Boom, Dermaga bagi Peristiwa - Makam Ploso - Hujan Datang, Hujan Sui Su Yan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Boom, Dermaga bagi Peristiwa - Makam Ploso - Hujan Datang, Hujan Sui Su Yan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:07 Rating: 4,5

Boom, Dermaga bagi Peristiwa - Makam Ploso - Hujan Datang, Hujan Sui Su Yan

Boom, Dermaga bagi Peristiwa

I
di tanjung, di darat Tuban yang ujung 
gending melengking, asap dupa dipuja-puja 
penanda peristiwa agung akan dibangun 

ada wajah-wajah tengadah 
di pantai, mereka memanggil sepoi 
angin utara yang bakal mengabarkan sejarah 

“o, pada hari terik matahari pada waktu di kalbu 
haru 
kami panggil kau tuan, di tanah ini dipersilakan 
membeli getah siwalan dan pohon gaharu“

II 
orang-orang asing datang bagai angin 
dari jauh, mereka hendak berlabuh 
di tanah subur kami matanya meruncing hatinya tak 
bisa berpaling 

dari Cina juga Hindia, dari daratan-daratan utara 
bertambat kapal-kapal seperti mengekal 
di sini seabadi tujuannya; dagang, menyebar 
agama-agama 

ada juga dari tempat lahirnya nabi 
dan peradaban-peradaban yang mereka sebut islam 
orang-orang Arab dan kaum Parsi 

III 
tetapi ada yang mengingkari janji tertulis 
dengan senjata dan kejahatan rupa-rupa 
dari Eropa; Spanyol sampai Portugis, Belanda, dan 
Inggris 

dan rempah-rempah ditukar dengan darah 
“o, raja-raja dibunuh, dan kami yang rapuh 
senyum ditimbun, hasil tanah dijarah“ 

IV 
kini, di dermaga ini kapal-kapal tinggal bayangan 
dan peristiwa itu seperti waktu, kian hari kian 
berlalu 
angin utara sepoi dan kembali aroma pantai 
menyejukkan 

di tanjung, di darat tuban yang ujung 
dermaga memanjang, macam-macam peristiwa 
diriwayatkan 
dan kami menamainya boom 
Tuban, Oktober 2015 

Makam Ploso*

Di makam ini, kesunyian menyerupai kata kerja.
menjerat, mencekik, memukul-mukul dada, dan 
ujung-ujungnya memenjara.
Ketika pepohon mendongak seperti berdoa 
tengah malam buta, tengah malam tanpa suara apa-apa 
sang sunan bersila memejamkan mata 

Sunanku tengah jatuh cinta. jatuh cinta pada yang 
mencipta dirinya.
ia istirah sebagaimana tanah-tanah mengasingkan 
diri dari hujan 
atau gesekan ranting pada ranting menepi dari angin hari 

Sunanku membutuhkan senyap untuk terbang 
dengan sayap 
Sunanku membutuhkan hening untuk hilang di 
tengah angin 
lalu menyatu pada tuhanku 

Sunanku menyatu pada tuhanku 
di makam ini, di mana sepi siang tak ada beda 
dengan dini hari.

Bantul, 30 mei 2015 

*Makam Ploso dikabarkan sebagai makam sekaligus pertapaan Sunan Kalijaga, tepatnya di Desa Medalem, Kabupaten Tuban.

Hujan Datang, Hujan Sui Su Yan 

Kota-Tuban acap kali hujan pelan 
Sui Su Yan datang dengan payung merah darah 
jalan pelan dari kelenteng bersuwung naga dua 

Kami hendak beranjak, Sui Su Yan 
sebungkus angpau di selempang 
mari ajak kami pulang tanpa basah selendang 

kekasihmu kematian, katamu Sui Su Yan 
kelopak mata kelopak bunga bermiripan 
di keningmu kami membaca bulan remuk redam 

Tuban, 2015 


Daruz Armedian, lahir di Tuban, 28 November 1996.Mahasiswa Filsafat UIN Sunan Kalijaga ini bergiat di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY) dan aktif mengelola Komunitas Sastra Sunnatunnur (KontraS) sambil berusaha menghidupkan sastra di kampungnya.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Daruz Armedian
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 17 Januari 2016




0 Response to "Boom, Dermaga bagi Peristiwa - Makam Ploso - Hujan Datang, Hujan Sui Su Yan "