Perempuan Penjual Pisang | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Perempuan Penjual Pisang Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 19:36 Rating: 4,5

Perempuan Penjual Pisang

SUARA perempuan tua di remang warung kopi memecah lamuna n Bey malam itu. Suhu saat itu lumayan dingin. Bey menatap perempuan tua itu, tergambar jelas guratan-guratan penuh beban di wajahnya, kusam, matanya terlihat lelah tetapi tetap lembut dan enak dipandang.

"Pisangnya Pak, murah." Perempuan tua itu menawarkan sesisir pisang yang ia bungkus dengan kantong plastik hitam. 

Bey terdiam sesaat. Ia berpikir, kasihan sekali perempuan tua di hadapannya. Di malam yang cukup membuat tubuh kedinginan itu, ia nekad menjual sesisir pisang yang ia bungkus dengan kantong plastik. Tanpa jaket atau baju tebal, hanya kebaya tua dengan sedikit tambalan di pergelangan tangan kirinya.

Bey memutuskan akan membeli pisang tersebut. "Ah tapi, bagaimana kalau ia bukan menjual sesisir pisang tapi memang pisang yang ia jual sisa satu sisir lagi," batin Bey terus berontak memutuskan antara membeli pisang atau tidak.

Tiba-tiba, kepalanya digelengkan tanda Bey tidak berminat membeli. "Tidak nek, maaf."

Kemudian perempuan tua itu tersenyum dan akhirnya meninggalkan Bey yang masih asyik dengan kopi yang masih panas di depannya. Bey melihat perempuan tua itu yang semakin menjauh dan kini menghampiri mbok pemilik warung kopi. Tak lama pemilik warung kopi itu pun menggelengkan kepala tanda ia juga tak berminat untuk membeli.

Batin Bey terus berontak. "Ia pasti sedang butuh uang, kalau tidak untuk apa dia menjual sesisir pisang malam-malam begini," pikirnya.

"Nek, tunggu. Berapa harga pisangnya?" Bey memutuskan akan membeli pisang itu. Ia melihat senyuman terpancar dari wajah penjualnya. Mungkin perempuan tua itu merasa lega dagangannya akhirnya laku.

"Empat ribu saja, Pak."

Bey tersenyum lagi. Ia mengambil dompet dari kantongnya dan memberikan uang pecahan lima puluh ribuan.

"Tidak usah dikembalikan Nek. Ambil saja sisanya."

Perempuan tua itu terdiam sejenak seolah tak percaya atas apa yang terjadi.

"Ini tidak kebanyakan, Pak?"

"TIdak, ambil saja Nek."

Wajah mendung yang semula melekat pada perempuan  tua itu akhirnya memancarkan senyum. Senyum yang akhirnya membuat matanya hampir menumpahkan air mata.

***
MALAM semakin larit dan dingin. Tetapi warung kopi itu malah semakin ramai. Segelas kopi yang semula menemani Bey kini berganti dengan segelas arak, gelak tawa wanita penghibur, kartu remi yang sedang ia genggam dan lagu Sepasang Mata Bola yang sangat memanjakan telinga. 

Semua uang Bey hampir habis karena tidak pernah sekalipun menang. Tapi ia masih menyisakan uang untuk membeli nasi dan obat batuk untuk ibu angkatnya yang sedang terbaring sakit. Bey memang gemar minum arak dan main judi sampai pagi. Tapi setelah ibu angkatnya jatuh sakit, ia harus pulang tengah malam, menemani ibunya. Ia sangat mencintai wanita yang sedari kecil merawat dan membesarkannya. 

Bey masih diam dan menatap pisang. Teman-temannya ikut heran kelakuan Bey yang tampak sedang memikirkan sesuatu.

***
SEPERTI biasa, sepulang kerja, pukul 17.00 lebih beberapa menit, Bey selalu kongkow bareng teman-temannya di warung kopi langganan sampai larut malam.

