Biaju Direngkuh Rengas Sungai Kahayan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Biaju Direngkuh Rengas Sungai Kahayan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 16:36 Rating: 4,5

Biaju Direngkuh Rengas Sungai Kahayan

JIKA HARUS MEMILIH, Biaju ingin mati dalam rengkuh rengas yang menjadi sebab jiwanya yang gundah. Karena kini hatinya telah timpang. Tapang, anak lelaki yang amat dicintainya, pulang tanpa nyawa. Biaju menutup jendela dan pintu rumahnya rapat-rapat, menyisakan celah luput untuk udara yang membawa lolong pedih tangisnya hingga ke telinga orang-orang yang masih membuka mata. Biaju menangis sekeras-kerasnya, sekuat-kuatnya, hingga malam tenggelam dalam airmatanya.

Siang hari itu, Biaju tengah menjaga ruko baju sambil sesekali melamunkan hidup bersahaja di usianya yang mulai tua. Lintang, anak tetangga, menghampirinya dengan tergesa-gesa, wajah cemasnya menebar rasa penasaran ke segala penjuru pasar. Berita duka yang dibawa Lintang membuat orang-orang meletakkan dagangannya, menengok sebentar, lalu berbisik-bisik gusar perihal musibah yang menimpa Tapang.

“Kenapa katanya?” tanya salah seorang pedagang berdaster sembari memenggal kepala ikan patinnya.

“Kena tulah pohon rengas.”

"Hus! Tak boleh bilang begitu, Tapang kan anak baik-baik. Tak pernah dia lawan ibunya.”

“Dia tak mau dengar. Selalu lempar jaring didekat area pangkalima tanpa permisi.”

“Perahunya patah, tinggal setengah. Seperti dirobek sungai.”

Lantas bahu mereka bergetar dan mereka membungkam mulut sendiri rapat-rapat. Sebenarnya tak ada yang tahu persis penyebab kematian Tapang. Warga menemukannya mengambang di dekat bibir sungai.Dekat akar rengas yang seperti merangkul lengannya, kata mereka. Lalu kabar menggemparkan itu segera menyelusup ke lubang telinga para warga. Semua orang menduga-duga, tak sedikit juga yang menaruh curiga.

Malam itu, anak perempuan Biaju, Gema, mengetuk-ngetuk pintu kamar ibunya.Tak ada jawaban. Hanya tangisBiaju yang terdengar dan menyayat hati Gema. Ia tak tahan inginsegera merangkul ibunya. Hati Gema pun remuk,seperti gelas yang pecah berkeping-keping. Bulir bening tak hentinya menganak sungai di kedua pipi tirusnya. Para tetangga telah kembali ke rumah setelah menemani Gema dan Biaju berduka.

“Bu, buka pintu dulu. Jangan begini, Bu, Gema khawatir.” Gema menggedor pintu, suaranya parau. Kakak satu-satunya yang selalu melindungi dan menemaninya kini tak lagi berada di sisinya.

Tak lama, pintu dibuka. Segera Gema menghamburkan diri ke pelukan ibunya. Menangis sejadi-jadinya hingga penat urat lehernya. Ia tahu, kesedihannya tak mungkin sepadan dengan rasa kehilangan seorang ibu terhadap darah dagingnya sendiri. Tak bisa Gema bayangkan kini ia hanya akan tinggal berdua dengan ibunya, tanpa gelak tawa dan paras ceria kakak lelakinya.

“Kakakmu tak mungkin kena tulah, Gema. Alam takkan pernah melukai kita,” ujar Biaju sesenggukan.

***
Illustrasi oleh Leopold Adi Surya
“RENGAS ITU SEBENARNYA pohon beracun. Kalau kamu kena getahnya, kamu akan gatal-gatal. Pernah sampai ada yang meninggal. Tapi jangan khawatir, selama kamu menebangnya dengan benar, pasti aman,” tutur Tapang. Meski hanya menyelesaikan sekolah menengah atas delapan tahun lalu, Tapang tak buta akan pengetahuan tentang lingkungan sekitarnya.

Keduanya tengah menjaga ruko baju untuk membantu ibunya. Biaju sedang mengurus keramba di lanting. Di samping rukonya, Gema melihat seorang penjual obat-obatan duduk tertidur di atas kursinya. Keringat tampak mengucur dari ubun-ubunnya. Lelah menjelma kerut di keningnya yang sebagian tertutup topi tanggul. Minyak bulus untuk jerawat dan minyak lintah tapa untuk keperkasaan pria agaknya tak lagi memikat pengunjung pasar.

