Senyum Abadi Gadis Bully | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Senyum Abadi Gadis Bully Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 07:55 Rating: 4,5

Senyum Abadi Gadis Bully

KUPIKIR dia akan mudah bisa adaptasi di lingkungan baru. Bertemu dengan kawan baru di tempat latihan yang baru. Kurasa mudah baginya menarik perhatian orang lain, berkenalan dengannya. Selain parasnya yang ayu, pembawaan juga halus, dan senyumnya yang 'abadi' makin menambah kesan hangat wajah manisnya. Tapi dugaanku salah. Ia begitu pendiam di antara kami semua, seakan menyimpan kenangan kesedihan mendalam yang hanya ia pendam seorang diri, seakan menjadi bom atom yang siap meletup.

"Dia anak seorang pembunuh. Ayahnya di penjara. Harusnya dia nggak diterima di klub ini!" kata Janice yang sejak kedatangan Aya, sama sekali tak pernah suka, malah mengumbar fitnah tak berkelas. Iri karena prestasinya kalah bagus dengan Aya selama ini.

"Kamu nggak punya bukti yang kuat! Jadi jangan sembarangan tuduh orang!"

"Mau bukti apalagi, Ndon? Semua orang sudah banyak yang tahu tentang Aya. Mungkin dia juga dikeluarkan dari klubnya di Surabaya karena perlakuan tak berperkemanusiaan Ayahnya itu!"

Sontak, mataku langsung terpaut pada seorang gadis di sana yang berdiri mematung sambil menundukkan kepala. Bulir kristal di matanya pun jatuh tanpa ia mau. Dalam hitungan detik dia langsung berbalik badan dan mengambil langkah cepat. Memilih pergi dari tempat yang menampar perasaannya itu.

"Nggak usah diambil hati ya, apa yang dibilang Janice tadi."

"Harus dengan cara apa lagi aku bilang, kalau Ayahku itu nggak salah, Ndon. Ayahku bukan pembunuh. Dia difitnah."

Aku bisa merasakan kegundahan hatinya. Makin iba rasanya. Dia yang harusnya latihan keras di sini, malah sakit hati yang ia rasakan tiap harinya. Orang-orang yang memandangnya sebelah mata, seakan ia gadis yang perlu diasingkan. Meskipun aku tak menjadi dirinya, aku juga merasakan yang namanya di-bully seperti apa. Dan Aya, di manapun dia tinggal, bully itu tak akan pernah berhenti mengikuti pergerakannya. Omongan satu orang saja langsung merembet sampai anak-anak klub. 

"Kamu mau ke mana Aya? Bukannya kamu masih ada jadwal latihan?"

"Aku mau keluar saja dari klub ini. Aku emang nggak pantas latihan di sini!" katanya frustasi.

"Apa dengan kamu pergi begitu saja semua masalah akan bisa selesai gitu aja? Apa hanya segini aja cara kamu buat meyakinkan mereka kalau Ayah kamu nggak salah dan kamu bukan anak pembunuh??" Aku menjejeri langkah Aya yang sejenak terhenti. "Terus apa ini yang kamu mau kasih untuk Ayah kamu yang menginginkan kamu berprestasi di olahraga ini?"

Aya melihatku sekilas tanpa berkomentar.

"Memang banyak yang nggak suka sama kamu, tapi kamu harus tahu, ada juga yang mau bersahabat sama kamu," kataku meyakinkan diri.

Ayah pulang malam. Dia langsung bertanya padaku tentang Aya. Ayah tahu darimana soal Aya? Aku saja belum pernah cerita apapun padanya. Sama sekali belum.

"Ayah ketemu Aya di mana?"

"Tadi dia sparring bulutangkis sama teman-teman Ayah di kantor kecamatan."

"Wuihh, Aya sparring sama bapak-bapak polsek? Hebat juga dia mau meluangkan waktunya malam-malam begini hanya untuk latihan saat yang lainnya sedaang asyiknya istirahat di kasur empuk mereka.

"Contoh teman kamu itu, jangan hanya main game di rumah," pungkas ayah yang membuatku tersenyum lega. Aya mulai bagkit. Dia memaksimalkan latihannya selain hanya di klub saja.

***
LATIHAN dan ketangguhan hati Aya untuk tetap latihan di klub terbayar lunas. Bulan ini dia mendapatkan gelar juara di Bali. Senyum bahagia menghiasi wajah manisnya waktu berdiri di podium paling tingi mengalungi medali emas. Pencapaian yang hebat. Tapi meski begitu, masih saja ada gerombolan cewek yang nyinyir tentang Aya.

"Ah palingan juga karena lawannya takut diapa-apakan sama anak pembunuh itu kalau sampai menang."

Kuyakin telinga Aya sudah kebal mendengar semua itu. Tapi aku percaya, baik Aya atau ayahnya tak pernah menggariskan 'noda hitam' di hidupnya. Aya langsung menemui ayahnya di rutan dengan memamerkan medali emas yang ia punya. Aku hanya berharap, kalau senyum dan semangatnya itu akan tetap abadi sampai nanti.

Aya menangis lagi. Ia masih belum mampu maksimal untuk tak menghiraukan perkataan pedas yang disematkan padanya. Bully itu selalu saja membanjiri setiap harinya di klub ini. 

"Ayahnya nggak jahat, Ndon. Dia bukan pembunuh, dia hanya melindungi aku dari orang mabuk yang mau menzalimiku. Aku berhasil selamat. Ayah tak melakukan kekerasan apa-apa, pemabuk itu jatuh waktu mau menyerang ayah, terus kepalanya terantuk trotoar di jembatan," cerita Aya panjang lebar yang membuatku cukup mengerti semua ceritanya tanpa ia harus cerita panjang lebar lagi. Itu makin membuatnya pilu.

Aya berkata apa adanya. Ia tak merekayasa sedikitpun cerita sesunguhnya. Aku merasakan betapa besarnya kasih sayang seorang ayah dalam menjaga putrinya, hingga ia dijebloskan dalam penjara gara-gara dikira membunuh pemabuk itu. Sakit hati itu masih sangat membekas di hati Aya. Hingga yang kedua kalinya berniat keluar dari klub, karena sudah tak tahan cemoohan dan cibiran orang di sini yang selalu memandangnya sebelah mata.

***

AYAH menelponku tengah malam begini. Ada apa? Apa barang kerja ayah ada yang ketinggalan? Perasaanbku serta campur aduk. Sepertinya ada yang tidak beres. Benar saja.

"Ndon, Aya jadi korban tabrak lari di dekat kantor Ayah. Sekarang dia dibawa ke rumah sakit, dia mengalami pendarahan hebat di kepalanya."

Deg. Mulutku kelu seketika. Aya yang kemarin baru saja menceritakan semuanya padaku perihal ayahnya, dan ia yang mulai bisa bangkit. Hingga di jalanpun pikiranku terus saja tak menentu. Bagaimana kondisi terakhir Aya, apakah ia masih dapat diberi pertolongan, ataukah ia akan berusaaha bertahan dapat melihat ayahnya lagi.

Tak percaya kalau ia memilih meninggalkan semuanya. Hanya airmata yang menetes.... []


Dyah Eka Kurniawati
D-III Analisis Kesehatan Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dyah Eka Kurniawati
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 29 November 2015

0 Response to "Senyum Abadi Gadis Bully"