Singgah di Wisma Nirwana | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Singgah di Wisma Nirwana Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 14:32 Rating: 4,5

Singgah di Wisma Nirwana

SURABAYA, yang lidahku sering melafalkan dengan Suroboyo, adalah kuali, tempat sayur yang selalu dipanggang di atas bara api. Aku hanyalah sebutir garam yang hablur dan tenggelam di dalamnya, agar sayur itu tak hambar dan menerbitkan kenikmatan bila dijadikan santapan. Tentu, jika sayur itu terlau banyak garamnya, makan akan terlalu asin dan tak enak sebagai menu. Tapi rasa kelewat asin bagi masakan seorang gadis bisa bermakna lain. Tafsir umumny, ia sudah kebelet menikah. Itu pun aku dengar dari orang-orang karena aku sendiri tak pernah mengalaminya.

Aku tak pernah mendengar ikrar suci dengan orang yang cintai. Aku sudah telanjur melihat pernikahan sebagai sebuah negeri jauh, yang dipisah oleh lautan dengan gelombang mahaliar. Gelombang yang bisa membuat diriku terkapar dan tak kunjung sampai di pelabuhan yang tergelar. Aku pun sudah mengungsikan keinginan itu ke palung hatiku, agar ia tak tersapa dan tersentuh. Agar ia aman menjadi keinginan.

Apa yang aku bayangkan tentang Surabaya dulu, ketika aku masih ingusan dan sekarang tahun 1990-an yang sudah mulai kenal ingus baru yang muncrat dari gagang kemaluan seorang laki-laki, tenryata berbeda. Surabaya dulu adalah sebuah dunia baru, tempat aku bisa mengubah nasib dari kemiskinan yang seakan tiada akhir. Sebuah surga yang menawarkan beribu harapan dan bisa mengentaskanku dari derita. 

Namun, kini Surabaya adalah gurita yang tanpa ampun menyeretku masuk lewat mulut dan diseret jauh ke dalam dirinya, sehingga tubuhku terus bergelimang dengan tinta hitam, yang juga seakan-akan tiada akhir. Aku merasa seperti masuk sumur dan sama sekali tak tahu di bawah sana sebuah dasar sedang menanti.

"Padmi, ada Arjunamu...!"

Aku dengar dengan jelas suara Marni, germo, mucikari, sekaligus aku anggap sebagai pembimbingku, pengganti orang tua. Entah kenapa, sejak senja tadi aku dirundung perasaan aneh, sehingga aku selalu ingin mengurung diri di kamar. Biasanya, begitu siang berganti malam, aku mengganti pakaian. Lalu memajang diri di ruang tunggu, sambil melempar senyum kepada pejalan kaki, terutama utnuk lelaki yang membutuhkan kehangatan. Aku memang sengaja memilih malam hari untuk melayani laki-laki, karena aku merasa, pada malam hari aku bisa mereguk ketenteraman, meski di ruang kerjaku hingar oleh musik dangdut, celoteh lonte, suara erangan, dan lain-lainnya yang seakan dioplos menjadi satu. Tetapi aku bisa membayangkan sebuah dunia lain diriku, mungkin duniaku dulu, yang sunyi ketika malam mulai merayap, dan menerbitkan damai.

Lima tahun terakhir aku merasa kamar kerjaku adalah kuburan tak sempurna. Aku tak bisa total menenggelamkan diriku ke lahat yang bernama senggama. PIkiran dan perasaanku kerap masih terjuntai dari gelap liang itu, mencakar-cakar dan mencari-cari, juga menggapai-gapai alam terang yang selalu aku yakini keberadaannya di dunia luar sana. Panggilan dari dunia itu kerap menyambar kehadiranku, sehingga aku tak jarang dihajar dengan keterasingan pada udniaku sendiri. Aku seperti diungsikan dari lembah ke sebuah dataran yang lapang, bahkan di depannya tampak gunung menjulang. Aku memiliki dunia impian dan angan-angan sendiri, sebagai tempat untuk tetirah dari arus darahku yang telanjur berlumur dengan lumpur nista. 

Panggilan dari dunia entah itu aku rasakan datang sejak tadi. Di kamar tak terlalu lebar, sekitar 3 x 4 meter, aku begitu betah. Di usiaku yang memasuki angka ke-27, aku merasa tarikan kuat dari dalam diriku untuk bertanya perihal jalan hidup yang aku tempuh. Padahal selama ini aku begitu takut mati kelaparan. AKu seperti trauma dengan masa laluku yang pernah kelaparan selama berhari-hari.