Gema pun merasakan panas yang membuatnya mengipas-ngipas leher dengan buku catatan uang. Pasar seperti mengalami kemarau yang tak pernah berhenti. Kemarau yang menjelma berbagai wujud. Kemarau bahan pangan, kemarau penghasilan, maupun kemarau pelanggan. Semuanya menyiksa hati.

Gema menghela napas panjang. Kedua mata cokelatnya menyapu sekeliling pasar. Tatapannya berhenti pada seorang lelaki tua yang sedang menampi beras siam. Lelaki tua yang hanya dibayar tujuh ribu rupiah untuk setiap 25 kilogram karung beras siam yang ditampinya. Ia sempat mendengar bahwa lelaki tua yang sering dipanggil Pak Sawun itu pernah terkena getah rengas hingga melepuh kulit tangan kirinya. Menyisakan bopeng-bopeng sehitam jelaga seperti sisa hutan yang dibakar secara brutal.

“Meski Tapang hanya lulusan SMA, Tapang tahu banyak tentang pohon-pohon. Kamu yang sudah SMA ini juga harus paham,” kata Tapang. “Pohon rengas, meski getahnya beracun, tapi kualitasnya bagus. Makanya banyak orang yang cari.”

“Tapi kata orang, Tapang sering cari rengas di dekat tempat pangkalima? Tak boleh, Pang. Nanti bisa seperti Pak Sawun kulitmu,” tukas Gema sembari terus mengipas-ngipas.

“Kata siapa? Itu karena Pak Sawuntak hati-hati. Lagipula, aku kan tak merusak, hanya iseng jalan-jalan cari ikan dan kayu di sekitar sana. Kadang main sama monyet. Tak masalah,” timpalnya. Ia mengisap puntung rokok, lalu mengepulkan asapnya dan bernyanyi mengikuti irama dangdut yang heboh menggema dari pengeras suara toko DVD bajakan sampai semua sudut pasar.

“Kan sudah kubilang, kata orang. Nanti Tapang bisa kena tulah kalau tak permisi,”timpal Gema. Ia duduk menghadap kakaknya. Keningnya berkerut.

“Ibu bilang tak apa asal niat kita baik. Kapan-kapan Tapang ajak kamu ke sekitar sana. Tidak ada hantu. Kadang Tapang malah ketemu orang yang mau tebang banyak rengas.”Tapang mematikan puntung rokoknya yang tersisa seujung kelingking. “Dengarkan ya,” lanjutnya, ia menatap adiknya dalam-dalam, “Tapang tak pernah serakah. Dulu waktu Bapak masih hidup, Bapak ajari Tapang untuk pakai pohon seperlunya. Biar kita bisa tetap hidup di lanting. Tapang sering ke sana biar orang-orang itu takut. Kadang kalau mereka lihat ada kapal yang mendekat atau ada suara orang, mereka berhenti sampai orang atau perahunya pergi. Mereka takut ketahuan.”

Gema berusaha mencerna maksud cerita Tapang. Ia mulai memahami alasan kakak lelakinya seringkali pergi menyusuri Sungai Kahayan dan mendekati area keramat itu. Gema mengangguk tenang, tetap menyimak. Tak menghiraukan suara gaduh penjual ikan yang memotong ikan patin di hadapan penagihiuran listrik. Air amis yang sedikit menyiprat ke beberapa baju yang dipajang di depan ruko tak membuat Gema beralih.

“Kalau terjadi apa-apa pada Tapang bagaimana?”

“Nanti Tapang mau ke sana lagi dan mencoba masuk lebih jauh, pura-pura cari monyet lain. Tapi akhir-akhir ini Tapang jarang melihat mereka.”

“Mungkin mereka sudah pergi karena merasa tak aman. Jadi sekarang Tapang tak usah ke sana lagi, ya?” pinta Gema.

“Tapang harus periksa lagi. Mungkin sampai sore. Kalau benar-benar bersih, Tapang langsung pulang. Sekarang Gema sudah tak cemas lagi, kan?Jangan peduligunjingan orang tentang Tapang. Tapang pulang dulu, ya.”

