Turangga Matahari - Lingsir - Gerimis Kepagian - Penunggu Musim | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Turangga Matahari - Lingsir - Gerimis Kepagian - Penunggu Musim Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:51 Rating: 4,5

Turangga Matahari - Lingsir - Gerimis Kepagian - Penunggu Musim

Turangga Matahari

: umbu landu paranggi

yang menderap dari pedalaman Sumba
menebah tanah, menjejakkan tuah
kata kata menjadi kobar cahaya
yang terus berlari
membawa amuk resah-sepi

selalu saja ada ceruk ruang dan hari
yang kautemukan dan kautangkap
getar risaunya hingga mesti kaudatangi
setiap sudut degup
seperti panggilan lirih kekasih
dengan debar rindunya
yang menjelma pendar ke kaki cakrawala

suraimu mengibas, menolak letih
yang lalu malu untuk mendaki lagi di tubuhmu
dan kekarmu terus melompat
ringan terayun di udara
melukis gegap pertarungan
merintikkan kisah kisah yang lebih agung
dari wiracarita

pada tiap sajak kudegar nyaring ringkikmu
menerobos sekat kalimat
hingga kata kata menjadi duta bahasa
cinta yang setia bertahan
pada setapak jalan kesunyian

masih kudengar langkahmu kukuh
meski musim telah semakin tua
dan pada kakimu yang melepuh itu
siapa yang sanggup membaca
roman luka di dalamnya
Jakarta, 2014

Lingsir

aku menempuh jalan jalan tak bernama mencari berbagai
kota yang telah kaukisahkan lewat ciumanmu.
sedemikian pelik melacak jejak pesan yang dulu nampak
berhamburan di udara, namun tak sempat aku emncatatnya.
kabut waktu menggiring bahasa menuju bawah cakrawala,
pun ketok ketok kekinian teramat rajin menimpa mendera.
kini kota kota di tubuhmu gemar mengirimkan asap dan 
debu yang menggarami lukaku. membuat rute jalan labirin
yang tak berujung-pangkal, hingga segala penjuru adalah
situs dongok kegagapan. aku hendak mengejar tentang asal
muasal rahasia sembiluan, namun seperti telah terkatup
seluruh pintu dan jendela pencahayaan.

dalam serbuan rintik kecamuk, jantungku membiru dan
nadiku berkali menyebut nama ibu. dilumur gelebah senja,
aku kian terhisap ke dalam kesepian yang purba.
Bekasi, 2013

Gerimis Kepagian

kucium harum gerimis pagi ini
seperti terseduh uap secangkir kopi
di beranda rumahmu yang dulu
dari kotamu yang makin membiru

aku tersendat mengeja isyarat
pada segugus mendung yang nampak penat
berarak membawa sisa percakapan
yang memberat di pundak perjalanan

akhirnya meluruh juga curah tipis tipis
seperti hendak mengisahkan hari yang teriris
sementara detak masih membersitkan sulur ingin
tahun mengalir dalam nadi begitu dingin
Jakarta, 2015

Penunggu Musim

: dian rusdiana

diam diam
kautanam air mata di ladang malam
di bawah gugusan mendung
yang murung

ribuan detak dadamu
menepis terik yang menerpa
dari pusaran labirin mimpi
yang bergemuruh mendidih
oleh tarian perburuan
purba gaharu keabadian

tak ada angin
yang singgah di beranda kata
seperti bersimpang
dari tubuh kisah yang rumpang

sementara di kedapaman sepi
terbit zikirmu yang acap tersekat
di ruas penandaan nyeri
abad yang pasi

lamat lamat ada suara hujan
seperti di lubuk kejauhan
karena tak ada percik yang bertamu
ke atap rumah sabarmu

di luar pepohonan pun menunggu
curah yang akan melarutkan pilu



Budi Setyawan: lahir di Purworejo, 9 Agustus 1969. Mengelola Komunitas Forum Sastra Bekasi (FSB). Tinggal di bekasi, Jawa Barat.



Rujukan:
[1] Disalin dari karya Budi Setyawan
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu pagi" 6 Desember 2015


0 Response to "Turangga Matahari - Lingsir - Gerimis Kepagian - Penunggu Musim"