Ratusan Hati | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Ratusan Hati Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 21:57 Rating: 4,5

Ratusan Hati

MELIHATMU jauh menerawang ke negeri khayalan sungguh menenangkan. Aku jadi merinding dibuatnya. Meskipun hatimu merasakan kehampaan yang mengerikan, aku tetap menemanimu. Menunggu kau sembuh. Pulih dari guncangan yang membuatmu terperangkap.

Saat aku datang menemuimu, aku selalu melihatmu duduk diam di kursi putih kesukaanmu. Menghadap ke jendela yang tirainya sudah dibuka. Sehingga kau bisa melihat duniamu dari balik jendela itu.

Kau akan selalu mendekap sebuah buku berwarna biru muda. Dulu, aku sendiri tak tahu kira-kira apa isinya. Kalau aku hendak mengambil benda itu darimu, kau marah padaku. Mengamuk. Tetapi kalau aku menyentuh wajahmu, mengamatimu dari dekat sepuasku, kau malah tak pernah merasa terganggu. Itu karena bola matamu tak pernah menyadari kehadiranku. Selama apapun aku di dekatmu, bola matamu akan tetap memandang lurus ke depan. Ke arah jendela yang menjadi teman setiamu di kamar besar ini.

Satu kali aku ingat pernah masuk ke kamarmu sendirian. Membawa sebuah buket bunga berwarna-warni di tanganku. Supaya mereka bisa mewarnai hidupmu yang hitam. Aku tersenyum melihatmu sekali lagi duduk di depan jendela penghubung duniamu dan khayalanmu. Aku melangkah perlahan agar tak mengganggu suasana hatimu yang sering berubah-ubah. Seperti musim yang selalu berganti. Aku berkata lembut di telingamu, "Hai, kau sudah bangun sayang?"

Kau diam. Menyimpan kumpulan jawaban di dalam lidahmu. Kau gulung lembut dengan mulutmu. Kuberikan buket bunga itu di pangkuanmu, dan aku mengecup keningmu agar kau mau menerimanya.

Tak kusangka kau menyukainya. Tanpa terlebih dahulu mengucapkan terima kasih padaku, kau langsung menciumi bunga itu seolah kau menyimpan berjuta kerinduan untuknya.

Pandanganmu tetap tertuju hanya pada bunga itu. Kau tersenyum-senyum sendiri. Pasti khayalanmu sudah melambung tinggi melebihi bukit-bukit cintaku untukmu. Sementara kau asyik dengan kegiatanmu, aku tertarik dengan buku biru mudamu yang tergeletak kesepian di tempat tidurmu. Aku menghampiri dan mengambilnya. Aku tidak membuka buku itu sampai akhirnya aku mengambil sebuah kursi lagi kemudian duduk di hadapanmu.

"Eden. Lihat aku. Apa kau tidak mengenalku?" Aku jadi memiliki keinginan untuk memaksamu mengingatku karena aku tak juga mendapat perhatianmu. Aku menggerakkan kepalamu perlahan melihat ke arahku, akhirnya. Untuk kesekian juta percobaanku hanya demi melihat  mata bulatmu memandangiku, baru sekali ini aku berhasil. Namun lalu kau kembali menundukkan wajahmu sebagai tanda kau tak mengingatku sama sekali.

Aku ikut tertunduk lemas. "Ya sudahlah. Eden, ini apa? Buku ini sampulnya manis sekali. Boleh aku lihat apa isinya?"

Kepalamu mengangguk. Entah karena mengizinkanku atau apa.

Aku membukanya perlahan dengan penasaran. Ternyata buku itu dipenuhi oleh gambar diriku dan dirimu. Dari berbagai macam pose. Kau melukisnya dengan tanganmu. Tetapi aku tak pernah tahu kalau kau melakukannya.

Lalu aku terkejut ketika aku  membuka halaman ke sepuluh dari buku itu, ada gambar close up wajahmu menatap jendela. Sementara wajahku ada di sisi jendela yang satunya lagi sedang mengamatimu. Kau seolah sudah tahu sebelumnya bahwa gambaran dalam lukisanmu itu akan terjadi. Mungkin kau memang sengaja menggambarnya lebih awal agar bisa mengingatku. Atau agar aku tahu bahwa hatimu selalu mengingatku.

"Lihat Eden. Aku punya sesuatu. Kau kenal dengan pria ini?"

