Para Perasuk | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Para Perasuk Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 14:37 Rating: 4,5

Para Perasuk

JUN pamit setelah sebelumnya berjanji membawa kembali tubuhku. Bertahun-tahun tubuh itu hilang dan kini aku hidup di tubuh seorang kapten. Tidak ada yang tahu, tentu saja, kalau jiwa si kapten berkelana dan sesat di sekitar tebing dekat mercusuar. Karena hanya aku, satu-satunya manusia, yang mampu hidup dalam seribu tubuh warna-warni, sekalipun sejarahku tunggal.

***
Aku lahir lewat pemberontakan seorang wanita. Kepada kusir kuda, yang perantau dari negeri antah berantah, wanita itu meminta-tepatnya mengemisbenih. Maka, di suatu hari yang dulu, benih itu bertumbuh di rahimnya, membesar dan kian membesar oleh putaran waktu. Malaikat dan setan bertaruh pada masa-masa sulit karena ketika itu perang masih begitu purba dan manusia bisa saja memakan tubuh manusia yang lain.

Malaikat bertaruh, “Aku percaya suatu saat anak ini menjadi pahlawan.” Setan terpingkal-pingkal, sebelum akhirnya menanggapi, “Baiklah, kau percaya dia jadi pahlawan. Aku malah menduga anak ini suatu saat tumbuh menjadi bajingan.”

Demikianlah, suatu pertaruhan terjadi tanpa sepengetahuan ibuku yang memang seumur hidupnya tidak terlalu mengenal malaikat atau setan; juga tentu saja, tidak bisa tidak, tanpa sepengetahuan diriku yang masih setengah manusia dalam perut seorang wanita.

Setahun kemudian, mungkin, aku sudah bisa disebut manusia karena bentukku ini tidak lain seonggok bayi. Alangkah suci, kata biarawan di gereja tempat Ibu tersungkur karena malam itu, malam di saat aku dilahirkan, badai besar melanda kota dan ia tidak bisa pulang.

Biarawan memberi kamar khusus, tempat gelap tapi harum, dan di sana tinggal seorang nenek yang mengaku tersesat dan tidak tahu jalan pulang.

Kata Ibu-beginilah kelak ketika aku dewasa, kudengar dari orang, “Mau jadi Ibu saya? Tapi, saya cari uang dulu. Adakah pekerjaan di pasar? Apa saja, yang penting saya bisa dapat uang. Lalu saya nabung. Mungkin, dua sampai tiga bulan. Setelah itu, kita pergi sama-sama.”

Kalimat itu terasa ganjil di kuping si nenek yang entah berasal dari kasta mana; Ibu memang tak pernah mementingkan hal itu, meski berkali-kali dalam materi di sekolah bab kasta berusaha dijejalkan tangan-tangan licik para guru yang berada dalam kontrol seorang raja.

“Ka, kamu... Sepertinya saya pernah melihatmu,” tukas si nenek.

Perempuan muda yang hamil geming. Kusir dari negeri antah berantah telah mati dipancung; ia tak bisa mengancam apa-apa, karena ayahnya adalah raja. Raja selalu berhak atas apa pun, termasuk nyawa bayi di rahimnya. Nyawa calon cucu! Raja selalu berhak berbuat apa pun, termasuk menangkap dan memenggal si kusir tanpa identitas, karena putrinya tak sudi dinikahkan dengan anak dari sobat lamanya di negeri seberang, sehingga dengan gila mengemis benih pada kasta rendahan. Harapannya: terhindar dari pernikahan yang ia tak ingini.

***
Sudah empat puluh dua kali Jun melayaniku; entah di lapangan, entah di ranjang. Artinya, sudah empat puluh dua tubuh kubawa dan akhirnya mati.

Yang paling kuingat-sungguh, di bagian ini, ingatan adalah barang berharga yang rekat di otak seakan dibalur lem besi-adalah saat aku masuk ke tubuh seorang penari. Jun datang sebagai murid dan ia tanpa orangtua. Orang tentu saja tidak curiga. Ia lelaki, aku lelaki-jiwaku, maksudku-dan aku dalam tubuh perempuan.

