Samadi Bunyi - Wangsit Langit | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Samadi Bunyi - Wangsit Langit Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:42 Rating: 4,5

Samadi Bunyi - Wangsit Langit

Samadi Bunyi

tabuh kentongan 

dalam kentongan sunyi berubah jadi bunyi 
sekali dua kali dipukul hanya risau yang menjawab 
bersama gema yang berlalu bersama sisa debu 
disapu gerimis 
orang-orang diam dalam selimut meski gaung 
bertalu-talu memanggil maut 
sesayup sayup seperti surup dalam gigil tubuh yang 
kuyup 
rindu mengaduh bersujud bersama sepukau nyeri 
kuterjemahkan dalam nyaring bunyi yang abadi 
dalam kerodong malam memuja bulan menunggui 
kelam 
bersama jagat yang terbungkuk-bungkuk dalam 
sehening inikah hingga kau dekap malammu 
dan hujan membiarkan tubuhmu kelak dirajam 
kabut 
sebelum esok menjelma api membakar diri 
merangkum nyeri 
tempat merapal mimpi melumut dalam pedhut 
meledak dalam jakun setelah beku di kungkum
waktu 

Wangsit Langit

1/ 
bulan abu-abu menggigil dibasuh malam dari rahim 
langit yang gelisah 
menjeritkan raung sunyi yang merangkak di ujung-
ujung nafas 
kiblat-kiblat rindu melambai bersama angin di setiap 
derit pintu 
tercecer serupa kilau embun-embun cahaya dalam 
lorong waktu yang gelisah 
aku terengah-engah menjilatinya dalam gelap yang 
sempurna, 
beri sekejap, sekejap saja..! 
seperti kerjap kunang-kunang yang terbang di ladang 
yang segera lampus bersama rimbun bayang 
pohonan 
membuat gagap menerjemahkannya dalam sajak 
yang juga gelisah 

2/ 
di ujung-ujung langit ini kau tinggalkan aku sendiri 
mabuk menghikmati heningmu yang berputar-putar 
di segenap nadi 
seperti kelasi di hantam badai dalam gejolak laut 
merindu daratan 
jalan pulang menjadi makin samar dan gemetar 
peta-peta kian tak terbaca dan aku hanyut dalam 
pasangmu 
dirajam rindu tak tuntas-tuntas, merapal doa-doa dan 
dada menjadi purnama  

milik siapa raung sunyi ini?
memantul-mantul menggedor-gedor pintu dan 
jendela 
lagi-lagi aku sibuk menerjemahkannya dalam 
patahan kata-kata 
yang melesat serupa bintang di pucuk-pucuk langit 
yang murung 
membuatku asyik mengembara dalam terik cuaca 
juga taufan yang kejam 

3/ 
ini bukan perjalanan biasa, pengembara yang 
terengah-engah menelusuri peta 
sesekali tergelincir dalam bandang arus kali dan 
tubuh kuyup oleh anyir embun 
dan serumu serupa gaung-gaung bersambung, “Aku 
di sini..!“ 
berkali-kali menggapai namun tak sampai-sampai, 
yang tergenggam duri berkali-kali 

di gelap langit aku hanyut di dalamnya mengejar 
aksara-aksara yang bisu 
berputar-putar tanpa hilir dan hulu dalam keriuhan 
persimpangan malam
terbungkuk-bungkuk memanggul cinta yang tumbuh 
kembali sebelum ajal mendekam 
di puncak malam kubakar dupa bersama sejumput 
tembang merajut sunyi jadi bunyi 
bersamanya bulan ambyar di jantungku dan sealir 
syair mengalir ke ujung-ujung udara 
sebelum subuh yang ranum muncul perlahan di sisa 
malam yang rabun 
sajadah dalam nadiku menjelma alas yang berkobar 
kobar kujelmakan dalam puisi



Tjahjono Widijanto, Lahir di Ngawi, 18 April 1969. Menulis puisi, esai, dan sesekali cerpen di berbagai media nasional. Buku-bukunya antara lain Dari Zaman Kapujanggan Hingga Kapitalisme: Segugusan Esai dan Telaah Sastra (2011), kumpulan puisi Janturan (Juni 2011), Singir (2014), serta Ekstase Jemari (1995).


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Tjahjono Widijanto
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 6 Desember 2015



0 Response to "Samadi Bunyi - Wangsit Langit"