Ronde Terakhir | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Ronde Terakhir Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:25 Rating: 4,5

Ronde Terakhir

PERTARUNGAN-PERTARUNGAN besar itu masih selalu terbayang: silau cahaya lampu-lampu kilat yang ditembakkan, momentum-momentum penuh semangat, teriakan histeris penonton yang berdiri dari duduknya. Bel ronde pertama berdentang, dia berdiri buas di sana, dikurung tali sudut empat sisi, tempat permainan beberapa langkah itu. Keberanian, ketepatan waktu, daya tahan sekaligus kesabaran melihat kesempatan inci demi inci untuk memukul jatuh lawan.

PERTARUNGAN harus selesai dengan cepat. Sabuk juara itu mesti kembali dikenakan untuk diketahui dunia tetap miliknya. Penantang akan berdatangan untuk merebutnya, tetapi mesti menundukkan sang juara hanya dengan mengempaskannya ke atas kanvas.

Kaum muda menjadikannya inspirasi untuk bangkit sekeras apa pun rintangan. Jatuh terhuyung, terkurung di sudut, dihujani pukulan mematikan lawan itu biasa. Seisi stadion kadang dibuat cemas, seperti ketika dia melawan Buldog of Bavana, tetapi Jimmy berhasil bertahan, sedikit keberuntungan karena dibantu bel ronde yang berdentang. Itu kadang adalah gayanya, sengaja membuat penonton menahan napas. 

"Jimmy! Hajar, Jimmy! Pukul Jimmy! Cukup sudah!" Mereka tak pernah ragu, Jimmy pasti akan bangkit. Lalu semua berdiri dari duduknya ketika Jimmy akhirnya berhasil memukul KO lawannya.

Jimmy sosok juara yang santun, hangat, jujur, dan sederhana walau melimpah ketenaran dan tentu saja kekayaan. Ia lelaki baik dan dermawan sekaligus suami penyayang. Baginya, setiap orang mesti mengambil kesempatan yang ada dengan berjuang sekerasnya karena peluang dan harapan itu selalu ada.

Dengan Hyung Buk, Badai dari Timur, memiliki pukulan yang benar-benar keras. Sakitnya melintir seperti akar ginseng yang dicerabut dari kepala Jimmy kala tersengat pukulannya. Beruntung, petinju itu berhasil dia sungkurkan pada ronde ke-11. Rocky Cabalera --dari negeri para seniman ring, Meksiko-- petarung junior pemegang sabuk emas olimpiade dengan bakat besar, dia kirim pulang lebih cepat pada rinde ke-5 sehingga mengentakkan negeri itu.

Pertarungan paling seru melawan Jhonstone Griffith, si Teror dari New Jersey yang tubuhnya penuh tato. Lalu sosok Hantu Hitam yang mematikan, Joe Bardock, ketika dia ditantang jauh ke negeri para legenda, hingga akhirnya tenaganya secara alami perlahan mulai mengendur digerogoti usia.

Semua cahaya gemerlap itu ditopang sosok Katrina, istrinya uang cantik dan selalu setia di kursi belakang sisi ring. Juga Ben sang manajer sekaligus corer man hebat yang acap kali berteriak-teriak di sudutnya. "Selangkah di depanmu, Jimmy! Ayunkan bahumu, merunduk, jab! jab..!" Dia juga tak berhenti bergerak, ikut menari. "Pep...pep...beng!"

Ben adalah sosok hebat yang memberi taktik jitu hampir di setiap ronde dengan sabar. Tips yang digunakan Jimmy untuk membalikkan arah pertarungan. Orang yang berusia lima belas tahun di atas Jimmy itu pergi selamanya sebulan setelah Jimmy melepaskan semau sabuk juaranya kepada Roby Gambia, dua kali juara sabuk emas nasional yang beralih ke ajang profesional. Sederet promotor besar berada di belakang Roby untuk bisa menahan mahkota yang sebelumnya direbut Jimmy dengan susah payah.

**
CAHAYA gemerlap telah redup. Undangan-undangan istimewa pergi. Mobil-mobil mewah menjauh. Jimmy merasa tak dibutuhkan. Namanya dengan cepat terhapus setelah dipukul jatuh Roby Gambia dalam pertarungan ulang. Walau sebenarnya ia masih bisa bangkit melawan, tapi wasit menghentikannya.

Cobaan yang lebih berat memukuli Jimmy saat dia harus kehilangan Katrina. Perempuan itu mengkhianatinya, membawa lari matahari kecil mereka, Monica, yang masih berusia lima tahun.

Tahun-tahun bergulir menjauh hingga makin tak ada orang yang mengenalnya sama sekali di sebuah tikungan jalan setelah klub hiburan malam tempatnya bekerja bangkrut. Hampir lima belas tahun Jimmy bekerja di situ. Satu dua masih ada beberapa pengunjung yang berdesir terkejut saat mendengar namanya. Tapi, orang-orang lalu tak peduli, seperti angin yang berlalu.

