Tentang Kematianmu | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Tentang Kematianmu Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 18:55 Rating: 4,5

Tentang Kematianmu

YA, bahkan bumi memang seperti tak mengerti. Tanah seolah menjadi lebih keras dari batu. Meski telah saya siram dengan air berkali-kali. Atau mungkin air diam-diam juga tak mau mengerti dan tiba-tiba enggan meleburkan diri ke dalam tanah. Cangkul yang baru kemarin saya lihat Kak Salman memakainya untuk menggali singkong, juga mendadak seperti tak memiliki ketajaman apa pun di sini. Kak Salman layaknya memacul sebongkah batu. Semua mendadak tak mau mengerti.

Apalagi mereka yang secara kasat mata memang menyimpan perasaan dendam kepadamu. Menutup telinga dan pura-pura tak mendnegar apa-apa adalah cara yang terbbaik. Kalau mereka tak mau mengatakan dan mengumbar kegembiraannya atas semua ini. Kamu bisa melihatnya sendiri, bukan?Bagaimana kakakmu satu-satunya menggali tanah sendirian tanpa ada seorang pun yang tergerak hatinya untuk membantu. Sementara, saya snediri dan anak-anak kecilmu ini tak bisa berbuat banyak kecuali hanya  menjaga tubuhmu yang kaku dengan air mata yang bersimbah dan sesenggukan yang semakin membenamkan kebencian kami.

Lihatlah, kalau kamu masih ada di sini. Ah. Tidak saya yakin kamu masih bersama kami di sini. Sudah setengah hari Kak Salman mengayunkan cangkulnya sendirian. O ya, tak perlu heran dan terkaget kalau kami menggali kuburanmu di halaman rumah. Tak perlu bertanya kenapa tak kami kuburkan di tempat pemakaman biasa. Kamu tentu masih ingat lahan itu milik siapa? Pak Sahnan. Seorang bapak yang dalam hidupnya bersumpah, haram jika jasadmu dikuburkan di sana. Meski saya juga tak yakin anak perempuannya mati terkena santetmu sebagaimana tujuan orang-orang kampung. Santet? Apa benar kamu memiliki ilmu terkutuk itu? Sementara saya sebagai orang terdekatmu tak pernah menemukan kamu melakukan hal-hal aneh di tengah malam apalagi di siang hari. Kecuali kata-katamu yang sesekali memang terdengar aneh dan tentu, salat malam seperti biasanya. Tak lebih.

Ah. Tapi sudahlah. Beras susah menjadi bubur. Kak Salman sudah menyerah di kedalaman yang tak biasa. Ya, hanya sedalam dada ketika dia berdiri. Keringatnya cukup membanjir. Memang sepi. Tak seperti biasanya setiap kali ada yang meninggal dunia di kampung ini. Orang-orang berbondong-bondong datang tanpa disuruh. Laki-laki akan datanng membawa cangku;, sabit dan berbagi tugas untuk menggali kuburan dan mengerjakan pekerjaan lain di rumah duka. Sementara yang perempuan akan berbondong datang menyunggih beras dan pisau dapur. Lengkap dengan sisa kelopak mata yang masih bengkak karena telah ikut larut dalam kedukaan. Tapi di sini, kamu hanya akan melihat istri, anak kecilmu, kakamu, kakak iparmu, dna Kiai Sanhaji yang baru datang langsung menanyakan tentang kematianmu yang memang mengagetkan.

Sebelum saya menjelaskan padanya, saya mesti menghapus air mata terlebih dahulu. Menyeka napas dalam-salam dan harus lebih banyak menyelesaikan sesenggukan yang menyakitkan. Lalu perlahan saya menjelaskan kepadanya. bagaimana Kak Salman terkaget ketika pertama kali mendapati tubuhnya terbujur kaku tanpa bekas luka apapun. Hanya beberapa baju dan sarungmu yang sobek, . sepertinya memang bekas terkena sabetan celurit atau pisau atau benda tajam lainnya. Kiai Sanhaji mengangguk sambil mengiyakan tentang kabar kebalmu. Ah, saya lantas menepisnya dengan mengatakan kalau kamu selama hidupnya tak pernah memakai jimat apa pun kecuali istiqomah berwudu. Terutama setiap kali hendak keluar rumah. Kiai itu pun mengangguk perlahan seirama dengan sesenggukan.

"Apa setiap ada orang kampung yang perutnya mengembung, dan sekujur tubuhnya membengkak, Hodus yang melakukannya, Kiai? Baru-baru ini bayi Ahmad katanya keluar kerikil dari duburnya juga yang disalahkan adalah adik kandung saya! Hanya dengan alasan kata dukun dan atau karena selalu melihatnya di mimpi melakukan hal-hal aneh!" Tiba-tiba Kak Salman menyela pembicaraan saya dnegan Kiai Sanhaji.

Kiai Sanhaji menatap mata Kak Salman dnegan penuh ratap. Dan mungkin dialah satu-satunya orang yang bukan kerabat mempercayai, bahwa kamu memang bukanlah seorang tukang santet sebagaimana kabar dan tuduhan masyarakat. Dia mengatakan sangat mengenal baik dirimu. Bahkan dia bercerita bagaimana ketaatanmu dalam salat berjamaah di masjidnya. Sebagai orang yang sering mengumandangkan azan, orang yang paling rajin membersihkan masjid. Dia sanagt heran pada masyarakat yang dengan membabi buta menuduhmu sebagai orang terkutuk. Bahkan menginginkan kematianmu secara biadab. Meski sampai saat ini belum ada yang bisa memastikan secara pasti apa penyebab kematianmu.