Ayah dan ibuku angkatku, Trimo dan Saada, hanyalah pasangan miskin. Mereka pendatang di Surabaya. Mereka menyewa lahan di Banyuurip untuk bercocok tanam. Jika sedang senggang mereka pun menjadi pencari kertas bekas: koran, majalah maupun kardus. Kamus udah terbiasa sehari makan dan sehari berpuasa, apalagi jika orang tuaku itu tak bisa sewa lahan.

Suatu ketika mereka berdua jatuh sakit. Tipus. Aku jadi blingsatan. Aku belum terbiasa memungut barang berharga dari tempat sampah, di usiaku yang akan memasuki 11 tahun. Aku pun belum bisa menjadi buruh tani, karena kedua orang tua angkatku itu tak pernah mengajariku untuk bertani.

"Kamu priyayi. Jangan pernah menyentuh lumpur sawah atau sampah," terangnya.

Posisiku di keluarga mereka memang unik. Aku diangkat menjadi anak mereka untuk memancing mereka agar cepat punya anak. Mereka sudah menikah hampir 10 tahun, tapi tak kunjung dapat momongan. Maka, sejak aku berusia setahun, aku sudah hidup dengan mereka. Tapi mereka tak kunjung mendapatkan anak. Aku tetap ikut orang tua angkatku ini, karena keluarga asalku juga didera dengan kemiskinan dan tak bisa menghidupiku dengan layak. Pun kedua orang tua angkatku sudah bertekad untuk mengubah nasib dengan pindah ke Surabaya. Mereka tak punya cukup lahan untuk digarap di kampung. Sawah warisan orang tua sudahdibagi-bagi. Keluarga ayah angkatku banyak. Ia bersaudara enam orang. Sedangkan ibu angkatku lebih banyak. Saudaranya sembilan dan hidup di kampung semua.

Sawah yang sudah tak seberapa itu pun akhirnya terbagi. Mereka dapat bagian yang jauh dari layak. Begitu pula dengan pekarangannya. Cukup hanya untuk mendirikan rumah dengan ukuran 6 x 8 meter. Bentuk rumahnya sederhana. Jika dibandingkan dengan rumah-rumah di Surabaya rumah orang tua angkatku mirip gubuk. Aku turut pindah ke Surabaya ketika usiaku sudah lepas balita. Jadi aku masih ingat dengan benar ketika aku begitu ceria bakal meninggalkan kampung. Di depanku seakan-akan terbentang segala hal yang menyenangkan. Dan, untuk itu, aku berterima kasih pada kenangan masa kecilku yang demikian manis dan menyegarkan. Ia kini serupa oase tempat tetirah dari padang yang demikian panas menyengat. 

Aku sering kembali ke masa-masa kanakku, yang penuh dengan keindahan. Bagai hidup di taman dengan bebunga, kupu, dan air mancur. Hidup dalam sebuah kondisi yang menyenangkan dan merasa bahwa hidup memang tak pernah ada masalah. Hidup sungguh indah.

Begitu ikut mereka aku melupakan keluarga asliku. Ini cara terbaik agar aku utuh sebagai anak kedua orang tua anakku yang baru. Memang awalnya aku kesulitan untuk berpisah dengan keluarga lama, tapi orang-orang tua memiliki cara yang manjur untuk melupakanku dengan keluarga lamaku. Aku dimintakan jampi-jampi dan ternyata terkabul. Aku pun lupa, apalagi orang tua angkatku sangat menyayangi diriku lebih daripada dirinya sendiri. Meski, tak jarang pandangan mereka terhadapku masih tetap pandangan yang menghormati.

Aku masih dipandang sebagai anak dari keluarga terhormat di masa lalu. Mereka pun sering melarangku untuk melakukan pekerjaan yang kurang pantas untuk aku lakukan. Jadi pekerjaanku hanya bermain dan bermain saja, meski aku tahu ibu dan ayahku sedang banting tulang dan mandi keringat untuk menghidupiku,

Ketika mereka jatuh sakit, aku hanya bisa menjerit. Salah satu caraku agar bisa bertahan hidup, juga bis amemberi kedua orang tuaku makan, adalah dengan mencari sisa-sisa padi orang panen. Soal ini aku sudah pernah mencobanya, meski ketika aku ketahuan aku dimarahi habis-habisan. Aku pun terus berjalan dalam kondisi lapar. Aku sudah berusaha mengais sisa panen dari sawah-sawah di Surabaya Barat, tapi tak kunjung dapat. Puncaknya, aku hampir sekarat. Aku sampai tak sadarkan diri di jalan.

