Lampu | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Lampu Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:46 Rating: 4,5

Lampu

Siang hampir habis.

Lelaki tua itu masih terayun-ayun di atas kursi malasnya memandang sinar matahari sore yang menerobos lewat celah-celah daun. Namun keasyikan yang ditekuni sejak beberapa hari ini akan segera berakhir. Sebentar lagi matahari tergulir ke bawah garis cakrawala barat. Sebenarnya lelaki itu hendak melompat menahan matahari supaya tidak segera tenggelam. Tetapi kakinya sudah sangat rapuh. Ia mendengus pendek sambil menghempaskan tubuhnya kembali ke kursi. Tubuhnya terayun-ayun keras, sementara benak kepala memantulkan hari-hari yang telah lewat. Betapapun ia sadar, bahwa waktu jualah yang akan menghentikan segalanya.

Dua ekor kelelawar terbang melintas di depannya. Dulu kelelawar seperti itu banyak sekali dilihatnya apabila senja mulai turun, berterbangan keluar sarang menangkap nyamuk atau mangsa serangga kecil lain. Mereka membuat sarang di pucuk-pucuk daun pisang muda. Begitu pohon-pohon pisang itu diganti dengan kembang-kembang serta tanaman hias, hanya kelelawar-kelelawar kesasar saja yang dilihatnya memasuki pekarangan.

Seperti rambutnya yang kini memutih, banyak sekali perubahan terjadi di pekarangan rumahnya. Dulu disudut kanan pagar ada sebatang pohon asem kawak, yang jika musim buah mengundang anak-anak. Mereka berebut memanjat untuk mendapatkan buah asem yang berasa masam itu. Dan ia suka berteriak-teriak bila melihat anak-anak itu berebut memanjat. Bukan lantaran asem kawak miliknya, tetapi ia khawatir anak-anak itu terjatuh. Asem kawak itu sekarang diganti dengan pohon flamboyan. Kata anaknya, lebih ceria bila berbunga. Lalu pohon-pohon lain seperti melinjo, nangka, sawo atau kelapa, juga ditumbangkan diganti dengan kembang-kembang berwarna-warni. Indah sekali memang. Tetapi apa gunanya selain untuk mata? Akan mendatangkan uang atau keuntungan nyata jika pohon-pohon tahun itu dibiarkan tetap hidup.

”Airnya sudah panas, Pak“

Ia mendengar suara menantunya. Menantunya yang cantik. Bahkan sangat cantik. Tetapi ia merasa menantunya akan lebih cantik bila rambutnya tidak dipotong sependek rambut suaminya. Ia akan jauh lebih anggun dengan rambut disanggul lalu mengenakan kain dan kebaya seperti mendiang isterinya.

Ah…... Ia mendesah panjang. Seperti kata anaknya, dunia memang berubah. Wanita sekarang tidak hanya berada dibelakang saja. Wanita sekarang tidak hanya menjadi pelayan keluarga saja. Wanita sekarang tidak hanya memasak dan melahirkan thok. Wanita sekarang bisa berbuat lebih banyak dari itu. dan menantunya yang suka memakai celana panjang blujin itu juga bekerja di kantor seperti suaminya. Mungkin akan repot jika harus dandan seperti perempuan sebelum perang. Ia bisa maklum. Tetapi apakah semuanya harus berubah?

”Pak, rumah ini harus berubah,“ kata anaknya waktu itu, ketika baru saja pulang dari luar negeri menyelesaikan tugas belajarnya.

”Lho? Kenapa?“

”Sudah tidak sesuai dengan jaman.“

Tidak sesuai dengan jaman? Kalimat itulah yang sampai sekarang direnungkannya. Orang dahulu membuat rumah semata-mata hanya mempertimbangkan kegunaannya saja, kata anaknya, tanpa memperhitungkan keindahan. Memang. Rumah yang dibangunnya puluhan tahun silam cukup besar, terdiri dari 3 bagian luas. Rumah utama, gandok, dan pendapa. Sebab masyarakat desa selalu berada dalam kebersamaan. Dalam suka maupun duka. Jika sedikit saja ia mempunyai kesibukan, mengadakan perhelatan umpamanya, maka para kerabat saudara, dan tetangga akan berkumpul. Karena itu ia memerlukan sebuah rumah yang besar. Lebih dari itu, masyarakat desa selalu membuka diri. Terbukti rumahnya yang besar itu hanya terbagi oleh tiga buah sekat. Satu sekat berada di rumah utama, membentuk sebuah ruang kecil yang biasa disebut senthong.