Kau melihatnya dengan seksama. Lalu kau jawab, "Ya."

"Pria ini kekasihmu bukan? Kau ingat dia?"

"Ingat. Tidak. Ingat. Tidak." Kau mulai meracau.

"Eden. Ini aku. Pria di gambar ini adalah aku. Kekasihmu."

Roh mati itu terlempar kembali ke dalam sebuah kenangan yang hidup di bawah alam sadarmu. Kau tiba-tiba saja melemparkan buket bunga yang sedari tadi kau pegang ke lantai. Tepatnya, kau menjatuhkannya. Kemudian dengan tatapan aneh kau melihatku. Menyentuh mata, hidung, dan bibirku dengan tanganmu yanng masih saja lembut. Matamu mulai berkaca-kaca. Kupikir karena kau mengingatku, dan kau akan segera sembuh dari sakitmu. Rupanya aku salah.

Kau merebut albumm lukisanmu dariku. Lalu semenit kemudian kau berteriak semaumu. Membuatku terkejut dan merasa takut. Kau mengusirku. Katamu, "Pergi!! Pergi dari sini!!"

Aku tak sempat berkata apa-apa. Album berisi gambar itu terjatuh ke lantai. Dan semua kertas berisi gambar apikmu mulai berserakan. Aku mengambilnya. Memunguti kumpulan masterpiece-mu yang ingin kusimpan. Tapi kau memukuliku dengan tanganmu. Menyuruhku pergi dengan segera. Dan aku masih tetap di situ, menangisimu.

Tiba-tiba para suster berdatangan karena mendengar teriakanmu. Mereka mencoba menenangkanmu. Memegang pergelangan kedua tanganmu agar kau tak menyerangku seperti binatang yang kelaparan. Mereka mengawalmu ke tempat tidur itu. Dan kau masih saja memberontak. Tubuhmu membuat lonjakan-lonjakan di atas kasur. 

Beberapa perawat pria kemudian menuntunku keluar kamarmu. Membuat aku akhirnya terpisah darimu.

Aku duduk di sebuah bangku yang tak terlalu besar di rumah sakit itu. Menangis sendirian mengingatmu tak bisa mengenaliku. Padahal kita sudah menjalani hubungan selama lima tahun. Dan lima tahun itu bukan waktu yang sedikit.

Aku kemudian membuka buku album yang masih ada di tanganku saat itu. Beberapa gambarmu jadi kusut karena kau marah padaku. Aku merapikannya sekali lagi sampai semuanya menjadi sempurna. Di halaman terakhir, rupanya aku melihat sebuah deretan kalimat dengan tulisan yang sangat rapi. Itu pasti tulisanmu. Kau menulis, "Kalau penyakit itu menjemputku, kau jangan membenciku ya. Kalau aku tidak bisa mengingatmu jangan kau pikir itu karena aku sudah melupakanmu. Aku hanya tidak punya memori sesempurna memorimu. Sesungguhnya, kalau kau percaya, aku selalu menyimpanmu jauh di dasar jiwaku. Kusembunyikan di sana agar kehampaan tak merebutnya dariku. Buku ini sengaja kubuat agar selalu mengingatmu. Meski aku sendiri tak meyakininya."

Aku kembali menumpahkan air mataku di bangku itu. Mengingat bahwa bukan kau yang menginginkan dirimu jadi gila. Tetapi penyakit keturunan yang ditularkan keluargamu yang membuat kita jadi seperti ini.

Sekarang, hari ini, aku kembali datang kepadamu membawa buket bunga yang sama yang kubawakan padamu hari itu. Tak kusangka kau akan menganggukkan kepala. Aku segera memeluk tubuhmu yang masih sama hangatnya seperti dulu. Tapi kali ini kau tak mau membalas pelukan yang kuberikan. Mungkin hari ini kau sudah lupa lagi padaku. Tapi tak apa. Aku masih bisa menerimanya. Sekalipun kau tak pernah memintaku  tinggal di sisimu, aku akan tetap menemanimu seperti ini. Aku akan tetap mencintaimu seperti biasa, karena aku memiliki ratusan hati yang tak pernah mati untukmu. Sama seperti ratusan hati yang tersembunyi di dalam jiwamu untukku. ❑  

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dona Windasari Septiana
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 6 Desember 2015

0 Response to "Ratusan Hati"