Man Kadip | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Man Kadip Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 18:30 Rating: 4,5

Man Kadip

IA hanya temukan anjing yang meringkuk damai di bibir tungku. Bukan api apalagi kocor1 dengan uap yang meliuk-liuk dari tutup dan paruhhnya, seperti pagi-pagi sebelumnya.
Di samping kanannya, pintu dari anyaman bambu tertutup rapat. Dari dalam, tidak terdengar suara apa pun. Ia mendekat, mendorong pintu itu dengan tangan kanannya, tapi terkunci dari dalam. Sempat ia ingin menendang pintu itu sampai terbuka, tapi ia memilih melihat istrinya dari lubang dinding rumahnya.

MATANYA melihat istrinya sedang tidur membelakanginya, kain batik abu lusuh membungkus kaki sampai lehernya. Untuk pertama kalinya, ia melihat istrinya dari lubang kecil seperti itu. Ia melihat istrinya seperti sangat tidak berdaya, lemah, butuh, perhatian, tidak patut untuk disiksa.

Apa yang ia lakukan mengusik pikirannya. Tidak tahan, ia memilih menjauh dari rumahnya sendiri, menuju rummah Man Kadip, tempat ia biasa mengobrol dengan teman-temannya setiap hari. Tapi, di jalan, apa yang ia lakukan kepada istrinya terus-menerus memburunya.

Ia baru sampai berugak2 ketika istrinya dengan suara yang keras dan menantang menghentikan langkahnya, "Jangan pulang-pulang. Tinggal sudah di makam nenek moyangmu itu." Ia lihat istrinya berdiri di tengah halaman rumah, kedua tangannya di pinggang, seperti menantang. "Jangan pulang-pulang lagi. Jangan sudah ingat anak istri."

Suara yang semakin keras itu menyulut api dalam dirinya. Dengan langkah cepat, nyaris berlari, ia kembali menuju istrinya dan langsung memberikan satu tamparan keras. Setelah itu, baru ia berbicara, "Jangan buat kepergian saya kali ini sia-sia. Biarkan saya tenang sekali ini saja." Bibirnya bergetar kala mengucapkan kata-kata itu. Pandnagannya tidak sedikit pun teralihkan dari kepala istrinya yang bergerak naik turun, menangis di serambi rumah.

"Setiap malam kamu pergi. Tiara sering menangis tengah malam. Beras sudah habis. Nesok kita makan apa? Kamu hidup seolah-olah hanya ke makam itu yang bisa kamu lakukan. Mana hasil usahamu? Empat lima bulan kamu hanya membuang-buang uang. Selalu kalah dan kalah. Makam yang katamu selalu memberikan nomor bagus itu, mana... mana? Kamu buang-buang tenaga."

Ikatan rambut istrinya terlepas. Seperti mendapat ilham, dengan gerakan cepat, ia tarik rambut itu. "Kamu katakan usaha saya sia-sia. Apa yang kamu makan sampai hari ini, heh? Kamu kira dari mana makanan yang kamu makan itu?" Ia melepaskan rambut itu ketika istrinya menjerit kesakitan.

"Saya dapat berutang."

"Siapa yang akan menggantinya?"

"Belum kita ganti. Saya akan cari kerja. Tidak mungkin mengandalkan laki-laki yang kerjanya hanya pulang makan, mengobrol, dan malam pergi tidur lagi tidak jelas."

Satu tamparan lagi mendarat di pipi kiri istrinya. Membuat tangis istrinya pecah. Tangis yang membangunkan tangis lain dari dalam rumah. Tiara yang baru dua tahun terbangun karena erangan ibunya. Cepat ibunya bangun dan masuk, menggendong anaknya. Sambil sama-sama menangis, "Uuu ayo kita pergi ke rumah nenekmu."

Kata-kata itu diucapkan hanya untuk membuat hati kecil suaminya tidak jadi pergi. Tapi, tidak ada suara langkah kaki sedikit pun yang mendekat. Pelan ia melangkah keluar. Sadar usahanya sia-sia: suaminya telah pergi.

Memberikan tamparan dua kali membuat dirinya merasa kuat. Merasa diri raja untuk keluarga akecilnya. Tapi, di jalan, pikirannya kacau. Selalu mengarah kepada istri dan suara tangis anaknya. Ia ingin kembali, tapi tidak mau dianggap lemah oleh istrinya. Ia terus saja melangkahkan kakinya, menuju makam. Mencari nomor togel.