Penari yang malang. Ia harus berkelana di sepanjang tebing dekat mercusuar, atau kalau tidak, bila ia tidak suka suasana gelap mencekam, meski hantu sekalipun, jiwa si penari sesekali tampak di antara pilar-pilar gereja. Kudengar, dari ahli nujum yang jadi sahabatku, “Dia benar-benar gila. Penari itu mengadu pada Yesus agar kau dihukum dan masuk ke tubuh sang penebus dosa-di hari ketika pasukan Romawi menggiringnya ke atas bukit, tentu saja.”

Aku tertawa terbahak-bahak. Kubayangkan aku terbang melintasi waktu dan hidup di tubuh Yesus, lalu disiksa dan disalib. Alangkah mengerikan. Tapi, kubilang apa? Aku bisa hidup di seribu tubuh warna-warni dan aku tak mati kecuali dalam tubuhku sendiri.

Begitulah.

Aku mengilhamimu. Kau paham? Raja itu dulu membikin cacat anakku dan dia dibuang ke lembah setan. Dialah yang akhirnya hidup di tubuh orang mati untuk membunuhi kaki tangan Yang Mulia, karena ayahmu sama sekali tak tersentuh!”

“Benarkah? Saya tidak tahu cerita itu. Saya juga tidak percaya di negeri kita ada seorang nabi.”

“Bukan nabi. Tepatnya, orang yang sangat suci dan jauh dari perbuatan dosa atau laknat, hingga banyak yang menganggapnya nabi.”

“Lalu?”

“Lalu orang suci itu mati-jiwanya pergi ke bukit tempat Yesus disalib dan di sana mulai meratap-ratap, tetapi ia sendiri mulai tidak yakin pada siapa ia harus menyembah, karena toh nyatanya, sesuci apa pun manusia, kalah juga dengan yang namanya setan dan ia siap digiring ke neraka. Haha. Tidak adil, bukan? Neraka bagi orang suci adalah bayaran seperti kau menjual susu segar dan ditukar darah tikus. Ayahmu perayu andal! Si suci, dengan bayaran menggiurkan, turut mencoreng belang di jidat anakku sehingga ia malu dan merasa dikhianati. Ia benar-benar dibuang.”

“Saya prihatin, Bu. Ayah saya memang kurang mengutus Jun untuk tugas berat menculik beberapa musuh, mereka yang turut membuangku dari kehidupan sosial, untuk kupakai tubuhnya dan kuperankan mereka dengan seburuk-buruk skenario. Pria wanita, tua muda, kaya miskin, tiap orang akan lepas dari tubuhnya dan tersesat entah ke mana. Dan salah satu cara membunuh karakter adalah seks bebas dengan Jun, pelayan setiaku. Tentu saja itu berlaku jika perlu. Maksudku, jika aku masih harus kehilangan tubuhku.

***
Aku lahir membawa dendam. Cerita ini juga kudengar dari seseorang. Nenek itu, yang sempat hidup di ruang belakang gereja, memiliki kisah ajaib yang setengah ibuku percayai. Kisah pembalasan dendam seorang setan pada nabi dengan merasuki tubuh si nabi untuk bikin kekacauan. Aku sendiri tidak pernah dengar kisah itu. Memang itulah dongeng. Karangan si nenek yang belakangan diketahui Ibu sebagai pengikut iblis.

“Lihat, Anakku,” katanya penuh tekanan, “kisah ini mestinya ajar.”

“Tidak cuma itu. Anakku, kau tidak tahu, anakku yang malang itu benci aturan di semua agama yang disebar di sini. Dia tidak mengenal Tuhan, tetapi juga menentang raja yang suka bikin aturan sinting. Hak-hak rakyat dirampas, kurasa kau tahu bagian ini.”

“Baiklah. Ceritakan ending-nya. Saya tidak sabar dan waktu kita sedikit, Bu.”

“Anakku itu hidup di tubuh seorang korbannya-ya, nabi itu. Setelah memakai mayat hidup guna membunuhi musuh satu per satu, ia kira pembalasan yang lebih manis bukan lagi soal kematian, tapi sejarah. Pembunuhan, betapa pun sadis, akan dikenang sebagai kematian yang tak patut. Sedang sejarah, ia akan ada sebagai kenyataan, yang tidak lepas bila suatu hari nanti, seribu tahun lagi, kau membahas nama seorang tokoh di kelas dengan bocah-bocah kecil yang bodoh. Sebut saja, sejarah buruk untuk musuhmu. Tidakkah itu manis?”