Gema mengangguk. Lantas mengalihkan perhatiannya pada Pak Sawun.Mungkin Pak Sawun memang bukan terkena tulah rengas dekat tempat pangkalima, batinnya. Tetapi Tapang melambaikan tangannya nyaris menempel ke wajah Gema, membuatnya kaget. Tapang tersenyum,membalikkan punggung, dan berjalan menjauh. Langkah kakinya terlihat begitu berbeda bagi Gema. Barangkali itu adalah pertanda yang tak dapat dijabarkan olehnya. Firasat yang tak dipahaminya sebagai salam selamat tinggal darikakak lelakinya. Hingga temaram turun pelan-pelan di bahu Gema, dan berita duka meremas-remas jantungnya.

***
“KAKAKMU TAK MUNGKIN kena tulah, Gema. Alam takkan pernah melukai kita,” ujar Biaju sesenggukan.

Biaju mengusap punggung Gema. Dadanya naik turun, sesak, seolahparu-parunya mengerut. Seorang ibu mana yang tidak gila melihat darah dagingnya sendiri tergeletak tak bernyawa tanpa tahu penyebab pastinya? Biaju kembali menangis, tetapi tanpa suara, ia tak ingin Gema memeluk sesosok ibu yang lemah. Dengan mantap ia mencoba menopang hatinya, menguatkan dirinya agar bisa menjadi sandaran satu-satunya anak yang tersisa.

“Gema tahu, Bu. Tapang tak pernah merusak. Orang-orang itu yang serakah. Tapang tidak kena tulah.”

Biaju menangkap sesuatu dalam kalimat anak perempuannya. Air matanya seketika membeku.

“Apa maksudmu orang-orang itu serakah? Siapa?”Kedua tangan Biaju mencengkeram bahu Gema.

“Kata Tapang di sana ada orang-orang serakah yang menebang rengas. Tapang lihat sendiri, Bu,” Gema berkata terbata-bata. “Tapang bilang, orang-orang itu sering datang ke dekat tempat pangkalima dan mencuri rengas.”

“Gema tunggu di sini. Ibu mau ke tempat itu. Jangan ikut!”

Biaju melepas cengkeramannya. Ia mencari sarung untuk dikalungkan dan menutupi bagian atas tubuhnya dari angin malam yang menerpa. Gema kebingungan melihat ibunya.

“Mau ke mana, Bu?”

“Ibu akan cari orang-orang itu. Pasti mereka yang bunuh Tapang, Nak. Sudah Ibu bilang, rengas di Kahayan ini tak mungkin jadi penyebabnya!” Biaju bergegas keluar menenteng senter di tangannya. Gema merasa pusing. Tangan dan kakinya gemetar.

“Bu, Gema ikut,” pintanya lirih. Biaju tak menggubris. Mata Gema kembali berkaca-kaca. Ia mengejar ibunya yang menyalakan mesin perahu dan melaju. Gema menjulurkan tangannya ke arah perahu, namun terlambat.

Biaju menyusuri sungai menuju tempat Tapang ditemukan tewas. Darah mendidih di ubun-ubunnya. Ia benar-benar  yakin bahwa kematian Tapang ada kaitannya dengan orang-orang serakah yang disebut Gema. Ia tak sanggup bersabar. Kedua matanya menatap nyalang ke arah rengas di bibir Kahayan,berusaha menangkap gerak-gerik apa saja yang mencurigakan. Telinganya mencermati sunyi Kahayan hingga menjadi tajam menangkap suara-suara yang mungkin dapat menjelaskan sebab kematian buah hatinya

Biaju begitu cepat memintal amarah. Pikirannya mulai tak keruan. Jika benar mereka yang membunuh Tapang, maka ia akan melakukan apa sajauntuk memuaskan murkanya. Membalaskan luka hatinya yang amat dalam serupa palung.

Sementara itu di lanting, Gema masih menangis meraung-raung. Para tetanggamenghampiri dan menanyainya. Gema tak sanggup berkata-kata. Ia hanya menunjuk-nunjuk ke arah aliran sungai yang membawa ibunya.

“Bawa Gema ke Ibu....” rintihnya. Ia terduduk dan terbatuk-batuk di sela tangisnya..

“Tadi saya lihat ibunya naik perahu ke sana. Sendirian,” ujar salah seorang lelaki dengan ember berisi ikan lais di tangan kirinya.

“Mau apa dia ke sana?” tanya salah seorang lagi.

Lelaki yang pertama mengangkat bahu.

Lintang bergegas masuk ke dalam lanting dan mengambil segelas air untuk Gema.

“Ibu pergi ke dekat pangkalima. Gema mau ke sana!”