Jimmy sangat mencintai Katrina. Setiap berakhir  pertandingan, ada yang khusus membawakan bunga pesanannya untuk sang istri, membiarkannya jadi santapan infotainment yang disukainya. Kemenangan-kemenangan Jimmy adalah berkat semangatnya.

Jimmy karam sperti kapal dihantam torpedo. Beberapa pertarungan melawan penantang terbawah --sebelum menjangkau Roby Gambia-- kembali tak banyak menghasilkan uang dan rugi besar. Katrina tinggal di Hong Kong, dinikahi seorang promotor hiburan kaya raya. Jimmy berusaha tak mengingatnya, lebih tepatnya berjuang tiap hari untuk melupakannya.

Jimmy pernah bekerja di kapal angkut batubara setelah klub itu rontok --juga di dok pelabuhan yang terkurung pengab-- membuatnya sering tak bisa bernapas. Dia sangat merindukan tangan Ben menarik karet pinggang celananya. Dokter Bob yang mengobati luka pelipisnya, Victor yang menuangkan air dingin ke mulut, corner man hebat yang dirindukannya.

Penagih utang, bahkan menjadi kurir narkotik pernah dia jalani. Hidupnya menguap memakan habis sisa-sisa tenaganya, seperti tong bersayap yang membakar apa saja isi di dalamnya. Nama Jimmy makin dilupakan orang. Satu pun tak ada yang mengenal lagi sosoknya saat dia mampu merayap seperti kadal tanah di sepotong jalan kehidupan malam di tepi kanal tua berlumpur, tempat para lelaki miskin hilir mudik seperti mencari kekasihnya yang hilang di tubuh-tubuh pelacur tua murahan.

Jimmy tak percaya lagi seperti dulu saat wasit menghitung agar dia segera bangkit setelah dipukul jatuh. Dia tak bisa melakukannya lagi, kecuali hanya menatap dan mengulurkan tangan ke dalam tong-tong sampah berasap di jalanan bersama para gelandangan.

**
MISTER Riady yang mengenal karir Jimmy tiba-tiba memberikan apa yang dulu pernah dicita-citakan Jimmy ketika bekerja di klubnya. Lelaki yang dulu pernah bangkrut ketika mempromotori Jimmy untuk bangkit kembali meraih sabuknya sekaligus melawan takdir. Entah malaikat mana yang masih mengingatkan keinginan Jimmy itu di kepala sang mister. Dia merasa, Jimmy tak boleh terus berkubang kenangan, terdampar di mana saja --kadang di ujung taman, di stasiun tua-- memakan apa saja yang bisa dibeli, cari, minta, atau curi.

Jimmy akhirnya bisa mendengar lagi dentang bel ronde pertama di tengah gemuruh teriakan, mengulur waktu atau kapan harus sigap meraung dengan pukulan silang yang mematikan. Jimmy seperti mellihat lagi senyum Ben, Dokter Bob, Victor dengan handuk dan ember airnya.

"Pukulan silangmu, Jimmy! Ayun bahumu! Tetap jaga tanganmu di atas, Jimmy!" Suara Ben terngiang. Jimmy menyeringai. Matanya berkaca-kaca, merindu orang yang baginya dulu juga adalah seorang ayah yang gigih.

Senyum menggoda Katrina melintasi waktu, sukar ditebak mata sebening danau biru itu. Hewan liar seperti apa berenang di dalamnya lalu bangkit dengan racun mematikan. Jimmy tak tahu, kecuali dia sangat mencintai wanita itu. Senyum Monica kecil yang lucu, dengan mata bersinar jernih tanpa dosa menyiram hati Jimmy yang kering, selalu terbayang-bayang.

**
DUA jalan yang bertikai saling bermusuhan itu selalu sengit dipenuhi orang yang tak mau mengalah, tak pagi, siang, apalagi malam. Pasukan antihuru-hara mesti turun melerai, menembakkan gas air mata. Jimmy mengenal mereka semua yang berserakan di jalan, terminal, kanal tua. Jimmy senang melihat satu dua anak mereka tumbuh dengan bahu yang kuat. Jimmy tak lagi bermimpi untuk bisa melatih mereka. Dia sudah punya sasana, berpasang-pasang sarung tangan untuk memukul bayangan.

Ketika mimpinya terwujud mendirikan ring, pada sebuah sore yang cerah, mereka tercengang seakan melihat pesawat luar angkasa turun membawa benda aneh bersegi dengan  tali empat sisi, matras tempat pertarungan keras tapi lembut. Sansak-sansak digantungkan menunggu untuk dihujani pukulan. Sarung-sarung tangan membuat bayangan lawan bergerak. Pemuda-pemuda yang biasa saling serang berkelahi tak kenal waktu, satu-satu, mulai mengelilingi ring.