Ibu-sebagaimana cerita yang kudengar dari orang-mengangguk pelan saat itu. Ia tahu cara tepat membalas raja.  Orang yang merusak hidupnya, membunuh cintanya ke seorang kusir tak bernama, dan memaksa pernikahan yang tidak ia ingini.

***
Sayang sekali. Kadang-kadang, racun tikus tidak membunuhmu, kecuali apa yang ada di tubuh. Hanya tubuhmu yang mati dan jiwamu bertahan di udara bebas, melayang tidak jelas, setiap hari, sepanjang tahun, selamanya-kaulah kisah hantu yang ditutur ke para bocah sebelum gelap merayap tanah. 

Itulah yang terjadi.

Ibu meminum ramuan dari si nenek, yang kemudian mati karena iblis meminta ia pulang ke rumah, ke neraka. Setelah nenek itu mati, Ibu kejang-kejang dan mengejanku dalam wujud seonggok bayi. Ibu mati malam itu juga, tanpa mewarisi pengaruh ramuan, tanpa sempat membalas ayahnya, sedangkan aku dipungut biarawan, dibesarkan dan dididik dengan pengetahuan: anak ini mewarisi bakat iblis.

Biarawan berusaha mengarahkanku ke kehidupan malaikat. Di langit sana, si setan ketar-ketir sebab akan kalah taruhan. Barangsiapa kalah, dilarang membisiki anak Adam selama beratusratus tahun. Malaikat tahu, betapapun tubuhku terkena pengaruh ramuan perasuk seribu warna, aku tetap menjadi pahlawan jika jatuh ke tangan orang yang baik.

Setan tidak puas. Ia kerahkan daya upaya untuk membelokkan niat biarawan. Dan, ya, seperti yang akhirnya ditebak; ialah setan berjaket manusia. Aku dibimbing dengan cara lain dan malaikat tidak tahu itu.

Setan di tubuh biarawan berperan dengan baik pada pagi hari dan malamnya ia mendudukkanku di ruang rahasia untuk memperdalam ilmu mustahil.

“Kau berbakat, Anakku,” katanya.

Ketika satu per satu orang berbuat jahat padaku dan aku mulai benci hidupku, setan itu membuat pengakuan panjang. Sejarahku kupahami; dari benih siapa aku lahir, bagaimana Ibu mati, dan kenapa aku dibenci orang. Raja tahu aku cucu yang dulu tidak jadi mati. Dan ia masih berkuasa saat itu, sampai tubuh remaja yang kubawa hilang oleh penculikan dan jiwaku terbang mencari tubuh lain, untuk kemudian menghabisi setiap orang yang membuatku susah.

***
Kisahku berakhir setelah sang kapten terbunuh. Aku tidak perlu cerita soal kapten ini-dia urusan pribadi. Aku tinggal menunggu Jun memanggul tubuh remajaku, yang diawetkan di ujung dunia oleh pengikut iblis, oleh nenek angkatku tepatnya. Mereka girang, karena setelah peranku sebagai bajingan dari tubuh ke tubuh, malaikat tidak bisa membisiki manusia selama beratus tahun untuk berkelakuan sesuai kitab suci.

Pada hari itu kerusakan makin menjadi. Dari satu kota ke kota lain, dari satu negeri ke negeri lain, seluruh dunia, semua diliputi dosa. Kelak Tuhan memilih negeri paling rusak, paling jahanam, untuk dilahirkan seorang nabi sejati. Di masa itu aku sudah mati, karena Jun membawa pulang tubuhku sore ini, sebelum kuterjunkan raga sang kapten ke mulut hiu. Jiwaku melayang ke tubuh remaja yang sepuluh tahun lalu kutinggalkan. Jun, mendadak saja, terlalu tua untuk menjadi kacungku. (92) 

Gempol, 11-12-15

Ken Hanggara lahir 21 Juni 1991. Menulis puisi, cerpen, dan esai. Karyanya terbit di media-media lokal dan nasional.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ken Hanggara
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" Minggu 13 Desember 2015

0 Response to "Para Perasuk"