"Di mana aku?" tanyaku, begitu sadar. 

"Kamu di Bangunsari," ujar seorang perempuan, yang kelak kusapa denga Mami.

Sejak itu aku membantu mencuci piring dan peralatan dapur di rumah itu, yang merupakan kompleks pelacuran. Ini pun kuketahui belakangan. Hari-hari aku lalui. Aku segera melupakan ayah dan ibu angkatku, karena aku merasa tak bisa memenuhi kebutuhanku yang paling dasar: makan, pakaian, dan rumah. Di situ aku mendapatkan semuanya, meski aku hanya berprofesi sebagai tukang cuci piring.

Sampailah suatu ketika aku pamit akan pulang ke rumah menjenguk kedua orang tua angkatku. Aku di sana hampir sebulan penuh, tanpa mengabarai mereka. Sebuah kesalahan yang demikian menghantuiku. Aku tak seharusnya meninggalkan mereka dalam keadaan tak berdaya. Aku sendiri tak tahu kenapa aku begitu bodohnya melakukannya. Aku bertanya-tanya, apa yang aku pikirkan ketika itu.

Begitu aku sampai di rumah kontrakan aku tak menemukan mereka. Hanya Matjalil, pemilik rumah yang mirip dengan gubuk itu yang aku temui. Ia mengatakan bahwa orang tua angkatku sudah mangkat. AKu menjerit histeris. Tak peduli ada Matjalil yang sejak awal memang sudah aku benci, karena ia memeras kedua orang tua angkatku. 

Akhirnya aku diajak Matjali ke sebuah tanah pekuburan. Setelah melewati gapura, dan rumah kecil yang bertuliskan: "Tempat Perlatan Kematian", aku melewati deret nisan yang demikian bagus, dengan nama dan tanggal kelahiran dan kematiannya. Aku diajaknya ke ujung makam. Ad sebuah areal makam yang aneh, karena tampak tak terawat. Rumput dan ilalangnya tinggi. Nisan-nisannya hanya dari kayu, bahkan sebagian sudah tak ada. Di depan pintu masuk terdapat tulisan: "Kuburan Tak Dikenal".

Aku langsung menuju dua gunduk tanah yang kelihatan baru. Di atasnya ada nisan yang terbuat dari kayu papan, ada tulisan Trimo dan Saada dari arang yang dicampur oli bekas (soal bahan untuk menulis kayu nisan ini aku ketahui belakangan). Aku menangis. Tapi tangisku tak mengeluarkan air mata. Tangis yang entah kenapa menjadikanku merasa lebih sakit dengan kesedihan dan kehilanganku.

"Ayah-ibumu belum bayar sewa di bulan terakhir. Juga belum membayar pengurusan jenasah dan penguburuannya," kata Matjalil.

Aku masih menangis. 

"Hei, kamu dengar tidak?" bentak Matjalil.

Aku menyeka air mataku dan menoleh kepadanya.

"Aku tak punya uang...," jawabku polos.

memang seusiaku seharusnya aku sudah mengerti kebutuhan orang tua, kebutuhan rumah tangga. Seusiaku seharusnya akus udah tahu apa yang diperlukan oleh sebuah keluarga. Tapi karena orang tua angkatku tak mempersiapkan diriku untuk itu, aku seperti orang yang dihadapkan pada kenyataan baru yang asing. Aku tampak demikian tolol dan rapuh.

"Gampang!" kata Matjalil. "Kamu bisa membayarnya."

Matjalil memandangku. Sorot matanya membuatku takut. Tanpa tahu bagaimana awalnya, Matjalil menyeretku ke balik alang-alang di sebelah barat pekuburan. Hanya berjarak tak lebih dari lima meter. Ia lalu memperkosaku, dengan lebih dulu menyumpal mulutku dengan celana dalamnya. Aku meronta tapi sia-sia. Ia menggarapku dengan sangat kasar.  Aku merasakan rasa perih yang demikian sangat. Aku hampir pingsan. Untunglah, ia tak bertahan lama. Begitu ia sudah terengah-engah dan spermanya tumpah, aku merasa ada yang mengalir di pahaku. Dengan sisa-sisa tenaga, aku bangkit melihatnya, ternyata itu darah. Darahnya demikian banyak, sehingga aku tak kuasa untuk menangis lagi.

