Mata Dalam Keranjang | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Mata Dalam Keranjang Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 09:27 Rating: 4,5

Mata Dalam Keranjang

“AIH, mata siapa ini? Naruh mata kok sembarangan!” teriakan itu begitu saja robek dari bibir perempuan tua yang punggungnya nyaris bungkuk dibebani keranjang belanjaannya yang memuat sayur-mayur, telur, pindang dan tongkol dan bawang merah, bawang putih. Ia menoleh berkeliling, menebar matnya, berharap ada yang mendengar suaranya atau tiba-tiba ia temukan pemilik sepasang mata yang masih mendelik itu, yang menatapnya nyalang. Tapi, tak ada seorang pun yang seperti mempedulikannya, bahkan untuk sekadar menoleh dan memperhatikan sepasang mata hitamitu. Ia mendengus, lalu menjamah sepasang mata itu dari keranjangnya dan menunjukkan pada pedagang sayur yang sedang menjajakan dagangannya kubis-kubis dan wortel-wortelnya yang baru saja dibelinya beberapa kilogram.

“Ibu, Bu, mata siapa ini ya, kok tiba-tiba ada di keranjang belanjaan saya?” merengut, sedikit.

Pedagang sayur itu hanya menatap sekilas, lalu menggeleng dan kembali mengacuhkannya dengan mengemasi sayur-mayurnya di kotak pajangannya.

“Bu, barangkali Ibu tahu ini mata siapa?” mengulangi ujarnya.

Matanya mengeluh.

"Tak tahu! Tanyakan saja sama yang lain!” ketus.

Sambil menjinjing keranjangnya di tangan kanan dan menggenggam sepasang mata itu di tangan kirinya, ia meninggalkan toko itu dan berjalan menyisir gang-gang sempit di antara jejeran toko-toko sederhana itu. Berulangkali, ia memperlihatkan mata itu pada pedagang yang dijumpainya, atau, ibu-ibu lain yang sedang berbelanja, namun semuanya hanya acuh dan menggeleng, atau, paling-paling berujar datar, “Ah, buang saja kenapa ta?”

Atau, “Kok repot ngurus mata orang! Paling yang punya sudah bosan dengan matanya sendiri!”

Ia terdiam sesaat di depan toko kelontong yang sedang ramai dikerubungi ibu-ibu yang suaranya berseliweran bagai debu-debu pasar yang diterbangkan kemarau yang sebagian mengotori sepasang mata itu. Sekali lagi ia menebar matanya, mencari-cari siapa kini yang sepasang rongga matanya kosong. Atau, tengah kebingungan mencari sepasang amta itu. Tapi, tak ada. Dengan langkah membungkuk, ia tinggalkan pasar itu; pulang.

***
SAMBIL menggoreng sayur-mayur yang nanti malam akan dijualnya sebagai makanan sederhana di tepi trotoar dekat pasar induk itu; mulai dari nasi goreng hingga gado-gado; ia mencoba berpikir, kenapa gerangan si pemilik mata itu menaruh sepasang matanya di keranjangnya. Dahinya berkerut. Ah, tak ada yang ditemukannya kecuali gambaran bahwa sekarang pastilah si pemilik mata itu tengah kebingungan mencari matanya, atau, barangkali dia sengaja membuang matanya dengan usil di keranjang belanjaannya dan telah lama bosan dengan mata itu, lalu mencari sepasang mata lain.

Ditatapnya sepasang mata itu sejenak, lalu dengan ekspresi datar, dipasangnya sepasang mata itu pada rongga matanya sendiri setelah sepasang matanya dicomotrnya dan diletakkannya di atas nampan yang sebagian sisinya telah berisi hasil gorengan. Seketika ia tergagap. Dari kelopak matanya, ia rasakan jutaan gambar yang sangat asing, aneh! Ia memekik, lalu buru-buru mencopot mata itu lagi dan memasang sepasang amta aslinya.

”Sial! Dasar mata bajingan! Masa yang kulihat hanya peluang untuk melakukan kejahatan!“ dicampakkannya begitu saja sepasang mata itu ke lantai dan diciumi oleh seekor kucingnya, sambil bermeong-meong. Ia tak peduli, namun kucing itu tak memakannya dan buru-buru beralih ke jatahan seekor anak tikus dari atap-atap dapur yang bolong tanpa penyekat, lalu memangsanya.

