancap gas Zul menuju ke sekolah anaknya.

"Investigasi yang saya lakukan sampai jam istirahat pertama ini, saya menemukan buku anak ibu yang tertinggal di meja sekolah. Saya pahami isi buku anak ibu. Ini ada banyak coretan semacam keluhan atau curhat. Salah satu bunyinya, yang mengundang curiga saya, ibu bisa baca juga: 'aku harus bertemu dengan makam bapakku! harus! harusss!!!' Kalau menurut analisa saya, anak ibu sekarang dalam tahap pencarian makam bapaknya. Apalagi, menurut keterangan ibu wali kelas, berdasarkan keterangan ibu kemarin, anak ibu sudah tahu siapa bapaknya. Jadi, sekarang dia tinggal melacak saja. Di mana makamnya itu. Kalau analisa ini benar, berarti hari-hari ini di mana dia berada bisa ditebak," papar  guru bimbingan konseling itu.

"Iya, pak. Analisa Bapak menurut saya tepat. Jadi, setelah dia pahami isi document paper yang berisi kliping pemberitaan soal keluarga kami, kemungkinan dia kemarin atau malah sekarang berada di rutan! Dia menelusuri dari rutan, di mana jenazah bapaknya dipulangkan setelah ia bunuh diri!"

"Kalau itu menurut Ibu benar, mari saya ikut mengantar ke rutan."

Sampai rutan sudah pukul 11 siang.

"Tadi memang anak Ibu ke sini. Menanyakan soal makam Bapaknya. Kami sudah memberitahu karena anak Ibu membawa dokumen yang lengkap soal Ayahnya. Jadi, bagi kami tidak meragukan lagi."

"Terus dia langsung menuju ke makam seperti yang pihak rutan beritahukan?"

"Iya. Mungkin saja. Yang pasti, data yang ada di kami, setelah kejadian Ayah anak itu bunuh diri di rutan, kami pulangkan ke kampung yang sekarang mungkin sedang ia datangi. Nama kampungnya ini." Petugas rutan menunjuk data yang dipunyai.

"Iya. Kalau itu saya sudah tahu. Saya dulu juga sempat diberitahu pihak rutan. Tapi, saya tidak datang pada waktu acara melayat. Oke, Pak. Terima kasih. Saya segera meluncur ke kampung itu. O ya, Pak. Tadi menurut Bapak bagaimana kondisi anak saya? Pucat kurang makankah? Atau tetap segar?"

"Menurut saya biasa saja. Di mata saya, dia anak yang baik. Relatif menurut, ya."

"Iya. Terima kasih, Pak, informasinya."

Zul dan guru bimbingan konseling meluncur ke kampung yang dimaksud. Sekitar dua jam perjalanan. Waktu sudah menunjukkan pukul 13.00. Sampai di kampung itu, Zul menanyakan makam orang yang mereka tuju. Salah seorang warga dengan sigap menunjukkan makam orang yang mereka tuju. Salah seorang warga dengan sigap menunjukkan makam yang dimaksud. Satu makam yang menurut warga tersebut merupakan makan yang paling terkenal di antara makam lain yang ada di kampung itu. Bahkan, dalam waktu tertentu, makam itu juga didatangi banyak orang untuk ngalap berkah di makam yang juga preman yang mereka anggap akan memberi manfaat bagi kehidupan si pengalap berkah.  (bersambung)-c


Satmoko Budi Santoso. Sastrawan kelahiran Yogya, 7 Januari 1976. Menulis cerpen, novel, puisi, juga esai. Kumpulan cerpennya: Jangan Membunuh di hari Sabtu (2003), Perempuan Bersampan Cadik (2004), Bersampan ke Seberang (2006), , dan Sasi, Anjing-anjing di Kampung Saya (2011). Novelnya: Liem Hwa (2005), Ciuman Terpanjang yang Ditunggu (2005), Jilbab Funky (2011), dan Kasongan (2012). Puisinya termuat di Antologi Puisi Indonesia (1997), Malioboro (2009), Danau Angsa (2011), Akulah Musi (2011, dan Equator (2011). Tinggal di Tirtonirmolo, Kasihan - Bantul. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Satmoko Budi Santoso
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 29 November 2015

0 Response to "Kutukan Rahim (18)"