Seluruh bagian rumah boleh saja dilihat orang luar kecuali senthong. Lalu sekat kedua membatasi rumah utama dengan pendapa dan sekat ketiga memisahkan rumah utama dengan gandhok. Tidak seperti sekarang. Oleh anaknya, rumah lama diratakan dengan tanah lalu di atasnya dibangun rumah baru dengan tatanan yang mengingatkan bangunan-bangunan di kota sebelum revolusi. Hanya rumah jaman dahulu lebih tinggi, memberikan kesan lapang. Rumah yang dibangun anaknya sekarang seperti kandang kelinci, terbagi dalam ruang-ruang kecil. Setiap penghuni mempunyai kotak tempat tidur sendiri. Ia tidak habis pikir kenapa anaknya membuat rumah seperti itu. Sudah banyak uang keluar, banyak yang tak bermanfaat. Padahal rumah itu kan pengap, membuat nafas tuanya lebih sesak.

Sekali lagi ia mendengar menantunya memanggil, mengatakan air untuk mandi telah siap. Pelan-pelan ia bangkit meninggalkan kursi malas ketika didengarnya deru mobil anaknya. Anak laki-lakinya pulang. Karena itu, ia mengurungkan niatnya, bahkan menanti anak lelakinya turun dari mobil. Ada kebiasaan baru yang dikerjakan sejak ia pensiun dari mantri pengairan. Ia selalu menyongsong anaknya yang baru pulang, seperti dahulu isterinya juga berbuat demikian kepadanya.

”Bawa apa?“ tanyanya ketika anaknya menenteng bungkusan karton.

”Lampu kristal, pak. Cantik sekali. Asli buatan Perancis. Sebentar lagi listrik akan memasuki desa kita. Karena itu kita harus mempersiapkannya,“ sahut anaknya nericis seperti tukang sayur di pasar menawarkan dagangan.

Lelaki tua itu tidak menghiraukan jawaban anaknya. Ia bangkit lalu mengambil handuk dan mandi. Menantunya memang menantu yang baik. Meski seharian ia juga bekerja di kantor, namun tetap setia merawatnya, menyediakan apa-apa keperluannya. Sampai air panas untuk mandipun ia sendiri yang menuangkan ke dalam bak mandi.

Selepas mandi ia duduk di ruang depan, membolak-balik koran yang dibawa anaknya sambil meneguk kopi dan menggigit penganan kesukaannya. Tapi tak ada berita yang menarik perhatiannya. Koran itu dicampakkan agak keras ke meja sehingga berantakan. Dengan mendengus kesal ia memunguti, lalu melipatnya kembali dengan rapi.

“Bagaimana, Pak? Bagus bukan?” tiba-tiba ia mendengar suara anaknya.

”Apanya?” ia bertanya.

Lampu itu.”

Laki-laki itu mendongak. Ia terperanjat. Bahkan terbelalak. Ia bangkit sambil sedikit membuka kaca matanya. Ia tidak melihat lampu tarik yang biasa tergantung di sana. Di tempat itu telah berganti dengan gantungan kaca-kaca bening berjuntaian. Lampu kristal yang seperti tadi sore dikatakan anaknya. Dengan setengah berteriak lelaki tua itu berkata ”Kau kemanakan lampu itu, ha? Benda itu merupakan benda terakhir peninggalan nenek moyang kita. Semuanya telah kurelakan kau rombak. Kecuali lampu tarik itu. Tetapi kau toh melakukannya juga.“

”Terus terang saja pak, lampu kuno itu sudah usur,“ jawab anaknya. “Tidak sesuai dengan keadaan jaman sekarang. Karena itu aku menggantinya, Pak.”

”Masya Allah.......“

Lelaki tua itu menghempaskan badannya ke kursi yang terbuat dari beludru merah cabe itu. Ia mendesah panjang. Sepasang matanya runtuh kelantai yang beralaskan permadani kuning ke merah-merahan. Kepalanya terkulai. Ada sesuatu yang memberati kepalanya. Namun ia tak dapat mengatakan kepada anaknya tentang perasaannya.

Perlahan-lahan ia bangkit lalu berjalan gontai menuju kamarnya seperti langkah seorang jenderal yang kalah perang. Ya, ia kalah atas batas waktu. Betapapun ia tak dapat menanamkan nilai yang diyakini kepada anaknya bahwa lampu itu harus tergantung di sana sebagai tanda bahwa sebuah generasi dengan garis panjang pernah hidup. Generasi itu memang tetap berlanjut, namun garisnya sudah berkelok-kelok. Ia tak mampu mengatakan pada anaknya bahwa lampu itu merupakan warisan turun temurun. Ia mendapatkan dari ayahnya, dan ayahnya dari kakeknya, dan kakeknya dari buyutnya. Kalau sekarang anaknya tak mau melestarikan warisan itu, siapa yang harus dipersalahkan? ***

Oktober 82.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Karsono H. Saputro
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Bernas" pada 13 Maret 1983

0 Response to "Lampu"