Penalti Nomor 21 | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Penalti Nomor 21 Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 10:30 Rating: 4,5

Penalti Nomor 21

SATU-SATUNYA orang yang meragukan kemampuan saya mengeksekusi penalti ialah Rahmat Yanis. Laki-laki menyebalkan. Ia bagian tak terpisahkan dari satu periode masa muda saya, yang mendadak muram, dan menjelma mimpi buruk sampai kini.

Sejumlah orang yang saya kenal mengganti nama depannya dengan nama lain yang kedengaran aneh jika diucapkan, Lev. Dia Pelatih Kiper PS Kenari, klub legendaris di kampung kami. Klub impian setiap bocah laki-laki yang mulai merasa bisa menendang bola. Seperti terhadap Pak Gelowo, Pelatih Kepala PS Kenari, saya juga memanggilnya coach. Panggilan yang awalnya janggal, sebab jika tak sedang berada di lapangan, saya memanggilnya ayah. Dia menikahi ibu saya beberapa pekan sebelum saya menamatkan sekolah dasar, empat tahun setelah kematian bapak. Kau tahu, ada dua pertanyaan yang kerap diulangnya setiap kesebelasan kami akan bertanding di babak-babak dengan sistem gugur.Satu, mengapa Argentina bisa maju ke final Piala Dunia 1990 meski mainnya menyedihkan? Dua, apa yang membuat PSMS menekuk Persib di final Kompetisi Perserikatan 1983 dan 1985? Jawaban saya: Argentina cuma beruntung. PSMS, selain beruntung, juga unggul dalam perkara semangat dan mental bertanding.

Dia tak pernah sepakat. Bilangnya, Dewi Fortuna memang hadir di Italia, jatuh cinta pada Maradona, dan memberi seluruh kebaikannya pada Argentina. Namun kunci keberhasilan Argentina ialah kejelian kiper dalam membaca arah tendangan penalti lawan. Begitu pula PSMS.Ponirin tak lebih beruntung dari Sobur. Ia lebih jeli hingga mampu menghempang dua tendangan penalti Persib pada 1983, tiga tendangan di tahun 1985.

Saya tidak berani menyangkalnya untuk Ponirin dan Sobur. Statistik-statistik ini, entah benar entah ngawur, saya tak tahu, karena PSMS dan Persib di dua final Perserikatan itu cuma meninggalkan jejak kabur dalam ingatan saya.Tapi untuk Argentina di Piala Dunia 1990, saya punya Andreas Brehme. Suatu hari, sejak percakapan menjengkelkan ini mulai jadi rutinitas, saya balik bertanya padanya: kenapa Sergio Goycochea, kiper Argentina yang dibangga-banggakannya itu, gagal menahan tendangan penalti Brehme? Saya merasa menang.

Tapi justru di sinilah letak kesalahan terbesar dalam hidup saya. Jika saya tidak bertanya, mungkin tendangan penalti saya tak menerpa tiang gawang CYC dan kami melaju ke semifi nal turnamen Piala Camat Lubukpakam. Tendangan gagal yang menutup peluang saya terjaring seleksi pembentukan skuat PSDS yang bakal diterjunkan ke Liga Indonesia, kompetisi baru racikan PSSI, gabungan Perserikatan dan Galatama.

Lebih dari itu, pupus pula harapan saya mendekati Anamira. Alamakjang, mengenangnya masih saja membuat hati saya seperti diperasperas. Saya mengenal Anamira sejak bocah.

Dia anak pejabat perkebunan di tempat ayah saya bekerja sebagai kerani. Dia baik. Ayah dan ibunya juga baik. Namun sejak jauh hari, bahkan sebelum saya belum paham alasan yang membuat wajah Anamira bisa menyelinap ke dalam tidurtidur saya, ayah dan ibu telah mewanti-wanti untuk tahu diri. Tak usah macam-macam, nanti periuk kita bisa terbalik, bilang mereka.