"Tapi saya tetap yakin kematiannya sudah direncanakan oleh mereka yang tentu sangat tidak menginginkan dia hidup. Sebab sebelum-sebelumnya rumah ini sering dilempar batu ketika tengah malam oleh orang yang menyamarkan diri dengan gelap!" lanjut Kak Salman yang suaranya memang terdengar sedih bercampur marah.

Kemungkinan kamu meninggal baru sekitar satu jam lalu dari ditemukannya mayatmu oleh Kak Salman yang memang sengaja saya minta untuk mencarimu, setelah semalam kamu pamit ke masjid dan sampai menjelang terang kamu tak pulang. Kiai Sanhaji membenarkan kabar itu, sebab katanya kamu masih bersamanya di masjid sampai jam setengah dua-an tengah malam. Bukankah hal itu memang sudah biasa kamu lakukan? Bahkan terkadang kamu sampai Subuh tanpa pulang terlebih dahulu. Dan untuk itu saya tak perlu mengkhawatirkanmu, meski sebagai seorang istri saya diam-diam saya mengkhawatirkan keselamatanmu. Terutama ketika akhir-akhir ini atap rumah kita selalu dihujani batu-batu, dan beberapa kali kamu dihadang segerombolan orang bertopeng di tengah jalan. bahkan kamu sempat dihujani dengan celurit, andai saja tak ada sepeda motor lewat dan orang-orang itu langsung pergi.

Memang sangat berat bagi saya untuk melarangamu keluar malam-malam sendirian. Tapi lebih berat lagi bagi saya untuk tak melarangmu ketika jawabanmu selalu membuat hati bergetar. Kamu akan selalu bilang dengan nada tenang setiap kali saya membujukmu untuk sesekali salat di rumah saja. Kamu bilang, bahwa umur manusia sudah ditentukan ALlah. Tak seorang pun yang bisa menentukan kematian seseorang. Lagi pula saya keluar malam kan tidak untuk mengganggu orang lain, tapi ingin bertamu ke rumah Allah.

Bahkan di malam terakhir kamu pamit hendak ke masjid sampai Subuh, saya tak merasakan getar apa-apa. Saya tak merasa, kalau kamu akan mati malam itu juga, saya benar-benar tak merasa kalau kamu akan meninggalkan kami berdua untuk selamanya. Bukankah ada tanda-tanda yang datang sebelum orang meninggal? Dan hati saya pada malam itu sama sekali tak merasa ebrat sedikit pun untuk mengizinkanmu pergi. Andai saja saya merasa, mungkin saya akan sangat berat dan kemungkinan melarangmu pergi. Meski saya tak yakin kamu akan menerima larangan saya kalau urusan ibadah.

Inilah alasan terberat saya kenapa sejauh ini masih seperti tak menerima perlakuan orang-oranng itu terhadapmu. Mereka menuduhmu berdasarkan perkataan dukun, firasat yang tak nyata dan mimpi belaka. Bahkan saya tak bisa membayangkan bagaimana repotmu melawan orang-orang yang terus menyerangmu malam itu. Atau ketika kamu kehabisan tenaga dan orang-orang itu semakin gencar menyerangmu dan terakhir ketika kamu meregangkan nyawa di antara hujatan, dan mungkin gelak tawa tanpa terlebih dahulu melihat anak istrimu. Saya tahu, jika kamu tahu isi hatiku ini, pasti kamu akan menegurku dengan mengatakan, jangan berprasangka buruk pada orang lain walaupun memang benar adanya. Apalagi kita tak tahu kebenarannya. Jangan menyimpan kebencian agar tak melahirkan kebencian berikutnnya. Di usiamu yang masih muda kalimat ini terdengar cukup aneh.

Ah, hari sudah semakin jauh. Sebelum Kiai Sanhaji mengkafanimu saya memintanya terlebih dahulu untuk melihat wajahmu yang terakhir kali. Dengan gemetar tangan saya mulai menyingkap sampir batik yang sejak dini tadi menyungkup wajahmu. Senyummu semakin sumringah. Kamu seperti pulang tak punya beban. Sekuat tenaga saya mulai menutup wajahmu. tapi ah, dadaku melonjak tiba-tiba. Saat tanganmu bergerak perlahan membuka sampir di bagian wajahmu.

"Lek Kulsum?

Matamu terbuka sebagaimana biasa. Ah, tidak seperti dirimu yang baru bangun tidur. Kak Salman dan Kiai Sanhaji pun ikut terkaget melihatmu yang kemudian terbangun. Tanganmu menggapai-gapai ke arah anak-anak. Saya semakin bingung. Bahkan tak mengerti apa yang sedang terjadi pada dirimu. Setelah saya mulai belajar ikhlas atas ekmatianmu meski sangat tak wajar. Saya dibuat melonjak-lonjak tak tentu arah. Kepalaku pening. Mataku berkunang-kunang.

Sungguh ini pertama kali saya ingin menangis dengan tumpahan air mata yang tak terbendung. Meski rasa tak percaya sama kuatnya membuat saya tak bisa berdiri untuk berlari. (k)

Bandungan, 2015

F Rizal Alief, sekolah di PBSI STKIP PGRI Sumenep, menulis puisi dan cerpen di media massa nasional dan lokal serta di beberapa antologi bersama. Pernah membacakan puisi di Rumah Pena Kualalumpur Malaysia.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya F Rizal Alief
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 13 Desember 2015


0 Response to "Tentang Kematianmu"