"Jangan bilang siapa-siapa. Kalau bilang, kamu aku bunuh..."

Aku lalu diajaknya ke pemandian. Disuruh membersihkan diri. Kemudian diajak ke kompleks lagi. Waktu itu, aku kira, aku dikembalikan ke wisma di Bangunsari, tempatku menjadi buruh nyuci piring agar aku bisa hidup dengan hasil keringatku sendiri. Tetapi ternyata aku dijual di wisma itu. Ini pun aku ketahui di kemudian hari. Mamiku yang mengatakannya secara langsung.

Aku memang merasa ada perubahan kelakuan. Setelah aku kembali, aku dilarang untuk kerja kasar. Aku dianggap anak sendiri oleh Mami Ida, yang sering aku panggil Mami saja. Aku hanya diminta melayani permintaan "anak-anak" Mami, baik itu mempersiapkan handuk bersih atau sarung di kamar, minuman atau tisu. Biasanya, handuk atau sarung aku taruh di depan kamar mandi di kamar.

Di wisma Mami, setiap kamar ada kamar mandinya. Ada yang bilang, ini wisma kelas tinggi. Soalnya, wisma lainnya kadang hanya berdinding tripleks, tapi di wisma ini tembok semuanya. Lantainya pun berkeramik. Yang datang juga laki-laki yang rata-rata berkantong tebal karena sekali booking sampai Rp 15.000. Sedangkan kalau diajak keluar bisa Rp 25.000-30.000. Tarif yang terakhir itu juga tarif bermalam. Wisma itu bernama Nirwana. 

Suatu hari aku mendengar kabar mengejutkan: Matjalil ditemukan tewas di selokan. Begitu diangkat tubuhnya penuh dengan luka bacokan. Begitu mendengar kabar, aku datang untuk menyaksikan kerumunan orang yang datang untuk menyaksikan preman itu mati. Posisinya menelungkup. Di kepalanya, ada luka bacokan yang tertutup darah kental. Begitu pula di punggung dan paha. Tampak luka menganga. Sepertinya, dada yang perutnya juga terluka, karena aku melihat ususnya terburai dan jatuh di air selokan yang berwarna kehitaman. Aneh, aku sama sekali tidak jijik melihat semua itu, padahal aku terkenal trauma pada darah. Pada jasad Matjalil aku merasa sebagai pemenang, seperti melihat seorang musuh yang mati dengan cara yang hinda-dina sesuai dengan perilakunya yang nista. Ia seorang berandal kejam dan pantas mati dengan cara seperti itu.

Ya, aku memang merasa lega bahwa orang yang telah menyakitiku akhirnya mati. Siapa yang tak gembira jika orang yang dibencinya mati? Ah, tapi sungguhkah demikian? Diam-diam, di hati kecilku aku merasa turut bersalah. Terbersit satu sesal yang aneh di kalbu. Aku merasa iba pada orang-orang yang selama ini tergantung hidupnya pada bandot ini. Pasalnya Matjalil beristri tiga. Anaknya lima dan masih kecil-kecil. Anak tertua berusia sekitar 9 tahun. Aku merasa lingkaran setan telah dimulai lagi, sejak hari kematiannya. Lingkaran yang menggarisbatasi keluarga Matjalil, yang tentu pada hari-hari selanjutnya akan dirundung berbagai masalah, juga dendam pribadi tentunya. Bisa jadi, pemicu itu telah ditarik pagi ini meski letusannya bisa terjadi nanti.

Polisi datang tapi ia tak langsung membawa mayat itu. Mereka seperti sudah tahu siapa yang menyudahi hidup Matjalil, tapi tak hendak mengusutnya. Bahkan mereka juga turut berterima kasih. Aku sendiri tak paham hukum, pun tak tahu ada hukum lain yang berlaku dan lebih diakui keberadaannya. Tentu lebih kuasa. Ya, semua itu terjadi sudah lebih dari tujuh tahun lalu. 

Aku merasa hidup memang kelewat aneh. Dulu, Matjalil mengancam bila bercerita pada orang lain tentang perilakunya yang bejat, aku akan dibunuh. Tapi ketika aku bercerita pada orang lain, dia yang dibunuh dan dihinakan kematiannya. 