Jimmy menggerakkan tangannya, memukul udara. Sekejap saja, tubuh tuanya berkeringat. Dia belum pernah merasai lagi jantungnya bergairah memompa darah ke sekujur tubuh, seperti hari ini. Kakinya lincah menari, jab, upper cut. Ketepatan waktu dari tiap inci kesempatan melihat peluang menjatuhkan lawan.

Mister Riady yang menyediakan fasilitas itu. Dia menjilid kliping tentang Jimmy, sosok manusia terlupakan, dicampakkan promotor, dan dikhianati istri tercinta. Dia tak pernah lupa beberapa kemenangan besar Jimmy pernah menghasilkan banyak uang untuk klubnya.

Dua kelompok musuh bebuyutan itu mulai bersatu. Mereka mengimpikan anak-anak mereka menjadi juara dunia. Tiap hari, Jimmy melatih keras, di atas ringnya yang hilang, dongeng di bawah silau lampu-lampu, blitz kamera meletup seperti kilat, wanita-wanita cantik, undangan-undangan istimewa, mobil-mobil mewah.

"Kau akan kena hantaman, jangan pikirkan rasa sakit itu! Abaikan ! Kalian anak jalanan, bukan anak klub kebugaran! Ayo pukul sekuatnya, tangan tetap di atas! Ayo bangun, jangan dibantu! Tak ada yang boleh jatuh, bersandar di tali! Kalian anak jalanan! Kalian harus menang!" Jimmy senang mereka menunjukkan bakat berkelahi yang berharga untuk menjadikan mereka petarung.

**
GADIS muda itu memotret Jimmy dari berbagai sudut, mengaku jurnalis olahraga. Dia sudah lama mencari Jimmy, petinju yang pernah jaura dunia, tiga puluh tahun silam. Lima puluh sembilan tahun kini usianya. "Hari yang cerah untuk berlatih, Jimmy?" seru gadis itu berteriak dari bawah ring.

"Ya, begitulah!"

"Kapan terakhir Anda bertarung dua belas ronde?"

"Yeaahhh, aku lupa, tapi aku sering sengaja menjadikan pertarungan hingga dua belas ronde!" Jimmy tertawa, senang dengan pertanyaan itu.

"Mana yang paling tidak Anda sukai, memenangi pertarungan atau kehilangan cinta? Bagaimana menjelaskan suasana hari ini setelah sekian puluh tahun Anda meninggalkan ring?"

"Yeaahhh," Jimmy mengangkat bahu, pertanyaan yang sulit, pikirnya. "Aku bahagia ada di ring melatih, rasanya seperti dulu memenangi pertarungan, tapi kehilangan cinta tetap yang tersakit dibandingkan pukulan!" Jimmy melemparkan senyum getir, segera ditutupnya dengan tawa.

Gadis itu terus memotret Jimmy saat dia menari lincah memberi semangat anak-anak jalanan. Lalu, tiba-tiba, Jimmy tersengat, sepasang mata di balik kacamata hitam itu ke mana perginya, tak dilihatnya lagi.

Jimmy masih mencari-cari gadis itu, datang tiba-tiba lalu menghilang. Jimmy suka pertanyaan-pertanyaannya. Dia pasti punya memorabilia lengkap tentang dirinya. Dia suka itu. Beberapa saat kemudian, tembakan blitz kamera mengagetkan Jimmy. Gadis itu muncul lagi. Dia baru keluar dari kios minuman, membawa dua botol air mineral, tak lama kemudian sudah berdiri lagi di bawah ring yang ramai.

Jimmy tersengat kelelahan, berpegangan di tali dengan jantung berdebar. Perasaannya campur aduk melihat gadis itu telah melepas kacamata hitamnya. Jimmy jadi terpana. "Jimmy, tangkap!" seru gadis itu sambil melemparkan bootol air mineral ke atas ring.

Bel ronde terasa seperti berdentang-dentang. Silau lampu-lampu sorot dan blitz kamera yang ditembakkan membuatnya terpelanting ke masa silam. Jimmy terisak di sudutnya, pelan menginjak tali hendak turun sambil lurus memperhatikan sepasang bola mata milik gadis itu. Mata kecilnya yang dulu jernih tak berdosa kini telah sama persis dengan sepasang mata cantik milik Katrina, sang ibu. Jimmy membuka botol air mineral, menyiram sekujur tubuh tuanya yang berkeringat. DIngin menyentuh turun laksana hujan, bersama tetes air matanya: air mata seorang lelaki tua.***

Ganda Pekasih, pernah menjadi editor fiksi Majalah "Anita Cemerlang" dan anggota muda PWI.

Rujukan:
[1] Disalin drai karya Ganda Pekasih
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" Minggu 6 Desember 2015








0 Response to "Ronde Terakhir"