Beberapa orang bergidik. Mereka tak berani mendekati area pangkalima, terlebih di malam hari. Tapi diam-diam mereka menaruh iba pada Gema. Separuh hati mereka takut, separuh lagi tak tega membiarkan Gema terus menangis.

“Mungkin kalau ramai-ramai tak apa,” ucap bapak Lintang meyakinkan. Beberapa orang mengangguk setuju, yang lain memilih mundur dan menunggu di lanting.

“Naik dua perahu cukup. Bawa mandau atau apa saja buat jaga-jaga. Niat kita baik mau menolong orang, semoga tidak terjadi apa-apa,” timpal warga lain.

Lantas mereka meneguhkan hati dan menyalakan mesin perahu.Beberapa lelaki menggenggam senter dan mandau. Semua meneliti apapun di sepanjang bibir sungai yang sanggup dijangkau mata.Angin semilir menjalari pundak mereka. Rasa takut dan cemas merambat hingga ke pucuk rambut mereka. Semua terdiam, mengamati dan mendengarkan dengan hati-hati. Kecuali Gema, yang masih menahan sengguknya dan sesekali bergumam memanggil ibunya.

Perahu semakin mendekati area pangkalima. Mereka menemukan perahu yang ditumpangi Biaju. Namun,suara letusan mengagetkan mereka. Mereka panik dan ingin segera pergi. Namun, tekad membuat mereka mengarahkan perahu ke bibir sungai sebelah kiri, tempat perahu Biaju berhenti. Dengan mengumpulkan keberanian setengah mati, mereka turun dari perahu dan berjalan merapat di bibir Kahayan menuju rerimbun pohon rengas dan pohon lain yang memayungi.

Senter mereka arahkan ke depan dan sisi samping kanan-kiri. Mata dan telinga mereka tetap awas mencari semakin jauh ke rimbun-rimbun pohon yang menghalangi sinar bulan.Seketika Gema berteriak,ia lihat sarung dan senter yang tadi dibawa ibunya tersangkut di dekat pohon rengas yang ditebang. Bercak-bercak darah pada bagian sarung membuatnya kelimpungan. Kakinya lemas.

Orang-orang berteriak memanggil nama Biaju dan menyebar tak jauh dari lokasi ditemukannya sarung dan senter Biaju. Mereka terus berteriak memanggil dan mengikuti jejak darah danapapun yang mencurigakan. Di hadapan mereka, sebagian pohon tumbang dan ditebang.

Lirih, Gema masih berusaha memanggil ibunya. Suaranya semakin tak terdengar. Matanya bagai diserbu seribu kunang-kunang dan kepalanya mulai terasa berputar seperti gasing. Samar-samar Gema masih mendengar orang-orang berteriak memanggil nama ibunya.

“Terus ke mana Biaju ini?”

“Tak mungkin tenggelam, kita pasti tahu tandanya kalau ada yang tenggelam. Masa dimakan pohon?”

“Mustahil!”

Kepala Gema semakin berkecamuk. “Ibu....” gumamnya. Dadanya naik turun, sulit bernapas. Suara-suara perlahan makin sirna. Tubuh Gema semakin lemas dan pandangannya menjadi lamur. Hingga malam menggugurkan bintang-bintang, Biaju tak kunjung ditemukan.


Catatan:
*Pangkalima: Pemimpin spiritual yang bersinggungan dengan hal gaib. Penjaga adat untuk hutan/sungai (Kalimantan). Sebagian besar orang percaya akan keberadaannya.

**Keramba: Keranjang atau kotak dari bilah bambu untuk membudidayakan ikan


Dwi Ratih Ramadhany was born in Sampang, 1993. She studied English literature at Universitas Negeri Malang, East Java. Her short stories have been published in various Indonesian media, and some were compiled in Pemilin Kematian (UM Press, 2015). Ratih attended Novel-Writing Academy held by Jakarta Arts Council in 2014. Her first novel Badut Oyen (GPU, 2014) has been translated into Malaysian.


Keterangan:
Cerpen ini ditulis oleh Dwi Ratih Ramadhany dan telah dialihbahasakan ke dalam Bahasa Inggris oleh Linda Lingard, dengan editor Marjie Suanda, berjudul "The Embrace of the Rengas Tree"

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dwi Ratih Ramadhany
[2] Pernah tersiar di situs intersastra.com pada 16 Januari 2016

0 Response to "Biaju Direngkuh Rengas Sungai Kahayan"