Kutukan Rahim (19) | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kutukan Rahim (19) Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 23:58 Rating: 4,5

Kutukan Rahim (19)

MALAM yang dimaksud ternyata sepi. Tak ada seorang pun. Apakah anak Zul sudah sammpai di situ? Lantas apakah ia sudah pulang ke rumah karena sudah ketemu dengan makam yang ia cari?

"Pak!" Zul memanggil warga kampung yang ia tanya soal makam tadi, "Apakah tadi melihat ada anak seusia SMP, anak aya, ke makam ini?"

Orang yang ditanya menggelengkan kepala.

"Mungkinkah ia belum sampai ke mari?" Zul berbicara kepada guru bimbingan konseling.

"Kita tunggu saja. Saya siap hari ini sampai jam berapa pun."

Hingga jam empat sore Zul dan guru bimbingan konseling menunggu, anaknya belum muncul juga. Mereka berinisiatif menunggu sampai Maghrib. Karena tak kunjung datang juga, mereka mendatangi rumah warga kampung yang tadi ditanya. Yang hanya bersebelahan dengan makam tersebut.

"Pak, ini nomor ponsel saya. Kalau besok Bapak melihat anak saya ke sini, mohon saya segera dikontak. Saya harap Bapak tidak keberatan menunggu anak saya besok mulai pagi sampai sore. Saya beri Bapak uang, ya."

"Jangan khawatir, Bu. Saya juru kunci makam ini."

"Oh kebetulan sekali."

"Memangnya ada apa anak Ibu memburu makam ini?"

Secara singkat Zul berterus terang kepada juru kunci itu. Juru kunci itu bisa paham.


***
PUKUL 11.00 siang barulah anak semata wayang Zul mendatangi makam. Jalan kaki. Sendiri. Juru kunci makam mengintip kedatangannya dari dalam rumah. Tentu, ia harus menyukseskan keinginan orang yang mengordernya. Maka, segera saja ia telepon Zulul pun lantas meluncur dengan segera.

Zul sengaja membiarkan anaknya terpaku cukup lama di makam ayah biologisnya. Ia sedang emmanjatkan doa-doa. Zul sengaja hanya memandang dari jarak jauh. Ketika anaknya selesai berdoa, Zul sengaja secepatnya keluar makam. Ia menunggu di dekat pintu keluar makam. Tentu, anaknya tak tahu kalau di luar makam ada yang menunggu. Sebab, ketika ia berjalan dari arah makam ayah biologisnya menuju pintu keluar, tak ada siapa-siapa. Siang yang sunyi. Siang yang senyap. Siang yang justru menjadi saksi betapa menggemuruhnya perasaan anak Zul sebab masih dilingkari penasaran bagaimana dengan wajah ayahnya. Sejauh anak Zul menanyakan kepada pihak rutan, pihak rutan juga sudah tidak memunyai data soal keluarga ayah biologis anak Zul tersebut. Memang, dulu ketika ia masih hidup, keluarganya tinggal di kampung di mana ia dimakamkan itu. Namun, sudah cukup lama pula keluarga tersebut pindah. Kabarnya, keluar Jawa. Intinya, anak Zul sudah kehilangan jejak mengenai keluarga ayah biologisnya.

Mak jegagik! Anak Zul terperanjat. Baru saja ia melangkahkan kaki ke arah pintu keluar, ibunya sudah ada di depannya."

"Hayo, kemana kamu selama ini?" Anak Zul memerah wajahnya. Heran.

"Aku marah kepada Ibu dan Bapak yang ada di rumah."

"Lho, marah kenapa? Ayo, kita bicara, tapi jangan di sini."

Zul lantas mengajak anaknya berboncengan motor. Mereka berhenti di sebuah rumah makan. Sembari makan dengan lahap, anak Zul mengungkapkan perasaannya. Ia terus terang merasa kecewa dengan Zul dan suaminya. Sebab, baru ketika usianya SMP menceritakan rahasia ayah biologisnya.

"Lho, Ibu kan serba repot. Bagaimana kalau Ibu menceritakannya ketika kamu masih SD atau TK? Kalau kamu tidak siap menerima gimana? Pada saat Ibu menceritakan ketika kamu sudah SMP ini, Ibu anggap kamu sudah siap karena memang secara diam-diam kamu juga sudah mendengar beritanya dari orang-orang yang membicarakan masa lalumu. Lagi pula, kamu sendiri yang berinisiatif menanyakan perihal ayah yang sebenarnya. Kalau pun kamu tidak siap, maka Ibu mendampingi. Ibu tetap menjelaskan semuanyasecara baik-baik. Dengan cara itu, Ibu berharap kamu tidak marah. Ibumu tidak bersalah, kan? Ayahmu yang sekarang itu juga tidak bersalah, kan?"

