Kutukan Rahim (20) | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kutukan Rahim (20) Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 23:10 Rating: 4,5

Kutukan Rahim (20)

SELAMA beberapa minggu, anak Zul sudah mau sekolah seperti biasanya. Tapi, tetap saja berangkatnya dari rumah pak kiai. Selama di rumah pak kiai itu pula, ia terus mencari tahu perihal Mos. Yang dalam kertas dokumen, sebuah kliping koran menyebutkan, pernah sebagai otak intelektual kerusuhan kota. Seorang penderita psikopat akibat frustasi dalam karier politik. Ya, anak Zul pun mengingat baik-baik nama rumah sakit jiwa tempat Mos dirawat. Ia sungguh semakin penasaran ingin menemui Mos.

Ternyata, tidak mudah untuk dpaat emnemui Mos di rumah sakit jiwa. Sebab, status anak Zul yang tidak kuat mewakili siapa. Atau atas nama pihak mana. Sementara Mos sendiri, adalah orang yang meskipun emnderita psikopat dan di salam rumah sakit jiwa, tetap di bawah pengawasan pihak kepolisian. Ia dianggap orang berbahaya. Maka, rumah sakit jiwa itupun bekerjasama dengan polisi.  Ada polisi yang ikut menjaga di bagian resepsionis.

Tapi, anak Zul tidak kehabisan akal. Ia tahu tidak setiap harinya ada polisi yang berjaga di bagian resepsionis. Dalam seminggu hanya hari tertentu saja sesuai dengan hari khusus untuk menjenguk. Otak anak Zul juga tahu, sebagaimana ia pernah baca di sejumlah koran, kebanyakan para penjaga atau pegawai piket, bakal tergiur dengan uang. Bahkan pernah ia baca di koran, ada supir penjara yang mau menerima uang Rp 1 juta, hanya demi memberi kesempatan narapidana bercinta dengan perempuan yang dikehendaki.

Otak anak Zul terpengaruh hal itu. Uangnya di ATM ia rasa masih cukup untuk memuaskan hasratnya menjumpai Mos. Maka, diam-diam, ia beranikan diri mendekati tukang kebun rumah sakit jiwa itu. Ia ajak bicara. Ia jelaskan siapa dirinya. Ia ceritakan yang sesungguhnya ia inginkan. Dan ia sediakan uang secukupnya. Tidak semahal sipir penjara yang disuap untuk memberi kesempatan bercinta itu! Tukang kebun itu pun paham.

"Di sini tak pernah sepi penjaga. Tapi, kamu akan sangat mudah kuaku sebagai anakku. Maka, besok datang ke sini saja sore seperti ini. Nanti bisa masuk sama aku. Selanjutnya, terserah kamu."

Sebuah kesepakatan yang mudah. Anak Zul bersuka cita dlaam hati. Jalna lapang ia dpaatkan.

Sesuai janji, wkatu yang ditentukan telah tiba. Anak Zul diajak masuk ke dalam rumah sakit jiwa. Ia disuuruh jalan di belakang tukang kebun, membawa sabit dan keranjang tempat rumput yang sudah terpangkas. Melihat adegan itu, tak satu pun penjaga rumah sakit jiwa yang memertanyakan siapa dia. Otak setiap penjaga sudah mahfum bahwa dia adalah anak si tukang kebun. Meskipun ada satu orang penjaga yang sempat bertanya, sepertinya belum pernah melihat anak si tukang kebun yang satu itu. Si tukang kebun pun sigap berkelit dengan menjawab bahwa anak itu adalah anak adiknya.

Maghrib tiba. Semua penjaga sibukdnegan istrihata dan persiapan ibadah. Dilanjutkan makan. Saat itulah, saat yang sungguh luang bagi si tukang kebun dan anak Zul untuk menyelinap ke kamar isolasi Mos. Si tukang kebun sengaja mencuri kunci dari kotak kunci yang ada di ruangan khusus penjagaan. Nanti tinggal dikembalikan begitu saja.

Diantar si tukang kebun, anak Zul berhasil menemui Mos.

"Hai, kau pasti membawakanku makanan yang enak," sapa Mod

"Benar, ini aku bawakan roti bakar kesukaanmu," ujar anak Zul.

