Pelawak Tua | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pelawak Tua Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 10:30 Rating: 4,5

Pelawak Tua

KINI usia Darman sudah hampir kepala lima. Ia mulai merasa letih. Prapto, sulungnya, belum juga selesai kuliah, meski sudah lima tahun. Bisanya cuma minta kiriman uang. Padahal, sebagai pelawak desa, penghasilan Darman tak menentu. Goyang ndang-ndut dan acara televisi jauh lebih menarik ketimbang lawakannya. Di daerahnya ia memang tak punya saingan. Ia sendiri tidak tahu entah kenapa generasi setelahnya pada ogah jadi pelawak. Mungkin karena sudah jarang sekali ada orang mau nanggap. 

Setelah dua bulan terakhir tak satu pun orang menanggapnya, bulan ini Darman mendapat panggilan manggung dari warga yang punya hajad. Tempatnya lumayan jauh, di bagian paling utara kecamatannya sementara ia tinggal di wilayah selatan. Ia melirik motor tuanya yang sudah lama mangkrak di sudut ruang. Itulah kendaraan yang selalu mengantarnya.

Darman lalu melingkari satu angka dalam kalendernya dengan spidol begitu ia menerima uang panjar untuk pentasnya.

”Alhamdulillah, Pak! Ada rezeki,” kata istrinya bersyukur.  

”Gusti Allah tahu persediaan bahan makanan kita sudah habis.”

”Iya, Bu. Gusti Allah tidak sare!”

Baru saja mengakhiri kalimatnya, ponsel tuanya menjerit. Prapto yang kuliah di kota menelepon untuk meminta kiriman uang.

”Ini penting sekali, Pak!” teriak Prapto di seberang sana.

Darman terhenyak begitu menutup telepon. Ia menatap istrinya persis pada saat istrinya juga sedang menatapnya.

”Gimana, Pak?Apa Bapak bisa usahakan uang itu?” tanya istrinya.

Darman hanya diam.

Dua hari kemudian, Darman kedatangan tamu orang yang hendak menanggapnya lagi. Tempatnya berada di luar kecamatan, dan cukup melelahkan apabila ditempuh dengan motor tuanya. Toh demikian ia menyambutnya dengan suka cita.

”Hari dan tanggalnya kapan, Pak?” tanya Darman bersemangat.

Darman jadi tercenung saat diberi tahu waktunya. Sebab, hari dan tanggalnya sama persis dengan tanggapan yang sudah disepakati. Bedanya hanya soal jam. Penanggap pertama memintanya manggung pada jam tujuh malam, sementara yang kedua ini pada pukul delapan. Sedangkan ia harus melawak sekitar dua jam.

”Maaf, Pak! Waktunya bertumbukan dengan tempat lain,” katanya.

Tamu itu tampak kecewa. Darman lalu menghitung secara matematika. Ia berinisiatif akan memotong
waktu seperempat jam saat melawak di tempat penanggap pertama. Lalu ia akan datang terlambat seperempat jam di tempat penanggap kedua. Dengan demikian ia punya waktu setengah jam untuk perjalanan dari tempat yang satu ke tempat yang lain.

”Kalau acara di tempat Bapak itu dimulai jam sembilan, saya bisa, Pak!” katanya pasti.

”Saya tidak bisa memberikan keputusan sekarang, Pak Darman,” balas tamunya. 

”Saya akan berembug dulu dengan keluarga. Kalau kami tidak sepakat, nanti dikabari lewat telepon.”

Ia yakin usulannya akan disepakati. Dan oleh karenanya, soal sulungnya minta kiriman uang akan teratasi. Tapi istrinya tidak setuju dengan cara yang hendak ia tempuh itu.

”Bapak nanti capek, bisa jatuh sakit. Bapak harus jaga kesehatan.”

”Nanti akan kutebus dengan istirahat yang lebih lama, Bu.”

Esoknya, tamu yang sama datang lagi dan menyatakan setuju. Maka tamu itu serta-merta meninggalkan sekadar uang muka sebagai tanda jadi.

Apa yang ia lakukan setelah itu adalah menyervis motor tuanya yang sudah lama mangkrak. Sedikit pengetahuannya tentang mesin motor membuatnya berha
-
sil menyehatkan kendaraan tuanya itu. Untuk menguji hasil kerjanya, ia menaiki motor itu keliling desa.

Menjelang berangkat, cuaca tampak kurang bersahabat. Mendung menggayuti langit sejak siang tadi, dan menjadi tambah tebal pada malam harinya. Ia khawatir pas di perjalanan hujan bercurah deras. Padahal kondisi kesehatannya sedang terganggu lantaran semalam ia sulit tidur.

”Kalau hujan berteduh dulu ya, Pak! Jangan diterabas!” pesan istrinya.

”Iya, Bu. Mudah-mudahan tidak hujan.”

Setengah jam sebelum acara, Darman berangkat. Dengan motor tuanya ia membelah angin malam yang dingin. Beruntung sampai di tempat tujuan tak terhalang hujan. Namun rasa mual di perutnya mulai bergulung-gulung. Sebentar-sebentar ia ingin muntah. Mungkin terlalu banyak angin bersarang di rongga perutnya.

Ia tambah merasa tertekan karena lawakannya tidak mampu memancing tawa penonton yang rata-rata kaum muda. Sesebentar ia disoraki, namun bukan sorak kekaguman melainkan sorak cemooh. Teriakan ”huuuuu...” dan ”Turun! Turun!” terus memberondongnya sepanjang pertunjukan. Akhirnya Darman menyudahi lawakannya sebelum habis waktunya.

”Maaf sekali kondisi kesehatan saya kurang baik,” katanya kepada yang punya rumah.

Yang dimintai maaf hanya tersenyum simpul tanpa komentar sepatah kata pun.

Dalam kondisi kesehatan yang makin memburuk itu Darman memaksakan diri memacu motornya menuju tempat kedua. Ketika hampir sampai, hujan bercurah deras. Seluruh pakaian Darman kelebus dan basah kuyup.

Karena sudah terlambat, ia langsung naik panggung. Celana dan jaketnya yang basah membuat tubuhnya menggigil. Namun, gigil yang menyiksanya itu justru mengundang tawa geli penonton. Darman sedikit bersemangat karena tawa itu. Begitu juga ketika ia menahan rasa mual mau muntah, gerak-geriknya justru mengundang applus para tamu.

Demikianlah, akhirnya ia pulang dengan sisa tenaganya. Saat tiba di depan rumahnya, tubuhnya serasa melayang. Ke-palanya begitu berat, dan karena rasa berat itu ia terhuyung-huyung. Ia berhasil mencapai pintu dan menggedornya.

Saat itulah ia tak mampu bertahan lagi sehingga jatuh tersungkur dan pingsan. Istrinya meraung-raung. Beberapa tetangga datang memberikan pertolongan. Darman segera diangkut ke Puskesmas. Dokter jaga segera memeriksa. Istri Darman menangis cemas, tapi dokter hanya tersenyum.

"Tidak apa-apa. Suami Ibu hanya menderita tekanan jantung ringan. Hanya perlu banyak istirahat,” kata dokter. 

”Saya anjurkan, paling tidak seminggu sekali bapak ini harus menonton pertunjukan pelawak yang lucu....” θ -k

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Nadjib Kartapati Z 
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" Minggu 13 Desember 2015

0 Response to "Pelawak Tua "