Kini, langkah kakinya terasa sama dengan langkah kakinya kemarin. Ada rasa bersalah yang besar memberati langkah demi langkahnya. Sisi lain dirinya mengatakan bahwa  istrinya baik-baik saja. Satu-satunya cara agar kesalahan kepada istrinya bisa dibalas hanya dengan pulang membawa uang yang banyak.

**
RUMAH Man AKdip tempat dia nongkrong masih sepi. Hari-hari sebelumnya. Tempat itu akan ribut dengan masing-masing orang yang menceritakan mimpinya. Beberapa orang yang mendengarkan, kebingungan mau mendnegar dan menafsir mimpi siapa terlebih dahulu. Masing-masing mereka datang dengan kata-kata yang meyakinkan, "Saya dapat mimpi sangat bagus, dijamin bisa membuat kalian menang." "Ayolah, saya dulu. Sapi saya belum dicarikan rumput, saya harus duluan. Atau kalian mau mengetahui mimpi saya nanti malam saja, saat angka sudah keluar dan kalian akan menyesal karena tidak mendengar tentang mimpi saya," dan kata-kata rayuan lainnya yang tidak kalah meyakinkan.

Di batang pohon mangga, tulisan dengan cat yang terlihat masih basah menyambutnya: MIMPI ADALAH UANG. Tulisna itu hasil kreasi Man KAdip, satu-satunya yang sekolah di antara mereka. Walaupun bersekolah hanya sampai SD, Man Kadip sangat berjasa besar untuk di desa itu. Dialah yang mengajarkan kepada para warga yang suka membeli togel untuk menulis angka-angka yang kemudian sangat mereka perlukan untuk kelangsungan hidup mereka. Tidak sedikit yang menang gara-gara telah pintar mengutak-atik angka.

Lebih dari itu, juga telah merelakan tempatnya untuk didatangi oleh para warga. Ia memberikan ruang buat para warga untuk berbagi mimpi-mimpi mereka. Jika ada yang menang, yang punya mimpi akan mendapatkan imbalan sepantasnya. Sejak itu, para warga yang dulunya merasa mimpi hanya bunga tidur, dan sebagian mengartikan mimpi mereka ke hal-hal yang buruk, kini jadi selalu bahagia bangun pagi karena dapat mimpi yang bisa diceritakan.

Kedatangannya disambut gonggongan anjing. Tapi, ia tidak takut karena setiap kali ia ke sana, anjing itu selalu menggonggong keras kepada siapa pun yang datang. Anjing itu baru diam ketika Man Kadip keluar.

"Pagi sekali, Rong." kata Man Kadip

"Saya dari makam Monsoq."

Man Kadip yang tadinya masih mengantuk langsung segar mendengar nama makam Monsoq. "Dapat mimpi apa?"

Melihat Man Kadip bersemangat, ia jadi semangat juga. Cerpat Man Kadip mengambil buku-buku yang biasa ia keluarkan. Meletakkannya di atas barugak3 dan mereka berdua menghadapi tumpukan buku-buku itu.

"Apa mimpimu?" kata Man Kadip sekali lagi.

"Saya mimpi anak saya menangis di gendongan ibunya," katanya sambil memperbaiki cara duduk.

"Anak kecil, biasanya tiga. Saya juga sudah menduga tiga yang akan main hari ini."

"Tapi anehnya, istri saya justru emngumpat-umpat tidak jelas. Tidak tahu, mungkin istri saya sedang marah di mimpi saya itu."

Man Kadip mengambil salah satu buku, menjilat ibu jarinya, menggunakannya untuk membuka lembaran demi lembaran buku itu, sampai ia menemukan susunan angka berbentuk gunung terbaik, ditulis dengan pulpen warna biru. Man Kadip memusatkan perhatiannya ke rumus yang ada di depannya. "Siapa nama lengkap anakmu?" katanya setelahnya.

"Tiara."

"Nama lengkap?"

"Tiara doang."

"Wah nama anakmu seperti nama artis," kata Man Kadip sambil menghitung jumlah huruf pada nama yang ia dengar dengan jari tangan kirinya. "Lima," katanya. "Kalau nama asli istrimu?"