Saya menurut, namun tak menyerah. Diamdiam, saya tetap menyimpan harapan, suatu saat saya akan datang padanya dalam posisi yang telah berbalik, atau setidak-tidaknya sejajar.Ada beberapa jalan, tapi saya kira, jalan sebagai pesepak bola yang paling mungkin saya tempuh. Sepak bola, pertama, bisa membuat saya terkenal. Kedua, siapa tahu setelahnya saya dipekerjakan sebagai pegawai negeri. Sebagian besar pemain PSDS bekerja di kantor pemda, PLN, dan Dinas PU. Alasan lain, Anamira menyukai sepak bola.Ayahnya juga. Sebelum memutuskan gantung sepatu karena cedera parah dan meneruskan kuliah di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, ia pernah merumput untuk Pardedetex dan Mercu Buana.

Kau tahu, kawan? Semestinya rencana ini bisa terwujud. Namun potensi nasib yang ciamik akhirnya pergi setelah saya terpengaruh oleh jawabannya. Goycochea, kata ayah tiri saya, sesungguhnya bukan teperdaya. Hanya kalah cepat karena Brehme menerapkan teknik mengeksekusi penalti jitu. Teknik nomor 21. Di antara 28 teknik mengeksekusi penalti, teknik nomor 11, 19, dan 21 paling ditakuti kiper. Jika dilakukan dengan benar, eksekusi 99 % akan berhasil. Sebaliknya, meleset sedikit saja akan membuat pemain kehilangan kendali atas bola.

Dibanding teknik nomor 11, Signori Style, dan teknik nomor 19, Panenka Style, teknik nomor 21 lebih rumit. Pertama-tama pemain mengambil posisi berdiri sejajar bola di titik 12 pas, berjarak sekitar lima sampai enam langkah. Kemudian, saat mengambil ancang-ancang sebelum berlari, pemain bergeser sedikit ke kiri atau ke kanan. Kiper akan melihat pergeseran ini dan memperkirakan arah bola. Pemain dengan tendangan kaki kanan umumnya mengarahkan bola ke sisi kiri kiper. Demikian sebaliknya.Hanya pemain berteknik tinggi dan kepercayaan diri besar berani melakukan silang arah. Teknik nomor 21 menjungkirbalikkan perkiraan ini.

Meski punya dua kaki sama kuat, Brehme lebih sering menggunakan kaki kiri. Tapi di laga final itu, dia menendang dengan kaki kanan. Brehme eksekutor pilihan di tim nasional maupun klubnya saat itu, Inter Milan. Brehme tahu Goycochea telah mempelajari pergerakan-pergerakannya.Maka dia melakukan sedikit tipuan.

Belakangan saya sadari Rahmat Yanis sialan itu sebenarnya ngibul belaka.Brehme tak persis melakukan seperti yang ia paparkan.Bahkan boleh jadi saat itu belum ada teknik eksekusi nomor 21. Bahwa tendangan ajaib ini benar-benar dilakukan Ezequiel Calvente pada laga tim nasional U-19 Spanyol kontra Italia, 24 Juli 2010, saya kira persoalannya lain. Saya juga yakin dia bukan ahli nujum yang bisa melihat masa depan. Masalahnya, waktu itu saya percaya.

Skor 3-2 setelah kiper kami gagal menghadang tembakan eksekutor kelima CYC. Saya harus mencetak gol untuk memperpanjang napas kami. Saya harus menaklukkan Zainuddin, kiper CYC yang sebelumnya kiper kesebelasan kami.Zainuddin hafal luar kepala bagaimana kebiasaan saya mengeksekusi penalti.

Sebenarnya saya tak gentar. Zainuddin memang tahu kebiasaan saya. Namun saya ingat, dalam setiap latihan saya selalu menaklukkannya. Saya lebih cepat. Tapi begitulah. Saat meletakkan bola di titik 12 pas, mendadak saya disergap ragu.Benarkah saya masih lebih cepat? Bagaimana jika selama bergabung di CYC kecepatan Zainuddin meningkat dan dia jadi lebih cepat dari saya?