***
"Padmi, ada tamu. Mas Yudis," terdengar suara Mami lagi.

Aku berniat bangkit dari ranjang yang telah setia menerima tubuhku selama 8 tahunan. Aku tak bisa menunggu lebih lama tamu istimewaku ini. Yup, meski setelah tak berhasil mengambil keperawananku ia bisa mengambil keperawanan hatiku. Aku jatuh cinta padanya. Padahal dalam duniaku jatuh cinta pada laki-laki adalah sebuah pantangan. Istilah di wisma, ia telah menjadi kiwir-kiwir-ku, yang bisa membuat teman-teman iri.

Entah mengapa aku diam-diam mengaguminya, juga mengagumi tindakannya yang menghabisi Matjalil (aku tahu soal ini baru belakangan), meski di sisi yang lain aku juga kasihan pada keluarga Matjalil yang ditinggalkan. Perasaan ini kerap menjadi pisau bermata dua di batinku. Aku merasa begitu karena aku mengaca pada pengalamanku. Bisa jadi anak-anak Matjalil yang perempuan kelak akan menjadi penghuni rumah bordil sepertiku. Dan, anak-anaknya yang laki-laki menjadi preman, bandit, dan tukang rusuh, yang lebih rusuh dan kejam dari ayahnya. 

Aku langsung beranjak dari tempat tidur. Melihat wajah di cermin. Aku merasa sudah tak muda lagi. Kemudaanku seakan raib dihisap oleh kumbang yang saban malam datang ke wisma, dan selalu minta aku ladeni. Aku terpaksa menolak permintaan Mas Yudis agar aku selektif dalam melayani orang, karena bagaimanapun aku butuh duit. Pun butuh setor pada Mami. Aku sedang menyiapkan masa depanku sendiri, yang bisa membuatku lebih berarti. Memang, dalam melayani mereka, aku tak memperturutkan emosiku. Emosiku hanya untuk Mas Yudis, dan karena itu aku bisa mereguk kenikmatan seks. Perempuan memang hanya bisa bergairah dengan orang yang dicintainya, dengan suasana yang terbangun dengan cinta dan romantis, dengan hal-hal yang menyentuh perasaan.

Ah, masa lalu, ah, kenangan, kenapa kau menghampiriku kini. 

Di depan cermin aku merapikan rambut. Aku harus menyembunyikan kekusutan pikiranku di hadapan lelaki yang aku kagumi. Apalagi aku tahu, dia bukanlah lelaki sembarangan. Ia seorang anak pembesar yang tinggal di Perak, sedangkan ia sendiri pemimpin sebuah korps dagang di pelabuhan itu.

"Hai, lagi ngelamun ya?" sapa sebuah suara.

Aku terkesiap, ternyata Mas Yudis sudah berada di ambang kamar. Wajahnya nongol dan sebagian yang lain masih tertutup tirai. Aku langsung bangkit dan menggelandangnya masuk, lalu menyambutnya dengan pelukan. Entah kenapa aku memeluknya demikian erat, seperti takut kehilangan dia. Diam-diam aku meneteskan air mata. Hal yang sangat jarang menimpaku, sesedih apa pun aku. Aha, aku sudah bisa menangis dengan meneteskan air mata. Lega rasanya.

"Aku harap kamu tak terlalu bersedih, Padmi. Mungkin malam ini terakhir kali aku ke sini...," tutur Mas Yudis.

Aku seperti disambar petir.

"Kenapa, Mas?" 

"Aku dipindah oleh ayahku ke Tembagapura, Papua. Istriku sudah tahu, aku sering ke sini dan dia mengadu ke ayah. Aku tak bisa berbuat banyak. Ketergantunganku pada orang tuaku masih tinggi. Jika selama ini aku tak bisa tegas perihal nasibmu, maka itu adalah alasanku salah satunya."

"Kenapa Mas tak menolak dipindah?"

"Aku harus mengalah, Padmi. Aku tak ingin kau terluka..."

Tangisku semakin tak tertahankan. Tubuhku bergetar hebat. Sepertinya aku harus menghadapi kenyataan yang menderaku. Aku membenarkan apa yang diungkapkan oleh Mami, bahwa jatuh cinta bagi seorang lonte itu terlarang dan terkutuk. Cinta seorang lonte adalah cinta untuk semua laki-laki. Kini, karena aku melanggar pantangan itu, aku harus menuai getahnya.

Aku merasa tragedi hatiku sebagai penanda bahwa aku harus meneruskan langkah dari Wisma Nirwana. Namun, harus kubawa ke mana tubuh ini melangkah? ***

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Mashuri
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Jawa Pos" Minggu 6 Desember 2015

0 Response to "Singgah di Wisma Nirwana"