Altar Bumi - Kepada Yang Bernyawa - Penyembah Misteri - Tabung Hayat - Air Hidup | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Altar Bumi - Kepada Yang Bernyawa - Penyembah Misteri - Tabung Hayat - Air Hidup Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:19 Rating: 4,5

Altar Bumi - Kepada Yang Bernyawa - Penyembah Misteri - Tabung Hayat - Air Hidup

Altar Bumi

Rahimnya terbaring di lambung bumi;
plasenta yang mengairi bayi beringin.
Di sanalah keluarga cacing dan pengurai
gemar melaksanakan jamuan teh
untuk merencanakan kelahiranmu.

Di dinding gua
para pemburu menghunus tombak
ke jantung mamut dan karibu
sebagai korban kepada yang berkuasa
di tahta angkasa.
Sementara ibumu merangkai ilalang
sebagai bukti cinta
kepada yang bersemayam
di sawah dan ladang.

Kakekmu menumpahkan 
gelombang lautan yang terkurung
di cangkang kerang.
Juga dilenyapakannya bangkai surga
di dalam ingatanmu.

Masih bersolekkah seorang dewi
dalam asap dupa yang mengepul
di haribaan akar pohon itu?

Pamekasan, 2015

Kepada Yang Bernyawa

: dr Lie Dharmawan

Bagai pria Nazaret
di senyap Getsemani
aku berlutut kepada-Mu.

"Jangan ketuk pintuku lagi.
Aku letih, seperti anak-Mu
terkulai menunggu ajal."

Cahaya timur menuntunku
ke lembah bayang-bayang.
Kulihat senyum-Mu bersinar
di kegelapan mimpi.

Bangunkan Hidup
yang tertidur lama....

Lalu kuseka rambutku
dengan minyak urap-Mu.

Pamekasan, 2015

Penyembah Misteri

Di sejengkal permukaan danau
tenang, gravitasi patah.
Kawanan burung melintas
tanpa takut terjatuh ke dalamnya;
cermin yang memantulkan
bayanganmu.

Di sela-sela pohon pinus,
petang mendekap hari
dalam jubah hitam. Malam
memaksaku menghayati
segala yang tak kutahu,
tetapi orang-orang menyalakan
sebatang lilin kesia-siaan.

Aku pun beranjak
menggamit kotak sepatu
di kolong ranjang berdebu.
Kaulah kotak sepatu
yang menyimpan benda-benda 
orang yang telah lama mati.

Jogjakarta, 2015

Tabung Hayat

: Dewi Candraningrum

Di gembur tubuhmu
Lelaki menanam benih
Sebab engkau ladang
Yang mengeram kehidupan

Di tabung hayatmu
Bibit itu menjelma lelaki
Yang kelas menghisap sarimu
Karena kedua ambingmu gua mata air
Bukan gunung yang memuntahkan 
Lahar murkamu

Reguklah reguklah
Sebelum tanah itu
Menjadi kerontang
Oleh kemarau panjang
Dan merenggut segala hara
Di setiap kulit jangatmu

Jogjakarta, 2015

Air Hidup

: Andre Gaff

Ia tak pernah membaca
hikayat seorang nabi
yang menderaikan air
dari jari-jari tangannya
pun anak Tuhan yang menjadi air hiduo.

Tak juga ia simak
percakapan seorang penyair
dengan seorang sufi tentang air
yang mencari orang-orang kehausan.

Ia hanya menatap para perempuan
dan bocah-bocah yang menimang kendi ko-
song
ke sebuah tempat nun di sana.

Dari negeri di seberang lautan
ia terbang dan hinggap;
menggali-gali tanah; berharap
menjumpai basah.

Tetapi hanya di matanya
kautemukan enam puluh 
liang air; sumur yang meluapkan 
kezuhudan cinta.

Suatu saat nanti ia terlahir kembali
dari tiga puluh ribu rahim.

Pamekasan, 2015


Royyan Julian mengajar kajian puisi di Universitas Madura. Puisi-puisinya dimuat dalam Antologi Puisi Festival Bulan Purnama Majapahit Trowulan 2010 (2010), Sulfatara (2012), dan Distopia (2014). 


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Royyan Julian
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Jawa Pos" Minggu 24 Januari 2016



0 Response to "Altar Bumi - Kepada Yang Bernyawa - Penyembah Misteri - Tabung Hayat - Air Hidup"