Pulauku - Selepas Hujan Terkubur di Rambutmu | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pulauku - Selepas Hujan Terkubur di Rambutmu Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:38 Rating: 4,5

Pulauku - Selepas Hujan Terkubur di Rambutmu

Pulauku I 

Pada pulauku, kemarau merentang panjang 
Tak dapat dijangkau oleh tangan musim 
Meskipun laut mengulur lidahnya ke utara 
Merasa tak pernah kalah pada wajah langit 
Yang mungkin lebih muda baginya sedikit 

Pada pulauku, pagi dan sore menyimpan terang yang 
sama 
Matahari berjalan menggiring senja mencari 
bayangnya 
Dan menepis segenap cahaya yang menggoda 
Orang-orang saling bertemu membuka dada 
Sebagai semesta 

Pada pulauku, ombak hanya tinggal gemuruh 
Sebagian sibuk merencanakan provinsi di tengah 
kepentingan 
Pembangunan dan kesejahteraan ekonomi pribadi 
Orang-orang berpengaruh saling memadu lidah 
Menjilat bahasa kesepakatan 
Yang mungkin hanya akan membuat kaum lemah 
Akan terpinggirkan 

Pada pulauku, tanah sajadah kian kerontang 
Dan kelak mungkin akan terbakar 
Oleh rencana-rencana seekor ular 

Madura, 2015 

Pulauku II 

:Sumenep 

Pulauku,mungkin kau masih hijau 
Tak akan melupakan wasiat waktu 
Meskipun telah direncanakan menjadi ibu kota 
Sebab di setiap gedung-gedung kuning tua 
Tempat pertapaan para raja 
Leluhur dan para wali masih kokoh bersila 

Masjid agung dan pendopo 
Berapakah usiamu?
Tolong berbisiklah kepadaku 
Agar para pelancong tidak menggulungmu seperti 
batu 
Di setiap kembang yang mekar 
Di jalan-jalan kampung penuh belukar 
Betapa setiap yang lewat tetap tenang 
Tidak merasa takut pada bayang-bayang 

Sumenep, 2015 

Selepas Hujan 
Terkubur di Rambutmu 

Selamat pagi, kudengar bisik hujan 
Setelah murung wajahmu terpantul di atas awan 
Apakah mendung pernah tersesat 
Membuat yang dipertontonkan ikut mengkilat 
Petir menyambar kepala pohon 
Merasa dunia tak pernah aman-aman 
Kesedihan pun bergemuruh dalam ketakutan 

Selamat siang, langkah hujan beranjak sepi 
Menyusun kembali wajah langit yang pucat pasi 
Dan kau kota impianku 
Ayolah jangan terus menutup pintu 
Ajaklah kampung-kampung ikut bermain 
Agar dapat menjadi tetanda 
Dan pelan-pelan menampung apa saja yang ada 

Selamat sore, sisa basah kian terlepas dari tubuh 
tanah 
Dan betapa gampang melihat kembang tumbuh 
Meskipun malam membikin kehangatan runtuh 
Diterpa dingin menggelembung di sebuah ranjang 
Selepas hujan terkubur di rambutmu 


Subaidi Pratama, lahir di Sumenep, Madura, 11 Juni 1992. Puisinya dimuat banyak media dan terkumpul dalam antologi Festival Bulan Purnama Trowulan Mojokerto 2010, Bersepeda ke Bulan Yayasan Haripuisi Indonesia 2014, NUN Yayasan Hari puisi Indonesia 2015. Kini mengelola Komunitas sastra Malam Reboan di Kota Malang.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Subaidi Pratama
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 13 Desember 2015


0 Response to "Pulauku - Selepas Hujan Terkubur di Rambutmu "