Pewarta Mengikuti Air Mengalir - Perawan Berlari - Biji - Pangkal Lidah - Daun Langit | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pewarta Mengikuti Air Mengalir - Perawan Berlari - Biji - Pangkal Lidah - Daun Langit Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:53 Rating: 4,5

Pewarta Mengikuti Air Mengalir - Perawan Berlari - Biji - Pangkal Lidah - Daun Langit

Pewarta Mengikuti Air Mengalir

Setelah tumbuhan mengigau, pewarta mengikuti air mengalir.

Sejenak, pewarta memotret makna: "Buah kelapa jatuh. Seekor monyet berlari. Dan seekor ular tidur. Dan gunung membuka ruang tersembunyi. Candi asing terlihat dengan rupa berkilat."

Pewarta mencatat di buku saku:

       1. Di candi asing ada perempuan
           seperti menunggu kekasih. Tapi ia terbuat dari
           batu. Atau ia dikutuk oleh seseorang. Atau
           penyihir telah dengki padanya. Tak ada mata
           di wajah perempuan itu.

       2. Ada kamar senjata. Setiap senjata selesai dibuat
           selalu disimpan di lubang gaib. Tapi ada
           yang aneh, setiap senjata selesai dibuat meneteskan
           air mata. Dan si pembuat senjata seperti empu
           yang melewati pelbagai rintangan.

Menghitungi jumlah anak tangga, pewarta khusuk menghadap anak tangga candi asing. Dan pewarta girang setelah merujuk buku saku. Pandangan dan perabaan pewarta mengikat.

Ucap pewarta, siapa yang berjanji dengan gunung sehingga candi asing dipenuhi lumut. Barangkali perempuan itu atau si pembuat senjata. Dugaan pewarta sirna ketika ditemukan kolam yang mewadahi air mengalir tadi.

Surakarta, 2015

Perawan Berlari

Perawan berlari. Jubahnya hampir terlepas
setelah tersangkut dinding cadas. Perawan berlari
akhirnya menghilang. Sisa napasnya
masih terasa dan tercium sebagai keberkahan.

Peristiwa itu direkam si pengulang. Diberikan
waktu khusus untuk mengulang
perawan berlari. Tapi entah kenapa sebelum
melewati dinding cadas, kulit si pengulang seolah teriris.

Surakarta, 2015

Biji

Tanggalkan biji yang bersemayam
di bungamu. Siang dan malam
dengan sabar aku beri kau umbul-umbul
untuk mengulurkan tunggakmu.

Hanya kau saja yang mencintai hujan,
bukan lagi aku. Dari situ kita tak lagi sama
membuat langit bertekuk-lutut
membentuk awan mendung.

Biji yang aku tunggu akhirnya kau
muntahkan dari bungamu. Jangan khawatir,
biji itu pasti aku pungut satu per satu.

Surakarta, 2015

Pangkal Lidah

Di pangkal lidahmu,
keluarlah derita
yang sengaja dibugilkan
untuk daun telingaku.

Koormu mengerang
panjang. Aku mendengar.
Tapi aku tak menduga,
bagaimana mungkin kau
mengiyakan pandang
yang dibuat

oleh anak kemarin sore.

Akalmu telah percaya
atau mungkin kau terlalu
miring mengenalkan
dahak retakmu
kepadaku.

Surakarta, 2015

Daun Langit

Pohon meronta. Luka rantingnya meluapkan getah.

Hingga bilangan waktu membuatnya jauh dari gerak
kepak burung, latahan ular, dan sepasang mamalia.

Bermula lewat sebagian buah
- belum cukup umur - dirontok angin.

Tapi pohon enggan meninabobokan daun-daun
yang selalu tengadah: Meminta langit mempercepat
buah yang belum dirontok angin biar masak.

Surakarta, 2015


Aji Ramadhan lahir di Gresik, Jawa Timur, 22 Februari 1994. Saat ini ia belajar Desain Interior di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Buku puisinya adalah Sang Perajut Sayap (2011) dan Sepatu Kundang (2012).



Rujukan:
[1] Disalin dari karya Aji Ramadhan
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" Minggu 6 Desember 2015

0 Response to "Pewarta Mengikuti Air Mengalir - Perawan Berlari - Biji - Pangkal Lidah - Daun Langit"