Suasana sore itu ramai, juga bising: suara teve yang menayangkan acara gosip murahan berpadu dengan pengamen yang suaranya tidak karuan, plus suara kendaraan membuat telinga seperti mendapatkan cobaan yang berat.

"Pisangnya Pak, murah." Perempuan tua itu mencoba menawarkan pisang yang lagi-lagi hanya sesisir dengan dibungkus kantong plastik hitam kepada Bey dan temannya.

Bey terdiam sesaat. Ia melihat wajah perempuan tua itu, guratan di wajah penuh beban masih nampak pada perempuan tua penjual pisang itu, tetapi Bey senang memandang matanya. bagi Bey, mata penjual pisang itu teduh dan enak dipandang.

"Saya beli Nek."

Perempuan tua itu tersenyum lebar. Hangat tapi menyejukkan.

"Ini uangnya, kembaliannya ambil saja Nek." Bey menyodorkan uang pecahan lima puluh ribuan.

Perempuan tua itu mengucapkan banyak syukur dan doa untuk keselamatan Bey dan keluarga.

Bey melihat perempuan tua itu meninggalkannya dengan senyum di bibirnya. Ia pandangi pisnag itu, melengkung seperti senyuman hangat penjualnya. Begitu hangat.

***
MALAM semakin larut. Kali ini Bey tidak ikut main kartu bersama teman-temannya. Ia hanya duduk dan memandangi pisang yang tadi ia beli. Dengan ditemani arak dan sepiring kacang tanah teman-temannya kebingungan tentang sifat temannya yang akhir-akhir ini terlihat aneh dengan memandangi sesisir pisang, lama sekali.

Tik-tok jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Bey harus pulang untuk menemani sang ibu yang masih etrbaring sakit. Sepanjang jalan ia berpikir, kenapa perempuan  tua itu selalu menjual pisnag yang hanya sesisir? Sesaat kemudian pandangan mata Bey kabur, efek arak yang ia minum terlalu banyak mulai terasa. Ia menghentikan mobil. Kepalanya pusing sekali. Memang, tadi sore ia minum lebih banyak dari hari biasa. Ia tak bisa berhenti lebih lama, Bey teringat ibunya yang sedang sakit. Ia harus segera pulang.

Mobilnya kembali melaju. Bey menyetir sambil menahan pusing kepalanya. Kali ini, pusing tak bisa ia tahan. Mobilnya oleng. Kemudian menabrak seorang perempuan tua  yang terasa tak asing lagi bagi Bey. Perempuan tua itu menjerit kemudian terpental dihantam badan mobil yang melaju cukup kencang.

Bey terkejut bukan main, ia segera turun dari mobil. Jalannya sempoyongan karena belum sepenuhnya sadar dari mabuk. Ya, orang itu tak asing lagi. Ia yang menjual pisang tadi sore.

Perempuan tua itu tergeletak sambil menggenggam seikat bunga dan nasi bungkus. Pada bunga itu ia menemukan tulisan: "Selamat ulang tahun anakku yang hilang 23 tahun lalu. Hari ini ulang tahunmu, di mana kamu Nak?"

Bey menggeledah kantong perempuan tua itu, untuk mengetahui identitas perempuan yang ia tabrak. Bey menemukan dompet. Napas Bey sangat sesak, air matanya meleleh setelah ia menemukan foto anak kecil  di dalam dompet perempuan itu. Semakin lama ia melihat foto itu, semakin ia merasa sesak. Tangisnya semakin menjadi-jadi. Ia seperti kenal foto anak kecil itu.

"Nek, nenek sebenarnya siapa? Foto siapa yang ada di dalam dompet nenek?" Bey bertanya sambil menggoyang-goyangkan tubuh perempuan tua itu.

Namun perempuan tua itu hanya  tersenyum hangat, kedua bola matanya teduh. Sesaat kemudian napasnya terhenti. []

Taufiq A Prayogo. Mahasiswa fakultas kedokteran yang sedang belajar menlis di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Taufiq A Prayogo
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 13 Desember 2015

0 Response to "Perempuan Penjual Pisang"