Rumah Baru | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Rumah Baru Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 10:45 Rating: 4,5

Rumah Baru

SEBAGAI pegawai negeri golongan satu, rasanya sudah cukup puas menempati rumah kecil seperti ini. Rumah mungil dengan perabot seadanya, berlantai tanah, beratap genteng yang tidak seragam besarnya.

Rumah mungil yang lebih pantas disebut gubug itupun adalah warisan dari bapak dan ibunya yang telah almarhum. Sejak dulu tidak banyak mengalami perubahan. Tetapi rumah kecil tempat keluarga itu mempertahankan hidup, terlihat tetap bersih. Setahu saya si istri menyapunya lima kali setiap hari.

Tetapi yang menjadikan iri tetangganya adalah ketabahannya mensiasati kehidupan. Pekerjaan sambilan yang dikerjakan sepulang dar SD inpres ada saja. Sesuai kemampuannya, skill dan pengalamannya sebagai pesuruh. Mulai dari menanami pekarangan sempitnya dengan sayuran sampai dengan diterimanya order-order tetangga untuk memanjatkan pohon kelapa. Hasilnya, cukup untuk menopang belanja keluarga.

Tidak kalah kreatifnya si istri, di sela-sela sepinya waktu buruh sawah, mencoba ikut menambah income suaminya dengan mempraktekkan keahliannya sewaktu remaja dulu, oncek kacang milik tetangganya. Sekilo kacang upahnya cukup untuk membeli es lilin seharga duapuluh lima rupiah.

Keinginan keluarga kecil satu anak itu cukup mulia, menginginkan rumah baru. Maka tidak salah kalau sejak bangun tidur hingga larut banting tulang untuk mempercepat realisasi keinginan mereka. Hasil yang sedikit-sedikit itu ditabung. Mulai dari celengan babon, atau bank-bank yang membuka cabang di dekat kampungnya.

”Bu, besok kalau sudah terkumpul sekian juta bukankah baiknya segera memperbaiki rumah kita ini, kita tidak usah susah-susah mencari tanah lagi,“ kata suami suatu hari.

”Tapi pak. Bukankah kita akan memulai kehidupan baru dengan rumah yang baru nanti. Suasana baru, teman baru, tetangga baru.”

”Tidak bu. Kehidupan di rumah yang barupun masih akan terpengaruh hidup kita sekarang. Tidak langsung berubah begitu saja, kayak pindah dunia. Atau alasan saya yang lain disamping bisa sedikit ngirit, juga nguri-uri tinggalan rumah dan tanah ini.”

”Bapak ini bagaimana? Katanya sudah nggak tahan dengan kata-kata tetangga yang sok nylekit. Juga gunjingan mereka tentang kita yang sudah tidak mungkin mempunyai anak lagi. Tentang ketidakmampuanmu di depan istri atau penyakit tumor kandungan saya.“

”Toh itu hanya isu, gunjingan, gossip tak berdasar, ternyata malah kamu yang sekarang tidak tahan.“

”Bapak ini bagaimana? Kok omonganmu nggak bisa dipakai sebagai patokan. Mbolak-mbalik nggak karuan.”

”Itu dulu bu, ketika nyaliku masih kecil, utangku masih banyak. Sewaktu kita hanya makan sekali sehari. Tapi, sekarang kita bisa makan tiga kali sehari. Malah setiap minggu kita bisa nonton midnight sesekali waktu.”

“Yang penting sekarang adalah uang. Dengan uang gossip dan gunjingan akan diam dengan sendirinya,“ lanjut suami dengan mimik meyakinkan kepada istrinya.

“Apa?! Uang? Apa cukup tabungan kita untuk membungkam setiap gunjingan? Tabungan kita masih terlalu sedikit untuk itu. Pokoknya saya menginginkan untuk pindah saja dari sini, beli rumah baru. Rumah yang disini dijual.”