Usai mengerjakan rutinitas hariannya, ia mandi dan langsung beranjak ke kamar tengahnya. Tidur. Namun, belumlah sempurna matanya memejam, tiba-tiba terdengar ketukan kecil di pintu rumah yang hanya dihuninya sendiri. Ia diam. Ketukan menyentak lagi. Buru-buru ia bangun, berjalan dengan kaki digesek berat, membuka pintu. Tampak seraut wajah yang tak dikenalnya, yang menampakkan codet-codet seram berdiri tegak di hadapannya.

”Betulkah kamu yang mengambil mataku tadi?!“ Tinggi dan nyaris membuat perempuan yang sebetulnya lebih pas disebut nenek itu pingsan. “Mana mata itu sekarang?!”

Buru-buru ia menyelinap masuk dan menjamah sepasang mata yang kotor oleh luluran debu dapur lalu keluar dan menyerahkannya pada lelaki asing itu, yang sepasang rongga matanya bolong kehitaman.

“Kau jangan main-main atau coba-coba curi mataku, ya!” sentaknya setelah mengenakan sepasang itu. “Ini mata mustika!”


Ia hanya berdiri gagap dan diam seribu bahasa hingga lelaki itu melenyap di balik pintu rumahnya; entah ke mana. Buru-buru ia mengunci pintu rumahnya rapat-rapat, masuk kamar dan kembali menelentangkan tubuhnya di bale-bale yang selalu menimbulkan bunyi berkeriut disentuh tubuhnya.

***
KEESOKAN harinya, seusai belanja sayur-mayur dan saat tangan kirinya menyentuh tali keranjang belanjaannya, lagi-lagi ia terperangah menyaksikan sepasang mata asing berdiam begitu saja dia tas kubis-kubisnya. Gagap. Buru-buru ia menjamah sepasang mata itu dan meletakkannya di kotak toko yang memajang kubis-kubis. Namun, belum juga ia meninggalkan toko kelontong itu, terdengar teriakan pedagangnya.

“Hei, naruh mata kok di sini! ini kan untuk kubis, untuk jualan sayur, bukan mata!“

Ia tergeragap, menatap pedagang yang nyaris seusia dengannya.

”Ayo, ambil!“ sentaknya.

“Aduuh, Bu, ini bukan mata saya, tapi… eh, entah mata siapa juga, kok tibatiba ada di keranjang belanjaan saya.”

“Tak peduli. Kau ngomong apa! ayo, ambil ini!” mencomot sepasang mata dari kubisnya dan menjulurkannya pada perempuan tua itu.

“Bu, tolong sayalah, simpan saja mata ini!”

“Tidak!”

“Atau ya Ibu saja yang membuangnya!”

“Tidak, aku tak ada urusan dengan mata ini! Ngurus barang sendiri repot, apalagi disuruh ngurus mata orang lain, ciiih…” lalu menjerembabkan sepasang mata itu ke keranjang belanjaannya. Ia diam menoleh berkeliling, berharap tiba-tiba si pemilik mata itu dijumpainya, lalu akan diserahkannya sepasang mata itu.

“Sana, pergi, jangan tutupi daganganku!“ usiran pedagang itu benar-benar memaksanya berjalan gontai, meninggalkan pasar itu dengan perasaan aneh. Kosong. Ia pulang dan kembali bergelut dengan rutinitasnya – setelah berulangkali melamunkan cerita apa sebenarnya di balik mata-mata yang tiba-tiba berdiam di keranjang belanjaannya.

Sambil mengeringkan minyak goreng pada gorengannya, dijamahnya sepasang mata itu, lalu ditancapkannya pada kelopak matanya – setelah mencomot matanya sendiri. Ia tersentak. Pandangan aneh menyelimuti matanya. Begitu riang!

Ya, segala sesuatu yang tersaji di hadapanya, kini seperti berbias cahaya dan sangat indah. Barang-barangnya sendiri yang sebetulnya didominasi barang-barang butut dan telah begitu lekat dengan benaknya, kini, berubah sangat menggiurkan. Mewah, mentereng, mahal-mahal.