Anak Zul diam saja. Lantas bicara.

"Tapi, aku tetap belum mau pulang. Aku tidak mau bertemu dengan Ayah yang sekarang."

"Terus kamu mau tinggal di mana?"

"Terserah aku. Di kolong jembatan bersama pengemis aku juga mau. Pokoknya, aku tidak mau pulang!"

"Sayang dengan sekolahmu, kan?"

"Persetan dengan sekolah, Ibu tidak adil! Apalagi Ayah yang sekarang! Lebih tidak adil lagi!"

"Lho, tidak adilnya di mana?"

"Karena sudah membuat hidupku tidak nyaman. Tidak bahagia!"

"Baiklah. Kamu untuk sementara tidak usah pulang ke rumah dulu tidak apa-apa. Tapi, Ibu minta kamu tetap sekolah dan kamu Ibu titipkan ke rumah Pak Kiai yang dulu pernah merawatmu di masa kecil. Gimana? Akur, kan? Yang penting, kamu kan tidak melihat Ibu dan Ayahmu yang sekarang, ta?"

Anak Zul diam tetapi sorot matanya mengiyakan.

"Ayolah kamu sekarang aku antar ke rumak pak kiai itu."

Anak Zul menurut ketika diajak ke rumah pak kiai yang dimaksud. Kedatangan mereka sudah cukup dipahami oleh pak kiai tersebut.

"Sudahlah, di sini saja sama Abah. Abah juga kangen sama kamu."

Setelah bercerita apa adanya mengenai anaknya, Zul pun pamit.

"Mau lama di sini juga boleh, kok," ucap Zul kepada anaknya sembari mengecup keningnya.

Sampai di rumah, suami Zul cuma terkekeh ketika Zul bercerita mengenai anaknya yang sudah ketemu. Zul pun sudah mengirim SMS kepada guru bimbingan konseling memberitahukan bahwa sang anak sudah ketemu.

"Rupanya, ia memang masih anak-anak. Belum bisa menerima kenyataan hidup dengan lapang hati. Kalau kita kan sudah biasa hidup bermandi kecewa," tukas suami Zul.
http://id.klipingsastra.com/2015/11/pemakaman-pertiwi-surat-surat-penantian.html

***
DI rumah pak kiai itulah anak Zul dibimbing bagaimana sebaiknya menerima kenyataan hidup. Betapapun kenyataan hidup memang berat, setiap orang biasanya akan menghadapi yang berat itu dalam hidupnya. Tidak satu pun orang akan lolos dari hal berat dalam hidup ini. Pak kiai pun menjelaskan kepada anak Zul, hal berat itu bisa saja meliputi orangtua yang sudah tiada dan tidak sempat tahu, penyakit, utang, dizalimi, dan hal lainnya.

Memang, banyak ajaran dari Pak Kiai yang merasuk ke dalam diri anak Zul. Membuat anak Zul bisa lumayan rileks menerima kenyataan pahit atas hidupnya. Betapa ia sangat kecewa belum pernah melihat wajah bapaknya...

Namun, meskipun ia perlahan-lahan bisa menerima kenyataan pahit atas hidupnya, ada satu orang yang masih membuatnya penasaran atas perjalanan hidupnya. Di dalam document paper yang ia baca nama orang tersebut adalah Mos. Otaknya masih menyimpan rencana, betapa tanpa sepengetahuan ibu dan pak kiai yang belakangan lebih ia percaya menggantikan posisi sang ayah suami ibunya, ia ingin bertemu dengan Mos. ❑ (bersambung)-c


Satmoko Budi Santoso. Sastrawan kelahiran Yogya, 7 Januari 1976. Menulis cerpen, novel, puisi, juga esai. Kumpulan cerpennya: Jangan Membunuh di hari Sabtu (2003), Perempuan Bersampan Cadik (2004), Bersampan ke Seberang (2006), , dan Sasi, Anjing-anjing di Kampung Saya (2011). Novelnya: Liem Hwa (2005), Ciuman Terpanjang yang Ditunggu (2005), Jilbab Funky (2011), dan Kasongan (2012). Puisinya termuat di Antologi Puisi Indonesia (1997), Malioboro (2009), Danau Angsa (2011), Akulah Musi (2011, dan Equator (2011). Tinggal di Tirtonirmolo, Kasihan - Bantul. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Satmoko Budi Santoso
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 29 November 2015

0 Response to "Kutukan Rahim (19)"