”Dijual! Apa kata tentangga? Nanti dikatakan kita terjerat utang nggak bisa bayar lalu jual rumah. Aku tidak setuju!“ kali ini kata-katanya semakin keras. Sambil memelototkan mata kepada istrinya.

”Uh, bapak! Nggak mau kalah!“ gerutu si istri sambil meninggalkan suaminya sendirian.

Si suami yang sendirian hanya bisa terdiam kalau istrinya sudah marah demikian. Kalau sudah demikian biasanya dampaknya terbawa sampai tempat tidur. padahal si suami paling takut untuk tidur sendirian. Harus ada temannya.

Malamnya. Ternyata hal yang ditakutkan si suami benar-benar terjadi. Istrinya tidak mau menemani tidur. Terpaksa si suami tidak tidur semalaman. Sambil klisak-klisik dia memandangai istrinya yang masih giat menambali beberapa baju anaknya yang robek. Membujuknya pun dia tidak berani.

Malam sudah larut, dinginnya serasa menggigit belulang. Si istri tidak menggubris kelakuan suaminya yang rada aneh, malam itu. Malam ini adalah malam kedua dimana si suami tidak diperhatikan istrinya. Dan, bila hal ini akan berlangsung lagi seperti tadi malam maka berarti dua malam tidak tidur. Namun kali ini dia akan memberanikan diri untuk membujuknya.

”Bu, sudahlah. Lupakan saja pertengkaran tempo hari. Tidak usah dipermasalahkan lagi,“ bujuk si suami smabil mengelus-elus leher si istri.

”Tapi janji lho pak!“

”Jangan khawatir, bu.“

Malam ini suami-istri tersebut tidur bersama. Kelihatan mereka sudah saling memaafkan, kesalahannya masing-masing. Dapat disaksikan dengan cara mereka tidur. Tidak bisa dipisahkan kembali. Rasanya kenangan malam pertama terulang lagi. Mimpi tentang mahligai indah. Mimpi mempunyai rumah.

Rumahnya yang diimpikan sekarang jauh lebih indah. Dengan lantai yang berubin marmer, dengan model spanyolan.

Tetapi dalam mimpi yang sekarang ini. Si suami mempunyai rumah sendiri. Bagus dan kokoh, kayaknya tidak akan rusak selamanya. Penuh bunga-bunga. Buah-buah yang ranum mengundang selera bagi yang melihat. Sedang rumah si istri rumahnya bagus juga, namun berulangkali rusak diporak-porandakan topan. Berulangkali utuh. Diterpa angin lagi rusak lagi. Si istri hanya bisa menangis dalam mimpi itu. Kemudian berlari munuju rumah si suami. Dan dipanggil-pangilnya nama suaminya.

Tetapi yang dipanggil tidak menyahut. Walau sempat tadi membuka jendela dan menatapnya. Tetapi kembali si istri terheran-heran dengan penglihatannya. Lelaki yang selama ini menjadi suaminya, tidak menghiraukan teriakan-teriakannya. Seperti orang yang belum pernah mengenalnya. Asing. Si istri hanya bisa menangis di depan pintu rumah suaminya sambil terus menggedor-gedor daun pintunya. Tak ada suara menyahutnya. Tangisannya semakin keras. Tetap saja pintu itu tetap mengantup dengan rapat. Tiba-tiba terdengar suara anaknya, minta diantar ke sumur mau kencing. Maka tersadarlah si istri dari mimpinya.

Ketika mengguncang-guncangkan suaminya supaya bangun dan mengantar anaknya ke sumur. Suaminya tidak menyahut. Diulangi. Namun tetap diam. Tidak menyahut. Segala upaya untuk membangunkan tidak juga berhasil. Sampai pagi, siang,sore tenryata si suamitidak bangun. Selamanya tidak akan bangun lagi. Telah pindah rumah. Rumah baru di dunia baru. ***

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Purnomo Setiyadi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Berita Nasional" pada 10 Maret 1991

0 Response to "Rumah Baru"