Tiba-tiba terbersit pikiran di benaknya untuk mengenakan sepasang mata itu. Ia tersenyum sendiri. Namun, sekonyong-konyong telinganya menangkap ketukan halus di pintu rumahnya. Terjengah ia, ketukan menyentak lagi, agak keras. Buru-buru ia keluar.

”Cari siapa?“ ujarnya agak gemetar menyaksikan sosok perempuan muda cantik yang bahenol yang dandanannya agak seronok dengan mempertontonkan auratnya di balik balutan bajunya yang sangat ketat.

”Anu, apa mata saya terbawa di keranjang?“

„O ya, ini!“ buru-buru disodorkannya sepasang matanya sendiri pada perempuan itu.

”Terima kasih ya,“ lalu ngeloyor pergi.

”Neng, naruh mata jangan sembarangan! Untung aku yang temukan, kalau kucing...!“

Ia tersenyum sendiri berhasil mengelabui pemilik mata itu. Jutaan ilustrasi menggairahkan benar-benar menguasai pandangannya. Saat ini, ia berpikir, hidup tak akan selalu berkutat dengan kesederhaan lagi. Ya, ia bisa saksikan bagaimana rumahnya yang agak kumuh tiba-tiba menjelma bangunan megah dengan orhamen-ornamen megah, dapur yang nyaris semua dindingnya kehitaman diberangus asap tungku, kini seperti berdinding porselin putih keperakan. Dagangannya juga berubah, ya, menjadi hidangan makanan istimewa. Mahal-mahal!

***
TAPI, dugaannya meleset. Justru sepasang mata yang amat menggembirakannya itu tiba-tiba menjadi petaka yang mengancam sendi hidupnya. Nasi goreng, mie goreng, bakso, soto, hingga gado-gadonya yang dikenal murah dengan aroma yang sedap – dan karenanya ia punya banyak pelanggan – tiba-tiba ditinggalkan para pembeli lantaran kini tak lagi sedap.

”Nasi goreng apa ini, kok rasanya berantakan!“

”Huh! Dasar sudah pikun, masa gado-gado digoreng dengan mie!“

Malam ini dagangannya benar-benar berantakan. Tak laku. Ia berpikir, apanya yang salah, toh di matanya sendiri, racikannya tetap sama dengan racikannya selama ini. Ia merenung, di antara kubutan angin malam yang kian dingin. Tiba-tiba ia teringat sesuatu, ya, pastilah ini akibat sepasang mata sialan ini!

Keesokan harinya, ia berkeliling pasar itu dengan mata bertebaran, mencari-cari mata aslinya – yang selama ini menghidupinya.

Kepada setiap orang yang dijumpainya di jalanan, ia menanyakan perempuan itu, dengan menyebut cirri-cirinya secara detil. Tapi, tak seorang pun tahu. Ia terduduk lesu di bangku kosong yang kalau malam dijadikan tempat mangkal pada pedagang kaki lima. Merenung. Tiba-tiba ia terjengah, di keranjang belanjaannya yang masih kosong, dilihatnya sepasang mata asing teronggok begitu saja. Ia amati lagi; buru-buru dijamahnya sepasang mata itu, lalu dikenakannya.

“Nah, ini mataku yang membawa keberkahan!” tersenyum. Mendesis, sambil mencampakkan sepasang mata yang semalam dipakainya. Buru-buru ia menyelesaikan belanjaannya dengan jutaan harapan; kehidupannya akan kembali normal dengan mata ini, dagangannya kembali disukai pelanggan.

Namun, kembali dugaannya salah total. Para pengunjung yang menikmati hidangannya kembali ngomel-ngomel.

“Hei, kalau sudah pikun berhenti saja!”

”Sinting, mana ada nasi goreng dikasih kuah gado-gado! Gillaaaa...!!!“

Ia terdiam, beku. Otaknya berkelebatan. Kalau begini terus, pastilah hidupnya akan hancur, modalnya habis! Tapi, tiba-tiba wajahnya mencerah. Terbersit pikiran di benaknya untuk segera membeli mata dengan ciri-ciri mata yang selama ini dimilikinya; dan akan dengan sangat mudah didapatnya di kaki lima-kaki lima dengan harga hanya sekian ribu perak. ***

GHOT Yogyakarta, 1997


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Edi AH Iyubenu
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Berita Nasional" pada 30 November 1997

0 Response to "Mata Dalam Keranjang"