Anak Zul tahu kesukaan anak Mos sebab diberitahu si tukang kebun. Kadang-kadang, si tukang kebun memang disuruh membelikan roti bakar oleh petugas jaga. Terutama kalau Mos pas kumat sakit jiwanya yang paling keterlaluan. Meraung-raung memanggil nama-nama keluarganya dan nama-nama teman-temannya. Uniknya, kalau sudah dibelikan roti bakar, ia akan diam.

"Terimakasih, anakku. Kau datang tepat waktu." Mos pun melahap habis roti bakar itu, "Kenapa kau datang ke mari, anakku?"

Aku anak Zul."

"Anak Zul? Hahaha.... anak Zul ditelantarkan bapaknya, kan? Bapak bejat yang hanya ingin menguasai  harta Zul! Hahahaha.... O sekarang bagaimana dengan Ibumu, nak? Masih cantik dan suka nyanyi dnagdut? Kenapa ia tidak kau ajak ke sini? Menengokku yang semakin tua, semakin merana. Dalam kesendirianku...." Dari tertawa Mos tiba-tiba meradang. Menangis. Sesenggukan.

"Aku kasihan denganmu, Nak. Aku kasihan Bapakmu yang sudah mati itu. Dia sebenarnya ingin menyelamatkan Ibumu dari permainan kotor si kepala daerah yang bejat. Yang menggunakan Ibumu demi popuparitas. Bapakmu sudah mati, nak. Mati karena memerkosa Ibumu. Apakah ia bejat, Nak?"

Omongan Mos makin ngelantur tidak karuan. Si tukang kebun menginjak kaki anak Zul. Memberi isyarat agar pertemuan cukup. Toh targetnya memang hanya ingin bertemu Mos. Sekadar bicara sebentar.

"Hei kalian mau ke mana? Mau ikut melupakanku? Ya sudah, sana pergi! Pergi! Pergi yang jauh! Pergi!!!"

Si tukang kebun dan anak Zul segera pergi. Kalang kabut. Takut akal bulus mereka akan ketahuan petugas jaga.

***
TERENGAH-ENGAH anak Zul di depan rumah sakit jiwa. Setelah mengantar anak Zul keluar, si tukang kebun kembali ke dalam. Segepok uang telah diterima si tukang kebun.

Dalam perjalanan pulang jalan kaki, anak Zul ternyata menelan mentah-mentah omongan Mos. Padahal ia tahu, Mos bukanlah orang yang waras. Omongannya sering ngelantur. Mestinya memang tidak usah dipercayai. Namun pikiran anak Zul malah menjadi terombang-ambing. Ia berpikir, jangan-jangan omongan orang gila macam Mos justru merupakan omongan yang benar karena merupakan endapan memori yang sejujurnya. Yang terngiang dalam ingatannya adalah omongan Mos yang menyebut bapaknya yang sekarang bejat dan hanya ingin menguasai harta ibunya! Dan kepala daerah yang menggunakan ibunya untuk popularitas! Anak Zul terdoktrin oleh omongan itu! Pandangan negatifnya terhadap ayah non-biologisnya selama ini terbumbui omongan psikopat yang sangat tidak bisa dipertanggungjawabkan. Tapi, anak Zul termakan juga!

Maka, anak Zul pun semakin membenci ayah non-biologisnya. Sampai di rumah pak kiai, ia bersummpah dalam hati akan selalu membenci ayah non-biologisnya itu. Lantas, apakah ia akan membenci sang kepala daerah juga? ❑ (bersambung)-c

Satmoko Budi Santoso. Sastrawan kelahiran Yogya, 7 Januari 1976. Menulis cerpen, novel, puisi, juga esai. Kumpulan cerpennya: Jangan Membunuh di hari Sabtu (2003), Perempuan Bersampan Cadik (2004), Bersampan ke Seberang (2006), , dan Sasi, Anjing-anjing di Kampung Saya (2011). Novelnya: Liem Hwa (2005), Ciuman Terpanjang yang Ditunggu (2005), Jilbab Funky (2011), dan Kasongan (2012). Puisinya termuat di Antologi Puisi Indonesia (1997), Malioboro (2009), Danau Angsa (2011), Akulah Musi (2011, dan Equator (2011). Tinggal di Tirtonirmolo, Kasihan - Bantul. 


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Satmoko Budi Santoso
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 13 Desember 2015

0 Response to "Kutukan Rahim (20)"