Tepat pada saat wasit meniup peluit, saya memutuskan memakai teknik nomor 21. Saya bergerak ke kiri, lalu mengubah arah lari dan menendang bola ke sisi kanan Zainuddin dengan kaki kiri. Dia menjatuhkan diri ke kiri. Sudah pasti gagal menjangkau bola. Sayangnya, saat menendang kuda-kuda saya tak kukuh. Saya terpeleset dan bola yang tercungkil tak sempurna melesat liar, menerpa tiang gawang.

“Pak, pertandingannya sebentar lagi dimulai,“ kataku menyela celotehnya.

Tak banyak orang datang ke bar kami akhir pekan ini. Aku bisa sedikit bersantai.Mengerjakan racikan minuman dengan tenang tanpa merasa diburu-buru. Tak ada teriakanteriakan menjengkelkan dari waitress. Aku bahkan bisa duduk-duduk ngobrol sembari mendengarkan musik dan menonton televisi.

Di bar hanya ada lelaki paruh baya ini, tiga laki-laki berdasi, dan dua perempuan yang berpenampilan sama necis, yang setelah memesan minuman tenggelam dalam kebisuan masing-masing. Di beberapa meja duduk orangorang yang mengenakan atribut klub sepak bola.Semacam suporter dari kelompok yang lebih elitis.

Tidak seperti mereka, laki-laki ini bukan suporter klub yang akan bertanding. Ia mengaku sekadar nyasar. Suntuk dengan kesendirian dan tak tahu harus ke mana dan berbuat apa untuk mengusirnya. Tadinya, setelah menghabiskan dua gelas bir, ia hendak beranjak. Namun dibatalkannya, lantas mulai menuturkan kisah masa lalunya sebagai pesepak bola, setelah kukabarkan bahwa akan ada pertandingan Liga Inggris yang disiarkan langsung di televisi.

“Ah, merah lawan kuning, ternyata, ya. Saya pegang yang kuning. Ayo, kawan, kau mau bertaruh? Segelas dua gelas bir supaya seru,“ katanya.

Aku tertawa. “Yakin, Pak? Yang merah Manchester United, lho. Dan malam ini pertandingan di Old Trafford.“

“Yang kuning?“ “Watford.“

Ganti dia yang tertawa. “Tak masalah,“ ujarnya.“Merah lawan kuning. Saya teringat PSDS menjamu Persija di Lubukpakam, 12 Februari 1992. Persija datang dengan pemain-pemain nasional. Kamaruddin Betay, Patar Tambunan, Rahmad Darmawan, dan masih banyak lagi.Tapi PSDS menjungkirbalikkan perkiraan. Gol Kamaruddin Betay dibalas Suherman. Satu poin berharga yang membuat PSDS bercokol di urutan ketiga klasemen wilayah barat di akhir musim, dan lolos ke babak enam besar di Senayan. Ah, seandainya penalti saya tidak gagal, saya pasti akan bermain di Senayan juga.“

Dia terus mengoceh, dan di televisi, sepak bola Inggris yang selalu cepat dan tajam langsung menghadirkan hentakan. Juan Mata yang meringsek ke jantung kotak penalti dijatuhkan dan Michael Oliver tanpa ampun menunjuk titik putih.

Wayne Rooney mengeksekusi dengan dingin sekali. Ia melangkah mundur kira-kira tiga meter dari bola, serong ke kiri kurang lebih 15 derajat, lalu berlari cepat dan menghantamkan bola sangat keras. Bola melesat menyusur tanah menghunjam jala gawang di sisi kanan kiper.

Aku sebenarnya ingin bertanya padanya, teknik eksekusi penalti nomor berapa yang digunakan Rooney. Tapi kuurungkan. Nanti ocehannya akan semakin panjang.

2015 

T Agus Khaidir, cerpenis, dan penyuka sepak bola. Ia tinggal di Medan.

Rujukan:
[1] Disalin drai karya T Agus Khaidir
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 6 Desember 2015 

0 Response to "Penalti Nomor 21"