"Geci."

Man Kadip menghitung lagi dengan jari tengah yang sama. "Empat," katanya semangat. "Tepat seperti angka yang diperkirakan. Saya sudah duga jumlah sembilan yang akan main hari ini."

Baru petama kali, ia mendapat mimpi yang sama dengan angka yang diperkirakan oleh Man Kadip. Ia yakin, penunggu makam itu tidak akan membiarkan dirinya kalah untuk ke sekian kalinya. Saat menang nanti, ia akan dengan bangga pulang ke rumah, menemui istrinya, dan membuat istrinya menyesal karena telah mengatakan yang tidak-tidak kepadanya. "Ayo rumuskan angka yang lain. Kita harus dapat empat angka kali ini," katanya pada akhirnya.

Man Kadip --yang dari sebelum itu telah memikirkan angka selanjutnya-- hanya diam. Ia serius mengamati deretan angka di kertas di depannya. Tapi, rumus gunung terbalik itu sepertinya tidak dapat memberikan angka yang ia inginkan.

"Istrimu berdiri atau duduk dalam mimpi itu?"

"Dia sedang berdiri, ya dia sedang berdiri, saya ingat betul," jawabnya semangat.

"Berarti satu."

"Mata biasanya dua. Berarti 1245," katanya menyimpulkan hasil prediksi Man Kadip.

"Tapi susah angka yang begitu."

"Lalu bagaimana?"

Man Kadip diam. Dia menatap tajam lembaran di depannya. Keningnya sampai mengkerut. Melihat rekannya serius begitu, ia melihat sekeliling, matahari sudah lumayan tinggi. Ia heran, biasanya para warga sudah datang untuk menceritakan mimpi-mimpi mereka.

Ia tiba-tiba merasa kesepian. rasa sepi itu membawa pikirannya kembali ke istrinya yang sedang berbaring di rumah. Ia merasa akan pergi jauh dan dosa-dosanya selama ini sangat besar. Ia menyesal karena telah menampar pipi yang dulu selalu ia cubit mesra dan ciumi. Ia ingin pulang, tapi bayang-bayang kemenangan membayang dari sisi lain. Kemenangan yang akan membuat istrinya merasa bersalah sebesar-besarnya karena telah berkata yang tidak-tidak. Ia harus pulang dengan senyum puas itu.

"Woy, apa ndak ada hal lain dalam mimpimu?" pertanyaan Man Kadip mengagetkannya. Butuh dua kali pertanyaan baru ia bisa menjawab. "Sama sekali tidak ada. Semalaman, mimpi saya selalu begitu. Saya juga heran," katanya.

"Berulang kali saya selalu mendapat mimpi seperti itu. Mungkin ada, tapi saya tidak bisa mengingatnya. Tiba-tiba kepala saya sakit."

"Ini angka yang bagus. Benar hanya itu yang terjadi dalam mimmpimu?" tanya Man Kadip tidak sabar.

Ia mencoba mengingat-ingat, memutar ulang mimpi yang ia dapatkan. Tapi, yang terulang kembali justru bagaimana ia perlakukan istrinya semalam.

"Bagaimana?"

"Hanya itu," jawabnya dan turun dari berugak itu, ke halaman rumah. Ia ingin pulang.

"Aha, akhirnya ketemu. Ini kombinasi angka yang bukan main bagusnya. Kali ini saya yakin kita pasti menang. Lihat ini!"

Tapi, ia hanya berdiri diam di halaman rumah itu. Man Kadip menatapnya lama, tapi ia tidak bergerak sedikit pun.

Di rumah, Tiara menangis sampai mata dan pipinya memerah. Kaki mungilnya menendang-nendang. "Cup...cup. Tunggu ayahmu pulang bawa jajan." Ia mengelus-elus kepala anaknya. Tapi, Tiara tetap menangis, bahkan semakin keras.***

Abian Tubuh, awal Mei 2015

Catatan:
1. Kocor: Ceret
2. Berugak: Balai-balai

Arianto Adipurwanto, lahir di Selebung, Lombok Utara. Belajar di Komunitas Akarpohon. Anggota aktif UKPKM Media Unram.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Arianto Adipurwanto
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" Minggu 13 Desember 2015

0 Response to "Man Kadip"